Demokrasi atau Negara Islam?

Men behind the gun

Men behind the gun

Memahami Islam bukan hanya memahami sebuah agama dengan ritual-ritualnya. Melainkan memahami kehidupan dengan segala kompleksitasnya. Memahaminya bukan sekedar doktrin atau dogma. Islam adalah the way of life. Bukan hanya sebatas agama dengan ritual-ritual sempit, melainkan sebuah gaya hidup yang kompleks. Siapa saja sejatinya bisa mengamalkan ajaran nabi Muhammad ini. Bukan hanya Anda atau saya pemegang KTP Islam dan pengucap syahadat sekaligus hanya penghafal ayat ini.

Agama pada dasarnya bukanlah laku jasmani yang bisa dilihat dengan indra, melainkan laku jiwa yang bisa pasang surut. Agama adalah proses seumur hidup dimana seseorang menemukan siapa sejatinya Dia Sang Pencipta dan siapa dirinya seutuhnya. Tidak ada yang bisa mencapai tingkat ”ahli” dalam bidang Ketuhanan. Semua sarjana bergelar agama bisa dikatakan sarjana palsu dan  mengada-ada. Semua kiai, alim ulama, pendeta, dan gelar-gelar petinggi agama lain tak menjamin seorang itu betul-betul paham beragama, karena masing-masing telah menafsirkan sesuai kemampuannya. Karena sifat agama bersumber dari teks sehingga harus ditafsirkan, ilmu agama- saya tekankan- bukanlah ilmu empiris seperti sains.

Karena orang bisa mengaku-aku beragama seperti Islam, tapi hatinya bisa saja sedang menolaknya atau hanya beragama demi sisi politik hidupnya saja, alias mencari titik nyaman hidup. Inilah sisi gelap politisasi agama yang makin nampak pada pamflet-pamfelt selebaran, mereka yang beragama dan berbicara tentang kebenaran agama demi mengejar kuasa, sadar atau tanpa mereka sadari.

Apalagi di tengah kerusakan yang menimpa bangsa ini. Yang sebagian besar mengartikannya sebagai krisis agama. Padahal jelas jika dipahami secara rasional, ini adalah krisis pendidikan, hukum, kemiskinan, yang bersumber dari krisis kepedulian dan kepemimpinan.

Konsekuensinya telah terlihat sangat besar karena kita menafsirkan kerusakan bangsa ini sebagai krisis agama. Bagaimana mungkin seorang Gayus Tambunan, misalnya, mengkorupsi hak rakyat dengan masih melekatkan identitas agamanya. Tetapi dia tidak dibenci dan dibakar rumahnya (saya tidak bermaksud menyarankan tingkah seperti ini). Bahkan konon hanya dihukum tujuh tahun penjara?

Sedang di suatu tempat nan terpinggirkan, seseorang yang tak berbuat aniaya (kriminal), hanya yakin jika ada pembawa pesan selain Muhammad yang dia percaya, harus kehilangan jiwanya dan hangus segala hartanya? Lalu dituduh ”menodai” agama? Dan banyak orang rame-rame menghujatnya tanpa malu-malu. Ini benar-benar krisis moral yang kritis sekaligus menjijikkan.

Dan isu agama ini selalu menjadi komoditi perbincangan yang menarik di kalangan mayoritas bangsa ini yang cinderung lebih mementingkan identitas. Kemudian menjadi isu-isu menarik yang ditampilkan di media massa yang hanya sekedar menebar sensasi, lalu mengambil opini-opini manusia jago bicara tanpa jago pikir. Lebih-lebih lagi opini pemimpin yang partisan ckckck

Sadar tak sadar mereka malah meracuni masyarakat dengan sosialisasi agama yang makin menyimpang dan tidak toleran. Maka isu-isu yang lebih penting tentang bagaimana membangun bangsa ini kedepannya pun terpinggirkan. Masyarakat lebih suka menonton ceramah hahahihi orang di televisi daripada diajak berfikir dan membaca buku untuk mentadzaburi ilmu agama. Bravo Media Massa! Hell…

Meski demikian, kita semua harus tetap optimis. Dalam demokrasi, jika kita mau mencoba mengkaji lebih dalam. Bisa lebih Islami dari sistem di negeri Arab asal agama ini lahir. Bayangkan saja, penelitian terbaru malah mencatatkan jika Selandia Baru yang mayoritas non Muslim, bisa dikatakan sebagai negara dengan prinsip-prinsip paling Islami di seluruh dunia. Bukan Saudi, Malaysia, atau Indonesia yang jauh diatas peringkat seratus. Apakah orang ber-KTP Islam seperti kita tidak malu?

Sedang disisi lain, penganut buta demokrasi di Indonesia pun malah berbangga dengan puja-puji Amerika jika kita adalah negara yang lebih demokrasi dari Amerika. Go hell with your prises! Banyak dari kita sekarang hanya dengan dipuji sudah besar kepala. Padahal Pak Karno yang hendak diberi bantuan Amerika saja berani bilang ”Go hell with your aid!” Demokrasi kita masih jauh dari harapan jika dipimpin pemimpin yang belum memahami demokrasi!

Karena final demokrasi memang buka puji-pujian. Melainkan proses yang terus berubah, pembeljaran dari satu masa ke masa. Ada check and trial yang terus menerus sesuai dinamika masyarakat. Demokrasi di Amerika, tentu beda dengan model demokrasi di Inggris, Swedia, Islandia, Selandia Baru bahkan dengan demokrasi di negeri ini. Orang sering menganggap konsep demokrasi sudah final, akibatnya, demokrasi sering disejajarkan dengan konsep final Islam, sehingga sering orang diharuskan memilih antara Islam atau demokrasi?

Padahal demokrasi bisa sangat Islami, toh sudah seharusnya demokrasi mengakomdasi semua kepentingan rakyatnya agar berjalan sesuai dengan keinginan masyarakat. Jika masyarakat memang meinginginkan konsep Islami hadir dalam ranah demokrasi, itu sah-sah saja. Asalkan Islam memang benar-benar ditegakkan seperti dalam Piagam Madinah yang Nabi contohkan, bukan Islam politis seperti paham mayoritas pemimpin kita.

Karena menurut saya demokrasi tidak melulu harus sekuler. Masalahnya adalah manusia indonesia selalu mengaitkan agama dengan politik, akibatnya mau tak mau banyak yang hanya beragama karena faktor politik. Padahal politik itu masih berdimensi ganda, bisa murni untuk kepentingan rakyat atau hanya kepentingan tertentu kan?

Beginilah jika bangsa telah dikuasai agamawan sok negarawan. Selain ada manusia-manusia busuk lain seperti pengusaha sok negarawan, militer sok negarawan, mahasiswa sok negarawan, dan sosok-sosok yang sok lainnya. Mereka yang sok ini adalah mereka yang bekerja bukan karena memang ingin memajukan bangsa, tapi karena tergiur dengan uang, kekuasaan, dan nafsu berkuasa golongan, kemalasan, ketimpangan berpikir, dan yang paling berbahaya adalah terjebak dalam politik identitas. Akhirnya lingkaran setan korupsi pun tak terakhiri karena politik identitas ini.

Akar masalah kisruh berbangsa ini adalah kakunya pendidikan demokrasi di Indonesia yang kini miskin wacana dan tidak berkembang. Siapa yang mengkaji permasalahan demokrasi di Indonesia lebih serius. Para ilmuwan dan pemikir lebih suka, atau lebih laku tepatnya, jika mengkaji sebab-sebab dan saling tuduh-menuduh tanpa mau bertindak untuk sebuah solusi nyata.

Tak heran wacana negara berbasis ideologi Islam kini kembali laku di tengah gonjang-ganjing politik. Dari yang malu-malu seperti partai-partai berbasis Agama (kaum munafik). Lalu organisasi yang dengan berani dan konsep penafsiran tentang negara Khilafah seperti HTI. Hingga yang paling menyimpang dan disisipi oknum seperti NII.

Tak heran, agama selalu laku di kalangan orang yang berfikir praktis. Agama dianggap menawarkan penyelesaian masalah seperti “sim salabim abra kadabra” Seolah olah jika sudah berbau dalil ayat pasti benar dengan kerangka pikir penafsiran yang pendek tanpa kajian mendalam serta kecenderungan eksklusif.

Ya beginilah mayoritas bangsa ini, malas berfikir dan bertindak. Apa? Oh ya benar… Omdong alias omong doang, kaya saya ya? Malu ah 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s