Ironi Situ Kuru

Situ Kuru Situ Pesanggrahan

Pagi itu, seperti biasa kesibukan yang mulai mengeliat di kota Ciputat membangunkanku. Mentari pagi mulai bergelayut malas membasuh kehidupan sekitar kampusku yang terasa seolah tiada henti. Dengan malas pula aku bangun dari kosan, buru-buru mengambil air untuk cuci muka di dekat pintu kosan, mencoba mengejar subuh yang memang sudah lewat. Tak ada yang aneh, tak ada yang beda, pagi ini tampak seperti biasanya (bangun kesiangan). Hingga saat aku menoleh ke belakang, aku benar-benar sadar tentang sesuatu yang mesti segera aku tulis.

Kosan kami, ya begitulah kami memanggil sebuah kontrakan kecil kami itu. Ah, terlalu mewah disebut kontrakan, tepatnya hanya kamar ukuran 3 x 4 dengan kamar mandi luar yang terlalu jauh dijangkau. Sering digunakan untuk kumpul-kumpul dan diskusi anak-anak baik siang, sore, atau malam. Kosan itu dihuni tetap oleh beberapa temanku yang punya saham lebih dari 30% disitu, selebihnya, seperti aku ini, hanya numpang tidur saja jika ada kegiatan di organisasi yang berakhir larut malam.

Di belakang kosan kami ada sebuah empang, itu yang aku lihat saat cuci muka tadi, kami memang menyebutnya empang. Karena memang tidak jelas apa bentuknya sekumpulan air itu. Empang itu dikelilingi rumah-rumah yang berfungsi sebagai warteg, foto copy, kosan, warnet, bahkan panti pijat. Di sekitarnya bertumbuhan dengan sangat artistik kangkung-kangkung yang enak dimakan (kangkung a la chef warteg), kangkung-kangkungan (bunga bakung atau enceng gondok) tempat buang limbah rumah tangga sekaligus juga kolam ikan milik warteg di depannya

Tak beda dengan status empang lain, empang satu ini juga berfungsi sebagai tempat sampah ”resmi” di pinggirannya, dan kadang-kadang ada ikan lumayan gede (entah apa) yang mengoda mata siapa saja yang lewat, umumnya yang tergoda adalah warga kurang iman plus kerjaan yang sering datang untuk memancing. Kadang juga ada angsa and the genk yang suka main sosor kepada siapa saja yang mencoba mendekatinya, beberapa temanku yang terlihat ”cukup” seksi pernah terlihat main sosor dengan angsa-angsa ganjen ini. Begitulah kira-kira aku gambarkan kondisi empang yang luasnya sekitar 3-4 hektar itu, cukup luas kan?

Aku segera bergegas menjalani aktivitas, hari ini adalah hari terakhir mengumpulkan tugas organisasi, yakni sebuah tulisan untuk syarat syah wajib ain mengikuti sebuah seminari lanjutan organisasi. Sebetulnya tugas itu sudah sejak seminggu yang lalu diberikan, tapi dasar seorang otak deadliner, sore itu juga dikumpulkan, pagi itu juga baru dikerjakan! Tulisan itu kelak berisi kurang lebih seperti apa yang aku tulis disini. Ditambah dengan beberapa liputan yang telah lalu aku lakukan.

Tanpa basa-basi yang enggak seru dan tanpa bermaksud mencemarkan nama baik empang yang sudah ternodai, aku langsung sebut saja nama asli empang itu. Nama sebetulnya ”Situ Kuru” atau dengan samaran Situ Pesanggrahan (Letaknya di Pesanggrahan). Dinamakan begitu karena status yang situ ini miliki memang tidak jelas. Dulu disebut empang terlalu bagus (konon dulu sangat indah), disebut Situ kok ya kekecilan atau dalam bahasa jawa ”kuru” yang berarti kurus, dan alhasil dinamailah Situ Kuru, dan kini lebih dikenal dengan nama ”empang” saja.

Letaknya kalau dari UIN hanya sepelemparan batu. Gampangnya, aku lempar batu ke orang mancing di Situ dari lantai 7 fakultas Tarbiyah pasti kena! Tapi aku nggak sejahat itu kok, lagian antara Situ Kuru dan UIN terpisahkan oleh tembok setinggi 2,5 meter, jalan Pesanggrahan, dan satu blok rumah-rumah tempat usaha. Mustahil ketahuan kalau aku yang nglempar…

Beberapa jam setelah aku mandi, gosok gigi dan handukan. Bergegas aku menuju tempat yang sangat terkenal bagi kami kawula muda bujangan, atau single, atau jomblo pria di UIN. Makan di warteg. Bagi yang sudah punya pacar pasti gengsi ngajak kecengannya ke warteg. Minimal ke bakso-mie ayam, masakan padang, resto kecil-kecilan, atau warteg kelas atas yang lucunya malah lesehan!

“Situ Kuru? Tidak tahu aku Bang. Mau makan apa?” kata mamake dengan tekanan logat Tegal, mamake adalah panggilan untuk mbak-mbak yang jaga warteg Tegal itu. Aku masih mencoba bertanya. ”Situ mbak (semua wanita di UIN aku panggil mbak), situ yang dibelakang itu,”

Dia menengok ke belakang lalu menyodorkan piring sambil berucap ”Nah, Di sini cuma ada empang di belakang itu saja,” jelas dia dengan tetap memegang piring berisi nasi yang sudah ”agak” basah yang siap disapa lelauk nan murah meriah. ”Sidane mau makan apak kangmase iki?” tanyanya lagi dengan nada Tegal yang renyah plus sedikit paksaan. Akhirnya aku jawab ”kentang yang itu, trus ikan ini, sama sayur dan sambel ya mbak.” dan aku pun sarapan ditemani dendangan radio komunitas berbahasa tegal yang memutar lagu-lagu dangdut, salah satunya keong racun…

Sambil makan aku mengamati wilayah ini, wilayah yang sudah menjadi second town bagiku. Letak Pesanggrahan ini memang strategis dengan kampus, konon wilayah itu mulai ramai untuk usaha sejak tahun 80-an, sejak UIN masih IAIN dan banyak dihuni mahasiswa berdarah murni (kaum santriawan-santriwati) bukan Muggle (lulusan SMA yang masih berkutik dengan Nahwu –Sharaf) seperti saya (Istilah keren baru tuh ya, jadiin trend panggilan di UIN boleh juga).

Bisa dikatakan jika hampir seluruh wilayah Pesanggrahan saat ini dihuni oleh kaum pendatang (imigran). Sehingga penduduk asli saat ini tinggal sedikit. Wajar jika Situ Kuru tak dijiwai dan dirawat oleh warga sekitar, hingga tak lagi sepopuler jaman emasnya dulu. “Wajar” pikirku sambil mengunyah ikan yang tiba-tiba saja aku teringat dengan ikan-ikan penggoda di Situ Kuru. Tapi tetap saja kukunyah, karena memang ikannya enak.

Selesai makan, kubayar semua resahku senilai 6.500 IDR. Dan bergegas aku menginvestigasi kawasan itu. Mula-mula aku tanya sana-sini tentang siapa yang warga asli wilayah Pesanggrahan. Akhirnya aku ditunjukkan oleh seorang pemuda yang baru pulang dari main tenis (terlihat dari raket tenis yang ia tenteng), lucunya dia yang seperti memakai bedak di wajahnya (masih kebayang) itu menunjukkanku siapa warga asli sesungguhnya tanpa aku tanya. Dia sebetulnya dengar dari mbak-mbak yang aku tanya sih.

Menurutnya ada sesepuh yang layak jadi narsum, rumahnya tak terlalu jauh, engkong Gamur namanya, konon kakek renta yang berusia 80 tahun itu adalah salah satu saksi hidup kondisi Situ Kuru, mulai dari semasa dulunya petak-petak sawah hingga kini menjadi petak-petak kontrakan. Saat menemuainya, aku harus pergi ke kuburan milik UIN yang agak jauh dari Pesangrahan. Karena menurut petuah istri dan menantunya, tiap pagi Engkong selalu pergi ke kuburan. Menyiapkan lahan untuk dirinya, eh membersihkan kuburan milik keluarganya…

Tapi nasib tak mempertemukan kami di kuburan, kami bertemu di depan warteg HMI saat itu aku diantar istrinya untuk menemuinya di kuburan. Dia sedikit enggan berkomentar ketika ditanya soal kondisi Situ Kuru. Dari wajah kakek yang masih kuat dan semangat mencangkul tanah kuburan itu tersirat rasa takut dan sungkan-sungkan kepadaku, entah apa yang ia takuti dariku. Ataukah ia tahu bahwa aku penghuni kuburan selanjutnya? Entahlah…

“Mau nanya apa? Situ ya situ buat pengairan? Mau apa lagi?” katanya dengan spontan saat ku utarakan maksudku. “Saya sudah tua, banyak yang sudah saya lupakan,” tegasnya.

“Kontrakan-kontrakan itu saya tidak tahu, dulu ada yang jual lalu ada yang beli,” katanya meniba.” kalau fungsinya ya masih buat pengairan, ini kan masih ngalir airnya,” menunjuk sebuah selokan tertutup. “Dulu disini banyak sawah-sawahnya, Situ Kuru itu buat ngairin sawah-sawah di sini, dan sejak ada banyak kontrakan, kita jadi sering langganan banjir,” jelasnya dengan nada rendah datar a la kakek sepuh pemurah hati.

Beruntung datang kawannya, Pak Tiar, yang buru-buru mendekati kami. Kakek tersebut menjawab beberapa pertanyaanku, bahkan tanpa ditanya pun kakek mi menceritakan panjang lebar sejarah Situ Kuru. Seolah-olah dia punya indra ke-enam. Tahu jawaban sebelum ditanya…

“Saya memang tinggal agak jauh dan sini, dari RT satu sana, tapi saya tahu kondisi sejarahnya,” kata Kakek yang berusia 56 tahun ini. “Saya juga prihatin dengan sejarahnya, dulu kan ini tanah situ milik Pengairan (Dinas Pengairan), tapi dijual.” Jelasnya sambil menjelaskan batas-batas situ yang saat mi sudah banyak berdiri bangunan pemmanen.

“Tanah itu dulunya dijual oleh Almarhum Ali Irza, dosen UIN dulu. Melalui Pak Kuting, orang Pengairan,” katanya menggebu-gebu, “saya juga heran, gimana ceritanya orang pinter kok ngejual tanah yang bukan haknya, dia itukanjuga Islam!” tegas kakek yang juga sempat mengaku dekat dengan Komairudin Hidayat, Rektor UIN saat mi.

“Saya jadi heran, letak surga itu ada atau tidak, mereka itukansholat? Nah saya yang nggak sholat saja tahu kalau itu nggak bener! Kok mereka nggak tahu? Gimane ceritanye?” katanya memperlebar bahasan ke arah gossip, digosok makin siip.

Menurut Tiar, siapa Ali masih dapat ditelusuri jajeaknya. Salah satu anaknya kini menjadi juragan kontrakan di daerah tersebut inisialnya W, panjangnya Wardah, sayang saat itu W tidak dapat ditemui karena sedang Umrah di tanah suci. W juga juragan kontrakan kosan kami, belakangan kami tahu jika W selain baik suka nganter cemilan pada salah satu teman kami, dia juga getol nagihin uang kosan yang tengah bulan ini baru kami bayar separoh…

Sebetulnya W saat tulisan aneh ini dibuat sudah pulang dari tanah suci, tapi males ah nemuin.Kanudah selesai tugasnya, aspek continueitaskankadang memang tidak diperhatikan di organisasi saya.

Lanjut, panjang lebar Tiar ngobrol dengan saya, dia menceritakan kondisi Situ Kuru dulunya. Konon kenapa Komar Hidayat menegur pejabat walikota tanggerang untuk membersihkan Situ Kuru beberapa waktu waktu yang lalu, semua itu atas desakan dari Tiar. Panjang lebar saya ngobrol dengan kakek yang mengingatkan saya pada embah di Purwantoro, Wonogiri, Jawa Tengah ini, membuat dada saya sesak. Nasibnya sama dengan warga sekitar UIN lain, terpinggirkan dan tiada dapat berkah dari adanya UIN.

Setelah itu buru-buru saya ke tempat Pak RT, saya udah kenal lho RT Pesanggrahan, konon dia terkenal karena telalu lama menjabat jadi RT plus dengan cakupan wilayah yang terlalu luas! Karena saya dulu juga sudah sempat mewawancarai dia dengan modus yang sama dengan saat ini. Karena aspek continuitas sangat saya jaga!

Widya Utama, atau akrab dipanggil Wiwid, ketua RT I Pesanggrahan, Cempaka Putih turut menggungkapkan keprihatinannya, “Mau bagaimana lagi, Situ Kuru kan yang mengurusi pemerintah. Saya juga kurang tahu bagaimana asal-usulnya,” katanya dengan muka mengantuk, ketahuan kalau dia semalam begadang karena pengajian, karena semalam saya mau ke tempat dia, kata anaknya dia sedang pengajian.

“Dulu kami diajak rembukan sama Pak Komarudin hidayat yang katanya konsen sama Situ Kuru, nyatanya cuma dibersihkan sekali saja sama dinas pengairan, setelah itu tidak ada perawatan lagi,” ungkapnya.

“Saya malah menanyakan dimana LSM-LSM itu? Kenapa kok mi malah seolah-olah terpinggirkan” keluhnya sambil memandikan burung di teras rumahnya. Oh ya, waktu saya datang, dia sedang nyemprotin kandang burung di teras rumahnya.

Pembicaraan kami yang lain agak kurang penting, karena saya sudah tahu ceritanya, urusan pembaca tidak tahu saya serahkan kepada urusan pembaca masing-masing. Selanjutnya dan singkatnya, karena hari sudah terlalu siang dan saya belum sempat ngetik plus editing. Saya langsung menuju UKM yang konsen pada lingkungan hidup di UIN dengan terburu-buru, bisa dibayangkan dengan melodi Mozart e minor misa requiem , saya berlari menuju kampus yang letaknya sekitar sepelemparan rudal dari rumah pak RT, diselingi iringan adzan dzuhur yang bersahutan dari Fatullah dan Jamiah, yang saya binggung juga sebetulnya, mana adzan dari Fatullah di depan Kampus mana Jamiah di dalam kampus, tapi itu tidak penting.

Di sana saya bersua dengan Egi, Kadiv SAR (Ketua Divisi Search and Rescue) UKM Kelompok Mahasiswa Pencinta Lingkungan Hidup (KMPLHI) Ranita menyatakan sikapnya tentang kondisi Situ Kuru, “kami punya dua sikap,” ungkapnya dalam kesimpulan akhir setelah ngobrol 37 menit, sesuai hitungan dalam rekaman hp saya.

“Pertama, karena itu menyangkut hal-hal berbau politik antara UIN dan warga, kami membatasi diri untuk tidak melakukan aksi seperti yang dikehendaki banyak pihak. Karena itu diluar tujuan kami, karena tugas kami menjaga alam. Saat ini kami sedang menunggu alat untuk niset Ph keasaman air di daerah Situ Kuru,” katanya.

“Kedua, kami sudah melakukan aksi-aksi sejak tahun 2006 untuk Situ Kuru. Mulai dan pemberian stiker-stiker dan pamfiet-pamfiet untuk menjaga Situ Kuru agar tidak hilang ditelan jaman,” terangnya dengan gaya a la mahasiswa aktifis mayoritas.

Dan karena waktu habis, bergegas saya menuju kembali ke Pesanggrahan untuk mengetik plus editing semua tugas saya, hingga tanpa terasa adzan Ashar kembali menggema. Dan saya kembali bingung,  mana adzan Fatullah mana adzan Jamiah, tapi itu tidak penting, itu urusan saya. Akhirnya saya menuliskan penutup pada tugas tulisan saya seperti ini:

Situ Kuru sudah harusnya dijaga dan dirawat oleb kita semua. Baik warga masyarakat maupun warga kampus. Lebih-lebih letaknya dekat dengan Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tempat yang dekat dengan unsur “pintar” dan “Islam”. Ironi jika kondisi Situ Kuru saat ini jauh dan dua kata tersebut. Dan malah dekat dengan kesan kotor dan kumuh. Semoga saja ironi ini tidak lama berlanjut.

Situ Kuru Saat Ini
Situ Kuru, Mei 2011
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s