Plat Merah

Hari yang indah adalah hari yang berlalu dengan meninggalkan memori, apapun bentuknya memori itu, tentang keburukan, kebaikan, menyenangkan, menyengsarakan, memusingkan, penuh tantangan, bahagia, sedih, duka, yang pasti semua itu berakhir dengan masih adanya waktu untuk mengingat kejadian hari itu. Dan hari yang buruk, menurutku adalah hari dimana aku tak bisa mengingat apapun tentang hari itu, jadi berakhir tanpa memori, tak membekas sedikitpun.

 

Hari itu, aku duduk di beranda rumahku, memandang manjanya dedaunan yang diguyur rintik hujan, dan hiruk pikuk jalanan ibukota yang selalu penuh dengan kendaraan dan manusia yang beraneka rupa. Kadang aku tersenyum, kadang pula aku mengutuk, tapi seringnya aku bersedih.

 

Aku tersenyum karena memandang beberapa mobil mewah yang melintas di Avenue itu, aku mengutuk jika memandang begitu banyak mobil plat merah yang terlalu sering lewat, dan aku bersedih bila memandang beberapa pengemis yang anehnya juga sering lewat di depan rumahku. Dan aku bersedih lagi jika sadar bahwa sebuah mobil berplat merah itu bisa merubah hidup banyak pengemis yang sering lewat di depan rumahku, dan aku bersedih lagi bahwa bukan hanya mobil plat merah saja yang kami miliki, bahkan tanah dan rumah yang kami tempati ini juga sama derajatnya. Milik kantor Papi, Beliau yang saat ini sedang Study Banding di Amerika sana, mengenai “dampak kemerosotan ekonomi global pada Migas di dunia”.

 

Meskipun terkesan konyol dan dibuat-buat, toh Papi juga berangkat dengan senangnya. Mana masuk akal coba, sudah tentu kemrosotan ekonomi berimbas pada penjualan produk Migas, kok juga masih di study bandingkan? Tapi tak apa lah, setelahnya aku pasti dapat oleh-oleh yang bagus-bagus! Dan lagi Mami, dia pasti senang karena kemarin Mami titip oleh-oleh beberapa produk fasien yang ternama, asli dari negeri Paman Sam itu.

 

Lalu aku kembali bersedih setelah melihat seorang pemulung yang kehujanan lewat, Entah apa yang aku sedihkan, aku hidup enak bahkan mewah, aku selalu dimanja, meskipun aku tak memakai mobil plat merah ayah itu. Aku selalu dibelikan ayah mobil yang sesuai dengan perkembangan pasar, Mami juga, kami hidup enak dari kantor Papi yang memfasilitasi ayah mobil plat jinngga itu, makan kami, sekolahku, rumah ini, bahkan nyawa kami ini sebetulnya berasal dari kantor mobil plat merah itu.

 

Kok bisa? Tentu, karena asuransi kami juga berasal dari sana, sehat kami usai sakit juga berkat obat dari kantor ayah yang memfasilitasi mobil plat merah itu. Namun Mami lebih senang jika Papi mendapatkan jatah dalam bentuk uang, karena dengan begitu, Mami bisa membeli beberapa benda nan indah juga mewah, yang sering Beliau pertontonkan pada teman-teman arisan Beliau. Padahal aku tahu, itu sama derajatnya dengan mobil plat merah Papi. Tapi kukira semua orang juga tahu, Mamiku pun aku kira tahu darimana asal uang perhiasan itu.

 

Mobil plat merah ayah bernomor BU 5 UK, bermerk Kancil, mobil yang dipakai Papi itu terkenal akan kemewahannya dan kelincahannya di jalan, padahal jarak rumah ke kantor tempat Papi mendapatkan mobil plat merah itu tak lebih dari sekilo, tak ayal jika badan Papi jadi gemuk, terutama di bagian perutnya, sangat menonjol, adikku yang masih TK pernah bilang, “Perut Papi gemuk kayak gambar di baju Papi itu!” begitu ejeknya sambil menunjuk-nunjuk sebguah lambang yang tertempel di seragam dinas kantor Papi. Dan beberapa bulan setelah itu, lambang kantor Papi berubah, hingga kini diganti dengan lambang tiga coretan warna-warni yang malah sangat disukai adikku, karena warnanya mirip coretan-coretannya di kelas TK Nol Besar Maju Selangkah, tempat ia sekolah.

 

Meskipun pergantian lambang kantor papi itu menuai kontroversi karena biaya pergantian lambang itu mencapai beberapa miliar rupiah, toh terjadi juga. Anggota dewan yang tadinya bersuara lantang menolak perubahan lambang kantor Papi itu, hanya beberapa hari sesudahnya juga diam seperti yang lain. Entah karena apa, yang pasti setelah rapat tertutup dengan perusahaan Papi semua nampak damai, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

 

Aku berhenti berfikir, dan memandang ke arah Avenue yang masih ramai oleh kendaraan, namun tak lagi diguyur gerimis. Aku tersenyum geli, entah kenapa yang pasti aku kembali bahagia. Buat apa aku bersedih saat ini, toh hidupku sudah menyenangkan, damai, dan bahagia, buat apa mengkritik Papi, toh aku bahagia dengan jatah yang lebih dari cukup, kalau hendak ku kritik yang pasti ukuran badannya yang super itu! Yah, sudahlah, biarkan hidup ini berlalu…

 

“Ijah…Ijah…!” Teriakku saat aku teringat kopi.

“Iya, Non.” Jawab Bi Ijah sambil mendekat.

“Kopi saya mana, Ijah?” tanyaku sedikit lirih.

“Maaf, Non, lupa.” Jawab Ijah sedikit takut

“Dasar Babu Bego!” dan hariku berubah menjadi buruk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s