Pementasan “Visa” Buka Forum Teater Realis Salihara

Salah satu adegan pertunjukan Visa

Teater Satu memainkan Visa

Seorang anak kecil memasuki panggung pertunjukan, tak ada yang mencolok, hanya seorang anak kecil saja. Lalu sebuah puisi yang belakangan kerap dibacakan lagi di sela-sela pertunjukan menggema dan membuka pementasan malam itu.

 

”Amerika adalah lautan kota-kota kecil

dengan Gereja berwarna putih

perpustakaan 10.000 buku

balai kota berbata merah

toko-toko di mainstreet yang setia

 

Amerika adalah barisan rumah yang rapi dan tentram

di mana orang tak ingin pergi jauh

atau ketemu orang di timur jauh

di mana orang tak pernah dengar bahasa Turki atau Parsi

tak pernah makan sasimie atau ayam tandori

 

Amerika adalah sebuah isolasi

ya, sebuah hidup lokal yang lupa tentang dunia

karena mempunyai segala-galanya

 

Kalimat-kalimat itu membuka pertunjukan teater berjudul Visa di gedung pertunjukan Salihara Jum’at 3 Juni 2011. Malam itu adalah malam pertama sekaligus pembuka untuk serentetan pertunjukan Forum Teater Realis yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara selama bulan Juni 2011 ini. Teater realis adalah jenis teater yang mengangkat kisah kehidupan nyata kita sehari-hari.

Boleh jadi ini adalah kali pertama saya nonton langsung sebuah teater yang bisa dikatakan bunafit baik dari segi penulisan naskah, sutradara, pemain, maupun tempatnya. Bagaimana tidak, naskah teater ini ditulis oleh seniman kawakan Goenawan Muhammad dan belakangan saya tahu, naskahnya juga pernah dipentaskan oleh Teater Lunglid beberapa tahun silam.

Sutradaranya adalah Iswadi Pratama, seperti yang saya dengar dari podcast http://www.dw-world.de, dia pernah diajak berkolaborasi untuk pementasan teater di Jerman dari naskahnya yang  terkenal berjudul ”Nostalgia Sebuah Kota”. Hebat bukan?

Para pemainnya sendiri adalah Teater Satu yang berasal Lampung, mereka pernah dianugrahi oleh Majalah Tempo sebagai Group Teater Terbaik versi Majalah Tempo tahun 2008 silam lewat sebuah pementasan single berjudul ”Perempuan di Titik Nol”.

Saya tidak akan bercerita bagaimana jalannya pertunjukan, karena jujur saya bukan pengamat seni. Tapi pertunjukan ini sungguh berkesan bagi saya, makna yang dikandung dalam pementasan ini bisa jadi pelajaran bagi saya pribadi. Kisah tentang para pencari Visa di Konsulat Amerika ini dijadikan sebuah pertunjukan apik yang  penuh satire hingga metafora kehidupan yang sangat kompleks.

Pemainnya ada yang digambarkan melalui seorang pelajar, penujum, pebisnis, nenek yang menengok cucunya, sepasang sejoli, hingga banci jadi-jadian yang lucu. Masing masing memiliki cerita yang asik, unik, dan seringnya menyentuh.

Isinya misal tentang mengapa hidup kita selama ini hanya dirangkum dengan beberapa lembar formulir yang harus terisi semua. Dan jangan heran ketika kita harus mengisi nama keluarga, nama ayah, atau nama suami kita yang terkadang kita tidak bisa  mengisinya semudah orang lain mengisinya.

”Bagaimana jika saya tidak mengenal ayah saya? Karena kata ibu, ayah saya hilang. Tetapi kata tetangga, ayah saya memang sengaja dihilangkan pada tahun 60-an…

Mengapa saya harus menuliskan nama almarhum suami saya? yang meski sudah memberi tiga anak pada saya, nyata-nyatanya hati saya tidak pernah saya berikan padanya…

Bagimana saya harus mengisi nama ayah saya, karena saya adalah anak jadah. Tetapi saya keturunan Prancis, ayah saya dulu membantu bikin bendungan …”

Semua itu sepertinya memang tidak berguna, dan hanya mengorek luka lama. Dan itu sering ditanyakan secara mendetail oleh pihak penggurus visa kepada para pencari visa di Konsulat Amerika. Ini menjadi tanda tanya, mengapa begitu ketatnya hanya untuk bertamu di negeri Paman Sam itu? Apakah mereka takut kepada orang kecil seperti kita? Atau apakah Amerika memang trauma?

Pesan-pesan lain disampaikan bagai sebuah curhatan, ada juga pesan kasih sayang sejoli yang berbalas puisi yang entah mengapa diiringi salah satunya dengan lagu Imagine-nya Jhon Lenon. Saya malah menangkap pesan Lenon dibanding pesan puisi, norak sih, mentang-mentang hafal liriknya. Tapi dipikir-pikir lirik Lenon malah kontradiksi dengan isi materi pertunjukan sepertinya. Ah, tapi saya tidak mau ber-sotoy ria, hehehe…

Ya, seperti itulah kira-kira gambaran pementasan malam itu. Penontonnya penuh dan banyak artis dan seniman serta ekspat. Ada juga tetangga saya mas Rizki Mulyawan alias Dik Doank yang bertatapan muka tapi saya nggak senyum sama sekali karena bingung mau menyapa apa (padahal kerap ketemu). Dan yang nggak enak banget, saya duduk di row kedua sebelah kanan disebelah saya ada aktris senior wanita bernama X yang kalo ketawa panjang banget dan mengganggu keheningan pertunjukan.

Pertunjukan malam itu dimulai pukul 8.30 dan berakhir 70 menit kemudian. Setelah pertunjukan berakhir, saya sempat mengucapkan selamat dan berjabat tangan dengan Iswadi Pratama, nggak sempat foto-foto sih, maklum saya seorang diri dan terkenal jaim J. Selain itu, ini kali pertama saya naek motor jauh-jauh plus malam di ibukota. Jadi saya urung untuk pulang larut malam.

Jadwal Forum Teater Realis di SaliharaBaiklah, bagi Anda yang belum sempat mengapresiasi anak-anak Teater Satu ini. Masih empat pertunjukkan lagi selama weekend Juni 2011 oleh Teatris lain yang pastinya sudah expert juga. Tiketnya hanya 25 ribu untuk mahasiswa dan terbatas. Lucunya, saat saya beli tiket ini, rencananya saya mau pake identitas Pers saya biar gratis, tapi ternyata sudah habis. Dan ternyata Press Confrence memang sudah sehari sebelumnya, dan juga tidak bisa memperoleh foto eksklusif. Terpaksa saya mencatatkan diri sebagai mahasiswa dan saat saya tanda tangan, walaaaa disana tercatat banyak mahasiswa UI dan Binus, UIN hanya satu, hanya saya seorang L.

Bagi yang mau melihat foto-fotonya lebih banyak, klik saja link di www.flickr.com berikut ini http://fb.me/SDR74vfV Selamat menikmati…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s