Saat Malaikat Bersedih

“Alhamdulillah,” seru Malaikat Penjaga Rumput, mensyukuri segala karunia Allah. Kemudian ia berdoa kepada Allah, agar semoga segala yang telah lewat ada hikmahnya, semoga rumput-rumput di negeri ini tetap hijau sehingga dapat memberi makan ternak-ternak manusia, dan semoga setiap makhluk-makhluk Allah yang bernaung di bawah rumput itu senantiasa diberkahi Allah. Selesai berdoa, ia membaca Bismillah dan mulai mengepakkan sayap-sayapnya untuk bersiap-siap terbang menuju Arsy Ke-7, menghadap Illahi Rabbi. Namun, samar-samar sesuatu berseru memanggil namanya, dan terasa hawa panas mendekat padanya.

“Ya Malaikat’i, saudara lamaku, kenapa engkau terburu-buru?”  seru Setan yang datang mendekati  Malaikat Penjaga Rumput.

“Ya, banyak tugas dari Rabbi yang belum selesai, saudaraku,” jawab Malaikat Penjaga Rumput dengan ramah. Dan karena keramahannya, ia turunkan sayap-sayapnya yang sudah ia kembangkan tadi. Demi menghormati Setan yang akan merasa gerah jika terkena semerbak wangi kasturi pada tubuhnya.

“Ada yang dapat saya bantu untukmu, Ya Syaitan?” tanya Malaikat Penjaga Rumput dengan ramah.

“Ah, tentu tidak sahabatku, aku tahu engkau makhluk yang sibuk, dan aku kasihan pada makhluk-makhluk Allah seperti kalian ini.” kata Setan sambil tersenyum. Senyum yang sangat sulit diartikan.

“Kasihan akan apakah, Ya Syaitan?” tanya Malaikat Penjaga Rumput sambil membalas senyum Setan. Berebeda dengan senyum Setan, Senyum Malaikat Penjaga Rumput lebih mudah diartiakan. Senyum hamba Allah yang taat dan senantiasa berdzikir kepada Rabb-nya.

“Tiap hari engkau mengurusi tetek bengek ini itu, engkau capek-capek terbang bolak-balik dari kutub utara hingga selatan, dari bumi hingga langit ke-7, tetapi kau tidak naik-naik pangkat, tetap saja menjadi Malaikat, pesuruh Allah.” jawab Setan panjang lebar, berlahan-lahan setan mulai menampakkan wajah yang sesungguhnya.

“Ya Syaitan, kasihan aku padamu, hakikat kita ini memang berbeda, tugas kita pun berbeda, engkau dari api, aku dari cahaya.” jawab Malaikat Penjaga Rumput penuh retorika. “Kita punya takdir masing-masing.”

“Manusia dan setan paling bodoh pun tahu itu! Takdir kita berbeda, aku di neraka dan engkau di surga. Tapi apa yang engkau peroleh nanti Malaikat? Selain surga yang memang sudah menjadi rumahmu?”

“Ridha Allah, aku takut akan Azab Allah yang maha pedih di kemudian hari, jika kita ini tidak taat dan patuh pada-Nya, Dia yang Maha Luhur lagi Maha Besar.”

“Tapi bodoh sekali engkau, tidak bisakah engkau selektif dalam menjalankan tugasnya? Engkau Malaikat… Malaikat apakah engkau ini?” tanya Setan yang pura-pura tidak tahu tugas Malaikat Penjaga Rumput.

“Ya Syaitan, saya Malaikat Penjaga Rumput, lihatah rumput-rumput itu, bukankah indah? Kami yang menjaganya hingga tumbuh besar dan siap diamanfaatkan, dan tugasku Alhamdulillah sudah selesai, barusan Kambing datang dan memakan rumput yang aku jaga.” jawab Malaikat berapi-api mengenalkan dirinya.

“Ya, itu tugas bodoh, itu hanya akan menguntungkan manusia-manusia itu pada akhirnya, bukankah kambing itu milik manusia?”

“Benar Ya Syaitan, aku menjalankan perintah Allah untuk menjaga Rumput ini, dan aku juga mengharapkan manusia bahagia di dunia, jika kambing mereka menjadi gemuk-gemuk lantaran rumput yang kujaga, tentunya Mereka akan berucap syukur pada Allah, kan?”

“Ya, dan apa yang akan engkau peroleh Malaikat Penjaga Rumput? Hanya kotoran kambing dari rumput yang kau jaga, kan?”

“Sungguh, aku memperoleh Ridha dan karunia yang tak terhingga dari Allah, engkau tak akan tahu itu.”

“Ya Malaikat’i, tahukah engkau jika engkau ini melakukan perbuatan yang sia-sia?”

“Maksudmu?” Tanya Malaikat heran, “Sia-sia bagaimana?”

“Engkau hamba yang taat pada Allah, tapi engkau menjaga apa-apa milik manusia yang bahkan mereka sendiri tidak percaya padamu?” jawab Setan dengan senyum, senyum yang sangat sulit diartikan.

“Ya Syaitan, aku menjalankan segala perintah Allah Ya Rabbal Alamin dengan ikhlas, dari lubuk hati yang terdalamku.” jawab Malaikat dengan santun.

“Ya, mengapa engkau tiada protes pada Allah-mu itu? Buat apa kamu susah-susah menjaga segala yang manusia miliki, toh mereka tidak percaya padamu kan?”

“Apa yang engkau maksud itu Syaitan?” tanya Malaikat terheran-heran.

“Di kitab terakhir yang diturunkan kepada si Muhammad, disebutkan hanya 10 macam bangsa sejenis engkau ini. seperti si Pencabut Nyawa agar mereka yakin akan si maut, ada si Penjaga Kubur, Surga, dan Neraka-ku agar mereka yakin akan kehidupan sesudah kematian, ada di Pencatat Amal Baik dan Buruk supaya mereka sadar bahwa segala sesuatu dicatat secara adil, dan masih banyak lagi yang bahkan sengaja tidak Allah sampaikan agar manusia mau berfikir. Tapi kau lihat saat ini, banyak dari mereka yang tidak percaya pada makhluk jenis kalian ini.”

“Apa yang engkau maksud Syaitan?” tanya Malaikat dengan lebih terheran-heran lagi.

“Maksudku, saat ini manusia banyak yang tidak takut akan kematian, tidak yakin akan hidup sesudah kematian, melakukan tindakan-tindakan keji yang seolah-olah tidak ada yang mencatat amaliah mereka. Sadarlah Malaikat, engkau ini makhluk yang senantiasa tunduk dan mau sujud pada Manusia, pada makhluk bodoh yang tiada percaya padamu. Naiklah kamu ke Arsy sana, proteslah pada Allah-mu!” seru Malaikat berapi-api.

“Ya Syaitan, aku tahu semua ini karena engkau yang membisiki manusia ke jalan yang sesat.” kata Malaikat Penjaga Rumput dengan sedih.

“Eitsss, tunggu dulu! Aku, engkau dan Allah sudah sepakat, jika manusia itu menjadi makhluk yang diberi kebebasan. Tidak seperti kita, kupinjam istilah manusia untuk kita tentang “diprogram dan dipatenkan” menjadi baik dan buruk! Aku bagian buruknya dan engkau bagian baiknya, manusia itu di beri akal dan hati supaya bisa berfikir. Tapi kebanyakan manusia itu sesat karena tak mau belajar, mereka itu malas! Jangan salahkan aku yang membisikki mereka untuk sesat pada Allah, bukankah engkau juga menjadi makhluk yang membantu mereka agar taat pada perintahnya? Bahkan engkau mau mendoaakan mereka, engkau sungguh bodoh mau tunduk dan sujud pada manusia yang tidak percaya padamu, sana naik ke Arsy dan protes pada Allah!” seru Setan dengan sumringah.

“Ya Syaitan, bukannya aku tidak pernah protes, bukankah manusia sudah mencatat di Kitab-nya Muhammad ‘Wahai Tuhan kami! Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami,padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-henti, sedangkan makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu, nescaya akan bertengkar satu dengan lain, akan saling bunuh-membunuh kerana berebut untuk menguasai kekayaan alam yang terlihat di atasnya dan terpendam di dalamnya, sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Engkau ciptakan itu.'” kata Malaikat Penjaga Rumput mengutip suatu ayat Kitab.

“Ya, benar, tapi engkau kena marah Allah kan, engkau dibilang sok tahu?” kata Setan nyengir.

“Bukan kena marah, Allah menasehati saya, “Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku. Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepadanya, maka bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah, kerana Aku melarang hamba-Ku beribadah kepada sesama makhluk-Ku.” jawab Malaikat tenang.

“Itu dulu, tapi sekarang laen! Manusia sudah tak ada yang mau percaya padamu. Padahal engkau ini agung, wajib manusia beriman padamu. Kata teori-teori manusia. Engkau ini wajib di-imani setelah mereka beriman kepada Allah. Tapi, nyatanya mereka cuma beribadah kepada Allah, karena mereka cuma beriman pada-Nya. Padamu? Manusia sudah tidak percaya, tidak beriman! Lihat buktinya, anak-anak yang diajari beriman pada Malaikat tetep aja buang sampah sembarangan dan doyan nyolong, orang tuanya tetep aja korupsi, kakak-kakaknya tetep aja judi, kakek neneknya pada mbabatin hutan raya, buyutnya nyebarin limbah kemana-mana. Itu bukti jika mereka memang sudah ngak percaya kalau semua ada yang ngawasi. Aku ulangi ya, mereka itu ngak beriman pada kamu. Eeee kamunya masih aja mau sujud pada mereka, malah kamu rela mendoakan mereka!” kata Setan panjang lebar dengan penuh ekspresif.

“Bukan, bukan begitu Syaitan. Manusia begitu karena engkau telah membisikki mereka ke jalan yang sesat.” jawab Malaikat Penjaga Rumput lebih ekspresif, bulir-bulir kesedihan nampak merembes di mata bening Malaikat Penjaga Rumput. Di dunia yang sebenarnya, atau di dunia manusia sudah terjadi angin yang sangat kencang.

“Bukan begitu bagaimana? Nyata sekali mereka tidak percaya padamu, mereka tidak beriman! Mengapa kamu masih juga menghormati mereka,  sana pergi ke Arsy sana protes sama Allah-mu!” kata Setan dengan nada tinggi dan senyum yang sangat sulit diartikan.

Malaikat Penjaga Rumput diam, matanya berkaca-kaca, sedih bahwa dirinya telah dikhianati oleh Manusia yang atas perintah Allah-nya sendiri sangat ia hormati. Sayapnya kembali ia kepakkan, bersiap-siap naik ke Arsy ke-7 untuk protes pada Illahi. Hati Malaikat Penjaga Rumput sangat terguncang dan sedih. Hingga hatinya berhenti berdzikir pada Allah, hatinya setengah percaya dan tidak percaya mencerna kata-kata Setan yang baru saja ia dengarkan. Dengan perasaan terguncang terbanglah ia naik ke Arsy ke-7.

Setan terlempar menjauh dari Malaikat Penjaga Rumput yang memancarkan wangi kasturi, membuat tubuhnya kembali menjadi kambing bertanduk yang tadinya memang memakan rumput yang di jaga Malaikat Penjaga Rumput. Dia berlari menjauh dari tempat dimana ia menghasut Malaikat Penjaga Rumput, karena tempat itu kini terjadi bencana dasyat. Dia tersenyum dan tertawa mengembik karena skenarionya berhasil, kambing itu adalah Setan jenis Setan Pengadu Domba.  Bukan main tugas setan satu ini, selain mengadu domba sesama manusia, dia juga bisa mengadu domba Manusia dengan Malaikat.

Malaikat Penjaga Rumput yang sedih terbang ke Arsy ke-7. Tak terasa bulir air mata menetes dari mata jeli-nya dan jatuh ke bumi. Di tempat jatuhnya air mata itu telah terjadi bencana maha dasyat, hujan lebat dan angin ribut yang membuat banyak manusia panik dan berteriak teriak. Di antara mereka banyak yang mengeluarkan kata-kata buruk. “Setan-Asu-bajingan-Jin-iblis…” Hanya sedikit dari mereka yang mengucap istighfar. Nyatalah manusia memang tiada beriman, pada Allah tidak pun pada Malaikat.

Advertisements