Dunia Tanpa Manusia

Dunia Tanpa Manusia

Buku ini saya temukan di tumpukan buku diskon di TM Booksore Poins Square seharga 15 ribu rupiah. Nampak apik dalam cover bergambar gedung-gedung serba hitam dengan hijau pepohonan sebagai bayangannya. Buku ini sangat menarik perhatian saya, seolah-olah ada kedekatan sendiri ketika melihatnya. Benar ternyata, belakangan saya ingat pernah membaca sedikit resensinya di majalah New Yorker milik kakak ipar. Saya habiskan buku ini dalam tiga malam saat pulang kampung kemarin.

“Sebaliknya, bayangkan dunia yang tanpa kita, karena kita tiba-tiba menghilang. Bayangkan pula jika itu terjadi besok.

            ”Barangkali itu mustahil, tetapi demi perbincangan kita, bukan tidak mungkin. Misalkan ada virus yang khusus menyerang Homo Sapiens- entah alami atau hasil rekayasa nano oleh sekelompok manusia iblis- secara serentak melenyapkan kita tetapi sama sekali tidak mengganggu yang lain. Atau seorang penyihir jahat yang sangat antimanusia entah bagaimana merusak 3,9 persen DNA unik yang membuat kita berbeda dari simpase, atau menemukan cara sempurna untuk memandulkan sperma kita. Atau misalkan Yesus- kita bicara lagi tentang Dia nanti- atau makhluk ruang angkasa menculik kita semua, entah ke surga yang mulia atau ke kebun binatang di tempat lain di galaksi yang sama

….

Begitulah sepenggal kutipan dalam Pendahuluan berjudul Sebuah Teka-Teki Monyet yang ditulis Alan Weisman. Dengan renyah dia sedikit menggambarkan kemungkinan sebab manusia menghilang atau musnah secara mendadak yang mungkin bisa saja terjadi esok hari.

Namun, bukan itu yang menjadi pokok permasalahan dalam buku terjemahan setebal 430 halaman ini. Alan dengan sangat apik mencoba menelusuri kemungkinan dunia lain yang tak terjangkau oleh kita, dunia dimana manusia mungkin tidak ada di dalamnya. Bagaimanakah rupa-rupa dunia jika tanpa keberadaan kita?

Alan membagi Karya Ilmiahnya ini menjadi empat bagian. Tiap bagian dalam buku dibagi menjadi beberapa bab judul untuk memudahkan pembaca memahami maksud karya tulisannya. Tiap bab tidak bersambung, melainkan merupakan bagian utuh yang berdiri dengan masing-masing cerita. Dengan tema utama ”Dunia Tanpa Manusia”.

Bagaimana hal-hal sederhana seperti rumah kita yang akan runtuh dengan sendirinya jika kita tinggalkan, bagimana rupa New York sehari setelah ditinggal manusia, bagaimana alam mengambil alih kota Verosha yang ditinggalkan karena perang Turki dan Yunani, nuklir dengan radiasi yang tetap ada hingga jutaan tahun nanti, karya apa saja yang masih bisa bertahan sepeninggal kita, dan hal-hal lain yang akan terjadi- jika benar, mungkin besok manusia musnah dengan tiba-tiba.

Alan mencoba  mengurai gagasannya dengan cermat, hingga ia harus menyusuri banyak tempat-tempat di dunia seperti suku-suku pedalaman di Amazon yang hampir punah. Mewawancarai mulai dari ilmuwan hingga agamawan. Serta mengambil referensi buku dan artikel hingga butuh daftar pustaka setebal sebelas halaman untuk menuliskannya.

Buku Alan berangkat dari esainya di majalah Discover edisi Februari 2005 yang berjudul ”Earth Without People”. Lalu ia perdalam lagi menjadi sebuah buku berjudul “The World Without Us” ini. Lebih jelas tentang buku ini dan proyek-proyek lanjutan Alan kunjungi saja http://www.worldwithoutus.com

Sebagai seorang Jurnalis yang telah melalang buana di industri Jurnalisme Amerika. Karya Alan pantas dikenang bukan hanya sebagai karya ilmiah saja, melainkan sebagai sebuah laporan jurnalistik yang unik dan nikmat untuk dibaca.Gayajurnalisme narasi yang ia kembangakan dalam tiap bab menyuguhkan kepada kita cara pandang dunia lebih dekat, untuk menyikapi kehidupan lebih bijak.

Dalam buku ini, lagi, saya temukan sepenggal puisi apik berbahasa Jerman. Puisi yang mudah dihafal dan senada dengan puisi Goethe berjudul Uber Allen Gipfeln– yang sering saya wiridkan berulang-ulang. Begini bunyinya:

Das Firmament blaut ewig, und die Erde

Wird lange fest steh’n und aufbuh’n im Lenz.

Du aber, Mensch, wie langse lebst denn du?

Cakrawala selamanya biru dan begitu juga dengan bumi

Akan tetap bertahan dan mekar di musim semi.

Tetapi, hai manusia, seberapa lama kalian akan terus hidup?

Oleh:

Li-Tai-Po/Hans Bethge/Gustav Mahler

The Chinese Flute:

Drinking Song of the Sorrow of the Earth

Das Lied von der Erde