Pelajaran Berharga dari Krakatau Steel

Sebuah Opini

Jurnalisme di Indonesia kembali terguncang. Media sunter memberitakan “jatah saham untuk wartawan” yang terkait dengan penawaran perdana saham Krakatau Steel. Berita tersebut telah mencoreng kredibelitas profesi wartawan. Sebagai sebuah profesi yang dituntut untuk memiliki idealisme tinggi, dimana seorang wartawan harus tahan godaan dalam menjalankan profesinya, apalagi melakukan pemerasan.

Kasus ini bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Mungkin mereka murni bermain saham demi keuntungan, dan tidak mengetahui hubungan lebih jauh dalam etika jurnalistik. Atau mereka dengan sengaja memanfaatkan kasus tersebut untuk kepentingan dan keuntungan pribadi, dengan metode pemerasan yang banyak diberitakan di berbagai media. Atau bahkan mungkin kasus ini sengaja direkayasa, untuk memperburuk citra jurnalistik dan menutupi kasus besar yang sebenarnya terjadi.

Di tengah hiruk-pikuk gejolak politik dan ekonomi di Indonesia yang kian labil, ketiga-tiganya mungkin benar. Lebih lagi kasus ini juga tidak hanya menimpa satu wartawan dari satu media. Tetapi berkaitan dengan empat wartawan dari empat media terkemuka sekaligus.

Sangat mungkin jika kasus ini terjadi akibat kelalaian seorang wartawan. Bisa jadi wartawan yang terlibat tadi tidak paham dengan permasalahan, dan cinderung tertarik untuk mengambil keuntungan dari saham Keakatau Steel yang sedang “diobral” murah. Maka dalam sudut pandang ini, mereka bisa dinyatakan tidak bersalah, tetapi bisa dikenakan sanksi sesuai dengan media tempat mereka bekerja dan organisasi jurnalistik yang mereka ikuti.

Karena sudah jelas bagi seorang wartawan, untuk tidak ikut campur dalam permasalahan, menerima dan mengambil keuntungan, apalagi melakukan tindak pemerasan dalam peliputannya.

Kasus ini tengah diselidiki oleh Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI). Jika benar wartawan tersebut dengan sengaja melakuakan pemerasan, maka mereka akan dikenakan sanksi yang berat. Kartu pers yang dimiliki akan dicabut dan mereka akan dikeluarkan dengan tidak terhormat dari lembaga jurnalistik diikuti. Bahkan nantinya mereka juga bisa dikenakan pasal-pasal pemerasan dari segi hukum yang berlaku, jika terbukti memang melakukan pemerasan.

Akan lain halnya jika  dikaitkan dengan dengan kondisi politik di Indonesia saat ini. Bukan tidak mungkin jika kasus ini telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperburuk citra wartawan di mata publik. Sehingga kredibelitas wartawan menurun dan tidak lagi terpercaya. Jika memang benar terjadi, hal ini harus menjadi perhatian khusus bagi banyak kalangan. Karena pasti negeri ini sedang dalam masalah yang sangat besar, yang lebih berbahaya dari sekedar idealisme jurnalistik.

Maka sejenak kita tidak terlalu meributkan “kelalaian” ini. Menyerahkan penyelesaiann sepenuhnya kepada AJI. Dan sudah pasti seharusnya kita lebih fokus pada permasalahan utama dari penjualan saham Krakatau Steel. Jangan sampai kita sebagai masyarakat terlena dan terlalu menghakimi kesalahan wartawan tadi. Karena pada dasarnya, permasalahan tadi hanya erat kaitannya dengan etika jurnalistik, tetapi tidak dengan hukum.

Sah-sah saja bagi masyarakat yang memiliki uang, untuk membeli saham dimana saja sesuai dengan keingginannya. Tetapi akan sangat tidak wajar jika seorang wartawan ikut membeli saham panas yang tengah menjadi objek pemberitaannya sendiri.

Ada manfaat yang bisa diambil dalam peristiwa ini. Bahwa persoalan aturan atau etika jurnalistik bisa lebih diperketat, dan diperjelas lagi. Semoga setelah kasus ini, akan ada aturan tambahan bagi wartawan, salah satunya untuk tidak ikut bermain dalam saham.

Pelarangan bermain saham sudah diterapkan di perusahaan surat kabar New York Times. Kode Etik di surat kabar tersebut menyebutkan bahwa wartawan dilarang untuk bermain saham. Hal ini dilakukan untuk mejaga idealisme sebuah profesi wartawan itu sendiri, agar nantinya tetap dipercaya oleh publik dan tetap menjaga prinsip cover both side.

Aturan-aturan semacam itu harus banyak dibuat hingga sedetail mungkin. Kemudian secara intensif disosilaisasikan di kalangan pekerja jurnalistik. Agar suatu saat mereka tidak lagi terjebak pada lubang yang sama. Semoga kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi pekerja jurnalistik lainnya, untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan profesinya. Dan semoga kasus ini tidak menutupi kasus Krakatau Steel yang sesungguhnya, yang kini seolah terpinggirkan.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s