Meraba Komunikasi Massa

Gambar

Assosiated Press

Untuk memahmi dampak komunikasi massa, diperlukan kajian yang mendalam dan referensi luas untuk memahaminya. Karena dampak komunikasi massa sangat kompleks, yakni banyak dihubungkan dengan variabel-variabel bebas lainnya; dan dinamis, yakni selalu berubah dari waktu ke waktu. Belum lagi bagaimana sisi para ahli memandang subjektifitas teori-teorinya.

Teori yang paling awal dikenal mengenai dampak media massa adalah The Magic Bullet Theory atau teori peluru, teori ini berkembang pada awal abad 19 dimana perang dunia telah banyak berpegaruh dalam dimensi teori ini. Teori ini menekankan bahwa pesan yang dibawa dalam komunikasi massa adalah[i]:

  1. Menjangkau secara langsung setiap audiens
  2. Panetrasi setiap pikiran secara langsung
  3. Mempengaruhi gagasan dan tindakan setiap orang, secara terang-terangan dan sangat berpengaruh.

Teori ini terbukti memang akurat untuk menggambarkan fungsi utama media massa sebagai alat prropaganda pada kisaran abad 20. Media massa merupakan alat propaganda paling utama baik politik maupun kapitalis. Pada massa berkembangnya teori ini, propaganda politik memang sangat kentara.

Contohnya di Indonesia, pada era Orde Baru. Media massa merupakan alat propaganda paling utama. Untuk menjatuhkan ideologi komunis misalnya, setiap memperingati hari G-30S PKI, TVRI selalu menampilkan film mengenai pembunuhan jendral-jendral TNI AD di tahun 1965. Film yang diputar didramatisir sedemikian rupa, dibuat secara berlebih-lebihan bahkan terbukti rekayasa atau fiktif semata.

Tujuannya hanyalah alat propaganda kepada masyarakat, agar membenci ideologi sekaligus pengikut  PKI yang notabene dianggap sesat oleh pemerintahan Orde Baru. Dan terbukti tidak hanya itu, tujuan propaganda tersebut kini diketahui lebih dari sekedar menjauhkan ideologi Komunis-Lenin. Karena kenyatannya telah banyak condong pada tujuan propaganda demi kepentingan pribadi penguasa saat itu juga.

Propaganda dalam film dan buku-buku sejarah yang merupakan bentuk dari media massa tentang PKI pada masa silam pun masih sangat berpengaruh hingga saat ini. Terbukti dengan banyaknya pradigma miring tentang eks tapol PKI dan keluarganya di tengah-tengah masyarakat kita. Dalam konteks inilah teori peluru masih sangat efektif digunakan untuk membaca dampak media komunikasi massa yang bersifat powerfull.

Banyak ahli yang tidak sependapat dengan teori peluru, atau teori sejenis ini lainnya. Alasannya hampir sama, tak lagi relevan dengan dunia yang makin dinamis. Mengacu pada teori pendekatan manfaat dan gratifikasi, yang lebih konsen pada audiens. Berkembanglah teori-teori mengenai efek media massa yang lain, antara lain:

  1. Minimalist effects theory

Teori bahwa efek media massa kebanyakan bersifat tifak langsung.

  1. Cummulative Effects theory

Teori bahwa pengaruh media terjadi bertahap dari waktu ke waktu.

  1. Third-Person Effect theory

Teori bahwa satu orang melebih-lebihkan efek pesan media kepada orang lain, dll,

Perkembangan efek media massa kini tak lagi bisa di riset secara mendalam seperti abad lalu. Hal ini telah dikemukakan oleh Melvin DeFleur yang menyatakan jika teori komunikasi massa sudah jenuh[ii].

Menurut DeFleur, hal tersebut disebabkan oleh kurangnya kajian menggenai efek media massa di universitas oleh orang-orang cerdas. Banyak ahli yang kini lebih memilih bekerja di media massa dengan tawaran gaji yang besar untuk melakukan riset demi kepentingan marketing atau korporasi lainnya. Dengan kata lain, penelitian mengenai efek komunikasi massa kini menjadi ranah kepentngan media massa itu sendiri demi kepentingan praktis semata.

Dampak Komunikasi Massa Abad 21

Di abad baru ini, media massa tak lagi di definisikan sebagai media cetak dan elektronik saja. Media telah banyak bergeser pada penggunaan kanal internet dengan berbagai aplikasinya yang sering disebut Media Baru (New Media) atau paling dikenal sebagai Multimedia. Website, blog, microblogging, dan jejaring sosial lainnya kini memiliki peran yang sangat signifikan dalam mengubah kehidupan masyarakat.

Revolusi Melati di Tunisia yang telah membawa Musim Semi di Jazirah Arab terjadi karena sarana komunikasi massa lewat internet. Twitter dan Facebook diduga menjadi sarana public sphare yang efektif. Peristiwa ini merupakan dampak dari komunikasi massa yang sangat kentara di abad ini.

Meskipun demikian, tragedi London Riot yang bermula dari peristiwa kecil yang kemudian berujung pada keriuhan yang mengacaukan metropolitan London. Hingga kini, belum ada yang bisa menjelaskan secara empiris kasus London Riot ini, selain sarana komunikasi massa BBM (Blackbarry Massaager) yang dituduh punya adil besar dalam menyebarkan amarah warga[iii]. Belum ada yang tahu pasti dan membaca sepenuhnya komplekssitas manusia abad ini.

Abad ini didedikasikan sebagai abad informasi, tak heran jika informasi berharga sangat mahal. Siapa yang bisa membaca informasi, di twitter misalnya, maka ia akan tahu pergerakan opini publik. Sehingga dengan mudah mengkontrolnya. Inilah yang ditakutkan dalam liberalisasi dan kapitalisasi media massa jika tanpa regulasi yang jelas.

Tak heran, perusahaan komunikasi massa kini banyak diincar oleh konglomerat kaya yang memungkinkan terjadinya konglomerasi media. Tengok saja Rupert Murdoch yang menguasai bisnis media sejagat, tahun 2011 ini, salah satu tabloid berusia 168 tahun  di Inggris yang sudah ia miliki, News of The World, harus ditutup karena  skandal penyadapan terhadap publik Inggris. Manajemen media massa yang lebih mengutamakan profit membuat banyak awak media hanya mencari-bahkan sengaja membuat sensasi- demi keuntungan sepihak.

Kanal informasi diprediksi memberi banyak efek dan pengaruh dikedepannya, hal ini bisa dilihat dari adanya imperialisme  media yang dikenalkan oleh Fred Fejes dalam bukunya Media Imperialism: An Assesment (1992). Fejes menggambarkan berjalannya proses komunikasi massa modern dalam membentuk, mempertahankan, dan memperluas sistem dominasi dan kebergantungan secara global.

Teori Fejes kemudian ditempatkan dalam tradisi luas kritik kapitalisme Marxis. Atas dasar ini, pertumbuhan global media komunikasi global media komunikasi barat oleh para peneliti dipahami sebagai refleksi ekspansi imperialis masyarakat kapitalisme Barat terhadap sumber-sumber ekonomi dunia secara umum[iv].

Meskipun demikian, teori ini semakin bias dirasakan karena Jazirah Arab, khususnya Arab Saudi kembali menunjukkan momentum untuk turut bermain dalam arus informai dunia. Pangeran Saudi baru-baru ini membeli saham twitter.com, situs micro-blogging terbesar di dunia sebesar 300 Miliar Dolar AS[v]. Selain itu dikabarkan Arab Saudi juga banyak membeli saham Citigroup Inc., Apple Inc. dan  Rupert Murdoch’s News Corp. Yang notabene merupakan raksasa perusahaan teknologi komunikasi dan media massa dunia.

Perkembangan Teknologi Informasi

Abad ke-21 ini merupakan abad yang sangat kompleks bagi perkembangan media massa. Tapi yang menonjol adalah perkembangan teknologi informasi yang mengubah kehidupan modern dengan sangat drastis. Almarhum Steve Jobs, dengan karya-karya hebatnya. Mulai dari mouse, laptop, dan peralatan canggih yang kini banyak membentuk gaya hidup bahkan gaya komunikasi manusia. Telah didedikasikan sebagai penemu dan pembentuk abad ke-21 ini.

Bagaimana generasi kita telah beralih ke paperless telah memungkinkan media massa yang  lebih canggih nantinya. Perkembangan Smarphones, tablet, dan piranti komunikasi elektronik lainnya merupakan perkembangan teknologi komunikasi yang belum diperkirakan sebelumnya.

Selagi teknologi masih berkembang dan manusia makin maju. Maka komunikasi akan terus berjalan. Mungkin kita bisa memprediksi bagaimana komunikasi nantinya, tapi melihat perkembangan teknologi komunikasi saat ini, akan sangat dimungkinkan perubahan pola budaya masyarakat secara liberal. Bagaimana cara kita berkomunikasi dan pradigma komunikasi ribuan tahun lalu akan segera berubah secara drastis di masa-masa mendatang.


[i], Margaret DeFleur (Ed). Fundamentals of Human Communication, 3rd edition.New York: Mc-Graw Hill. Hal. 392

[ii] John Vivian. Teori Komunikasi Massa. Edisi kedelapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Hal. 474 (terj)

[iii] Assosiated Press: Blacberry Phones ”Main Tools” Organising London Riots. http://uk.ibtimes.com/articles/262027/20111206/blackberry-phones-main-tools-organising-london-riots.htm diakses pada 23 Desember 2011 pukul 12.23 WIB

[iv] Mohammad Soelhi, Komunikasi Internasional: Perspektif Jurnalistik. Jakarta: Simbiosa Rekatama Media. Hal. 156.

[v] Associated Press. Saudi billionaire Prince Alwaleed invests $300 million into microblogging site Twitter. http://www.washingtonpost.com/business/technology/saudi-billionaire-prince-alwaleed-invests-300-million-into-microblogging-site-twitter/2011/12/19/gIQAtHvq3O_story.html., diakses pada 26 Desember 2011 pukul 17.00 WIB

Advertisements

2 comments

  1. saibahsyarif · October 5, 2015

    Punten sodara admin punya penjelasan lebih lanjut mengenai third person effect. Kalau ada saya ingin berdiskusi. Karna saya dalam proses mengerjakan tugas akhir. Terimakasih sebelum nya…

    • mustaqiim · October 5, 2015

      Halo syarif, kalo tidak salah teori ini berhubungan dengan psikologi. Kamu bisa baca lebih lanjut teori dasarnya karya Davison dan Perlof.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s