L.G.B.T (Q)

Saya tidak begitu paham mengenai ilmu biologi, psikologi, dan sosiologi dengan teori-teori seperti psikoanalisis, behavioris, atau fitrah genetika yang membenarkan gejolak preferensi seksual seseorang. Disini saya juga tidak mencoba menjustifikasi preferensi seksual seseorang.

Menurut saya, apa yang ada di dalam ruang kamar adalah hak dan privasi tiap individu dan partner in love  mereka masing-masing, sejauh tidak ada unsur paksaan dari salah satu pihak dan keingginan mengedarkan kegiatan privat mereka kepada khalayak demi suatu kepentingan, saya atau masyarakat tidak berhak mengurusinya. Saya kira itu cukup untuk dasar kenapa juga preferensi seksual seseorang tak perlu digembar-gemborkan ke publik.

LGBT adalah lesbian, gay, biseksual, dan transgender (tak perlu dijelaskan).Adalagi fenomena mereka yang lahir dengan kelamin ganda. Sains telah banyak menganalisa fenomena ini dan menjawab dengan apa, kenapa, dan bagaimana orang-orang dengan “fitrah” ini ada. Saya tidak berkompeten menjelaskannya, tanya saja pada psikolog atau ilmuwan yang berkompeten. Atau telusuri bacaan dan jurnal-jurnal ilmiah yang bertebebaran di internet dalam menjelaskan fenomena ini.

Dalam Agama, cerita-cerita dalam Kitab Suci menampilkan sisi terlarang dari keberadaan kaum homosexsual. Kaum Nabi Luth sering dijadikan contoh mengenai hukuman bagi mereka yang melakukan hubungan sejenis. Belakangan beberapa menafsirkan hukuman Tuhan datang karena tindakan kejahatan asusila yang diluar kewajaran fitrah manusia, takdir ini dijatuhkan kepada bangsaSodomdan Gommorah sebagai contoh bagi manusia.

Agama bagaimanapun juga saya yakini sebagai penjaga moral manusia. Apa yang dicontohkan Tuhan dalam kitab suci layaknya diyakini dan diamalkan sebisa mungkin. Namun agama tidak bisa menjawab dengan gamblang dan cermat permasalahan sosial kita yang semakin lama semakin pelik. Termasuk soal LGBT ini.

Apalagi Tuhan menciptakan manusia satu dan lain tidak sama, manusia dicipta dengan berbeda-beda. Dari pemahaman ini saya memberanikan diri mengorek fenomena sosial LGBT ini. Namun saya tidak juga mencoba mengusik ranah agama. Saya kira sekalipun saya sekarang sedang belajar di institusi Islam, saya belum berkompeten menafsirkan ayat-ayat Tuhan. Saya hanya akan mencoba menganalisa fenomena sosial saja.

Repotnya jika ini memang berkaitan dengan konstitusi negara. Anggapan jika negara (wajib) hadir dalam mengurusi urusan antar individu, seperti institusi perkawinan yang privat, merupakan anggapan yang sudah wajar dalam masyarakat di belahan bumi manapun. Jadi masalah legal atau tidak perkawinan sejenis menjadi amat sangat penting karena menyangkut pengakuan dalam negara.

Awalnnya di Belanda yang pemerintahnya telah dahulu melegalkan pernikahan sejenis di tahun 1994. Lalu awal abad ini sorotan ramai memperbincangkan Inggris karena Elton John menjadi selebritas pertama yang menikah secara resmi di Gereja Anglikan. Mayoritas Belanda dan Inggris memang menerima kewajaran ini. Karena kenyataan mayoritas warganya memang telah secara terbuka menerima keberadaan LGBT di negara mereka.

Selebritas dan tokoh politik selalu menjadi sorotan utama. Ricky Martin terang-terangan mengakui jika dia Gay. Dulu ada kelompok musik TaTu dengan lirik dan videografi kontroversial berisi kampanye lesbian mereka. Belakangan banyak yang kecele, mereka berdua adalah wanita tulen yang telah memiliki pasangan dan anak. Tindakan mereka berdua tak lain hanya demi kepentingan industri hiburan semata.

Obama akhir-akhir ini malakukan hal yang juga begitu fenomenal bagi Amerika dengan wacana melegalkan pernikahan sejenis. Menyeruaklah perdebatan di antara kandidat-kandidat presiden Amerika. Obama, kata beberapa pengamat, benar-benar melakukan gambling untuk meraup dukungan atau malah penolakan masyarakat.

Lantas bagaimana dengan masyarakat kita? Saya sering menjumpai orang dengan kecenderungan berbeda seperti prilaku lelaki yang feminis atau wanita yang maskulin. Lain dengan wanita maskulin yang seringkali malah mendapat apresiasi baik dalam masyarakat karena dinilai emansipatoris, lelaki feminis malah sering mendapat stigma negatif.

Karena mayoritas kita adalah Muslim dan banyak masyarakat yang belum terdidik dengan proses belajar ilmiah. Jangan harap pemerintah akan melegalkan pernikahan sejenis di negeri ini. Hanya beberapa orang dengan akses informasi dan pemahaman memadai yang mau mempermasalahkan permasalahan ini dengan frame lebih terbuka dan ilmiah, mayoritas umumnya sekedar berbicara sesuai pengalaman dan pemahaman, serta tafsir agama masing-masing soal LGBT ini.

Dalam sorotan saya, yang tidak mengenakkan adalah fenomena aktivis yang mendukung kampanye LGBT dengan terbuka tanpa tanggung jawab kultural kemasyarakatan. Saya heran, lagi-lagi preferensi seks seseorang ada di dalam kamar, tidak perlu digembar-gemborkan di publik. Yang perlu digaungkan adalah hak setiap orang untuk merdeka dalam menentukan pilihan hidup masing-masing dan juga memastikan hak-hak orang lain yang terpinggirkan juga terpenuhi.

Dalam konteks negara Indonesia, hak-hak pendidikan dan kesehatan lebih utama daripada hak bercinta. Kini kampanye hak-hak LGBT seolah-oleh (atau memang demikian) menjadi komoditi yang bertujuan bukan soal hak-hak mereka lagi, melainkan demi mengejar keuntungan materi pihak tertentu.

Yang saya anggap kelewatan adalah festival film LGBT yang tahun lalu (2011) diadakan. Saya niat nonton, tapi saya memutuskan menonton salah satu film di internet dulu. Dan yang saya temui adalah film yang sangat berbau pornografi. Curiga saya sebelumnya ternyata benar. Saya heran, bukankah penyelenggara adalah orang yang terdidik dan paham akan kondisi Indonesia yang rentan konflik. Jujur saya dangat sedih menyikapi soal ini. Ini adalah edukasi yang buruk bagi masyarakat kita jika (lagi-lagi) sisi privasi seseorang dianggap bisa dijadikan komoditas.

Peliknya menyikapi permasalahan ini karena memang prilaku LGBT yang cindrung lebih berwarna dan menarik perhatian. Soal gaya verbal dan non verbal pasti selalu nampak dalam masyarakat. Ada yang jelas-jelas tanpa malu-malu menunjukkan preferensi seksual mereka di umum. Hal inilah yang membuat masyarakat sulit menerima dan kadang risih. Gejolak masyarakat ini didukung dengan tontonan televisi yang kini menjadikan kaum LGBT, baik beneran atau pura-pura, sebagai komoditi yang menarik masyarakat demi keuntungan semata. Ini merupakan tindak pelecehan yang kini dianggap wajar oleh masyarakat kita.

Inilah poin penting dalam pemahaman LGBT. Apa yang disebut kesenjangan penggetahuan (knowledge gap) benar-benar nyata dalam realistas kehidupan kita sehari-hari. Pemahaman masyarakat yang satu dengan yang lain tentang LGBT masih sangat tergantung pada pengalaman-pengalaman masing-masing. Dan televisi menjadi suatu pembelajaran buruk bagi masyarakat soal LGBT. Tanpa kemauan untuk belajar lebih mendalam mengenai fenomena ini. Kita hanya akan sering mempermasalahkan hal ini dalam konteks prasangka.

Masalah ini memang akan selalu menemui jalan buntu. Frame agama tidak membenarkan hubungan sejenis. Pemikiran agama yang fundamentalis dan konservatif tidak akan membiarkan pelegalan hubungan sejenis di masyarakat. Kampanye tentang LGBT sarat unsur bisnis. Televisi menjadi sarana publikasi negatif bagi LGBT. Masyarakat mayoritas berpendidikan rendah, akibatnya banyak yang tidak terdidik untuk berfikir ilmiah hingga prasangka selalu menebar dimana-mana.

Saya kira beginilah realitas masyarakat kita…

Konflik, Identitas, dan Agama

Diversity and Unity
Di Indonesia sering terjadi konflik baik antar golongan, etnis, suku, agama, pemahaman dsb. Karena tidak adanya pembelajaran tentang manajemen konfilk, sering kali konflik selalu berakhir dengan ricuh, kekerasan, bahkan memakan korban jiwa. Tengok saja tragediAmbon, Sampit, Cikeusik, Sampang, GKI Yasmin dll yang menimbulkan kerusakan baik fisik maupun jiwa. Permasalahan ini umumnya disebabkan oleh ketimpangan sosial atau perbedaan pemahaman.

Konflik atau permasalahan yang tidak disikapi dengan pemikiran sehat dan terbuka tentunya akan berlarut-larut hingga menimbulkan banyak permasalahan baik kini maupun nanti. Padahal Bangsa ini adalah bangsa yang majemuk. Bayangkan saja, Bangsa ini punya ratusan ragam budaya yang berbeda. Hal ini mengakibatkan gesekan-gesekan pemahaman memang sering menjadi akar masalah konflik. Kemajemukan bangsa ini telah dijadikan kaum kolonial untuk memecah belah bangsa melalui devide et empera atau politik adu domba.

Saya kira, kini konflik digunakan oleh orang-orang tertentu untuk memecah belah atau mengalihkan isu di masyaralat. Ketidakhadiran peran masyarakat yang mau berfikir untuk benar-benar memajukan bangsa tanpa embel-embel kepentingan tertentu menjadi salah satu penyebabnya.

Tak jauh-jauh soal bangsa, di kampus saja sering kita jumpai prihal perseturuan antar organisasi yang berbeda. Merah, kuning, hijau, biru dsb. Banyak yang memahami perbedaan organisasi berarti harus bertentangan baik pemikiran maupun fisik. Mahasiswa yang pada umur-umur rentan ini memang sedang dalam proses pencarian jati dirinya, sering kali terjebak pada identifikasi diri dalam pemaknaan yang keliru.

Ini terjadi di kampus yang notabene menjadi teladan bagi masyarakat, karena dipandang sebagai ranah berkembangnya intelektualitas. Inilah bukti jika manajemen konflik belum menjadi perhatian yang serius bagi kalangan intelektual sendiri. Baik pengajar maupun mahasiswa kerap kali abai terhadap permasalahan ini. Tenggelam dalam pikiran menuhankan pemahaman sendiri.

Akar permasalahan dalam konflik antar golongan ini adalah egoisme individu dan ekslusifitas golongan (penuhanan pemahaman). Individu yang merasa telah melakukan yang paling baik dan benar, lantas memiliki kepentingan (interest) masing-masing yang menisbikan kepentingan kelompok lain karena dianggap salah, menyimpang, atau kafir dalam konteks agama. Akibatnya terbentuklah apa yang disebut politik identitas. Diamana manusia menjadikan dirinya bukan sebagai manusia, tetapi identitas kolektif berdasar kepercayaan, agama, pemahaman, ras, suku, golongan, umur, dan gender.

Padahal sejatinya manusia lahir dengan identitas tunggal, sebagai manusia sutuhnya tanpa embel-embel lain, identitas manusia adalah manusia itu sendiri. Inilah mengapa seharusnya yang kita junjung sebagai manusia sejati adalah aspek kemanusiaan (humanism) dimana hak-hak asasi manusia harus terjamin keberadaannya. Hak untuk hidup dengan aman dan damai, kesehatan terjamin, pendidikan terpenuhi, menyatakan pemikiran, memilih penghidupan, menentukan masa depan dll. Aspek-aspek inilah yang harusnya kita perjuangkan bersama-sama tanpa menilik darimana kita terlahir dan pilihan berpolitik dalam sekat-sekat golongan apa yang telah kita pilih.

Menganalisa permasalahan konflik ini bisa juga melalui pemahaman akan politik identitas itu sendiri. Analisa politik identitas dikenalkan oleh L.A. Kauffman ketika membentuk SNCC (The Student Nonviolance coordinating Commite) atau perkumpulan mahasiswa anti kekerasan di tahun 1960an di Amerika. Dia menulis dan mengkritik dengan sebuah esai berjudul The Anti Politic of Identity. Tulisan inilah yang menyingkap tabir kegelisahan gejolak konflik kulit putih dengan bangsa lain baik kulit hitam dan hispanik di Amerika.

Tulisan Kauffman menjadi kunci tentang berkembangnya pemahaman kesetaraan hak asasi di Amerika, hingga muncullah orang-orang seperti Martin L. King Jr. dan Barcak Obama. Padahal sebelumnya golongan kulit hitam hanya dianggap sebagai budak atau kelas pekerja saja. Kini, Amerika memang tengah berbangga dengan konsep perbedaan yang baru berproses kurang dari seabad ini. Amerika bisa menjadi contoh terkini, tapi bukan contoh mutlak, karena banyak warga negaranya sendiri yang belum memaknai diversity ini. Khususnya warga negara yang konservatif.

Dalam pemahaman agama Islam, bisa dikatakan jika Islam telah hadir dalam memberikan solusi permasalahan politik identitas ini sejak Nabi Muhammad menyampaikan petuah-petuah Illahi. Islam hadir untuk manusia alias rahmatan lil alamain, bukan untuk golongan tertentu. Nabi mengajarkan untuk menghormati perbedaan. Menyamakan hak-hak antara lelaki dan perempuan. Mengkampanyekan pembebasan budak. Dan menyatukan golongan-golongan untuk sama-sama meninggalkan zaman kebodohan menjadi zaman penuh intelektualitas. Mengajarkan Ketauhidan untuk meninggalkan egosentrisme golongan.

Sebelum Barat tumbuh memperjuangkan apa yang disebut liberte, egalite, freternite atau asas kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan saat revolusi Prancis, atau bahkan declarataion of human rights yang baru hadir tahun1950an. Nabi Muhammad telah mengajarkan arti untuk menisbikan identitas manusia selain hakikat manusia itu sendiri yang bertanggung jawab secara langsung kepada Penciptanya. Yang dinilai oleh Tuhan bukan harta, jabatan, ras, golongan dan gender, tetapi adalah perbuatan baik-buruk masing-masing.

Nabi hadir dengan contoh-contoh universal seperti tertuang dalam piagam Madinah yang menghargai hak-hak golongan lain, Dakwah Islam hadir untuk memperjuangkan nilai-nilai humanisme atau kemanusiaan, bukan lagi sekedar nilai-nilai golongan dan etnis tertentu atau bahkan golongan mukminin pada waktu itu saja. Inilah yang layak dicontoh bagi kita generasi muda intelektual Indonesia. Jangan sampai hanya terjebak dengan politik identitas yang hanya memperjuangkan pemahaman dan hak-hak golongan kita sendiri. Tetapi mari bersama-sama memperjuangkan kepentingan bangsa yang majemuk ini.

Namun sangat miris jika bangsa ini, khususnya umat Muslim yang mayoritas kini terjebak dalam pemahaman hidup yang keliru. Mereka memaknai agama seagai identitas luar saja. Dimana mereka mendefinisikan agama sebagi jubah-jubah dan pakaian-pakaian saja dengan dalih sunah Nabi tanpa memahami maknanya. Tengoklah mereka yang menggunakan jubah-jubah dan berdandan ala Arab yang tersesat di kampung-kampung. Pemaknaan akan Islam atau dalam agama-agama lain pun masih banyak yang terjebak dalam aspek luar (pakaian dan aksesoris) dan ritual-ritual keagamaan tanpa disertai pemaknaan. Singkatnya, bergaya tanpa mau berpikir!

Maka tak heran, umat Islam kini jatuh pada jurang yang kembali kepada aspek zaman jahiliyiah yakni berpecah-pecah dalam sukuiseme dan pemahaman. Lebih tidak heran karena konon Nabi memang telah meramalkan umatnya terpecah menjadi puluhan golongan dengan pemahaman yang berbeda. Ah, saya memang skeptis tentang Muslim atau agama-agama dimana saja.

Sebagai Muslim yang baik dan benar-benar menjalankan perintah Nabi. Harusnya seorang Muslim tak lagi memaknai identitas dirinya hanya sebagai seorang Muslim yang menyemabah Allah menjalankan perintah-perintahnya (teks) tanpa disertai pemahaman yang benar (konteks). Karena sejatinya Islam mengajarkan jika manusia awalnya lahir tanpa identitas apapun selain diri MANUSIA itu. Islam juga percaya jika Tuhan Maha Hadir dimana saja (Omnipresent), jadi menghargai, menghormati, dan melindungi hak-hak orang lain  yang berbeda adalah suatu keniscayaan perintah Tuhan. Jalan hidup masing-masing adalah Tuhan yang menentukan.

Ah, kenapa saya juga malah repot-repot memikirkan orang yang bangga menuhankan pemikirannya?

Demokrasi atau Negara Islam?

Men behind the gun

Men behind the gun

Memahami Islam bukan hanya memahami sebuah agama dengan ritual-ritualnya. Melainkan memahami kehidupan dengan segala kompleksitasnya. Memahaminya bukan sekedar doktrin atau dogma. Islam adalah the way of life. Bukan hanya sebatas agama dengan ritual-ritual sempit, melainkan sebuah gaya hidup yang kompleks. Siapa saja sejatinya bisa mengamalkan ajaran nabi Muhammad ini. Bukan hanya Anda atau saya pemegang KTP Islam dan pengucap syahadat sekaligus hanya penghafal ayat ini.

Agama pada dasarnya bukanlah laku jasmani yang bisa dilihat dengan indra, melainkan laku jiwa yang bisa pasang surut. Agama adalah proses seumur hidup dimana seseorang menemukan siapa sejatinya Dia Sang Pencipta dan siapa dirinya seutuhnya. Tidak ada yang bisa mencapai tingkat ”ahli” dalam bidang Ketuhanan. Semua sarjana bergelar agama bisa dikatakan sarjana palsu dan  mengada-ada. Semua kiai, alim ulama, pendeta, dan gelar-gelar petinggi agama lain tak menjamin seorang itu betul-betul paham beragama, karena masing-masing telah menafsirkan sesuai kemampuannya. Karena sifat agama bersumber dari teks sehingga harus ditafsirkan, ilmu agama- saya tekankan- bukanlah ilmu empiris seperti sains.

Karena orang bisa mengaku-aku beragama seperti Islam, tapi hatinya bisa saja sedang menolaknya atau hanya beragama demi sisi politik hidupnya saja, alias mencari titik nyaman hidup. Inilah sisi gelap politisasi agama yang makin nampak pada pamflet-pamfelt selebaran, mereka yang beragama dan berbicara tentang kebenaran agama demi mengejar kuasa, sadar atau tanpa mereka sadari.

Apalagi di tengah kerusakan yang menimpa bangsa ini. Yang sebagian besar mengartikannya sebagai krisis agama. Padahal jelas jika dipahami secara rasional, ini adalah krisis pendidikan, hukum, kemiskinan, yang bersumber dari krisis kepedulian dan kepemimpinan.

Konsekuensinya telah terlihat sangat besar karena kita menafsirkan kerusakan bangsa ini sebagai krisis agama. Bagaimana mungkin seorang Gayus Tambunan, misalnya, mengkorupsi hak rakyat dengan masih melekatkan identitas agamanya. Tetapi dia tidak dibenci dan dibakar rumahnya (saya tidak bermaksud menyarankan tingkah seperti ini). Bahkan konon hanya dihukum tujuh tahun penjara?

Sedang di suatu tempat nan terpinggirkan, seseorang yang tak berbuat aniaya (kriminal), hanya yakin jika ada pembawa pesan selain Muhammad yang dia percaya, harus kehilangan jiwanya dan hangus segala hartanya? Lalu dituduh ”menodai” agama? Dan banyak orang rame-rame menghujatnya tanpa malu-malu. Ini benar-benar krisis moral yang kritis sekaligus menjijikkan.

Dan isu agama ini selalu menjadi komoditi perbincangan yang menarik di kalangan mayoritas bangsa ini yang cinderung lebih mementingkan identitas. Kemudian menjadi isu-isu menarik yang ditampilkan di media massa yang hanya sekedar menebar sensasi, lalu mengambil opini-opini manusia jago bicara tanpa jago pikir. Lebih-lebih lagi opini pemimpin yang partisan ckckck

Sadar tak sadar mereka malah meracuni masyarakat dengan sosialisasi agama yang makin menyimpang dan tidak toleran. Maka isu-isu yang lebih penting tentang bagaimana membangun bangsa ini kedepannya pun terpinggirkan. Masyarakat lebih suka menonton ceramah hahahihi orang di televisi daripada diajak berfikir dan membaca buku untuk mentadzaburi ilmu agama. Bravo Media Massa! Hell…

Meski demikian, kita semua harus tetap optimis. Dalam demokrasi, jika kita mau mencoba mengkaji lebih dalam. Bisa lebih Islami dari sistem di negeri Arab asal agama ini lahir. Bayangkan saja, penelitian terbaru malah mencatatkan jika Selandia Baru yang mayoritas non Muslim, bisa dikatakan sebagai negara dengan prinsip-prinsip paling Islami di seluruh dunia. Bukan Saudi, Malaysia, atau Indonesia yang jauh diatas peringkat seratus. Apakah orang ber-KTP Islam seperti kita tidak malu?

Sedang disisi lain, penganut buta demokrasi di Indonesia pun malah berbangga dengan puja-puji Amerika jika kita adalah negara yang lebih demokrasi dari Amerika. Go hell with your prises! Banyak dari kita sekarang hanya dengan dipuji sudah besar kepala. Padahal Pak Karno yang hendak diberi bantuan Amerika saja berani bilang ”Go hell with your aid!” Demokrasi kita masih jauh dari harapan jika dipimpin pemimpin yang belum memahami demokrasi!

Karena final demokrasi memang buka puji-pujian. Melainkan proses yang terus berubah, pembeljaran dari satu masa ke masa. Ada check and trial yang terus menerus sesuai dinamika masyarakat. Demokrasi di Amerika, tentu beda dengan model demokrasi di Inggris, Swedia, Islandia, Selandia Baru bahkan dengan demokrasi di negeri ini. Orang sering menganggap konsep demokrasi sudah final, akibatnya, demokrasi sering disejajarkan dengan konsep final Islam, sehingga sering orang diharuskan memilih antara Islam atau demokrasi?

Padahal demokrasi bisa sangat Islami, toh sudah seharusnya demokrasi mengakomdasi semua kepentingan rakyatnya agar berjalan sesuai dengan keinginan masyarakat. Jika masyarakat memang meinginginkan konsep Islami hadir dalam ranah demokrasi, itu sah-sah saja. Asalkan Islam memang benar-benar ditegakkan seperti dalam Piagam Madinah yang Nabi contohkan, bukan Islam politis seperti paham mayoritas pemimpin kita.

Karena menurut saya demokrasi tidak melulu harus sekuler. Masalahnya adalah manusia indonesia selalu mengaitkan agama dengan politik, akibatnya mau tak mau banyak yang hanya beragama karena faktor politik. Padahal politik itu masih berdimensi ganda, bisa murni untuk kepentingan rakyat atau hanya kepentingan tertentu kan?

Beginilah jika bangsa telah dikuasai agamawan sok negarawan. Selain ada manusia-manusia busuk lain seperti pengusaha sok negarawan, militer sok negarawan, mahasiswa sok negarawan, dan sosok-sosok yang sok lainnya. Mereka yang sok ini adalah mereka yang bekerja bukan karena memang ingin memajukan bangsa, tapi karena tergiur dengan uang, kekuasaan, dan nafsu berkuasa golongan, kemalasan, ketimpangan berpikir, dan yang paling berbahaya adalah terjebak dalam politik identitas. Akhirnya lingkaran setan korupsi pun tak terakhiri karena politik identitas ini.

Akar masalah kisruh berbangsa ini adalah kakunya pendidikan demokrasi di Indonesia yang kini miskin wacana dan tidak berkembang. Siapa yang mengkaji permasalahan demokrasi di Indonesia lebih serius. Para ilmuwan dan pemikir lebih suka, atau lebih laku tepatnya, jika mengkaji sebab-sebab dan saling tuduh-menuduh tanpa mau bertindak untuk sebuah solusi nyata.

Tak heran wacana negara berbasis ideologi Islam kini kembali laku di tengah gonjang-ganjing politik. Dari yang malu-malu seperti partai-partai berbasis Agama (kaum munafik). Lalu organisasi yang dengan berani dan konsep penafsiran tentang negara Khilafah seperti HTI. Hingga yang paling menyimpang dan disisipi oknum seperti NII.

Tak heran, agama selalu laku di kalangan orang yang berfikir praktis. Agama dianggap menawarkan penyelesaian masalah seperti “sim salabim abra kadabra” Seolah olah jika sudah berbau dalil ayat pasti benar dengan kerangka pikir penafsiran yang pendek tanpa kajian mendalam serta kecenderungan eksklusif.

Ya beginilah mayoritas bangsa ini, malas berfikir dan bertindak. Apa? Oh ya benar… Omdong alias omong doang, kaya saya ya? Malu ah 😦