Jangan Buru-Buru Ketok Palu (RUU Inteljen)

BIN

Bagaimana kelak posisi BIN jika RUU ini dishkan?

Kenapa kita butuh UU Inteljen? Apa sebetulnya inteljen? Bagaimana pola inteljen di bangsa-bangsa lain yang sudah maju? Pertanyaan itu muncul dalam benak saya saat beberapa hari lalu sempat turut berwacana dalam sebuah FGD (Forum Group Discussion) di Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) di Salemba, Jakarta Pusat. Membahas RUU Inteljen yang konon mendekati bulan Juli-Oktober ”sudah” akan disahkan karena telah masuk Panja.

Saya jadi ingat Movie yg belum lama saya tonton, judulnya Fair Game. Movie yang sangat menyentuh tentang kisah nyata seorang agen CIA bernama Valerie yang memegang idealisme inteljen. Meski akhirnya dia malah dikhianati oleh pemerintahan Bush. Lengkapnya tonton sendiri Movienya. Saya sempat mbrebes karena disana, saya malah temukan peran media di AS dalam membentuk kebijakan pemerintah AS yang sungguh sangat mengerikan.

Kembali ke Inteljen, kata tersebut berasal dari kata Intellegence alias cerdas. Berafiliasi dengan kata mata-mata. Dalam FGD di Kontras tersebut. Saya dapati inti dari kerja Inteljen adalah sebagai mata dan telinga negara. Inteljen adalah organisasi pemerintah yang menyediakan fakta-fakta, data-data kongrit, dan analisa-analisa yang menunjang kebijakan pemerintah demi kemajuan rakyatnya. Analogi finalnya, inteljen tak diperkenankan sedikitpun untuk ”mencubit” siapapun. Yang berhak menangkap hanya lembaga yudisial semacam polisi saja.

Lantas bagaimana kinerja Inteljen kita? Oh-oh, belum pernah saya dengar jika Inteljen di Indonesia itu sama definisinya dengan Inteljen di atas. Kerja Inteljen di indonesia hampir  selalu negatif karena tindakannya yang over limit. Sebut saja tragedi Mei 98 dan Tragedi PKI. Sudah jadi rahasia umum bahwa yang bergerak di bawah tragedi tersebut adalah Inteljen kita.

Padahal, inteljen bukanlah lembaga yang berwenang untuk menangkap seseorang. Bukan ranah Inteljen untuk menghakimi bahkan menghukum. Meski belakangan saya tahu, inteljen tak melulu merujuk pada BIN (Badan Inteljen Negara) tetapi ada juga inteljen kejaksaan, inteljen kepolisian, TNI dan  mungkin ada yang lain.

Inteljen harus sesuai dengan peran dan fungsinya, jangan sampai over limit dan mengganggu stabilitas nasional dengan hanya menjadi perpanjangan alat dari pemerintahan saat ini saja.

Isu-isu terorisme, penembakan polisi di beberapa daerah, separatisme semacam NII memang membutuhkan analisa yang lengkap dan jelas oleh inteljen. Jangan sampai isu-isu ini hanya menjadi alasan untuk melegalkan RUU Inteljen yang belum sepenuhnya tersusun secara benar dan akurat untuk dijadikan UU.

Berikut ini adalah beberapa kekurangan dari RUU Inteljen yang layak untuk diperhatikan dan dicermati, hasil dari diskusi bersama Koalisi Advokasi RUU Intelijen seperti yang dilansir detik.com :

1. Definisi Intelijen

Pasal 1 ayat (2) menyatakan bahwa intelijen negara adalah lembaga pemerintah. Pada dasarnya lembaga intelijen bukanlah lembaga pemerintah tetapi alat negara. Definisi itu telah meletakkan posisi intelijen sebagai alat penguasa yang bekerja untuk kepentingan penguasa dan bukan alat negara yang bekerja untuk kepentingan rakyatnya. Hal itu sangat mengkhawatirkan karena sangat mungkin digunakan untuk memata-matai rakyat demi kepentingan penguasa semata.

2. Penyadapan

Penolakan penyadapan melalui izin pengadilan sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 31 bukan hanya berpotensi mengancam hak-hak asasi warga negara tetapi juga rentan disalahgunakan demi kepentingan ekonomi maupun politik kekuasaan. Intelijen memang memerlukan kewenangan untuk melakukan penyadapan/ intersepsi, namun harus dilakukan melalui mekanisme yang baku dan rigid serta harus memiliki prasyarat yang jelas, semisal pentingnya mendapatkan persetujuan pengadilan dalam penyadapan.

3. Rahasia Informasi Intelijen

Pengaturan rahasia intelijen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 jo Pasal 39 RUU Intelijen masih menimbulkan multitafsir dan bersifat karet. Pengaturan yang karet dan multitafsir ini mengancam kebebasan informasi, kebebasan pers dan demokrasi itu sendiri.

4. Penangkapan

Pemberian kewenangan menangkap kepada intelijen mengancam hak asasi manusia dan merusak mekanisme criminal justice system. Pemberian kewenangan itu sama saja dengan melegalisasi penculikan dalam undang-undang intelijen, mengingat kerja intelijen yang tertutup dan rahasia.

Penting diingat bahwa badan intelijen negara adalah bagian dari lembaga intelijen non-judicial yang tidak termasuk menjadi bagian dari aparat penegak hukum. Dalam negara hukum, kewenangan menangkap maupun menahan hanya bisa dilakukan oleh aparat penegak hukum.

5. Lembaga Koordinasi Intelijen Negara (LKIN)

Lembaga Koordinasi Intelijen Negara (LKIN) sebagai lembaga baru yang diatur dalam RUU ini akan menjadi lembaga yang menggantikan kedudukan Badan Intelijen Negara (BIN) yang memiliki kewenangan sangat luas. Dalam hal itu, LKIN seharusnya tidak boleh memiliki kewenangan dan fungsi operasional, seperti melakukan intersepsi komunikasi, pemeriksaan aliran dana, dan lain-lain.

6. Pengawasan

Pengaturan mekanisme pengawasan dalam RUU Intelijen Negara ini hanya dilakukan dalam bentuk pengawasan parlemen oleh DPR yang dilaksanakan oleh perangkat kelengkapan DPR yang membidangi pengawasan intelijen. Tidak ada ketentuan yang mengatur pengawasan internal, pengawasan eksekutif, maupun pengawasan hukum.

7. Organisasi dan Peran

Dari sisi organisasi, RUU Intelijen Negara tidak menganut diferensiasi struktur dan spesialisasi fungsi. RUU Intelijen Negara tidak membagi wilayah kerja antara intelijen luar negeri, intelijen dalam negeri, intelijen militer, dan intelijen penegakan hukum secara tegas.

8. Struktur dan Kedudukan

RUU Intelijen Negara juga belum dapat memisahkan akuntabiltas antara struktur yang bertanggungjawab dalam membuat kebijakan dengan struktur yang bertanggung jawab secara operasional dalam melaksanakan kebijakan.

9. Personel dan Rekrutmen

Terkait dengan anggota intelijen, RUU Intelijen Negara hanya secara sumir mengatur tentang personel intelijen. Tidak diatur bagaimana mekanisme rekrutmen yang baik secara terbuka maupun tertutup.

10. Kode Etik dan Larangan

Selain itu, RUU Intelijen Negara ini juga masih belum mengatur mengenai pengaturan atau kode etik intelijen yang mencakup kewajiban, hak dan larangan bagi seluruh aktivitas dan aspek intelijen.

11. Sipilisasi Intelijen

RUU ini belum mengatur tentang agenda sipilisasi intelijen. Sudah seharusnya di era demokratisasi seluruh lembaga intelijen adalah sipil dan bukan TNI aktif, kecuali intelijen militer. Sampai saat ini Badan Intelijen Negara (BIN) masih diisi oleh TNI aktif. Padahal Kepala BIN saja berasal dari sipil.

12. Hak Korban

RUU Intelijen Negara belum mengatur tentang hak-hak korban, khususnya terkait dengan komplain korban apabila terdapat tindakan intelijen yang menyimpang dan menimbulkan persoalan serius terhadap hak-hak masyarakat.

So, Bapak Ibu yang (minta) terhormat di Senayan. Bahas dulu ini permasalahan RUU Inteljen yang belum dimasukkan DIM (Daftar Infentarisasi Masalah) RUU Inteljen, bahkan belum didiskusikan dengan masyarakat umum. Buat Marjuki Ali, jangan buru-buru ketok palu RUU Inteljen jika alasannya ”Udah sesuai jadwal, dan terkatung-katung sejak 2004” So what! UU Inteljen harus lahir dengan sehat, bukan prematur dan cacat meski telah dikandung bertahun-tahun. Kalau tidak? Tunggu tanggal main kami mahasiswa…

Advertisements

Pementasan “Visa” Buka Forum Teater Realis Salihara

Salah satu adegan pertunjukan Visa

Teater Satu memainkan Visa

Seorang anak kecil memasuki panggung pertunjukan, tak ada yang mencolok, hanya seorang anak kecil saja. Lalu sebuah puisi yang belakangan kerap dibacakan lagi di sela-sela pertunjukan menggema dan membuka pementasan malam itu.

 

”Amerika adalah lautan kota-kota kecil

dengan Gereja berwarna putih

perpustakaan 10.000 buku

balai kota berbata merah

toko-toko di mainstreet yang setia

 

Amerika adalah barisan rumah yang rapi dan tentram

di mana orang tak ingin pergi jauh

atau ketemu orang di timur jauh

di mana orang tak pernah dengar bahasa Turki atau Parsi

tak pernah makan sasimie atau ayam tandori

 

Amerika adalah sebuah isolasi

ya, sebuah hidup lokal yang lupa tentang dunia

karena mempunyai segala-galanya

 

Kalimat-kalimat itu membuka pertunjukan teater berjudul Visa di gedung pertunjukan Salihara Jum’at 3 Juni 2011. Malam itu adalah malam pertama sekaligus pembuka untuk serentetan pertunjukan Forum Teater Realis yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara selama bulan Juni 2011 ini. Teater realis adalah jenis teater yang mengangkat kisah kehidupan nyata kita sehari-hari.

Boleh jadi ini adalah kali pertama saya nonton langsung sebuah teater yang bisa dikatakan bunafit baik dari segi penulisan naskah, sutradara, pemain, maupun tempatnya. Bagaimana tidak, naskah teater ini ditulis oleh seniman kawakan Goenawan Muhammad dan belakangan saya tahu, naskahnya juga pernah dipentaskan oleh Teater Lunglid beberapa tahun silam.

Sutradaranya adalah Iswadi Pratama, seperti yang saya dengar dari podcast http://www.dw-world.de, dia pernah diajak berkolaborasi untuk pementasan teater di Jerman dari naskahnya yang  terkenal berjudul ”Nostalgia Sebuah Kota”. Hebat bukan?

Para pemainnya sendiri adalah Teater Satu yang berasal Lampung, mereka pernah dianugrahi oleh Majalah Tempo sebagai Group Teater Terbaik versi Majalah Tempo tahun 2008 silam lewat sebuah pementasan single berjudul ”Perempuan di Titik Nol”.

Saya tidak akan bercerita bagaimana jalannya pertunjukan, karena jujur saya bukan pengamat seni. Tapi pertunjukan ini sungguh berkesan bagi saya, makna yang dikandung dalam pementasan ini bisa jadi pelajaran bagi saya pribadi. Kisah tentang para pencari Visa di Konsulat Amerika ini dijadikan sebuah pertunjukan apik yang  penuh satire hingga metafora kehidupan yang sangat kompleks.

Pemainnya ada yang digambarkan melalui seorang pelajar, penujum, pebisnis, nenek yang menengok cucunya, sepasang sejoli, hingga banci jadi-jadian yang lucu. Masing masing memiliki cerita yang asik, unik, dan seringnya menyentuh.

Isinya misal tentang mengapa hidup kita selama ini hanya dirangkum dengan beberapa lembar formulir yang harus terisi semua. Dan jangan heran ketika kita harus mengisi nama keluarga, nama ayah, atau nama suami kita yang terkadang kita tidak bisa  mengisinya semudah orang lain mengisinya.

”Bagaimana jika saya tidak mengenal ayah saya? Karena kata ibu, ayah saya hilang. Tetapi kata tetangga, ayah saya memang sengaja dihilangkan pada tahun 60-an…

Mengapa saya harus menuliskan nama almarhum suami saya? yang meski sudah memberi tiga anak pada saya, nyata-nyatanya hati saya tidak pernah saya berikan padanya…

Bagimana saya harus mengisi nama ayah saya, karena saya adalah anak jadah. Tetapi saya keturunan Prancis, ayah saya dulu membantu bikin bendungan …”

Semua itu sepertinya memang tidak berguna, dan hanya mengorek luka lama. Dan itu sering ditanyakan secara mendetail oleh pihak penggurus visa kepada para pencari visa di Konsulat Amerika. Ini menjadi tanda tanya, mengapa begitu ketatnya hanya untuk bertamu di negeri Paman Sam itu? Apakah mereka takut kepada orang kecil seperti kita? Atau apakah Amerika memang trauma?

Pesan-pesan lain disampaikan bagai sebuah curhatan, ada juga pesan kasih sayang sejoli yang berbalas puisi yang entah mengapa diiringi salah satunya dengan lagu Imagine-nya Jhon Lenon. Saya malah menangkap pesan Lenon dibanding pesan puisi, norak sih, mentang-mentang hafal liriknya. Tapi dipikir-pikir lirik Lenon malah kontradiksi dengan isi materi pertunjukan sepertinya. Ah, tapi saya tidak mau ber-sotoy ria, hehehe…

Ya, seperti itulah kira-kira gambaran pementasan malam itu. Penontonnya penuh dan banyak artis dan seniman serta ekspat. Ada juga tetangga saya mas Rizki Mulyawan alias Dik Doank yang bertatapan muka tapi saya nggak senyum sama sekali karena bingung mau menyapa apa (padahal kerap ketemu). Dan yang nggak enak banget, saya duduk di row kedua sebelah kanan disebelah saya ada aktris senior wanita bernama X yang kalo ketawa panjang banget dan mengganggu keheningan pertunjukan.

Pertunjukan malam itu dimulai pukul 8.30 dan berakhir 70 menit kemudian. Setelah pertunjukan berakhir, saya sempat mengucapkan selamat dan berjabat tangan dengan Iswadi Pratama, nggak sempat foto-foto sih, maklum saya seorang diri dan terkenal jaim J. Selain itu, ini kali pertama saya naek motor jauh-jauh plus malam di ibukota. Jadi saya urung untuk pulang larut malam.

Jadwal Forum Teater Realis di SaliharaBaiklah, bagi Anda yang belum sempat mengapresiasi anak-anak Teater Satu ini. Masih empat pertunjukkan lagi selama weekend Juni 2011 oleh Teatris lain yang pastinya sudah expert juga. Tiketnya hanya 25 ribu untuk mahasiswa dan terbatas. Lucunya, saat saya beli tiket ini, rencananya saya mau pake identitas Pers saya biar gratis, tapi ternyata sudah habis. Dan ternyata Press Confrence memang sudah sehari sebelumnya, dan juga tidak bisa memperoleh foto eksklusif. Terpaksa saya mencatatkan diri sebagai mahasiswa dan saat saya tanda tangan, walaaaa disana tercatat banyak mahasiswa UI dan Binus, UIN hanya satu, hanya saya seorang L.

Bagi yang mau melihat foto-fotonya lebih banyak, klik saja link di www.flickr.com berikut ini http://fb.me/SDR74vfV Selamat menikmati…

Menyentil Ideologi…

“Terlalu mahal dan akan banyak menelan korban untuk mengganti ideologi…”

kata Rektor UIN Jakarta, Komarudin Hidayat beberapa waktu lalu di account twitter @komar_hidayat miliknya, menanggapi kasus NII yang merebak di masyarakat belakangan ini, dan juga cukup menggoyang kampus tercinta.

Kebetulan di kesempatan lain saya juga mendengar perkataan beliau tentang ideologi, kurang lebih seperti ini, “Mahasiswa, silahkan mencari ideologi sesuai dengan kemampuannya, terserah mana yang mau dianut, toh mereka juga akan sadar akan realitanya…” katanya saat mengisi sebuah seminar tentang organisasi kampus beberapa hari lalu. Hal itu yang membuat saya berpikir dan terus berpikir, lantas mencoba mengurai benang merah persoalan bangsa ini, ideologi.

Saya pun terhenyak, sama terhenyaknya saat heboh soal definisi identitas yang menyeruak beberapa tahun silam. Nyatanya, saya, atau beberapa dari kita memang belum paham benar definisi ideologi. Bahwa memang sejak kecil kita telah terdoktrinasi dengan ideologi Pancasila, hingga kita hapal di luar kepala namun minim penggejawantahan di lapangan.

Buktinya? Saya coba tanyakan kepada beberapa mahasiswa berbagai semester dan nyatanya memang mereka tidak terlalu kenal dengan istilah fundamental ini. Maklum, saat ini mayoritas dari kami adalah penganut hedonisme yang disarikan secara keliru dari makna kebebasan, yang memang banyak disuarakan tanpa pemahaman. Inilah realita gagalnya pembentukan karakter. Ah, harapku ini hanya asumsi belaka, karena realitanya lebih menggerikan. ?

Pembelajaran Ideologi: Indoktrinasi yang Keliru

Ideologi selalu berhimpitan dengan idealis. Ideologi adalah sebuah cita-cita besar, sedang idealis adalah sikapnya. Kita selalu mengenang ideologi dengan pancasila, komunis, demokrasi, ekstrim kanan-kiri, agama, dlsb. Semua itu hanya sebagai wacana bahwa ideologi memang sudah di patenkan oleh beberapa pemikir barat. Sehingga saat ini, kajian teori ideologi bangsa ini ”lagi-lagi” nyontek pemikiran mereka tanpa sedikitpun improvisasi. Kenyataannya, tata ideologi dunia memang tidak bisa disatukan hingga tak mungkin disamakan.

Sukarno, pencetus Pancasila adalah orang yang Idealis. Baginya ideologi Pancasia yang ia kenalkan pada bangsa ini adalah sebuah pemikiran yang mampu meraup banyak massa tanpa ada pertumpahan darah. Karena Pancasila memiliki jiwa yang selaras dengan nafas kedepan bangsa yang multikultural.

Tapi kini apa hasilnya? Korupsi, Terorisme, Cikeusik, Depok, NII, dlsb. Adalah buah dari penerapan dan penjagaan ideologi yang nyata-nyata telah gagal dalam prakteknya. Lemahnya pemimpin dalam menggelola dan menjaga ideologi membuat banyak dari kita mencari-cari alternatif ideologi. Dari sekedar coba-coba dan kecil-kecilan setingkat mahasiswa (tidak terekspos) dan radikalisme-radikalisme semu hingga yang sering dibilang ekstrem seperti ideologi berbasis agama seperti NII.

Pembelajaran ideologi di ranah pendidikan sangat miskin praktik, pelajar dijejali teori dan teori yang pasti tidak akan berguna tanpa dipraktikkan. Ideologi pancasila dikenalkan kepada pelajar sekolah sebagai dasar negara yang wajib dihormati dengan taat pada guru dan rajin belajar. Ideologi dikenalkan pada bahan ajar Kewarganegaraan dengan hapalan-hapalan tekstual yang seringnya sangat menjemukan.

Akhirnya, tanpa penekanan pada aspek praktikum, cukup memberi hormat pada bendera merah putih saat upacara pun sudah dianggap sebagai praktik ideologi. Hingga saatnya mereka keluar dari ranah pendidikam sekolah, mayoritas dari mereka shock dengan bebasnya ideologi yang ada. Hasilnya, pembentukan ideologi mayoritas memang baru dicari dan terbentuk saat berada di dunia kampus, atau saat seorang manusia kini telah menemui kondisi lingkungan yang sebenarnya di luar lingkungan sekolah atau kampus.

Ideologi personal lebih penting dari ideologi kelompok.

Maksudnya bahwa tiap-tiap kita wajib punya ideologi. Akademisi, politisi, peneliti dlsb sejatinya adalah orang yang pertama-tama punya ideologi personal yang jelas bagi masa depannya. Sayang, idelogi personal saat ini tergerus oleh ideologi partial kelompok. Walhasil perasaan ideologi personal yang kadang dipupuk sendiri harus tergerus saat menemui kondisi lapangan yang mengaharuskan taat pada ideologi kelompok, yang pastinya belum tentu on the track.

Pembentukan mental atau character building sangat diperlukan dalam pembentukan ideologi personal yang kokoh, kuat, dan tahan banting. Seeorang yang punya karakter kuat sudah tentu memiliki ideologi yang mantap. Inilah keyword dalam regenerasi ideologi anak bangsa kedepanya.

Minimnya praktik ideologi digunakan oleh beberapa pihak untuk meraup keuntungan. Dengan dalih mendirikan bangsa yang lebih maju, kuat, sehat dlsb, praktik-praktik ideologi dengan pemahaman yang boleh dikatakan ”menyimpang” pun akhirnya disebarkan benih-benihnya. Dan kini tumbuh subur di negeri ini. Baik yang sembunyi-sembunyi, malu-malu kucing hingga yang dengan bangganya memerkan ideologi di jalanan-jalanan, mengobral murah dengan iming-iming kekuasaan. Atas nama rakyat, atas nama Tuhan, sigh!

Tidak salah memang, mengingat manusai dilahirkan untuk bebas dan tanpa paksaan dalam hal apapun, tetapi lagi-lagi harus on the right track. Ideologi bukan sekedar permainan, kita harus mendiskusikan, berbagi, dan mengkaji. Ideologi dalam hemat saya, kelak yang akan ditanyakan pertama kali oleh Malaikat saat kita mati. Karena ideologi mengantar kita sebagai manusia yang benar-benar manusia, baik mengakui Tuhan atau tidak bisa tercermin dalam ideologinya.

Misal, seorang komunis yang meninginkan kesetaraan pun boleh jadi lebih manusia daripada seorang Imam yang menginginkan kekuasaan. Karena ideologi sejatinya terletak pada diri pribadi masing-masing. Dan terlihat dan tercermin dalam segala ”tindakannya”.

Perang Ideologi, Masihkah ada?

Ideologi personal, ya saya yakin masing-masing dari kita punya, hanya saja terkadang tidak menyadari keberadaannya. Namun ideologi kelompok, siapa kira setelah komunis berhasil tersingkirkan dari bangsa ini beberapa waktu silam, perang ideologi tak kunjung berakhir.

Lagi-lagi dari kajian sejarah, Sukarno adalah salah satu orang yang paham dengan multikultural dan multi-ideologi bangsa yang sejatinya sulit untuk dipersatukan ini. Konsep integrasi dalam nasakom yang ia buat adalah bagian penting dari pemikiran Sukarno dalam mengintegrasikan bangsa ini. Meski belakangan kita tahu konsep itu justru memecah belah bangsa saat orde lama.

Hingga hukum alam pun berlaku dalam perang ideologi. Siapa kuat, siapa lebih banyak pengikut, siapa lebih pandai; dialah pemenang dalam perang idelogi, dan ideologi kelompok yang kini telah menjelama menjadi ideologi bangsa ini adalah hasil dari pertumpahan darah juataan manusia yang mati tanpa nama dan kubur.

Siapa kira, pertikaian ideologi bisa lebih jahanam dari penjajahan. Ini terbukti tak hanya di negeri garuda ini, berbagai negara dan bangsa pun mengalaminya. Banyak bangsa yang rela membunuh saudaranya sendiri hanya karena perbedaan ideologi. Inilah titik “kesakralan” ideologi…

Dan kini seperti kata Komarudin Hidayat di atas, terlalu mahal untuk mengganti ideologi. Tetapi, terlalu sulit juga untuk mempertahankannya, disaat ideologi semu berlahan-lahan mengahncurkan ideologi bangsa ini lewat korupsi, keyakinan membabi buta, kapitalisme a la rimba, dan nafsu-nafsu ideologi semu lainnya yang sudah sepatutnya diperangi bersama.

Dari mana kita mulai…

Ingat bahwa demokrasi yang menjadi basis Ideologi Pancasila pun juga masih mengalami trial and error. Karena ini juga hasil pemikirian alamiah manusia akan kondisi dunia yang dinamis. ”Ideologi Demokrasi Pancasila saat ini memang bukan yang sempurna, tapi paling tidak inilah yang terbaik untuk saat ini” kata Study Rizal, dosen civic education saya semester lalu yang selalu saya ingat.

Siapa duga, pikir saya, kelak akan ada geombang dunia ke berapa yang lebih nyata tentang ideologi tata kehidupan dunia yang satu padu dibawah sistem yang entah apa namanya.

Tapi sayangnya, dalam praktik beragama saya, hal itu hanya dijanjikan kelak di surga. Jadi memang ironi bahwa Tuhan sendiri tidak menjanjikan kedamaian yang satu padu di dunia ini. Tapi saya yakin, Tuhan beserta sifat-sifatnya senantiasa memberi banyak anugrah bagi hambanya yang senantiasa mencoba menginginkan tata hidup yang lebih baik seperti nabi-nabi. Sayangnya lagi, konon nabi sudah berakhir, dan ini membuat saya agak pesimis tentang kenyataan yang mungkinkah akan berubah. Who is the saviour?

Janji tentang ratu adil, mesias, dan imam terakhir menjadikan manusia kerap lupa bahwa sebenarnya saviour mereka terletak pada diri kita sendiri, kitalah yang bisa menyelamatkan kita, apa yang telah dan akan kita lakukan kelak akan dipertanggungjawabkan. Maka, sudah pasti, marilah memulai hidup kedepan dengan ideologi yang jelas, dan semua itu berpangkal dari nurani masing-masing,

Selamat menjadi manusia yang idelis…