Per te

Kubuka sebuah kardus di gudang bawah rumahku, di dalamnya ada beberapa karya ilmiah dan sastra, serta kumpulan tesisku sewaktu di Indonesia yang belum sempat kupublikasikan. Tak sengaja terbaca olehku sebuah surat yang berisi sepenggal puisi , kembali kubaca dengan seksama penggalan puisi itu. Puisi tanpa judul itu malah mengingatkanku pada suatu mozaik di masa lalu yang sangat kusam, kiranya di buat oleh seseorang yang sempat membahagiakanku. Aku tersenyum rindu padanya, kini aku rindu sebagai sahabat, bukan yang terkasihnya lagi, pikirku.

“Kita ingin mencinta dan bersama

Namun tak bisa meskipun kita sama

Dan jika meskipun adalah karena

Maka kita tak bisa menentangnya

Karena takdir pisahkan kita

Selain kita,

Hanya Tuhanlah yang tahu”

XXX

Senja itu, dengan senyumnya yang khas dia datang lalu memeluk diriku yang masih merasakan rasa sakit di bagian pipi kiri, dia datang setelah ku kirimkan sebuah SMS padanya, karena hanya dialah yang bisa menyembuhkan luka dan sedihku selama ini, hanya dialah yang bisa menghidupkanku dari kematian dan keputus asaan ini. Hanya dengan datangnya dia, malakiat pencabut nyawa mungkin tak jadi mengambil ruhku yang telah merana ini.

“Kapankah kita bertemu pertama kali?” suaranya memecah suasana hening kamarku, dia berkata dengan nada serius sambil menyentuh luka di pipi kiriku dan mengoleskan sedikit obat merah.

“Saat aku memang mengharapkan dirimu hadir.” Seruku lirih padanya.

“Jadi, Tuhan kabulkan doamu.”

“Huh, ataukah setan yang memberi kesempatan ini?” tanyaku dengan nada tinggi.

“Mungkinkah?” jawabnya kembali bertanya padaku,“luakmu tak begitu parah, istirahatlah, matamu sayu, kau perlu tidur!”

“Maaf, Karena Tuhan tak mungkin berada dalam pihak kita.” Jawabku sambil tertunduk lesu, takut-takut melukai perasaanya, namun aku tak menghiraukan kata-katanya yang terakhir, tentang lukaku. Karena aku memang sudah tak peduli dengan lukaku ini, hanya dialah yang kukira masih peduli dengan luka yang terlalu sering hinggap di tubuhku ini. Lalu mengapa ku SMS dia, ah entahlah…

Selesai mengobatiku, dia duduk di sebuah kursi dekat jendela kamarku, memandang keluar jendela lalu mulai memetik gitarku dan menyanyikan sebuah lagu barat yang entah milik siapa, suaranya yang merdu terasa romantis di kamarku ini. Kupikir itu sebuah lagu Amerika latin yang sulit dihafal. Suaranya yang serak nan lembut membuatku sejenak merasa kedamaian hadir dalam hatiku. Lalu aku berbaring, mataku terasa berat dan sayup-sayup aku mendengar suara altonya yang merdu. Aku teringat Papah, lalu teringat luka di pipi kiriku, lalu aku pun tertidur.

Aku bangun dari tidur saat jam di dinding telah menunjukkan pukul 7.00 malam. Aku turun dari kamar, kudapati rumahku sudah tertutup, pintu, jendela, dan gordennya sudah ditutup. Lampu-lampu sudah dinyalakan, dalam benakku aku selalu berterima kasih padanya, atas segala bantuan, kasih, juga cinta tulusnya padaku. Dia begitu perhatian padaku, luka-lukaku selalu ia sembuhkan, dia selalu menghiburku saat aku sedih meratapi nasib, segala kebutuhanku ia yang cukupi, bahkan sekolah pun terkadang dia yang mencukupi. Entah dengan apa aku kan membalas budi baiknya, karena hanya dengan cintaku ini aku bisa membalasnya, itu pun hanya separuh hati, tak kan lebih.

Adzan Isya melantun lembut, segera aku mengambil air wudhu untuk melaksanakan Shalat Maghrib dan Isya secara bersamaan. Menjamak Shalat memang kadang aku lakukan, mungkin karena aku itu pemalas, tapi kupikir ini lebih baik dari pada tidak sama sekali. Selesai Menjamak takhir Maghrib dan Isya, seperti biasa, setelah Shalat aku selalu berdoa pada Allah, aku memohon untuk kedua orang tuaku yang terpisah, untuk masa depanku yang aku risaukan, untuk kedamaaian hidup yang aku inginkan, untuk adikku yang aku rindukan, untuk dia yang mengasihiku, dan yang terakhir aku mohon ampun akan segala dosa-dosaku yang tak terampuni, mohon hidayah, dan agar aku tetap berada di jalan yang lurus, jalan yang diridhai, dan agar aku selalu ingat padaNya.

Aku berdoa tidak dengan bahasa Arab, hanya dalam bacaan Shalat. Dzikir, dan beberapa doa untuk orang tua dan kaum muslim dan muslimatlah aku berbahasa Arab. Untuk doa keluh kesahku, aku mengunakan bahasa Indonesia. Sehingga, ketika berdoa aku akan sangat lama, seolah-olah aku sedang berbincang-bincang dengan Allah secara langsung. Biasanya selesai Shalat aku, aku berdoa hingga 10an menit lamanya, namun jika aku sedang ada masalah, aku akan berdoa lebih lama sekali, aku akan berdzikir dan berdzikir, menyebut Asma Allah Yang Agung berulang-ulang baik dengan lisan maupun dalam hati.

Tepat selesai berdoa, Palm ku berdering mengalunkan lagu Star Light-nya Muse, tepat pukul 8.00 aku diingatkan untuk mengerjakan beberapa PR dari sekolah. Memang, aku sudah terbiasa mengatur alarm PDA untuk mengingatkanku beberapa hal yang penting, sepeti Shalat, mengerjakan PR, dan kegiatan-kegiatan lain. Namun, entah kenapa aku tadi tak mendengar Lantunan Adzan dari Masjid atau pun dari PDA, mungkin aku terlalu terlelap dalam tidur. Dan aku yakin, malam ini aku pasti terserang Insomnia, tak bisa tidur karena sorenya tidur terlalu lama.

Kubereskan perlengkapan Shalatku sambil mendengarkan lantunan alarm yang asyik, sengaja tak kumatikan karena lagunya memang merdu. “Star light… na na na na na….” aku lupa liriknya.

Kemudian aku mengerjakn PR yang tak terlalu banyak, Sastra Inggris dan Matematika yang tak terlalu sulit, hanya 20an menit saja. Setelah itu aku mencoba berbaring, Aku teringat akan adikku, Jasmine yang tinggaldengan Mamah di Bekasi. Kukirimkan sebuah SMS singkat padanya, ternyata dia juga belum tidur.

“Sdh tdr blm?”

“lom, np?”

“Kgen aja, kbr adk n ma2h gmn?”

“baek2 kuk”

“senin kk mo tanding lg, dtg ya!”

“ok, psti qt dtg ko”

“Ma2 diajk loh! dah y, met bo2, night!”

“yup, night”

Andai tiap hari aku bisa bertemu dengannya, namun inilah kehidupan yang kadang tak sempurna. Aku ingat kata-kata Mamah ‘Kesempurnaan terkadang lahir justru ketika manusia itu sendiri tidak sempurna’, katanya sambil membuka-buka majalah Fashion Weekly. Masih terngiang kata-kata Mamah itu, aku jadi sangat merindukannya. Sejak sepekan yang lalu aku memang tak berjumpa lagi dengannya. Aku ingin mengirim sebuah SMS selamat malam padanya. Tetapi…

Ah, biarkan saja, aku memang terkadang malas untuk menyapanya. Dulu, aku sangat sering mengirimkan ucapan selamat malam padanya meskipun tak pernah dibalas olehnya. Hingga aku jadi malas untuk buang-buang pulsa, untuk sesuatu yang tidak berguna, Jashmine pun kadang juga begitu. Dia jarang call atau bahkan SMS padaku. Kalau bukan aku yang SMS duluan. Mungkin watak Mamah memang sedikit menular padanya. Anak cewek yang innocence.

Aku merasa belum mengantuk, kuganti baju dengan Piyama lalu turun untuk membuat secangkir Java’s Tea, Tea kesukaan Papah yang tak pernah absen dari lemari dapur. Kupanaskan air dan kuracik sesendok kecil Java’s Tea dengan sesendok besar gula pasir. Lalu kudengar bunyi mobil menderu di halaman rumah. Aku yakin, itu mobil Papah yang baru pulang dari kantor.

Papah masuk rumah, dan langsung menuju dapur tempatku meracik tea, kusapa dia dengan penuh keikhlasan.

“Malam, Pah.” Sapaku dengan nada rendah seolah-olah sore tadi tak pernah terjadi apapun. “Mau Tea? Masih hangat, baru aku seduh.” Mencoba berbasa-basi.

Dia hanya menganguk dan mengambil secangkir Tea-ku yang baru aku buat.

“Buatkan aku satu lagi!” perintahnya sambil lalu, kemudian menuju ruang tamu.

Aku mengangguk, dan dengan sedikit kesal kubuat dua cangkir Tea lagi, satu untuknya dan satu untukku tentunya. Kusiapkan nampan lalu kuantar secangkir Tea ke depan, dan alangkah terkejutnya aku. Ada seorang wanita yang duduk bersanding dengan Papah. Wanita itu cantik dan muda, aku yakin, dia juga salah satu model Agency Papah. Wajah dan tubuhnya nampak asing untukku, kupikir dia adalah wanita Indo alias peranakan, yang pasti direkrut oleh Papah untuk jadi model baru. Kuhilangkan segala prasangka dalam benakku, kusuguhkan Tea padanya.

“Tea, Kak.” Sapaku.

“Siapa dia?” Tanya wanita itu pada Papah dengan nada heran. “Kau..”

“Dia, anakku, tahu kan? Roselean?.” Kata Papah menyela bicaranya dan menyebut nama Mamah.

“Oh, I think he life with his Mom, Hmm, Nice Guy.” Katanya sambil memandangku dengan pandangan menjijikkan.“Not like you Al, ha ha ha!” tawanya sendiri mengila.

Aku segera pergi ke atas menuju kamarku, aku tak tahu pembicaraan selanjutnya yang masih terdengar samar-samar. Yang kuingginkan hanya pergi dari ruang itu, untuk tak lagi mendengar kegilaan hidup. Aku berbaring dan menatap langit-langit kamar.

“Papah, tentu dia sudah lupa dengan Mamah!” Kataku lirih.”Tentu kesempatan untuk bersama sudah pupus, Papah tak akan pernah memaafkan kelakuan Mamah sampai kapanpun. Meskipun aku juga, aku masih mencoba berusaha mencari sela-sela kemungkinan untuk mereka bersatu kembali, aku menyerah, sudah habis kesempatanku untuk mereka.

Hidup-hidup, mengapakah kau serumit ini, Oh Allah…” seruku lirih.

Aku seperti ingin pergi dari sini, ingin berlari jauh dari dunia yang tak lagi pantas disebut sebagai dunia ini. Namun, aku tak ada daya, aku hanya lelaki kecil lemah yang selalu mencoba hal yang terbaik, meskipun sangat tak bisa aku melakukannya. Suara gelak tawa wanita itu terdengar hingga kamarku, kututup telinga dan mataku dengan bantal, aku mencoba untuk tidur dan melupakan semua, dan aku berhasil, aku tertidur pulas malam ini.

Subuh aku bangun untuk Shalat, saat melewati kamar Papah, kulihat kamarnya masih terkunci, mereka masih tertidur pulas pikirku. Aku Shalat Subuh tak terlalu lama, karena kurasa perutku melilit, aku merasa kelaparan karena semalam lupa makan. Akhirnya kuputuskan makan beberapa roti tawar di meja makan dengan lahap.

Kubuka Kulkas untuk mengambil air minum, dan kudapati Java’s Tea-ku yang kubuat semalam berada disana. Hmm, Papah, bagaimanapun kau tetap menyayangiku, meskipun dengan caranya sendiri. Aku tersenyum kecil…

Kuteruskan pagiku dengan jogging di sekitar komplek rumahku. Dari kejauhan kulihat sebuah Jaguar berhenti di depan rumahnya, kemudian menurunkan sesosok wanita cantik yang berpenampilan kacau. Dia pasti baru pulang dari Clubbing, setan wanita, bitch, tapi aku sapa juga dia ketika kumelewatinya.

“Pagi, Tante.” Sapaku mencoba beramah tamah.

“Oh, Boy, ganteng bener kau, pagi-pagi sudah berolahraga, pantas badanmu kekar seperti itu.” Katanya tersenyum nakal sambil membuka gerbang rumahnya. Artis murahan ini pasti masih terpengaruh alcohol, pikirku, kubiarkan kata-katanya meluncur tanpa ku jawab. Aku lihat sekeliling rumahnya, dan nampaknya dia masih tidur dengan kesendiriannya.

“Boy?” tanyanya padaku memperjelas.

“Ya, tante biar aku bisa berpikir normal.” Kataku sambil lalu, dan aku tak lihat ekspresi tante girang itu selanjutnya, karena aku terus melanjutkan jogingku.

XXX

Aku mencoba lagi menyatukan potongan-potongan peristiwa yang mungkin masih kuingat. Tentang kehidupan masa laluku yang sangat sulit di tanah air. Namun, memang antara ingin dan tak ingin aku mulai menghapusnya berlahan-lahan. Aku tak mau lagi mengingatnya, karena sungguh pedih untuk dikenang. Pikiranku buyar saat Stephanie memangilku dari atas.

“Daddy, are you there?” teriaknya di pintu gudang.

“Ya, honey, what’s going on?”

“Jasmine waits you on phone, Dad.”

“Your aunt, Jashmine?”

“Yes, I think!”

“Ya, wait a min!”

Segera ku bergegas ke atas dan kuangkat telepon dari Jashmine di Malaysia.

“Assalamu’alaikum, Jashmine?” sapaku.

“Wa’alaikum salam, ya ini aku Bang.”

“Ada apa tumben telephone?”

“Aku hanya mengabarkan padamu, jika tadi di infotaiment sini ada kabar kalau Dr.Sam, kau tahu?”

“Ya, Dr.Sam,” jantungku berdetak kencang mendengar namanya. “Ada apa?”

“Malam tadi beliau pulang ke Rahmatullah Bang. Berita itu juga ada di Malaysia, kau tahu kan, istrinya nan cantik itu orang Malaysia sini. Dan kupikir kau mau mengetahuinya? Dia kan akrab denganmu..”

Sejenak aku tak berucap apa-apa, aku memandang keluar jendela rumahku. Disana ada Jessica dan Stephanie. Dengan pakaian pantai, mereka bermandikan cahaya musim panas di halaman.

“Bang , kau masih di sana?” Tanya Jashmine.

“Oh, ya Jashmine, I am going to call you letter.”

“Ah, iya, Wasalamu’alaikum ya Bang.”

“Thank’s ya Jas, Wa’alaikumsalam.”

Kututup telepon dari Jashmine dengan sebuah perasaan yang tak mudah di ungkapkan.Kuputuskan untuk keluar menuju halaman dan bergabung dengan anak dan istriku untuk mandi cahaya. Kubuka bajuku dan saat itu Jessica bertanya padaku.

“Jashmine? is not Ied Mubarok, And?” tanyanya sedikit heran.

“Nope, Ied mubarok still three mounts again, she just say hello to me and you all.”

“Oh, not like ordinary days.”

“Humm…” kataku sambil tidur di samping Jessica.

Summer di California memang menyenangkan, tak akan kupikirkan lagi masa-masa lalu itu. Seperti artis-artis Indonesia yang bilang ‘hidup bagai air yang terus mengalir’. Aku tersenyum sendiri mengingat polah artis Indonesia di zamanku dulu. Hingga aku tak sadar jika Jess menatapku.

“And?” tanyanya dengan sedikit curiga.

“Nothing, Jess.” Kataku sambil mencium bibir manisnya. Lama sekali kucium bibir Jess, karena memang tak akan pernah puas aku mencium bibir wanita Columbia

ini. Lalu ciumanku berhenti saat Stephanie menyalakan radionya, dan radio itu menyanyikan sebuah tembang yang aku ingat.

“Per’te, per te vivro

L’amore vincera

Con’te, con’te avero

Mille giorni di felcita

…” *

Aku merinding mendengarkan lagu Amerika Latin itu, seolah dia sedang ada di sini sekarang. Memandang diriku dengan anak dan istriku, dan hampir aku bisa merasakan kesendiriannya di alam sana.

“Inna’ilaihi Wa Inna Ilaihi Raji’un.” seruku lirih.

“Dad, who die?” Tanya Jessy dan Stephy bersamaan.

*Per te (separate)

Marco Marinageli song.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s