Konflik, Identitas, dan Agama

Diversity and Unity
Di Indonesia sering terjadi konflik baik antar golongan, etnis, suku, agama, pemahaman dsb. Karena tidak adanya pembelajaran tentang manajemen konfilk, sering kali konflik selalu berakhir dengan ricuh, kekerasan, bahkan memakan korban jiwa. Tengok saja tragediAmbon, Sampit, Cikeusik, Sampang, GKI Yasmin dll yang menimbulkan kerusakan baik fisik maupun jiwa. Permasalahan ini umumnya disebabkan oleh ketimpangan sosial atau perbedaan pemahaman.

Konflik atau permasalahan yang tidak disikapi dengan pemikiran sehat dan terbuka tentunya akan berlarut-larut hingga menimbulkan banyak permasalahan baik kini maupun nanti. Padahal Bangsa ini adalah bangsa yang majemuk. Bayangkan saja, Bangsa ini punya ratusan ragam budaya yang berbeda. Hal ini mengakibatkan gesekan-gesekan pemahaman memang sering menjadi akar masalah konflik. Kemajemukan bangsa ini telah dijadikan kaum kolonial untuk memecah belah bangsa melalui devide et empera atau politik adu domba.

Saya kira, kini konflik digunakan oleh orang-orang tertentu untuk memecah belah atau mengalihkan isu di masyaralat. Ketidakhadiran peran masyarakat yang mau berfikir untuk benar-benar memajukan bangsa tanpa embel-embel kepentingan tertentu menjadi salah satu penyebabnya.

Tak jauh-jauh soal bangsa, di kampus saja sering kita jumpai prihal perseturuan antar organisasi yang berbeda. Merah, kuning, hijau, biru dsb. Banyak yang memahami perbedaan organisasi berarti harus bertentangan baik pemikiran maupun fisik. Mahasiswa yang pada umur-umur rentan ini memang sedang dalam proses pencarian jati dirinya, sering kali terjebak pada identifikasi diri dalam pemaknaan yang keliru.

Ini terjadi di kampus yang notabene menjadi teladan bagi masyarakat, karena dipandang sebagai ranah berkembangnya intelektualitas. Inilah bukti jika manajemen konflik belum menjadi perhatian yang serius bagi kalangan intelektual sendiri. Baik pengajar maupun mahasiswa kerap kali abai terhadap permasalahan ini. Tenggelam dalam pikiran menuhankan pemahaman sendiri.

Akar permasalahan dalam konflik antar golongan ini adalah egoisme individu dan ekslusifitas golongan (penuhanan pemahaman). Individu yang merasa telah melakukan yang paling baik dan benar, lantas memiliki kepentingan (interest) masing-masing yang menisbikan kepentingan kelompok lain karena dianggap salah, menyimpang, atau kafir dalam konteks agama. Akibatnya terbentuklah apa yang disebut politik identitas. Diamana manusia menjadikan dirinya bukan sebagai manusia, tetapi identitas kolektif berdasar kepercayaan, agama, pemahaman, ras, suku, golongan, umur, dan gender.

Padahal sejatinya manusia lahir dengan identitas tunggal, sebagai manusia sutuhnya tanpa embel-embel lain, identitas manusia adalah manusia itu sendiri. Inilah mengapa seharusnya yang kita junjung sebagai manusia sejati adalah aspek kemanusiaan (humanism) dimana hak-hak asasi manusia harus terjamin keberadaannya. Hak untuk hidup dengan aman dan damai, kesehatan terjamin, pendidikan terpenuhi, menyatakan pemikiran, memilih penghidupan, menentukan masa depan dll. Aspek-aspek inilah yang harusnya kita perjuangkan bersama-sama tanpa menilik darimana kita terlahir dan pilihan berpolitik dalam sekat-sekat golongan apa yang telah kita pilih.

Menganalisa permasalahan konflik ini bisa juga melalui pemahaman akan politik identitas itu sendiri. Analisa politik identitas dikenalkan oleh L.A. Kauffman ketika membentuk SNCC (The Student Nonviolance coordinating Commite) atau perkumpulan mahasiswa anti kekerasan di tahun 1960an di Amerika. Dia menulis dan mengkritik dengan sebuah esai berjudul The Anti Politic of Identity. Tulisan inilah yang menyingkap tabir kegelisahan gejolak konflik kulit putih dengan bangsa lain baik kulit hitam dan hispanik di Amerika.

Tulisan Kauffman menjadi kunci tentang berkembangnya pemahaman kesetaraan hak asasi di Amerika, hingga muncullah orang-orang seperti Martin L. King Jr. dan Barcak Obama. Padahal sebelumnya golongan kulit hitam hanya dianggap sebagai budak atau kelas pekerja saja. Kini, Amerika memang tengah berbangga dengan konsep perbedaan yang baru berproses kurang dari seabad ini. Amerika bisa menjadi contoh terkini, tapi bukan contoh mutlak, karena banyak warga negaranya sendiri yang belum memaknai diversity ini. Khususnya warga negara yang konservatif.

Dalam pemahaman agama Islam, bisa dikatakan jika Islam telah hadir dalam memberikan solusi permasalahan politik identitas ini sejak Nabi Muhammad menyampaikan petuah-petuah Illahi. Islam hadir untuk manusia alias rahmatan lil alamain, bukan untuk golongan tertentu. Nabi mengajarkan untuk menghormati perbedaan. Menyamakan hak-hak antara lelaki dan perempuan. Mengkampanyekan pembebasan budak. Dan menyatukan golongan-golongan untuk sama-sama meninggalkan zaman kebodohan menjadi zaman penuh intelektualitas. Mengajarkan Ketauhidan untuk meninggalkan egosentrisme golongan.

Sebelum Barat tumbuh memperjuangkan apa yang disebut liberte, egalite, freternite atau asas kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan saat revolusi Prancis, atau bahkan declarataion of human rights yang baru hadir tahun1950an. Nabi Muhammad telah mengajarkan arti untuk menisbikan identitas manusia selain hakikat manusia itu sendiri yang bertanggung jawab secara langsung kepada Penciptanya. Yang dinilai oleh Tuhan bukan harta, jabatan, ras, golongan dan gender, tetapi adalah perbuatan baik-buruk masing-masing.

Nabi hadir dengan contoh-contoh universal seperti tertuang dalam piagam Madinah yang menghargai hak-hak golongan lain, Dakwah Islam hadir untuk memperjuangkan nilai-nilai humanisme atau kemanusiaan, bukan lagi sekedar nilai-nilai golongan dan etnis tertentu atau bahkan golongan mukminin pada waktu itu saja. Inilah yang layak dicontoh bagi kita generasi muda intelektual Indonesia. Jangan sampai hanya terjebak dengan politik identitas yang hanya memperjuangkan pemahaman dan hak-hak golongan kita sendiri. Tetapi mari bersama-sama memperjuangkan kepentingan bangsa yang majemuk ini.

Namun sangat miris jika bangsa ini, khususnya umat Muslim yang mayoritas kini terjebak dalam pemahaman hidup yang keliru. Mereka memaknai agama seagai identitas luar saja. Dimana mereka mendefinisikan agama sebagi jubah-jubah dan pakaian-pakaian saja dengan dalih sunah Nabi tanpa memahami maknanya. Tengoklah mereka yang menggunakan jubah-jubah dan berdandan ala Arab yang tersesat di kampung-kampung. Pemaknaan akan Islam atau dalam agama-agama lain pun masih banyak yang terjebak dalam aspek luar (pakaian dan aksesoris) dan ritual-ritual keagamaan tanpa disertai pemaknaan. Singkatnya, bergaya tanpa mau berpikir!

Maka tak heran, umat Islam kini jatuh pada jurang yang kembali kepada aspek zaman jahiliyiah yakni berpecah-pecah dalam sukuiseme dan pemahaman. Lebih tidak heran karena konon Nabi memang telah meramalkan umatnya terpecah menjadi puluhan golongan dengan pemahaman yang berbeda. Ah, saya memang skeptis tentang Muslim atau agama-agama dimana saja.

Sebagai Muslim yang baik dan benar-benar menjalankan perintah Nabi. Harusnya seorang Muslim tak lagi memaknai identitas dirinya hanya sebagai seorang Muslim yang menyemabah Allah menjalankan perintah-perintahnya (teks) tanpa disertai pemahaman yang benar (konteks). Karena sejatinya Islam mengajarkan jika manusia awalnya lahir tanpa identitas apapun selain diri MANUSIA itu. Islam juga percaya jika Tuhan Maha Hadir dimana saja (Omnipresent), jadi menghargai, menghormati, dan melindungi hak-hak orang lain  yang berbeda adalah suatu keniscayaan perintah Tuhan. Jalan hidup masing-masing adalah Tuhan yang menentukan.

Ah, kenapa saya juga malah repot-repot memikirkan orang yang bangga menuhankan pemikirannya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s