<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mustaqiim&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://mustaqiim.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mustaqiim.wordpress.com</link>
	<description>Personal Reflection for Bright Lifes</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Dec 2011 03:39:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mustaqiim.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/957d73f2cbe7ac14a16f15d6b99cca5c?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Mustaqiim&#039;s Blog</title>
		<link>http://mustaqiim.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mustaqiim.wordpress.com/osd.xml" title="Mustaqiim&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mustaqiim.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Meraba Komunikasi Massa</title>
		<link>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/12/29/meraba-komunikasi-massa/</link>
		<comments>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/12/29/meraba-komunikasi-massa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 03:39:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustaqiim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[dampak]]></category>
		<category><![CDATA[kompleks]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi massa]]></category>
		<category><![CDATA[media massa]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mustaqiim.wordpress.com/2011/12/29/meraba-komunikasi-massa/</guid>
		<description><![CDATA[Untuk memahmi dampak komunikasi massa, diperlukan kajian yang mendalam dan referensi luas untuk memahaminya. Karena dampak komunikasi massa sangat kompleks, yakni banyak dihubungkan dengan variabel-variabel bebas lainnya; dan dinamis, yakni selalu berubah dari waktu ke waktu. Belum lagi bagaimana sisi para ahli memandang subjektifitas teori-teorinya.   Teori yang paling awal dikenal mengenai dampak media massa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=330&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div class="wp-caption alignnone" style="width: 606px"><a href="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/12/2011-12-08t224651z_3_btre7b71klo00_rtroptp_3_industry-us-twitter.jpg"><img class=" wp-image" title="Bagaimana perkembangan twitter?" src="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/12/2011-12-08t224651z_3_btre7b71klo00_rtroptp_3_industry-us-twitter.jpg?w=596&#038;h=397" alt="Gambar" width="596" height="397" /></a><p class="wp-caption-text">Assosiated Press</p></div>
<p>Untuk memahmi dampak komunikasi massa, diperlukan kajian yang mendalam dan referensi luas untuk memahaminya. Karena dampak komunikasi massa sangat kompleks, yakni banyak dihubungkan dengan variabel-variabel bebas lainnya; dan dinamis, yakni selalu berubah dari waktu ke waktu. Belum lagi bagaimana sisi para ahli memandang subjektifitas teori-teorinya.</p>
<p> </p>
<p>Teori yang paling awal dikenal mengenai dampak media massa adalah <strong>The Magic Bullet Theory</strong> atau teori peluru, teori ini berkembang pada awal abad 19 dimana perang dunia telah banyak berpegaruh dalam dimensi teori ini. Teori ini menekankan bahwa pesan yang dibawa dalam komunikasi massa adalah<a title="" href="/Documents%20and%20Settings/yo/Desktop/ilkom%20revisi.doc#_edn1">[i]</a>:</p>
<p> </p>
<ol start="1">
<li>Menjangkau secara langsung setiap audiens</li>
<li>Panetrasi setiap pikiran secara langsung</li>
<li>Mempengaruhi gagasan dan tindakan setiap orang, secara terang-terangan dan sangat berpengaruh.</li>
</ol>
<p> </p>
<p>Teori ini terbukti memang akurat untuk menggambarkan fungsi utama media massa sebagai alat prropaganda pada kisaran abad 20. Media massa merupakan alat propaganda paling utama baik politik maupun kapitalis. Pada massa berkembangnya teori ini, propaganda politik memang sangat kentara.</p>
<p> </p>
<p><strong>Contohnya</strong> di Indonesia, pada era Orde Baru. Media massa merupakan alat propaganda paling utama. Untuk menjatuhkan ideologi komunis misalnya, setiap memperingati hari G-30S PKI, TVRI selalu menampilkan film mengenai pembunuhan jendral-jendral TNI AD di tahun 1965. Film yang diputar didramatisir sedemikian rupa, dibuat secara berlebih-lebihan bahkan terbukti rekayasa atau fiktif semata.</p>
<p> </p>
<p>Tujuannya hanyalah alat propaganda kepada masyarakat, agar membenci ideologi sekaligus pengikut  PKI yang notabene dianggap sesat oleh pemerintahan Orde Baru. Dan terbukti tidak hanya itu, tujuan propaganda tersebut kini diketahui lebih dari sekedar menjauhkan ideologi Komunis-Lenin. Karena kenyatannya telah banyak condong pada tujuan propaganda demi kepentingan pribadi penguasa saat itu juga.</p>
<p> </p>
<p>Propaganda dalam film dan buku-buku sejarah yang merupakan bentuk dari media massa tentang PKI pada masa silam pun masih sangat berpengaruh hingga saat ini. Terbukti dengan banyaknya pradigma miring tentang eks tapol PKI dan keluarganya di tengah-tengah masyarakat kita. Dalam konteks inilah teori peluru masih sangat efektif digunakan untuk membaca dampak media komunikasi massa yang bersifat <strong>powerfull</strong>.</p>
<p> </p>
<p>Banyak ahli yang <strong>tidak sependapat dengan teori peluru, atau teori sejenis ini lainnya.</strong> Alasannya hampir sama, tak lagi relevan dengan dunia yang makin dinamis. Mengacu pada teori pendekatan manfaat dan gratifikasi, yang lebih konsen pada audiens. Berkembanglah teori-teori mengenai efek media massa yang lain, antara lain:</p>
<p> </p>
<ol start="1">
<li>Minimalist effects theory</li>
</ol>
<p>      Teori bahwa efek media massa kebanyakan bersifat tifak langsung.</p>
<ol start="2">
<li>Cummulative Effects theory</li>
</ol>
<p>      Teori bahwa pengaruh media terjadi bertahap dari waktu ke waktu.</p>
<ol start="3">
<li>Third-Person Effect theory</li>
</ol>
<p>      Teori bahwa satu orang melebih-lebihkan efek pesan media kepada orang lain, dll,</p>
<p> </p>
<p>Perkembangan efek media massa kini tak lagi bisa di riset secara mendalam seperti abad lalu. Hal ini telah dikemukakan oleh Melvin DeFleur yang menyatakan jika <strong>teori komunikasi massa sudah jenuh</strong><a title="" href="/Documents%20and%20Settings/yo/Desktop/ilkom%20revisi.doc#_edn2">[ii]</a>.</p>
<p> </p>
<p>Menurut DeFleur, hal tersebut disebabkan oleh <strong>kurangnya kajian menggenai efek media massa </strong>di universitas oleh orang-orang cerdas. Banyak ahli yang kini lebih memilih bekerja di media massa dengan tawaran gaji yang besar untuk melakukan riset demi kepentingan marketing atau korporasi lainnya. Dengan kata lain, penelitian mengenai efek komunikasi massa kini menjadi ranah kepentngan media massa itu sendiri demi kepentingan praktis semata.</p>
<p> </p>
<p><strong>Dampak Komunikasi Massa Abad 21</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Di abad baru ini, media massa tak lagi di definisikan sebagai media cetak dan elektronik saja. Media telah banyak bergeser pada penggunaan kanal internet dengan berbagai aplikasinya yang sering disebut Media Baru (New Media) atau paling dikenal sebagai <strong>Multimedia</strong>. <em>Website, blog, microblogging,</em> dan jejaring sosial lainnya kini memiliki peran yang sangat signifikan dalam mengubah kehidupan masyarakat.</p>
<p> </p>
<p>Revolusi Melati di Tunisia yang telah membawa Musim Semi di Jazirah Arab terjadi karena sarana komunikasi massa lewat internet. Twitter dan Facebook diduga menjadi sarana <strong>public sphare</strong> yang efektif. Peristiwa ini merupakan <strong>dampak dari komunikasi massa</strong> yang sangat kentara di abad ini.</p>
<p> </p>
<p>Meskipun demikian, <strong>tragedi London Riot</strong> yang bermula dari peristiwa kecil yang kemudian berujung pada keriuhan yang mengacaukan metropolitan London. Hingga kini, belum ada yang bisa menjelaskan secara empiris kasus London Riot ini, selain sarana komunikasi massa BBM (<em>Blackbarry Massaager</em>) yang dituduh punya adil besar dalam menyebarkan amarah warga<a title="" href="/Documents%20and%20Settings/yo/Desktop/ilkom%20revisi.doc#_edn3">[iii]</a>. Belum ada yang tahu pasti dan membaca sepenuhnya <strong>komplekssitas manusia abad ini</strong>.</p>
<p> </p>
<p>Abad ini didedikasikan sebagai <strong>abad informasi</strong>, tak heran jika informasi berharga sangat mahal. Siapa yang bisa membaca informasi, di twitter misalnya, maka ia akan tahu pergerakan opini publik. Sehingga dengan mudah mengkontrolnya. Inilah yang ditakutkan dalam liberalisasi dan kapitalisasi media massa jika tanpa regulasi yang jelas.</p>
<p> </p>
<p>Tak heran, <strong>perusahaan komunikasi massa</strong> kini banyak diincar oleh konglomerat kaya yang memungkinkan terjadinya konglomerasi media. Tengok saja Rupert Murdoch yang menguasai bisnis media sejagat, tahun 2011 ini, salah satu tabloid <strong>berusia 168 tahun</strong>  di Inggris yang sudah ia miliki, <strong>News of The World</strong>, harus ditutup karena  skandal penyadapan terhadap publik Inggris. <strong>Manajemen media massa</strong> yang lebih mengutamakan <strong>profit </strong>membuat banyak awak media hanya mencari-bahkan sengaja membuat sensasi- demi keuntungan sepihak.</p>
<p> </p>
<p>Kanal informasi diprediksi memberi banyak efek dan pengaruh dikedepannya, hal ini bisa dilihat dari adanya <strong>imperialisme  media</strong> yang dikenalkan oleh Fred Fejes dalam bukunya <em>Media Imperialism: An Assesment </em>(1992). Fejes menggambarkan berjalannya proses komunikasi massa modern dalam membentuk, mempertahankan, dan memperluas sistem dominasi dan kebergantungan secara global.</p>
<p> </p>
<p>Teori Fejes kemudian ditempatkan dalam tradisi luas kritik kapitalisme Marxis. Atas dasar ini, pertumbuhan global media komunikasi global media komunikasi barat oleh para peneliti dipahami sebagai refleksi ekspansi imperialis masyarakat kapitalisme Barat terhadap sumber-sumber ekonomi dunia secara umum<a title="" href="/Documents%20and%20Settings/yo/Desktop/ilkom%20revisi.doc#_edn4">[iv]</a>.</p>
<p> </p>
<p>Meskipun demikian, teori ini semakin bias dirasakan karena Jazirah Arab, khususnya Arab Saudi kembali menunjukkan momentum untuk turut bermain dalam arus informai dunia. Pangeran Saudi baru-baru ini membeli saham twitter.com, situs <em>micro-blogging</em> terbesar di dunia sebesar 300 Miliar Dolar AS<a title="" href="/Documents%20and%20Settings/yo/Desktop/ilkom%20revisi.doc#_edn5">[v]</a>. Selain itu dikabarkan Arab Saudi juga banyak membeli saham Citigroup Inc., Apple Inc. dan  Rupert Murdoch&#8217;s News Corp. Yang notabene merupakan raksasa perusahaan teknologi komunikasi dan media massa dunia.</p>
<p> </p>
<p><strong>Perkembangan Teknologi Informasi</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Abad ke-21 ini merupakan abad yang <strong>sangat kompleks</strong> bagi perkembangan media massa. Tapi yang menonjol adalah perkembangan teknologi informasi yang mengubah kehidupan modern dengan sangat drastis. Almarhum Steve Jobs, dengan karya-karya hebatnya. Mulai dari <em>mouse</em>, <em>laptop</em>, dan peralatan canggih yang kini banyak membentuk gaya hidup bahkan gaya komunikasi manusia. Telah didedikasikan sebagai penemu dan pembentuk abad ke-21 ini.</p>
<p> </p>
<p>Bagaimana generasi kita telah beralih ke <em>paperless</em> telah memungkinkan media massa yang  lebih canggih nantinya. <strong>Perkembangan</strong> <em>Smarphones</em>, <em>tablet</em>, dan piranti komunikasi elektronik lainnya merupakan perkembangan teknologi komunikasi yang belum diperkirakan sebelumnya.</p>
<p> </p>
<p>Selagi teknologi masih berkembang dan manusia makin maju. Maka komunikasi akan terus berjalan. Mungkin kita bisa memprediksi bagaimana komunikasi nantinya, tapi melihat perkembangan teknologi komunikasi saat ini, akan sangat dimungkinkan <strong>perubahan pola budaya masyarakat secara liberal</strong>. Bagaimana cara kita berkomunikasi dan pradigma komunikasi ribuan tahun lalu akan segera berubah secara drastis di masa-masa mendatang.</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="/Documents%20and%20Settings/yo/Desktop/ilkom%20revisi.doc#_ednref1">[i]</a>, Margaret DeFleur (Ed). <em>Fundamentals of Human Communication</em>, 3<sup>rd</sup> edition.New York: Mc-Graw Hill. Hal. 392</p>
<p> </p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/Documents%20and%20Settings/yo/Desktop/ilkom%20revisi.doc#_ednref2">[ii]</a> John Vivian. <em>Teori Komunikasi Massa</em>. Edisi kedelapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Hal. 474 (terj)</p>
<p> </p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/Documents%20and%20Settings/yo/Desktop/ilkom%20revisi.doc#_ednref3">[iii]</a> Assosiated Press: <em>Blacberry Phones ”Main Tools” Organising London Riots</em>. <a href="http://uk.ibtimes.com/articles/262027/20111206/blackberry-phones-main-tools-organising-london-riots.htm">http://uk.ibtimes.com/articles/262027/20111206/blackberry-phones-main-tools-organising-london-riots.htm</a> diakses pada 23 Desember 2011 pukul 12.23 WIB</p>
<p> </p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/Documents%20and%20Settings/yo/Desktop/ilkom%20revisi.doc#_ednref4">[iv]</a> Mohammad Soelhi, <em>Komunikasi Internasional: Perspektif Jurnalistik</em>. Jakarta: Simbiosa Rekatama Media. Hal. 156.</p>
<p> </p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="/Documents%20and%20Settings/yo/Desktop/ilkom%20revisi.doc#_ednref5">[v]</a> Associated Press. <em>Saudi billionaire Prince Alwaleed invests $300 million into microblogging site Twitter.</em><strong> </strong> <a href="http://www.washingtonpost.com/business/technology/saudi-billionaire-prince-alwaleed-invests-300-million-into-microblogging-site-twitter/2011/12/19/gIQAtHvq3O_story.html">http://www.washingtonpost.com/business/technology/saudi-billionaire-prince-alwaleed-invests-300-million-into-microblogging-site-twitter/2011/12/19/gIQAtHvq3O_story.html</a>., diakses pada 26 Desember 2011 pukul 17.00 WIB <strong></strong></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mustaqiim.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mustaqiim.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mustaqiim.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mustaqiim.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mustaqiim.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mustaqiim.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mustaqiim.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mustaqiim.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mustaqiim.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mustaqiim.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mustaqiim.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mustaqiim.wordpress.com/330/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mustaqiim.wordpress.com/330/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mustaqiim.wordpress.com/330/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=330&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/12/29/meraba-komunikasi-massa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9dbba1beb154250383a4fa3a8d27183b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mustaqiim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/12/2011-12-08t224651z_3_btre7b71klo00_rtroptp_3_industry-us-twitter.jpg?w=596" medium="image">
			<media:title type="html">Bagaimana perkembangan twitter?</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Buru-Buru Ketok Palu (RUU Inteljen)</title>
		<link>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/06/21/jangan-buru-buru-ketok-palu-ruu-inteljen/</link>
		<comments>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/06/21/jangan-buru-buru-ketok-palu-ruu-inteljen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 21:21:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustaqiim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[BIN]]></category>
		<category><![CDATA[CIA]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[inteljen]]></category>
		<category><![CDATA[Panja]]></category>
		<category><![CDATA[RUU]]></category>
		<category><![CDATA[Valerie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mustaqiim.wordpress.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa kita butuh UU Inteljen? Apa sebetulnya inteljen? Bagaimana pola inteljen di bangsa-bangsa lain yang sudah maju? Pertanyaan itu muncul dalam benak saya saat beberapa hari lalu sempat turut berwacana dalam sebuah FGD (Forum Group Discussion) di Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) di Salemba, Jakarta Pusat. Membahas RUU Inteljen yang konon [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=189&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_190" class="wp-caption alignleft" style="width: 245px"><a href="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/06/bin1.jpg"><img class="size-full wp-image-190 " title="bin" src="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/06/bin1.jpg?w=627" alt="BIN"   /></a><p class="wp-caption-text">Bagaimana kelak posisi BIN jika RUU ini dishkan?</p></div>
<p style="text-align:left;">Kenapa kita butuh UU Inteljen? Apa sebetulnya inteljen? Bagaimana pola inteljen di bangsa-bangsa lain yang sudah maju? Pertanyaan itu muncul dalam benak saya saat beberapa hari lalu sempat turut berwacana dalam sebuah FGD (Forum Group Discussion) di Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) di Salemba, Jakarta Pusat. Membahas RUU Inteljen yang konon mendekati bulan Juli-Oktober ”sudah” akan disahkan karena telah masuk Panja.</p>
<p>Saya jadi ingat Movie yg belum lama saya tonton, judulnya Fair Game. Movie yang sangat menyentuh tentang kisah nyata seorang agen CIA bernama Valerie yang memegang idealisme inteljen. Meski akhirnya dia malah dikhianati oleh pemerintahan Bush. Lengkapnya tonton sendiri Movienya. Saya sempat <em>mbrebes</em> karena disana, saya malah temukan peran media di AS dalam membentuk kebijakan pemerintah AS yang sungguh sangat mengerikan.</p>
<p>Kembali ke Inteljen, kata tersebut berasal dari kata Intellegence alias cerdas. Berafiliasi dengan kata mata-mata. Dalam FGD di Kontras tersebut. Saya dapati inti dari kerja Inteljen adalah sebagai mata dan telinga negara. Inteljen adalah organisasi pemerintah yang menyediakan fakta-fakta, data-data kongrit, dan analisa-analisa yang menunjang kebijakan pemerintah demi kemajuan rakyatnya. Analogi finalnya, inteljen tak diperkenankan sedikitpun untuk ”mencubit” siapapun. Yang berhak menangkap hanya lembaga yudisial semacam polisi saja.</p>
<p>Lantas bagaimana kinerja Inteljen kita? Oh-oh, belum pernah saya dengar jika Inteljen di Indonesia itu sama definisinya dengan Inteljen di atas. Kerja Inteljen di indonesia hampir  selalu negatif karena tindakannya yang over limit. Sebut saja tragedi Mei 98 dan Tragedi PKI. Sudah jadi rahasia umum bahwa yang bergerak di bawah tragedi tersebut adalah Inteljen kita.</p>
<p>Padahal, inteljen bukanlah lembaga yang berwenang untuk menangkap seseorang. Bukan ranah Inteljen untuk menghakimi bahkan menghukum. Meski belakangan saya tahu, inteljen tak melulu merujuk pada BIN (Badan Inteljen Negara) tetapi ada juga inteljen kejaksaan, inteljen kepolisian, TNI dan  mungkin ada yang lain.</p>
<p>Inteljen harus sesuai dengan peran dan fungsinya, jangan sampai over limit dan mengganggu stabilitas nasional dengan hanya menjadi perpanjangan alat dari pemerintahan saat ini saja.</p>
<p>Isu-isu terorisme, penembakan polisi di beberapa daerah, separatisme semacam NII memang membutuhkan analisa yang lengkap dan jelas oleh inteljen. Jangan sampai isu-isu ini hanya menjadi alasan untuk melegalkan RUU Inteljen yang belum sepenuhnya tersusun secara benar dan akurat untuk dijadikan UU.</p>
<p>Berikut ini adalah beberapa kekurangan dari RUU Inteljen yang layak untuk diperhatikan dan dicermati, hasil dari diskusi bersama Koalisi Advokasi RUU Intelijen seperti yang dilansir detik.com :</p>
<p>1. Definisi Intelijen</p>
<p>Pasal 1 ayat (2) menyatakan bahwa intelijen negara adalah lembaga pemerintah. Pada dasarnya lembaga intelijen bukanlah lembaga pemerintah tetapi alat negara. Definisi itu telah meletakkan posisi intelijen sebagai alat penguasa yang bekerja untuk kepentingan penguasa dan bukan alat negara yang bekerja untuk kepentingan rakyatnya. Hal itu sangat mengkhawatirkan karena sangat mungkin digunakan untuk memata-matai rakyat demi kepentingan penguasa semata.</p>
<p>2. Penyadapan</p>
<p>Penolakan penyadapan melalui izin pengadilan sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 31 bukan hanya berpotensi mengancam hak-hak asasi warga negara tetapi juga rentan disalahgunakan demi kepentingan ekonomi maupun politik kekuasaan. Intelijen memang memerlukan kewenangan untuk melakukan penyadapan/ intersepsi, namun harus dilakukan melalui mekanisme yang baku dan rigid serta harus memiliki prasyarat yang jelas, semisal pentingnya mendapatkan persetujuan pengadilan dalam penyadapan.</p>
<p>3. Rahasia Informasi Intelijen</p>
<p>Pengaturan rahasia intelijen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 jo Pasal 39 RUU Intelijen masih menimbulkan multitafsir dan bersifat karet. Pengaturan yang karet dan multitafsir ini mengancam kebebasan informasi, kebebasan pers dan demokrasi itu sendiri.</p>
<p>4. Penangkapan</p>
<p>Pemberian kewenangan menangkap kepada intelijen mengancam hak asasi manusia dan merusak mekanisme criminal justice system. Pemberian kewenangan itu sama saja dengan melegalisasi penculikan dalam undang-undang intelijen, mengingat kerja intelijen yang tertutup dan rahasia.</p>
<p>Penting diingat bahwa badan intelijen negara adalah bagian dari lembaga intelijen non-judicial yang tidak termasuk menjadi bagian dari aparat penegak hukum. Dalam negara hukum, kewenangan menangkap maupun menahan hanya bisa dilakukan oleh aparat penegak hukum.</p>
<p>5. Lembaga Koordinasi Intelijen Negara (LKIN)</p>
<p>Lembaga Koordinasi Intelijen Negara (LKIN) sebagai lembaga baru yang diatur dalam RUU ini akan menjadi lembaga yang menggantikan kedudukan Badan Intelijen Negara (BIN) yang memiliki kewenangan sangat luas. Dalam hal itu, LKIN seharusnya tidak boleh memiliki kewenangan dan fungsi operasional, seperti melakukan intersepsi komunikasi, pemeriksaan aliran dana, dan lain-lain.</p>
<p>6. Pengawasan</p>
<p>Pengaturan mekanisme pengawasan dalam RUU Intelijen Negara ini hanya dilakukan dalam bentuk pengawasan parlemen oleh DPR yang dilaksanakan oleh perangkat kelengkapan DPR yang membidangi pengawasan intelijen. Tidak ada ketentuan yang mengatur pengawasan internal, pengawasan eksekutif, maupun pengawasan hukum.</p>
<p>7. Organisasi dan Peran</p>
<p>Dari sisi organisasi, RUU Intelijen Negara tidak menganut diferensiasi struktur dan spesialisasi fungsi. RUU Intelijen Negara tidak membagi wilayah kerja antara intelijen luar negeri, intelijen dalam negeri, intelijen militer, dan intelijen penegakan hukum secara tegas.</p>
<p>8. Struktur dan Kedudukan</p>
<p>RUU Intelijen Negara juga belum dapat memisahkan akuntabiltas antara struktur yang bertanggungjawab dalam membuat kebijakan dengan struktur yang bertanggung jawab secara operasional dalam melaksanakan kebijakan.</p>
<p>9. Personel dan Rekrutmen</p>
<p>Terkait dengan anggota intelijen, RUU Intelijen Negara hanya secara sumir mengatur tentang personel intelijen. Tidak diatur bagaimana mekanisme rekrutmen yang baik secara terbuka maupun tertutup.</p>
<p>10. Kode Etik dan Larangan</p>
<p>Selain itu, RUU Intelijen Negara ini juga masih belum mengatur mengenai pengaturan atau kode etik intelijen yang mencakup kewajiban, hak dan larangan bagi seluruh aktivitas dan aspek intelijen.</p>
<p>11. Sipilisasi Intelijen</p>
<p>RUU ini belum mengatur tentang agenda sipilisasi intelijen. Sudah seharusnya di era demokratisasi seluruh lembaga intelijen adalah sipil dan bukan TNI aktif, kecuali intelijen militer. Sampai saat ini Badan Intelijen Negara (BIN) masih diisi oleh TNI aktif. Padahal Kepala BIN saja berasal dari sipil.</p>
<p>12. Hak Korban</p>
<p>RUU Intelijen Negara belum mengatur tentang hak-hak korban, khususnya terkait dengan komplain korban apabila terdapat tindakan intelijen yang menyimpang dan menimbulkan persoalan serius terhadap hak-hak masyarakat.</p>
<p>So, Bapak Ibu yang (minta) terhormat di Senayan. Bahas dulu ini permasalahan RUU Inteljen yang belum dimasukkan DIM (Daftar Infentarisasi Masalah) RUU Inteljen, bahkan belum didiskusikan dengan masyarakat umum. Buat Marjuki Ali, jangan buru-buru ketok palu RUU Inteljen jika alasannya ”Udah sesuai jadwal, dan terkatung-katung sejak 2004” So what! UU Inteljen harus lahir dengan sehat, bukan prematur dan cacat meski telah dikandung bertahun-tahun. Kalau tidak? Tunggu tanggal main kami mahasiswa&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mustaqiim.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mustaqiim.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mustaqiim.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mustaqiim.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mustaqiim.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mustaqiim.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mustaqiim.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mustaqiim.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mustaqiim.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mustaqiim.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mustaqiim.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mustaqiim.wordpress.com/189/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mustaqiim.wordpress.com/189/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mustaqiim.wordpress.com/189/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=189&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/06/21/jangan-buru-buru-ketok-palu-ruu-inteljen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9dbba1beb154250383a4fa3a8d27183b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mustaqiim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/06/bin1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pementasan “Visa” Buka Forum Teater Realis Salihara</title>
		<link>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/06/07/pementasan-%e2%80%9cvisa%e2%80%9d-buka-forum-teater-realis-salihara/</link>
		<comments>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/06/07/pementasan-%e2%80%9cvisa%e2%80%9d-buka-forum-teater-realis-salihara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jun 2011 15:58:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustaqiim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Synopsis]]></category>
		<category><![CDATA[goenawan muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[iswadi pratama]]></category>
		<category><![CDATA[realis]]></category>
		<category><![CDATA[salihara]]></category>
		<category><![CDATA[teater]]></category>
		<category><![CDATA[teater satu]]></category>
		<category><![CDATA[visa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mustaqiim.wordpress.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Seorang anak kecil memasuki panggung pertunjukan, tak ada yang mencolok, hanya seorang anak kecil saja. Lalu sebuah puisi yang belakangan kerap dibacakan lagi di sela-sela pertunjukan menggema dan membuka pementasan malam itu. &#160; ”Amerika adalah lautan kota-kota kecil dengan Gereja berwarna putih perpustakaan 10.000 buku balai kota berbata merah toko-toko di mainstreet yang setia &#160; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=175&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_176" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><a href="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/06/visa1.jpg"><img class="size-full wp-image-176 " title="visa1" src="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/06/visa1.jpg?w=627" alt="Salah satu adegan pertunjukan Visa"   /></a><p class="wp-caption-text">Teater Satu memainkan Visa</p></div>
<p>Seorang anak kecil memasuki panggung pertunjukan, tak ada yang mencolok, hanya seorang anak kecil saja. Lalu sebuah puisi yang belakangan kerap dibacakan lagi di sela-sela pertunjukan menggema dan membuka pementasan malam itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>”Amerika adalah lautan kota-kota kecil</p>
<p>dengan Gereja berwarna putih</p>
<p>perpustakaan 10.000 buku</p>
<p>balai kota berbata merah</p>
<p>toko-toko di <em>mainstreet</em> yang setia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Amerika adalah barisan rumah yang rapi dan tentram</p>
<p>di mana orang tak ingin pergi jauh</p>
<p>atau ketemu orang di timur jauh</p>
<p>di mana orang tak pernah dengar bahasa Turki atau Parsi</p>
<p>tak pernah makan sasimie atau ayam tandori</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Amerika adalah sebuah isolasi</p>
<p>ya, sebuah hidup lokal yang lupa tentang dunia</p>
<p>karena mempunyai segala-galanya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kalimat-kalimat itu membuka pertunjukan teater berjudul Visa di gedung pertunjukan Salihara Jum’at 3 Juni 2011. Malam itu adalah malam pertama sekaligus pembuka untuk serentetan pertunjukan Forum Teater Realis yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara selama bulan Juni 2011 ini. Teater realis adalah jenis teater yang mengangkat kisah kehidupan nyata kita sehari-hari.</p>
<p>Boleh jadi ini adalah kali pertama saya nonton langsung sebuah teater yang bisa dikatakan bunafit baik dari segi penulisan naskah, sutradara, pemain, maupun tempatnya. Bagaimana tidak, naskah teater ini ditulis oleh seniman kawakan Goenawan Muhammad dan belakangan saya tahu, naskahnya juga pernah dipentaskan oleh Teater Lunglid beberapa tahun silam.</p>
<p>Sutradaranya adalah Iswadi Pratama, seperti yang saya dengar dari <em>podcast</em> www.dw-world.de, dia pernah diajak berkolaborasi untuk pementasan teater di Jerman dari naskahnya yang  terkenal berjudul ”Nostalgia Sebuah Kota”. Hebat bukan?</p>
<p>Para pemainnya sendiri adalah Teater Satu yang berasal Lampung, mereka pernah dianugrahi oleh Majalah Tempo sebagai Group Teater Terbaik versi Majalah Tempo tahun 2008 silam lewat sebuah pementasan single berjudul ”Perempuan di Titik Nol”.</p>
<p>Saya tidak akan bercerita bagaimana jalannya pertunjukan, karena jujur saya bukan pengamat seni. Tapi pertunjukan ini sungguh berkesan bagi saya, makna yang dikandung dalam pementasan ini bisa jadi pelajaran bagi saya pribadi. Kisah tentang para pencari Visa di Konsulat Amerika ini dijadikan sebuah pertunjukan apik yang  penuh satire hingga metafora kehidupan yang sangat kompleks.</p>
<p>Pemainnya ada yang digambarkan melalui seorang pelajar, penujum, pebisnis, nenek yang menengok cucunya, sepasang sejoli, hingga banci jadi-jadian yang lucu. Masing masing memiliki cerita yang asik, unik, dan seringnya menyentuh.</p>
<p>Isinya misal tentang mengapa hidup kita selama ini hanya dirangkum dengan beberapa lembar formulir yang harus terisi semua. Dan jangan heran ketika kita harus mengisi nama keluarga, nama ayah, atau nama suami kita yang terkadang kita tidak bisa  mengisinya semudah orang lain mengisinya.</p>
<p>”Bagaimana jika saya tidak mengenal ayah saya? Karena kata ibu, ayah saya hilang. Tetapi kata tetangga, ayah saya memang sengaja dihilangkan pada tahun 60-an&#8230;</p>
<p>Mengapa saya harus menuliskan nama almarhum suami saya? yang meski sudah memberi tiga anak pada saya, nyata-nyatanya hati saya tidak pernah saya berikan padanya&#8230;</p>
<p>Bagimana saya harus mengisi nama ayah saya, karena saya adalah anak jadah. Tetapi saya keturunan Prancis, ayah saya dulu membantu bikin bendungan &#8230;”</p>
<p>Semua itu sepertinya memang tidak berguna, dan hanya mengorek luka lama. Dan itu sering ditanyakan secara mendetail oleh pihak penggurus visa kepada para pencari visa di Konsulat Amerika. Ini menjadi tanda tanya, mengapa begitu ketatnya hanya untuk bertamu di negeri Paman Sam itu? Apakah mereka takut kepada orang kecil seperti kita? Atau apakah Amerika memang trauma?</p>
<p>Pesan-pesan lain disampaikan bagai sebuah curhatan, ada juga pesan kasih sayang sejoli yang berbalas puisi yang entah mengapa diiringi salah satunya dengan lagu Imagine-nya Jhon Lenon. Saya malah menangkap pesan Lenon dibanding pesan puisi, norak sih, mentang-mentang hafal liriknya. Tapi dipikir-pikir lirik Lenon malah kontradiksi dengan isi materi pertunjukan sepertinya. Ah, tapi saya tidak mau ber-sotoy ria, hehehe&#8230;</p>
<p>Ya, seperti itulah kira-kira gambaran pementasan malam itu. Penontonnya penuh dan banyak artis dan seniman serta ekspat. Ada juga tetangga saya mas Rizki Mulyawan alias Dik Doank yang bertatapan muka tapi saya nggak senyum sama sekali karena bingung mau menyapa apa (padahal kerap ketemu). Dan yang nggak enak banget, saya duduk di row kedua sebelah kanan disebelah saya ada aktris senior wanita bernama X yang kalo ketawa panjang banget dan mengganggu keheningan pertunjukan.</p>
<p>Pertunjukan malam itu dimulai pukul 8.30 dan berakhir 70 menit kemudian. Setelah pertunjukan berakhir, saya sempat mengucapkan selamat dan berjabat tangan dengan Iswadi Pratama, nggak sempat foto-foto sih, maklum saya seorang diri dan terkenal jaim J. Selain itu, ini kali pertama saya naek motor jauh-jauh plus malam di ibukota. Jadi saya urung untuk pulang larut malam.</p>
<p><a href="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/06/ftr1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-178" title="FTR" src="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/06/ftr1.jpg?w=627" alt="Jadwal Forum Teater Realis di Salihara"   /></a>Baiklah, bagi Anda yang belum sempat mengapresiasi anak-anak Teater Satu ini. Masih empat pertunjukkan lagi selama weekend Juni 2011 oleh Teatris lain yang pastinya sudah expert juga. Tiketnya hanya 25 ribu untuk mahasiswa dan terbatas. Lucunya, saat saya beli tiket ini, rencananya saya mau pake identitas Pers saya biar gratis, tapi ternyata sudah habis. Dan ternyata Press Confrence memang sudah sehari sebelumnya, dan juga tidak bisa memperoleh foto eksklusif. Terpaksa saya mencatatkan diri sebagai mahasiswa dan saat saya tanda tangan, walaaaa disana tercatat banyak mahasiswa UI dan Binus, UIN hanya satu, hanya saya seorang L.</p>
<p>Bagi yang mau melihat foto-fotonya lebih banyak, klik saja link di <a href="http://www.flickr.com/">www.flickr.com</a> berikut ini <a href="http://fb.me/SDR74vfV">http://fb.me/SDR74vfV</a> Selamat menikmati&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mustaqiim.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mustaqiim.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mustaqiim.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mustaqiim.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mustaqiim.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mustaqiim.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mustaqiim.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mustaqiim.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mustaqiim.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mustaqiim.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mustaqiim.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mustaqiim.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mustaqiim.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mustaqiim.wordpress.com/175/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=175&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/06/07/pementasan-%e2%80%9cvisa%e2%80%9d-buka-forum-teater-realis-salihara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9dbba1beb154250383a4fa3a8d27183b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mustaqiim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/06/visa1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">visa1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/06/ftr1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">FTR</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyentil Ideologi&#8230;</title>
		<link>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/06/02/menyentil-ideologi/</link>
		<comments>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/06/02/menyentil-ideologi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 09:04:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustaqiim</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[definisi]]></category>
		<category><![CDATA[gagal]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[ideology]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Komarudin Hidayat]]></category>
		<category><![CDATA[NII]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[saviour]]></category>
		<category><![CDATA[sendiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mustaqiim.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[“Terlalu mahal dan akan banyak menelan korban untuk mengganti ideologi…” kata Rektor UIN Jakarta, Komarudin Hidayat beberapa waktu lalu di account twitter @komar_hidayat miliknya, menanggapi kasus NII yang merebak di masyarakat belakangan ini, dan juga cukup menggoyang kampus tercinta. Kebetulan di kesempatan lain saya juga mendengar perkataan beliau tentang ideologi, kurang lebih seperti ini, “Mahasiswa, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=168&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/06/garuda.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-171" title="garuda" src="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/06/garuda.jpeg?w=627" alt=""   /></a>“Terlalu mahal dan akan banyak menelan korban untuk mengganti ideologi…”</em></p>
<p>kata Rektor UIN Jakarta, Komarudin Hidayat beberapa waktu lalu di account twitter @komar_hidayat miliknya, menanggapi kasus NII yang merebak di masyarakat belakangan ini, dan juga cukup menggoyang kampus tercinta.</p>
<p>Kebetulan di kesempatan lain saya juga mendengar perkataan beliau tentang ideologi, kurang lebih seperti ini,<em> “Mahasiswa, silahkan mencari ideologi sesuai dengan kemampuannya, terserah mana yang mau dianut, toh mereka juga akan sadar akan realitanya…”</em> katanya saat mengisi sebuah seminar tentang organisasi kampus beberapa hari lalu. Hal itu yang membuat saya berpikir dan terus berpikir, lantas mencoba mengurai benang merah persoalan bangsa ini, ideologi.</p>
<p>Saya pun terhenyak, sama terhenyaknya saat heboh soal definisi identitas yang menyeruak beberapa tahun silam. Nyatanya, saya, atau beberapa dari kita memang belum paham benar definisi ideologi. Bahwa memang sejak kecil kita telah terdoktrinasi dengan ideologi Pancasila, hingga kita hapal di luar kepala namun minim penggejawantahan di lapangan.</p>
<p>Buktinya? Saya coba tanyakan kepada beberapa mahasiswa berbagai semester dan nyatanya memang mereka tidak terlalu kenal dengan istilah fundamental ini. Maklum, saat ini mayoritas dari kami adalah penganut hedonisme yang disarikan secara keliru dari makna kebebasan, yang memang banyak disuarakan tanpa pemahaman. Inilah realita gagalnya pembentukan karakter. Ah, harapku ini hanya asumsi belaka, karena realitanya lebih menggerikan. ?</p>
<p><strong>Pembelajaran Ideologi: Indoktrinasi yang Keliru</strong></p>
<p>Ideologi selalu berhimpitan dengan idealis. Ideologi adalah sebuah cita-cita besar, sedang idealis adalah sikapnya. Kita selalu mengenang ideologi dengan pancasila, komunis, demokrasi, ekstrim kanan-kiri, agama, dlsb. Semua itu hanya sebagai wacana bahwa ideologi memang sudah di patenkan oleh beberapa pemikir barat. Sehingga saat ini, kajian teori ideologi bangsa ini ”lagi-lagi” nyontek pemikiran mereka tanpa sedikitpun improvisasi. Kenyataannya, tata ideologi dunia memang tidak bisa disatukan hingga tak mungkin disamakan.</p>
<p>Sukarno, pencetus Pancasila adalah orang yang Idealis. Baginya ideologi Pancasia yang ia kenalkan pada bangsa ini adalah sebuah pemikiran yang mampu meraup banyak massa tanpa ada pertumpahan darah. Karena Pancasila memiliki jiwa yang selaras dengan nafas kedepan bangsa yang multikultural.</p>
<p>Tapi kini apa hasilnya? Korupsi, Terorisme, Cikeusik, Depok, NII, dlsb. Adalah buah dari penerapan dan penjagaan ideologi yang nyata-nyata telah gagal dalam prakteknya. Lemahnya pemimpin dalam menggelola dan menjaga ideologi membuat banyak dari kita mencari-cari alternatif ideologi. Dari sekedar coba-coba dan kecil-kecilan setingkat mahasiswa (tidak terekspos) dan radikalisme-radikalisme semu hingga yang sering dibilang ekstrem seperti ideologi berbasis agama seperti NII.</p>
<p>Pembelajaran ideologi di ranah pendidikan sangat miskin praktik, pelajar dijejali teori dan teori yang pasti tidak akan berguna tanpa dipraktikkan. Ideologi pancasila dikenalkan kepada pelajar sekolah sebagai dasar negara yang wajib dihormati dengan taat pada guru dan rajin belajar. Ideologi dikenalkan pada bahan ajar Kewarganegaraan dengan hapalan-hapalan tekstual yang seringnya sangat menjemukan.</p>
<p>Akhirnya, tanpa penekanan pada aspek praktikum, cukup memberi hormat pada bendera merah putih saat upacara pun sudah dianggap sebagai praktik ideologi. Hingga saatnya mereka keluar dari ranah pendidikam sekolah, mayoritas dari mereka <em>shock</em> dengan bebasnya ideologi yang ada. Hasilnya, pembentukan ideologi mayoritas memang baru dicari dan terbentuk saat berada di dunia kampus, atau saat seorang manusia kini telah menemui kondisi lingkungan yang sebenarnya di luar lingkungan sekolah atau kampus.</p>
<p><strong>Ideologi personal lebih penting dari ideologi kelompok.</strong></p>
<p>Maksudnya bahwa tiap-tiap kita wajib punya ideologi. Akademisi, politisi, peneliti dlsb sejatinya adalah orang yang pertama-tama punya ideologi personal yang jelas bagi masa depannya. Sayang, idelogi personal saat ini tergerus oleh ideologi <em>partial</em> kelompok. Walhasil perasaan ideologi personal yang kadang dipupuk sendiri harus tergerus saat menemui kondisi lapangan yang mengaharuskan taat pada ideologi kelompok, yang pastinya belum tentu <em>on the track</em>.</p>
<p>Pembentukan mental atau <em>character building</em> sangat diperlukan dalam pembentukan ideologi personal yang kokoh, kuat, dan tahan banting. Seeorang yang punya karakter kuat sudah tentu memiliki ideologi yang mantap. Inilah <em>keyword</em> dalam regenerasi ideologi anak bangsa kedepanya.</p>
<p>Minimnya praktik ideologi digunakan oleh beberapa pihak untuk meraup keuntungan. Dengan dalih mendirikan bangsa yang lebih maju, kuat, sehat dlsb, praktik-praktik ideologi dengan pemahaman yang boleh dikatakan ”menyimpang” pun akhirnya disebarkan benih-benihnya. Dan kini tumbuh subur di negeri ini. Baik yang sembunyi-sembunyi, malu-malu kucing hingga yang dengan bangganya memerkan ideologi di jalanan-jalanan, mengobral murah dengan iming-iming kekuasaan. Atas nama rakyat, atas nama Tuhan, <em>sigh</em>!</p>
<p>Tidak salah memang, mengingat manusai dilahirkan untuk bebas dan tanpa paksaan dalam hal apapun, tetapi lagi-lagi harus <em>on the right track</em>. Ideologi bukan sekedar permainan, kita harus mendiskusikan, berbagi, dan mengkaji. Ideologi dalam hemat saya, kelak yang akan ditanyakan pertama kali oleh Malaikat saat kita mati. Karena ideologi mengantar kita sebagai manusia yang benar-benar manusia, baik mengakui Tuhan atau tidak bisa tercermin dalam ideologinya.</p>
<p>Misal, seorang komunis yang meninginkan kesetaraan pun boleh jadi lebih manusia daripada seorang Imam yang menginginkan kekuasaan. Karena ideologi sejatinya terletak pada diri pribadi masing-masing. Dan terlihat dan tercermin dalam segala ”tindakannya”.</p>
<p><strong>Perang Ideologi, Masihkah ada?</strong></p>
<p>Ideologi personal, ya saya yakin masing-masing dari kita punya, hanya saja terkadang tidak menyadari keberadaannya. Namun ideologi kelompok, siapa kira setelah komunis berhasil tersingkirkan dari bangsa ini beberapa waktu silam, perang ideologi tak kunjung berakhir.</p>
<p>Lagi-lagi dari kajian sejarah, Sukarno adalah salah satu orang yang paham dengan multikultural dan multi-ideologi bangsa yang sejatinya sulit untuk dipersatukan ini. Konsep integrasi dalam nasakom yang ia buat adalah bagian penting dari pemikiran Sukarno dalam mengintegrasikan bangsa ini. Meski belakangan kita tahu konsep itu justru memecah belah bangsa saat orde lama.</p>
<p>Hingga hukum alam pun berlaku dalam perang ideologi. Siapa kuat, siapa lebih banyak pengikut, siapa lebih pandai; dialah pemenang dalam perang idelogi, dan ideologi kelompok yang kini telah menjelama menjadi ideologi bangsa ini adalah hasil dari pertumpahan darah juataan manusia yang mati tanpa nama dan kubur.</p>
<p>Siapa kira, pertikaian ideologi bisa lebih jahanam dari penjajahan. Ini terbukti tak hanya di negeri garuda ini, berbagai negara dan bangsa pun mengalaminya. Banyak bangsa yang rela membunuh saudaranya sendiri hanya karena perbedaan ideologi. Inilah titik “kesakralan” ideologi&#8230;</p>
<p>Dan kini seperti kata Komarudin Hidayat di atas, terlalu mahal untuk mengganti ideologi. Tetapi, terlalu sulit juga untuk mempertahankannya, disaat ideologi semu berlahan-lahan mengahncurkan ideologi bangsa ini lewat korupsi, keyakinan membabi buta, kapitalisme <em>a la</em> rimba, dan nafsu-nafsu ideologi semu lainnya yang sudah sepatutnya diperangi bersama.</p>
<p><strong>Dari mana kita mulai&#8230;</strong></p>
<p>Ingat bahwa demokrasi yang menjadi basis Ideologi Pancasila pun juga masih mengalami <em>trial and error</em>. Karena ini juga hasil pemikirian alamiah manusia akan kondisi dunia yang dinamis. ”<em>Ideologi Demokrasi Pancasila saat ini memang bukan yang sempurna, tapi paling tidak inilah yang terbaik untuk saat ini</em>” kata Study Rizal, dosen civic education saya semester lalu yang selalu saya ingat.</p>
<p>Siapa duga, pikir saya, kelak akan ada geombang dunia ke berapa yang lebih nyata tentang ideologi <em>tata kehidupan dunia yang</em> <em>satu</em> <em>padu</em> dibawah sistem yang entah apa namanya.</p>
<p><strong>Tapi sayangnya</strong>, dalam praktik beragama saya, hal itu hanya dijanjikan kelak di surga. Jadi memang ironi bahwa Tuhan sendiri tidak menjanjikan kedamaian yang satu padu di dunia ini. Tapi saya yakin, Tuhan beserta sifat-sifatnya senantiasa memberi banyak anugrah bagi hambanya yang senantiasa mencoba menginginkan tata hidup yang lebih baik seperti nabi-nabi. <strong>Sayangnya lagi</strong>, konon nabi sudah berakhir, dan ini membuat saya agak pesimis tentang kenyataan yang mungkinkah akan berubah. <em>Who is the saviour? </em></p>
<p>Janji tentang ratu adil, mesias, dan imam terakhir menjadikan manusia kerap lupa bahwa sebenarnya <em>saviour</em> mereka terletak pada diri kita sendiri, kitalah yang bisa menyelamatkan kita, apa yang telah dan akan kita lakukan kelak akan dipertanggungjawabkan. Maka, sudah pasti, marilah memulai hidup kedepan dengan ideologi yang jelas, dan semua itu berpangkal dari nurani masing-masing,</p>
<p>Selamat menjadi manusia yang idelis&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mustaqiim.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mustaqiim.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mustaqiim.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mustaqiim.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mustaqiim.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mustaqiim.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mustaqiim.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mustaqiim.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mustaqiim.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mustaqiim.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mustaqiim.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mustaqiim.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mustaqiim.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mustaqiim.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=168&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/06/02/menyentil-ideologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9dbba1beb154250383a4fa3a8d27183b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mustaqiim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/06/garuda.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">garuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesan Mendalam tentang Veronica Guerin</title>
		<link>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/05/18/kesan-mendalam-tentang-veronica-guerin/</link>
		<comments>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/05/18/kesan-mendalam-tentang-veronica-guerin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 07:30:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustaqiim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Synopsis]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi wanita]]></category>
		<category><![CDATA[idealisme]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis wanita]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan pers]]></category>
		<category><![CDATA[teladan jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[veronica guerin]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mustaqiim.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Dunia Jurnalistik bukanlah dunia yang mudah untuk dijalankan. Di dalamnya terdapat tanggung jawab profesi kepada masyarakat sekaligus bahaya-bahaya yang mengincarnya. Disana seorang jurnalis sejati akan menjamah dunia fakta yang penuh tantangan berbahaya demi sebuah kenyataan yang harus diungkapakan pada masyarakat. Indonesiatercatat sebagai negara dengan tingkat kematian wartawan paling tinggi (tanpa melihat sisi geografis). Anehnya negera [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=150&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center">Dunia Jurnalistik bukanlah dunia yang mudah untuk dijalankan. Di dalamnya terdapat tanggung jawab profesi kepada masyarakat sekaligus bahaya-bahaya yang mengincarnya. Disana seorang jurnalis sejati akan menjamah dunia fakta yang penuh tantangan berbahaya demi sebuah kenyataan yang harus diungkapakan pada masyarakat.</p>
<p>Indonesiatercatat sebagai negara dengan tingkat kematian wartawan paling tinggi (tanpa melihat sisi geografis). Anehnya negera ini dianggap sebagai negara yang sukses menerapkan demokrasi. Memang terkesan <em>ngawur</em>, tetapi itulah kenyataan saat ini, kita lebih banyak main teori dan sepenuhnya mengesampingkan praktek. Sehingga keagungan   demokrasi yang kian menguap jenuh menutupi kenyataan bahwa pilar ke-empat demokrasi, yakni pers, sudah retak sejak satu dekade silam dan hanya sempat berjaya seumur jagung.</p>
<p>Selama ini, di Indonesia (sepengetahuan saya) belum pernah ada film yang berkisah tentang matinya jurnalis saat meliput berita. Karena memang pekerja jurnalis adalah orang yang memang jarang terekspos dan tidak popular. Tetapi boleh kita tengok sebuah kisah nyata tentang jurnalis wanita yang mati dimedanprofesinya. Namanya harum di negerinya, nan jauh di Eropasana, ia dikenal sebagai pahlawan.</p>
<p>Veronica Guerin, seorang jurnalis dan <em>Sunday Independent</em>, sebuah koran di Irlandia, menjadi salah satu korban dasyatnya sebuah kebenaran yang ia coba ungkapakan. Ia tidak sekedar memberikan informasi kepada masyarakat, tetapi ia juga ingin mencoba menggugah kesadaran masyarakat tentang bobroknya moral disekelilingnya. Meski ia tahu ia akan berhadapan dengan bandar besar narkoba, dia tetap maju dan pantang menyerah meski kelak nyawa taruhannya.</p>
<div id="attachment_152" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/05/86191_veronica_guerin.jpg"><img class="size-full wp-image-152" title="_86191_veronica_guerin" src="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/05/86191_veronica_guerin.jpg?w=627" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Veronica Guerin</p></div>
<p>Dia adalah salah satu jumalis yang layak menjadi teladan bagi jurnalis lainnya. Rasa peka terhadap lingkungan di sekitarnya menjadi teladan bagaimana seharusnya dia meliput berita. Dia iba ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa narkoba telah menyentuh anak-anak dibawah umur. Dan banyak membunuh remaja di gang-gang sempitkotaDublin.</p>
<p>Kemauannya untuk bergaul dengan semua lapisan masyarakat menjadi contoh bagaimana seorang jurnalis seharusnya bersikap dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Dengan pelaku kriminal pun dia mau bergaul, dia mau memasuki tempat-tempat yang tabu dimasuki oleh banyak orang. Ia berani menelusuni tempat-tempat peredaran narkoba dan prostitusi, yang notabene banyak orang enggan memasukinya.</p>
<p>Dia menginvestigasi dunia perdagangan narkoba yang bukan berita menarik waktu itu, karena era 80-an adalah era dimana narkoba dianggap barang yang lazim dikonsumsi. Tapi ia jurnalis yang meliput sesuatu yang tidak bisa ditangkap melalui mata biasa. Seorang jurnalis yang bisa dikatakan memiliki indra keenam. Dan ia menggunakan anugrahnya untuk mencoba membuka mata masyarakat yang lain. Agar sadar akan kenyataan di sekelilingnya.</p>
<p>Dia juga teliti dalam mengerjakan segala sesuatu. Hal-hal detail ia perhatikan. Tidak teijebak dengan informasi palsu narasumber kepercayaannya yang telah memberikan keterangan untuk mengadu domba beberapa pihak dan menutupi bandar besar. Pada akhirnya, berkat ketelitiannya dia berhasil mengungkapkan sendiri siapa dalang besar narkoba yang memang ditutup-tutupi narasuber kepercayaannya tadi, narasumber yang temyata juga turut menginginkan kematiannya.</p>
<p>Sikap pantang menyerah yang dia miliki menjadi kekuatan yang layak ditiru bagi generasi pekerja jurnalistik yang lain. Sebelum mati, kaki kanannya pernah ditembak, dipukuli hingga babak belur, juga keluarganya kerap mempemleh teror dan ancaman. Tetapi dia panmng menyerah, karena baginya fakta adalah segala-galanya, mekipun ribuan poundsterling juga telah ditawarkan kepadanya untuk menghentikan investigasinya.</p>
<p>Veronica adalah sosok jumalis yang sempurna keberanian, ketelitian, keuletan, pantang menyerah, dan semangat yang dasyat menjadi contoh bagaimana seharusnya jurnalis yang idealis bekerja. Tidak takut dengan bahaya dan ancaman. Juga tidak terpesona dengan banyak uang yang ditawarkan kepadanya. Baginya, kebenaran yang harus menjadi prioritas utama. Dia adalah seorang jurnalis yang idealis sekaligus ideal untuk kita contoh tentunya.</p>
<div id="attachment_153" class="wp-caption alignleft" style="width: 220px"><a href="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/05/veronica-guerin-20032864_f.jpg"><img class="size-medium wp-image-153" title="Veronica Guerin (2003)2864_f" src="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/05/veronica-guerin-20032864_f.jpg?w=210&#038;h=300" alt="" width="210" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Veronica Guerin The Movies</p></div>
<p>Sebuah kesan yang mendalam bagi seorang wanita yang rela mati di jalan yang ia anggap benar. Seorang yang bekerja bukan untuk uang, tapi untuk idealisme profesi demi kehidupan yang lebih baik.  Kisahnya dapat kita lihat dalam film yang diperankan oleh Cate Blanchate dengan apik dan sangat menggugah dan disutradarai oleh Joel Schumacer. Kisahnya bisa menjadi teladan bagi siapa saja yang ingin belajar tentang idealisme jurnalistik.   (Mustaqiim)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mustaqiim.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mustaqiim.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mustaqiim.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mustaqiim.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mustaqiim.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mustaqiim.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mustaqiim.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mustaqiim.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mustaqiim.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mustaqiim.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mustaqiim.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mustaqiim.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mustaqiim.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mustaqiim.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=150&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/05/18/kesan-mendalam-tentang-veronica-guerin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9dbba1beb154250383a4fa3a8d27183b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mustaqiim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/05/86191_veronica_guerin.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_86191_veronica_guerin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/05/veronica-guerin-20032864_f.jpg?w=210" medium="image">
			<media:title type="html">Veronica Guerin (2003)2864_f</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ironi Situ Kuru</title>
		<link>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/05/17/ironi-situ-kuru/</link>
		<comments>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/05/17/ironi-situ-kuru/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 May 2011 18:40:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustaqiim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[ciputat]]></category>
		<category><![CDATA[ironi]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan]]></category>
		<category><![CDATA[kosan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungn hidup]]></category>
		<category><![CDATA[parah]]></category>
		<category><![CDATA[pesanggrahan]]></category>
		<category><![CDATA[rusak]]></category>
		<category><![CDATA[situ]]></category>
		<category><![CDATA[situ kuru]]></category>
		<category><![CDATA[UIN]]></category>
		<category><![CDATA[UKM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mustaqiim.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu, seperti biasa kesibukan yang mulai mengeliat di kota Ciputat membangunkanku. Mentari pagi mulai bergelayut malas membasuh kehidupan sekitar kampusku yang terasa seolah tiada henti. Dengan malas pula aku bangun dari kosan, buru-buru mengambil air untuk cuci muka di dekat pintu kosan, mencoba mengejar subuh yang memang sudah lewat. Tak ada yang aneh, tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=157&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<div id="attachment_160" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/05/foto-0033.jpg"><img class="size-medium wp-image-160" title="Foto-0033" src="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/05/foto-0033.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Situ Kuru Situ Pesanggrahan</p></div>
<p style="text-align:left;" align="center">Pagi itu, seperti biasa kesibukan yang mulai mengeliat di kota Ciputat membangunkanku. Mentari pagi mulai bergelayut malas membasuh kehidupan sekitar kampusku yang terasa seolah tiada henti. Dengan malas pula aku bangun dari kosan, buru-buru mengambil air untuk cuci muka di dekat pintu kosan, mencoba mengejar subuh yang memang sudah lewat. Tak ada yang aneh, tak ada yang beda, pagi ini tampak seperti biasanya (bangun kesiangan). Hingga saat aku menoleh ke belakang, aku benar-benar sadar tentang sesuatu yang mesti segera aku tulis.</p>
<p>Kosan kami, ya begitulah kami memanggil sebuah kontrakan kecil kami itu. Ah, terlalu mewah disebut kontrakan, tepatnya hanya kamar ukuran 3 x 4 dengan kamar mandi luar yang terlalu jauh dijangkau. Sering digunakan untuk kumpul-kumpul dan diskusi anak-anak baik siang, sore, atau malam. Kosan itu dihuni tetap oleh beberapa temanku yang punya saham lebih dari 30% disitu, selebihnya, seperti aku ini, hanya numpang tidur saja jika ada kegiatan di organisasi yang berakhir larut malam.</p>
<p>Di belakang kosan kami ada sebuah empang, itu yang aku lihat saat cuci muka tadi, kami memang menyebutnya empang. Karena memang tidak jelas apa bentuknya sekumpulan air itu. Empang itu dikelilingi rumah-rumah yang berfungsi sebagai warteg, foto copy, kosan, warnet, bahkan panti pijat. Di sekitarnya bertumbuhan dengan sangat artistik kangkung-kangkung yang enak dimakan (kangkung <em>a la</em> chef warteg), kangkung-kangkungan (bunga bakung atau enceng gondok) tempat buang limbah rumah tangga sekaligus juga kolam ikan milik warteg di depannya</p>
<p>Tak beda dengan status empang lain, empang satu ini juga berfungsi sebagai tempat sampah ”resmi” di pinggirannya, dan kadang-kadang ada ikan lumayan gede (entah apa) yang mengoda mata siapa saja yang lewat, umumnya yang tergoda adalah warga kurang iman plus kerjaan yang sering datang untuk memancing. Kadang juga ada angsa <em>and the genk</em> yang suka main sosor kepada siapa saja yang mencoba mendekatinya, beberapa temanku yang terlihat ”cukup” seksi pernah terlihat main sosor dengan angsa-angsa ganjen ini. Begitulah kira-kira aku gambarkan kondisi empang yang luasnya sekitar 3-4 hektar itu, cukup luas kan?</p>
<p>Aku segera bergegas menjalani aktivitas, hari ini adalah hari terakhir mengumpulkan tugas organisasi, yakni sebuah tulisan untuk syarat <em>syah wajib ain</em> mengikuti sebuah seminari lanjutan organisasi. Sebetulnya tugas itu sudah sejak seminggu yang lalu diberikan, tapi dasar seorang otak deadliner, sore itu juga dikumpulkan, pagi itu juga baru dikerjakan! Tulisan itu kelak berisi kurang lebih seperti apa yang aku tulis disini. Ditambah dengan beberapa liputan yang telah lalu aku lakukan.</p>
<p>Tanpa basa-basi yang enggak seru dan tanpa bermaksud mencemarkan nama baik empang yang sudah ternodai, aku langsung sebut saja nama asli empang itu. Nama sebetulnya ”Situ Kuru” atau dengan samaran Situ Pesanggrahan (Letaknya di Pesanggrahan). Dinamakan begitu karena status yang situ ini miliki memang tidak jelas. Dulu disebut empang terlalu bagus (konon dulu sangat indah), disebut Situ <em>kok ya</em> kekecilan atau dalam bahasa jawa ”kuru” yang berarti kurus, dan alhasil dinamailah Situ Kuru, dan kini lebih dikenal dengan nama ”empang” saja.</p>
<p>Letaknya kalau dari UIN hanya sepelemparan batu. Gampangnya, aku lempar batu ke orang mancing di Situ dari lantai 7 fakultas Tarbiyah pasti kena! Tapi aku nggak sejahat itu kok, lagian antara Situ Kuru dan UIN terpisahkan oleh tembok setinggi 2,5 meter, jalan Pesanggrahan, dan satu blok rumah-rumah tempat usaha. Mustahil ketahuan kalau aku yang nglempar&#8230;</p>
<p>Beberapa jam setelah aku mandi, gosok gigi dan handukan. Bergegas aku menuju tempat yang sangat terkenal bagi kami kawula muda bujangan, atau single, atau jomblo pria di UIN. Makan di warteg. Bagi yang sudah punya pacar pasti gengsi ngajak kecengannya ke warteg. Minimal ke bakso-mie ayam, masakan padang, resto kecil-kecilan, atau warteg kelas atas yang lucunya malah lesehan!</p>
<p>“Situ Kuru? Tidak tahu aku Bang. Mau makan apa?” kata mamake dengan tekanan logat Tegal, mamake adalah panggilan untuk mbak-mbak yang jaga warteg Tegal itu. Aku masih mencoba bertanya. ”Situ mbak (semua wanita di UIN aku panggil mbak), situ yang dibelakang itu,”</p>
<p>Dia menengok ke belakang lalu menyodorkan piring sambil berucap ”Nah, Di sini cuma ada empang di belakang itu saja,” jelas dia dengan tetap memegang piring berisi nasi yang sudah ”agak” basah yang siap disapa lelauk nan murah meriah. ”Sidane mau makan apak kangmase iki?” tanyanya lagi dengan nada Tegal yang renyah plus sedikit paksaan. Akhirnya aku jawab ”kentang yang itu, trus ikan ini, sama sayur dan sambel ya mbak.” dan aku pun sarapan ditemani dendangan radio komunitas berbahasa tegal yang memutar lagu-lagu dangdut, salah satunya keong racun&#8230;</p>
<p>Sambil makan aku mengamati wilayah ini, wilayah yang sudah menjadi <em>second town</em> bagiku. Letak Pesanggrahan ini memang strategis dengan kampus, konon wilayah itu mulai ramai untuk usaha sejak tahun 80-an, sejak UIN masih IAIN dan banyak dihuni mahasiswa berdarah murni (kaum santriawan-santriwati) bukan Muggle (lulusan SMA yang masih berkutik dengan Nahwu –Sharaf) seperti saya (Istilah keren baru tuh ya, jadiin trend panggilan di UIN boleh juga).</p>
<p>Bisa dikatakan jika hampir seluruh wilayah Pesanggrahan saat ini dihuni oleh kaum pendatang (imigran). Sehingga penduduk asli saat ini tinggal sedikit. Wajar jika Situ Kuru tak dijiwai dan dirawat oleh warga sekitar, hingga tak lagi sepopuler jaman emasnya dulu. “Wajar” pikirku sambil mengunyah ikan yang tiba-tiba saja aku teringat dengan ikan-ikan penggoda di Situ Kuru. Tapi tetap saja kukunyah, karena memang ikannya enak.</p>
<p>Selesai makan, kubayar semua resahku senilai 6.500 IDR. Dan bergegas aku menginvestigasi kawasan itu. Mula-mula aku tanya sana-sini tentang siapa yang warga asli wilayah Pesanggrahan. Akhirnya aku ditunjukkan oleh seorang pemuda yang baru pulang dari main tenis (terlihat dari raket tenis yang ia tenteng), lucunya dia yang seperti memakai bedak di wajahnya (masih kebayang) itu menunjukkanku siapa warga asli sesungguhnya tanpa aku tanya. Dia sebetulnya dengar dari mbak-mbak yang aku tanya sih.</p>
<p>Menurutnya ada sesepuh yang layak jadi narsum, rumahnya tak terlalu jauh, engkong Gamur namanya, konon kakek renta yang berusia 80 tahun itu adalah salah satu saksi hidup kondisi Situ Kuru, mulai dari semasa dulunya petak-petak sawah hingga kini menjadi petak-petak kontrakan. Saat menemuainya, aku harus pergi ke kuburan milik UIN yang agak jauh dari Pesangrahan. Karena menurut petuah istri dan menantunya, tiap pagi Engkong selalu pergi ke kuburan. Menyiapkan lahan untuk dirinya, eh membersihkan kuburan milik keluarganya&#8230;</p>
<p>Tapi nasib tak mempertemukan kami di kuburan, kami bertemu di depan warteg HMI saat itu aku diantar istrinya untuk menemuinya di kuburan. Dia sedikit enggan berkomentar ketika ditanya soal kondisi Situ Kuru. Dari wajah kakek yang masih kuat dan semangat mencangkul tanah kuburan itu tersirat rasa takut dan sungkan-sungkan kepadaku, entah apa yang ia takuti dariku. Ataukah ia tahu bahwa aku penghuni kuburan selanjutnya? Entahlah&#8230;</p>
<p>“Mau nanya apa? Situ ya situ buat pengairan? Mau apa lagi?” katanya dengan spontan saat ku utarakan maksudku. “Saya sudah tua, banyak yang sudah saya lupakan,” tegasnya.</p>
<p>“Kontrakan-kontrakan itu saya tidak tahu, dulu ada yang jual lalu ada yang beli,” katanya meniba.” kalau fungsinya ya masih buat pengairan, ini kan masih ngalir airnya,” menunjuk sebuah selokan tertutup. “Dulu disini banyak sawah-sawahnya, Situ Kuru itu buat ngairin sawah-sawah di sini, dan sejak ada banyak kontrakan, kita jadi sering langganan banjir,” jelasnya dengan nada rendah datar <em>a la</em> kakek sepuh pemurah hati.</p>
<p>Beruntung datang kawannya, Pak Tiar, yang buru-buru mendekati kami. Kakek tersebut menjawab beberapa pertanyaanku, bahkan tanpa ditanya pun kakek mi menceritakan panjang lebar sejarah Situ Kuru. Seolah-olah dia punya indra ke-enam. Tahu jawaban sebelum ditanya&#8230;</p>
<p>“Saya memang tinggal agak jauh dan sini, dari RT satu sana, tapi saya tahu kondisi sejarahnya,” kata Kakek yang berusia 56 tahun ini. “Saya juga prihatin dengan sejarahnya, dulu kan ini tanah situ milik Pengairan (Dinas Pengairan), tapi dijual.” Jelasnya sambil menjelaskan batas-batas situ yang saat mi sudah banyak berdiri bangunan pemmanen.</p>
<p>“Tanah itu dulunya dijual oleh Almarhum Ali Irza, dosen UIN dulu. Melalui Pak Kuting, orang Pengairan,” katanya menggebu-gebu, “saya juga heran, gimana ceritanya orang pinter kok ngejual tanah yang bukan haknya, dia itukanjuga Islam!” tegas kakek yang juga sempat mengaku dekat dengan Komairudin Hidayat, Rektor UIN saat mi.</p>
<p>“Saya jadi heran, letak surga itu ada atau tidak, mereka itukansholat? Nah saya yang nggak sholat saja tahu kalau itu nggak bener! Kok mereka nggak tahu? Gimane ceritanye?” katanya memperlebar bahasan ke arah gossip, digosok makin siip.</p>
<p>Menurut Tiar, siapa Ali masih dapat ditelusuri jajeaknya. Salah satu anaknya kini menjadi juragan kontrakan di daerah tersebut inisialnya W, panjangnya Wardah, sayang saat itu W tidak dapat ditemui karena sedang Umrah di tanah suci. W juga juragan kontrakan kosan kami, belakangan kami tahu jika W selain baik suka nganter cemilan pada salah satu teman kami, dia juga getol nagihin uang kosan yang tengah bulan ini baru kami bayar separoh…</p>
<p>Sebetulnya W saat tulisan aneh ini dibuat sudah pulang dari tanah suci, tapi males ah nemuin.Kanudah selesai tugasnya, aspek continueitaskankadang memang tidak diperhatikan di organisasi saya.</p>
<p>Lanjut, panjang lebar Tiar ngobrol dengan saya, dia menceritakan kondisi Situ Kuru dulunya. Konon kenapa Komar Hidayat menegur pejabat walikota tanggerang untuk membersihkan Situ Kuru beberapa waktu waktu yang lalu, semua itu atas desakan dari Tiar. Panjang lebar saya ngobrol dengan kakek yang mengingatkan saya pada embah di Purwantoro, Wonogiri, Jawa Tengah ini, membuat dada saya sesak. Nasibnya sama dengan warga sekitar UIN lain, terpinggirkan dan tiada dapat berkah dari adanya UIN.</p>
<p>Setelah itu buru-buru saya ke tempat Pak RT, saya udah kenal lho RT Pesanggrahan, konon dia terkenal karena telalu lama menjabat jadi RT plus dengan cakupan wilayah yang terlalu luas! Karena saya dulu juga sudah sempat mewawancarai dia dengan modus yang sama dengan saat ini. Karena aspek continuitas sangat saya jaga!</p>
<p>Widya Utama, atau akrab dipanggil Wiwid, ketua RT I Pesanggrahan, Cempaka Putih turut menggungkapkan keprihatinannya, “Mau bagaimana lagi, Situ Kuru kan yang mengurusi pemerintah. Saya juga kurang tahu bagaimana asal-usulnya,” katanya dengan muka mengantuk, ketahuan kalau dia semalam begadang karena pengajian, karena semalam saya mau ke tempat dia, kata anaknya dia sedang pengajian.</p>
<p>“Dulu kami diajak rembukan sama Pak Komarudin hidayat yang katanya konsen sama Situ Kuru, nyatanya cuma dibersihkan sekali saja sama dinas pengairan, setelah itu tidak ada perawatan lagi,” ungkapnya.</p>
<p>“Saya malah menanyakan dimana LSM-LSM itu? Kenapa kok mi malah seolah-olah terpinggirkan” keluhnya sambil memandikan burung di teras rumahnya. Oh ya, waktu saya datang, dia sedang nyemprotin kandang burung di teras rumahnya.</p>
<p>Pembicaraan kami yang lain agak kurang penting, karena saya sudah tahu ceritanya, urusan pembaca tidak tahu saya serahkan kepada urusan pembaca masing-masing. Selanjutnya dan singkatnya, karena hari sudah terlalu siang dan saya belum sempat ngetik plus editing. Saya langsung menuju UKM yang konsen pada lingkungan hidup di UIN dengan terburu-buru, bisa dibayangkan dengan melodi Mozart e minor misa requiem , saya berlari menuju kampus yang letaknya sekitar sepelemparan rudal dari rumah pak RT, diselingi iringan adzan dzuhur yang bersahutan dari Fatullah dan Jamiah, yang saya binggung juga sebetulnya, mana adzan dari Fatullah di depan Kampus mana Jamiah di dalam kampus, tapi itu tidak penting.</p>
<p>Di sana saya bersua dengan Egi, Kadiv SAR (Ketua Divisi Search and Rescue) UKM Kelompok Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup (KMPLHI) Ranita menyatakan sikapnya tentang kondisi Situ Kuru, “kami punya dua sikap,” ungkapnya dalam kesimpulan akhir setelah ngobrol 37 menit, sesuai hitungan dalam rekaman hp saya.</p>
<p>“Pertama, karena itu menyangkut hal-hal berbau politik antara UIN dan warga, kami membatasi diri untuk tidak melakukan aksi seperti yang dikehendaki banyak pihak. Karena itu diluar tujuan kami, karena tugas kami menjaga alam. Saat ini kami sedang menunggu alat untuk niset Ph keasaman air di daerah Situ Kuru,” katanya.</p>
<p>“Kedua, kami sudah melakukan aksi-aksi sejak tahun 2006 untuk Situ Kuru. Mulai dan pemberian stiker-stiker dan pamfiet-pamfiet untuk menjaga Situ Kuru agar tidak hilang ditelan jaman,” terangnya dengan gaya <em>a la</em> mahasiswa aktifis mayoritas.</p>
<p>Dan karena waktu habis, bergegas saya menuju kembali ke Pesanggrahan untuk mengetik plus editing semua tugas saya, hingga tanpa terasa adzan Ashar kembali menggema. Dan saya kembali bingung,  mana adzan Fatullah mana adzan Jamiah, tapi itu tidak penting, itu urusan saya. Akhirnya saya menuliskan penutup pada tugas tulisan saya seperti ini:</p>
<p>Situ Kuru sudah harusnya dijaga dan dirawat oleb kita semua. Baik warga masyarakat maupun warga kampus. Lebih-lebih letaknya dekat dengan Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tempat yang dekat dengan unsur “pintar” dan “Islam”. Ironi jika kondisi Situ Kuru saat ini jauh dan dua kata tersebut. Dan malah dekat dengan kesan kotor dan kumuh. Semoga saja ironi ini tidak lama berlanjut.</p>
<dl class="wp-caption alignleft">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/05/foto-0036.jpg"><img class="size-medium wp-image-158" title="Foto-0036" src="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/05/foto-0036.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Situ Kuru Saat Ini" width="300" height="225" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Situ Kuru, Mei 2011</dd>
</dl>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mustaqiim.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mustaqiim.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mustaqiim.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mustaqiim.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mustaqiim.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mustaqiim.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mustaqiim.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mustaqiim.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mustaqiim.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mustaqiim.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mustaqiim.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mustaqiim.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mustaqiim.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mustaqiim.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=157&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/05/17/ironi-situ-kuru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9dbba1beb154250383a4fa3a8d27183b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mustaqiim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/05/foto-0033.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Foto-0033</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/05/foto-0036.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Foto-0036</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Redefinisi, dari Makna ke Praktek</title>
		<link>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/04/10/redefinisi-dari-makna-ke-praktek/</link>
		<comments>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/04/10/redefinisi-dari-makna-ke-praktek/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Apr 2011 17:08:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustaqiim</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Faith]]></category>
		<category><![CDATA[My Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[My Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[adam]]></category>
		<category><![CDATA[hawa]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[redefinisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mustaqiim.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[MAKNA DAN FUNGSI REDEFINISI &#8220;Makna Redefinisi adalah memikirkan kembali segala hal yang menurut kita sudah benar, ke arah yang lebih sesuai dengan semangat jaman dan cita-cita&#8221; Akhir -akhir ini sering terdengar kata redefinisi di Iklan merek TV Sony yang menampilkan maksud redefinisi TV. Mengubah arti TV yang tadinya hanya media tontonan, menjadi Inernet TV yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=46&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MAKNA DAN FUNGSI REDEFINISI</strong></p>
<p style="text-align:center;"><em>&#8220;Makna Redefinisi adalah memikirkan kembali segala hal yang menurut kita sudah benar, ke arah yang lebih sesuai dengan semangat jaman dan cita-cita&#8221;</em></p>
<p>Akhir -akhir ini sering terdengar kata redefinisi di Iklan merek TV Sony yang menampilkan maksud redefinisi TV. Mengubah arti TV yang tadinya hanya media tontonan, menjadi Inernet TV yang juga menjadi media dengan penambahan feature internet. Maksud Iklan tersebut kurang tepat mengingat redefinisi sebetulnya hanya berlaku pada hal-hal yang maknanya saja berubah tetapi wujudnya sama. Maksud iklan tersebut adalah revolusi, karena perubahannya mencakup bentuk, fungsi, dan maknanya. Redefinisi  dimaknai sebagai memikirkan, mendefinisikan, mengartikan, memaknai, atau menafsirkan kembali pemahaman-pemahaman suatu hal yang telah ada, hingga memiliki arti yang lebih sesuai dengan kaidah waktu.</p>
<p>Redefinisi bukan hanya dalam penerapan ilmu pengetahuan yang sifatnya dinamis, berlaku pula pada penerapan agama dan norma-nilai yang selama ini kita anut. Segala yang ada di dunia ini bersifat tidak tetap secara definisi umum maupun pribadi. Segala sesuatu memang harus kita maknai esensinya, bukan hanya sekedar prakek saja. Sejalan dengan pemikiran filsafat untuk menggali  esensi dan ilmu pengetahuan untuk menguji kebenaran semua hal.</p>
<p>Saat ini makna redefinisi yang terpenting adalah penerapannya untuk mengubah <em>mind-set</em> kehidupan sehari-hari. Mulai dari prilaku, gaya hidup, kebiasaan, dan sudut pandang. Menjadi pemaknaan kembali yang lebih sesuai dengan konteks jaman selaras dengan cita-cita dan tujuan hidup. Redefinisi kehidupan hanya bisa kita lakukan jika kita banyak menerima input dari luar dengan lebih banyak. Dengan kata lain, kita harus belajar tidak hanya dari yang ada di sekitar kita saja, kita harus belajar dengan menembus tembok dan sekat-sekat pemikiran sempit, dan membiarkannya melewati dimensi ruang dan waktu. Belajar dari masa lalu hingga masa kini, dan dari sekitar kita hingga ujung dunia. Sehingga kita bisa menemukan definisi-definisi lain.</p>
<p><strong>REDEFINISI HIDUP, APA DASARNYA?</strong></p>
<p>Semangat redefinisi memang sudah ada sejak zaman awal  filsafat yang mencoba membuka pemikiran terselubung manusia. Tetapi dalam kitab agama langit,  redefinisi sudah ada sejak jaman Adam diciptakan. Buah yang konon  menjadi sebab kesalahan Adam dan Hawa yang disebut buah terlarang/pengetahuan/Apel/Khuldi-lah yang membuat nenek moyang kita  meredefinisikan tubuh vital mereka menjadi sesuatu yang sesuai dengan fungsi dan  mungkin jaman atau waktunya.Hingga memang lebih tepat juga meredefinisikan nama buah yang dimakan Adam dan Hawa sebagai buah pengetahuan.</p>
<p><a href="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/04/forbidden11.jpg"><img class="size-medium wp-image-144 aligncenter" title="forbidden1" src="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/04/forbidden11.jpg?w=241&#038;h=300" alt="" width="241" height="300" /></a></p>
<p>Sejarah tentang Adam dan Hawa tadi juga harus kita redefinisikan ke arah pemahaman yang lebih tepat. Tanpa Adam dan Hawa kita tidak mungkin hidup di bumi ini, jadi berterima kasih kepada Adam dan Hawa seharusnya menjadi kewajiban bagi semua penganut agama langit. Tanpanya, kita tidak akan pernah mengecap manisnya apel bumi.</p>
<p>Jika secara historis saja redefinisi memang sudah ada, apakah memang sifat dari redefinisi ini merupakan kehendak Tuhan bagi setiap manusia di bumi? Atau dalam konteks makna beragama, ini bisa jadi adalah Sunatullah yang berupa hikmah atau ilmu yang memang hanya bisa dipahami oleh orang yang mau berfikir. Karena makna redefinisi erat kaitannya dengan memikirkan kembali.</p>
<p>Coba kita meresapi ayat ini&#8230;<br />
&#8220;<em>&#8230; Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..</em>.&#8221; QS.Ar Ra&#8217;d : 11</p>
<p>kata mengubah dalam ayat tersebut bisa kita maknai maksudnya menjadi &#8220;mengubah ke arah yang lebih tepat dan lebih baik&#8221; dari yang awalnya dianngap oleh &#8220;kaum&#8221; (orang kebanyakan) memang sudah benar. Jadi mungkinkah makna mengubah disini juga boleh diartikan untuk memikirkan kembali atau boleh jadi meredefinisi.</p>
<p><strong>SEMANGAT REDEFINISI, AWAL DARI TINDAKAN DAN SOLUSI MASALAH</strong></p>
<p>Redefinisi adalah hal yang paling awal yang harus menjadi bahan baku perubahan. Kita harus meredefinisi segala hal, ya, segala hal yang ada di sekitar kita menjadi definisi yang lebih tepat lagi. Jika kita mendefinisikan hidup adalah hidup <em>a la </em>orang kebanyakan, maka sudah tentu kita tidak akan bisa mengubah hidup lebih baik. Redefinisi hidup bisa jadi berbeda-beda, yang pastinya hidup harus diredefinisi ke arah yang lebih baik. Sesuai dengan idealisme atau cita-cita masing-masing orang.</p>
<p>Satu hal yang paling penting setelah memahami redefinisi adalah mengaplikasikannya sebagai solusi suatu masalah. Masalah sering didefinisikan sebagai hal yang merepotkan, akibat dari kesalahan, dan  harus dihindari. Padahal jika kita meredefinisikan masalah ke arah yang lebih tepat. Maka masalah bisa didefinisikan sebagai sebuah kunci untuk menjadi lebih maju, tantangan, atau bahkan anugrah. Sehingga setiap masalah akan dijalani dengan semangat dan tanpa kegelisahan. Groge Bernard Shaw pernah bilang</p>
<p>&#8220;Life is like beautiful melody, only the lyrics are messed up&#8221;.</p>
<p>Shaw telah meredefinisi makna masalah kehidupan memahaminya sebagai sesuatu yang seindah melodi lagu yang meskipun liriknya amat sangat buruk tetapi musiknya bagus. Sehingga bagi Shaw, esensi hidup bukanlah segala masalah sehari-hari yang meskipun itu tidak menyenangkan tetapi ritme yang ia pandang indah. Dan tentang kehidupan, mari  mengacu pada proverb ini:</p>
<p>&#8220;life is never been easy, but always full of fun&#8221;.</p>
<p>Bahwa hidup memang tidak pernah mudah, tetapi selalu menyenangkan. Sehingga boleh jadi seperti kata orang  bijak bahwa</p>
<p>&#8220;Life is by problem, if there is no problem, there is no life&#8221;</p>
<p>Kalimat tadi harus menjadi pegangan kita, untuk meredefinisi kehidupan yang sudah ada menjadi lebih baik dan tepat, meskipun banyak tantangannya.</p>
<p>Jadi, mari kita meredefinisikan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita, mulai dari yang paling penting seperti definisi &#8220;kehidupan&#8221; hingga yang berupa pemahaman-pemahaman seperti definisi &#8220;masalah&#8221;.</p>
<p>SEMANGAT PERUBAHAN!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mustaqiim.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mustaqiim.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mustaqiim.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mustaqiim.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mustaqiim.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mustaqiim.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mustaqiim.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mustaqiim.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mustaqiim.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mustaqiim.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mustaqiim.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mustaqiim.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mustaqiim.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mustaqiim.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=46&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mustaqiim.wordpress.com/2011/04/10/redefinisi-dari-makna-ke-praktek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9dbba1beb154250383a4fa3a8d27183b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mustaqiim</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mustaqiim.files.wordpress.com/2011/04/forbidden11.jpg?w=241" medium="image">
			<media:title type="html">forbidden1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari Sebuah Nama</title>
		<link>http://mustaqiim.wordpress.com/2010/12/31/mencari-nama/</link>
		<comments>http://mustaqiim.wordpress.com/2010/12/31/mencari-nama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Dec 2010 07:36:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustaqiim</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[My Words]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mustaqiim.wordpress.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah pencarian jati diri, dengan berkaca pada segala kehendak Ilahi Rabbi<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=134&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,</em></p>
<p><em>dan kembali pada tempat yang sama,</em></p>
<p><em>Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oh Tuhan,</p>
<p>KehendakMu meliputi segala sesuatu</p>
<p>Tiada daya dan upaya</p>
<p>Selain kehendakMu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Engkau segala dari segala raya</p>
<p>Engkau sumber dari segala sumber</p>
<p>Engkau akhir dari segala yang tak pernah berakhir</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>&#8220;Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,</em></p>
<p><em>dan kembali  pada tempat yang sama,</em></p>
<p><em>Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oh Tuhan,</p>
<p>Padamu aku memuji</p>
<p>Segala Nama dan Puji</p>
<p>Segala Sifat hakiki</p>
<p>Segala Kehendak</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>&#8220;Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,</em></p>
<p><em>dan kembali  pada tempat yang sama,</em></p>
<p><em>Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oh Tuhan,</p>
<p>PadaMu cinta tiada sirna</p>
<p>Pedih duka tiada kurasa</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>&#8220;Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,</em></p>
<p><em>dan kembali  pada tempat yang sama,</em></p>
<p><em>Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oh Tuhan,</p>
<p>Kuasamu meliputi segala</p>
<p>FirmanMu berat kurasa</p>
<p>Bahasamu bahasa Kuasa</p>
<p>tiada kuasa aku mendengarnya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>&#8220;Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,</em></p>
<p><em>dan kembali  pada tempat yang sama,</em></p>
<p><em>Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sendiri aku mencari jawabnya,</p>
<p>Dalam riuh dunia</p>
<p>Dalam hening hati</p>
<p>Dalam Firman Abadi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>&#8220;Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,</em></p>
<p><em>dan kembali  pada tempat yang sama,</em></p>
<p><em>Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tiada henti hingga Aku kembali</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mustaqiim.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mustaqiim.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mustaqiim.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mustaqiim.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mustaqiim.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mustaqiim.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mustaqiim.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mustaqiim.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mustaqiim.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mustaqiim.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mustaqiim.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mustaqiim.wordpress.com/134/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mustaqiim.wordpress.com/134/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mustaqiim.wordpress.com/134/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=134&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mustaqiim.wordpress.com/2010/12/31/mencari-nama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9dbba1beb154250383a4fa3a8d27183b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mustaqiim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelajaran Berharga dari Krakatau Steel</title>
		<link>http://mustaqiim.wordpress.com/2010/11/28/pelajaran-berharga-dari-krakatau-steel/</link>
		<comments>http://mustaqiim.wordpress.com/2010/11/28/pelajaran-berharga-dari-krakatau-steel/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Nov 2010 09:22:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustaqiim</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[AJI]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[krakatau steel]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mustaqiim.wordpress.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Pelajaran berharag dari kasus Krakatu Steel bagi pekerja jurnalis.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=130&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah Opini</p>
<p>Jurnalisme di Indonesia kembali terguncang. Media sunter memberitakan “jatah saham untuk wartawan” yang terkait dengan penawaran perdana saham Krakatau Steel. Berita tersebut telah mencoreng kredibelitas profesi wartawan. Sebagai sebuah profesi yang dituntut untuk memiliki idealisme tinggi, dimana seorang wartawan harus tahan godaan dalam menjalankan profesinya, apalagi melakukan pemerasan.</p>
<p>Kasus ini bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Mungkin mereka murni bermain saham demi keuntungan, dan tidak mengetahui hubungan lebih jauh dalam etika jurnalistik. Atau mereka dengan sengaja memanfaatkan kasus tersebut untuk kepentingan dan keuntungan pribadi, dengan metode pemerasan yang banyak diberitakan di berbagai media. Atau bahkan mungkin kasus ini sengaja direkayasa, untuk memperburuk citra jurnalistik dan menutupi kasus besar yang sebenarnya terjadi.</p>
<p>Di tengah hiruk-pikuk gejolak politik dan ekonomi di Indonesia yang kian labil, ketiga-tiganya mungkin benar. Lebih lagi kasus ini juga tidak hanya menimpa satu wartawan dari satu media. Tetapi berkaitan dengan empat wartawan dari empat media terkemuka sekaligus.</p>
<p>Sangat mungkin jika kasus ini terjadi akibat kelalaian seorang wartawan. Bisa jadi wartawan yang terlibat tadi tidak paham dengan permasalahan, dan cinderung tertarik untuk mengambil keuntungan dari saham Keakatau Steel yang sedang “diobral” murah. Maka dalam sudut pandang ini, mereka bisa dinyatakan tidak bersalah, tetapi bisa dikenakan sanksi sesuai dengan media tempat mereka bekerja dan organisasi jurnalistik yang mereka ikuti.</p>
<p>Karena sudah jelas bagi seorang wartawan, untuk tidak ikut campur dalam permasalahan, menerima dan mengambil keuntungan, apalagi melakukan tindak pemerasan dalam peliputannya.</p>
<p>Kasus ini tengah diselidiki oleh Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI). Jika benar wartawan tersebut dengan sengaja melakuakan pemerasan, maka mereka akan dikenakan sanksi yang berat. Kartu pers yang dimiliki akan dicabut dan mereka akan dikeluarkan dengan tidak terhormat dari lembaga jurnalistik diikuti. Bahkan nantinya mereka juga bisa dikenakan pasal-pasal pemerasan dari segi hukum yang berlaku, jika terbukti memang melakukan pemerasan.</p>
<p>Akan lain halnya jika  dikaitkan dengan dengan kondisi politik di Indonesia saat ini. Bukan tidak mungkin jika kasus ini telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperburuk citra wartawan di mata publik. Sehingga kredibelitas wartawan menurun dan tidak lagi terpercaya. Jika memang benar terjadi, hal ini harus menjadi perhatian khusus bagi banyak kalangan. Karena pasti negeri ini sedang dalam masalah yang sangat besar, yang lebih berbahaya dari sekedar idealisme jurnalistik.</p>
<p>Maka sejenak kita tidak terlalu meributkan “kelalaian” ini. Menyerahkan penyelesaiann sepenuhnya kepada AJI. Dan sudah pasti seharusnya kita lebih fokus pada permasalahan utama dari penjualan saham Krakatau Steel. Jangan sampai kita sebagai masyarakat terlena dan terlalu menghakimi kesalahan wartawan tadi. Karena pada dasarnya, permasalahan tadi hanya erat kaitannya dengan etika jurnalistik, tetapi tidak dengan hukum.</p>
<p>Sah-sah saja bagi masyarakat yang memiliki uang, untuk membeli saham dimana saja sesuai dengan keingginannya. Tetapi akan sangat tidak wajar jika seorang wartawan ikut membeli saham panas yang tengah menjadi objek pemberitaannya sendiri.</p>
<p>Ada manfaat yang bisa diambil dalam peristiwa ini. Bahwa persoalan aturan atau etika jurnalistik bisa lebih diperketat, dan diperjelas lagi. Semoga setelah kasus ini, akan ada aturan tambahan bagi wartawan, salah satunya untuk tidak ikut bermain dalam saham.</p>
<p>Pelarangan bermain saham sudah diterapkan di perusahaan surat kabar New York Times. Kode Etik di surat kabar tersebut menyebutkan bahwa wartawan dilarang untuk bermain saham. Hal ini dilakukan untuk mejaga idealisme sebuah profesi wartawan itu sendiri, agar nantinya tetap dipercaya oleh publik dan tetap menjaga prinsip <em>cover both side</em>.</p>
<p>Aturan-aturan semacam itu harus banyak dibuat hingga sedetail mungkin. Kemudian secara intensif disosilaisasikan di kalangan pekerja jurnalistik. Agar suatu saat mereka tidak lagi terjebak pada lubang yang sama. Semoga kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi pekerja jurnalistik lainnya, untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan profesinya. Dan semoga kasus ini tidak menutupi kasus Krakatau Steel yang sesungguhnya, yang kini seolah terpinggirkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mustaqiim.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mustaqiim.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mustaqiim.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mustaqiim.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mustaqiim.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mustaqiim.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mustaqiim.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mustaqiim.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mustaqiim.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mustaqiim.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mustaqiim.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mustaqiim.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mustaqiim.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mustaqiim.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=130&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mustaqiim.wordpress.com/2010/11/28/pelajaran-berharga-dari-krakatau-steel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9dbba1beb154250383a4fa3a8d27183b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mustaqiim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>it&#8217;s long-long time ago&#8230; (masak?)</title>
		<link>http://mustaqiim.wordpress.com/2010/05/22/its-long-long-time-ago-masak/</link>
		<comments>http://mustaqiim.wordpress.com/2010/05/22/its-long-long-time-ago-masak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 May 2010 10:30:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mustaqiim</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mustaqiim.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[ah, entah mengapa, karena di sini (tempat saya menulis ini) facebook dan twitter tidak bisa dibuka, mungkin karena di blokir atau apalah itu ngak penting (karena udah bosen juga). Yang penting secara tiba-tiba(bulu kuduk saya merinding) saya kangen membuka blog dan ingin mulai blogging lagi. Bernostalgia dengan masa lalu (3-2 tahun lalu) sebagai murid SMA [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=125&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ah, entah mengapa, karena di sini (tempat saya menulis ini) facebook dan twitter tidak bisa dibuka, mungkin karena di blokir atau apalah itu ngak penting (karena udah bosen juga). Yang penting secara tiba-tiba(bulu kuduk saya merinding) saya kangen membuka blog dan ingin mulai blogging lagi. Bernostalgia dengan masa lalu (3-2 tahun lalu) sebagai murid SMA yang kerjaannya dengerin musik, nulis makalah, nonton TV, nge-net, dan ke perpustakaan. Pretttt, tiba- tiba saya ingat untuk nyambangi blog saya yang terbengkalai selama setahun ini.</p>
<p>saya jadi kangen waktu-waktu nge-net di Sukoharjo dulu. Saya maniak chat di miRC, forum di plasa.com, friendster, dan blogger di blogspot (belum ada FB dan tweet) sejak tahun 2007, juga    ehm&#8230; Wah, saya ingat sempet kenalan dengan banyak orang, pernah juga berbalas e-mail dengan Kang Abik (Habiburahman) karena pas lagi baca novel AAC-nya dan langsung tahu e-mailnya saya langsung contact beliau via e-mail. Sambil nangis-nangis saya dulu baca AAC itu, tapi pas lihat film-nya kok. Biasa aja&#8230;</p>
<p>&#8220;Kim, pulang malem ya,&#8221; alamat nulis panjang&#8230;.</p>
<p>Sempat juga saya kenalan dengan anak SMA batik yang Christian itu, wah wah wah&#8230; jangan diceritakan deh&#8230;. Lalu juga karena sempat ngefens dengan mbak Ririn, (kakak kelasku yang kurus)  saya jadi doyan ngenet karena juga diajarin bikin blog dsb&#8230; Oh ya, dulu juga ada mbak Yani yang nunggu Fiesta (bukan &#8220;Yani&#8221; itu) yang baek banget ngajarin saya seluk beluk-kutuk internet. Mbak yani sekarang sudah jadi guru SD di Mojosonggo dan mungkin udah kawin, ( tidakkk ). Ya sudah, yang pasti, saya kangen dengan orang-orang yangg dulu pernah banyak ngajarin saya itu,,,,</p>
<p>Kemudian dan selanjutnya, saya sangat suka dengan blogging tentang dunia Islam dan techno2 gitu deh (maniak e-lifestye di MetroTV), hingga belajar banyak tentang HTML hingga mata butek tapi ngak pernah bisa membuat sendiri themes di blogspot, yang masih hapal hingga sekarang cuma &#8220;marquee&#8221;. Hua hahahahaha&#8230; &#8220;mode mad on&#8221;</p>
<p>Masih ingat saya dulu, hobi banget menyendiri di perpustakaan&#8230; wahhh mostly novel di perpustakaan baik sekolah atau juga daerah sudah saya lahap degan sangat rakus hingga kurus. Al hasil bin akibatnya saya bermata minus&#8230;. T.T meskipun sejak SD kelas 6 saya sudah merasakannya namun semenjak 3 tahun lalu mata saya jadi tambah tebelllll&#8230; di tambah dengan adanya komputer tambah deh&#8230;  O.O</p>
<p>Saya juga suka traveling mas dan mbak, destinasi terjauh adalah sekali ke Jogja Malioboro via Pramex&#8230; setiap seebulan sekali paling enggak jalan di Slamet Riyadi naek Bus. Pas lagi nduwe duit, nonton di GM&#8230; Hal yang lucu adalah ketika ke GM sama Sigit (sekarang di STAN deket saya tapi ngak pernah ketemu juga) makan di KFC kirain harganyakayak di TV (KFC goceng) tahu-tahu cuma makan ayam nasi dua porsi habis hingga 30-ribu ModeMadOnBabe&#8230;</p>
<p>Lho, kisah 2 tahun lalu kok dikit ya?</p>
<p>Yah, ternayata saya sudah mulai males membuka aib (loh!).  Pastinya saya kangen sama anak-anak smaga, saya kangen diri saya yang dahulu itu (kurus, cerewet, famous)  yang kini bersembunyi dimana&#8230; Semoga kekangenan saya ini cepat ada gantinya ya, di sini di kota ini saya ingin menjadi better and better not loser. Yak doakan UM saya tadi lancar meskipun saya mengkosongi hmapir 3/4 soalnya. Hoahhhh ngantuk nih&#8230;.</p>
<p>Adzan Maghrib  sepertinya akan melantun, &#8230;</p>
<p>bersambung tanpa disambung, Bung</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mustaqiim.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mustaqiim.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mustaqiim.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mustaqiim.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mustaqiim.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mustaqiim.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mustaqiim.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mustaqiim.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mustaqiim.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mustaqiim.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mustaqiim.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mustaqiim.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mustaqiim.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mustaqiim.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mustaqiim.wordpress.com&amp;blog=9017144&amp;post=125&amp;subd=mustaqiim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mustaqiim.wordpress.com/2010/05/22/its-long-long-time-ago-masak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9dbba1beb154250383a4fa3a8d27183b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mustaqiim</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
