L.G.B.T (Q)

Saya tidak begitu paham mengenai ilmu biologi, psikologi, dan sosiologi dengan teori-teori seperti psikoanalisis, behavioris, atau fitrah genetika yang membenarkan gejolak preferensi seksual seseorang. Disini saya juga tidak mencoba menjustifikasi preferensi seksual seseorang.

Menurut saya, apa yang ada di dalam ruang kamar adalah hak dan privasi tiap individu dan partner in love  mereka masing-masing, sejauh tidak ada unsur paksaan dari salah satu pihak dan keingginan mengedarkan kegiatan privat mereka kepada khalayak demi suatu kepentingan, saya atau masyarakat tidak berhak mengurusinya. Saya kira itu cukup untuk dasar kenapa juga preferensi seksual seseorang tak perlu digembar-gemborkan ke publik.

LGBT adalah lesbian, gay, biseksual, dan transgender (tak perlu dijelaskan).Adalagi fenomena mereka yang lahir dengan kelamin ganda. Sains telah banyak menganalisa fenomena ini dan menjawab dengan apa, kenapa, dan bagaimana orang-orang dengan “fitrah” ini ada. Saya tidak berkompeten menjelaskannya, tanya saja pada psikolog atau ilmuwan yang berkompeten. Atau telusuri bacaan dan jurnal-jurnal ilmiah yang bertebebaran di internet dalam menjelaskan fenomena ini.

Dalam Agama, cerita-cerita dalam Kitab Suci menampilkan sisi terlarang dari keberadaan kaum homosexsual. Kaum Nabi Luth sering dijadikan contoh mengenai hukuman bagi mereka yang melakukan hubungan sejenis. Belakangan beberapa menafsirkan hukuman Tuhan datang karena tindakan kejahatan asusila yang diluar kewajaran fitrah manusia, takdir ini dijatuhkan kepada bangsaSodomdan Gommorah sebagai contoh bagi manusia.

Agama bagaimanapun juga saya yakini sebagai penjaga moral manusia. Apa yang dicontohkan Tuhan dalam kitab suci layaknya diyakini dan diamalkan sebisa mungkin. Namun agama tidak bisa menjawab dengan gamblang dan cermat permasalahan sosial kita yang semakin lama semakin pelik. Termasuk soal LGBT ini.

Apalagi Tuhan menciptakan manusia satu dan lain tidak sama, manusia dicipta dengan berbeda-beda. Dari pemahaman ini saya memberanikan diri mengorek fenomena sosial LGBT ini. Namun saya tidak juga mencoba mengusik ranah agama. Saya kira sekalipun saya sekarang sedang belajar di institusi Islam, saya belum berkompeten menafsirkan ayat-ayat Tuhan. Saya hanya akan mencoba menganalisa fenomena sosial saja.

Repotnya jika ini memang berkaitan dengan konstitusi negara. Anggapan jika negara (wajib) hadir dalam mengurusi urusan antar individu, seperti institusi perkawinan yang privat, merupakan anggapan yang sudah wajar dalam masyarakat di belahan bumi manapun. Jadi masalah legal atau tidak perkawinan sejenis menjadi amat sangat penting karena menyangkut pengakuan dalam negara.

Awalnnya di Belanda yang pemerintahnya telah dahulu melegalkan pernikahan sejenis di tahun 1994. Lalu awal abad ini sorotan ramai memperbincangkan Inggris karena Elton John menjadi selebritas pertama yang menikah secara resmi di Gereja Anglikan. Mayoritas Belanda dan Inggris memang menerima kewajaran ini. Karena kenyataan mayoritas warganya memang telah secara terbuka menerima keberadaan LGBT di negara mereka.

Selebritas dan tokoh politik selalu menjadi sorotan utama. Ricky Martin terang-terangan mengakui jika dia Gay. Dulu ada kelompok musik TaTu dengan lirik dan videografi kontroversial berisi kampanye lesbian mereka. Belakangan banyak yang kecele, mereka berdua adalah wanita tulen yang telah memiliki pasangan dan anak. Tindakan mereka berdua tak lain hanya demi kepentingan industri hiburan semata.

Obama akhir-akhir ini malakukan hal yang juga begitu fenomenal bagi Amerika dengan wacana melegalkan pernikahan sejenis. Menyeruaklah perdebatan di antara kandidat-kandidat presiden Amerika. Obama, kata beberapa pengamat, benar-benar melakukan gambling untuk meraup dukungan atau malah penolakan masyarakat.

Lantas bagaimana dengan masyarakat kita? Saya sering menjumpai orang dengan kecenderungan berbeda seperti prilaku lelaki yang feminis atau wanita yang maskulin. Lain dengan wanita maskulin yang seringkali malah mendapat apresiasi baik dalam masyarakat karena dinilai emansipatoris, lelaki feminis malah sering mendapat stigma negatif.

Karena mayoritas kita adalah Muslim dan banyak masyarakat yang belum terdidik dengan proses belajar ilmiah. Jangan harap pemerintah akan melegalkan pernikahan sejenis di negeri ini. Hanya beberapa orang dengan akses informasi dan pemahaman memadai yang mau mempermasalahkan permasalahan ini dengan frame lebih terbuka dan ilmiah, mayoritas umumnya sekedar berbicara sesuai pengalaman dan pemahaman, serta tafsir agama masing-masing soal LGBT ini.

Dalam sorotan saya, yang tidak mengenakkan adalah fenomena aktivis yang mendukung kampanye LGBT dengan terbuka tanpa tanggung jawab kultural kemasyarakatan. Saya heran, lagi-lagi preferensi seks seseorang ada di dalam kamar, tidak perlu digembar-gemborkan di publik. Yang perlu digaungkan adalah hak setiap orang untuk merdeka dalam menentukan pilihan hidup masing-masing dan juga memastikan hak-hak orang lain yang terpinggirkan juga terpenuhi.

Dalam konteks negara Indonesia, hak-hak pendidikan dan kesehatan lebih utama daripada hak bercinta. Kini kampanye hak-hak LGBT seolah-oleh (atau memang demikian) menjadi komoditi yang bertujuan bukan soal hak-hak mereka lagi, melainkan demi mengejar keuntungan materi pihak tertentu.

Yang saya anggap kelewatan adalah festival film LGBT yang tahun lalu (2011) diadakan. Saya niat nonton, tapi saya memutuskan menonton salah satu film di internet dulu. Dan yang saya temui adalah film yang sangat berbau pornografi. Curiga saya sebelumnya ternyata benar. Saya heran, bukankah penyelenggara adalah orang yang terdidik dan paham akan kondisi Indonesia yang rentan konflik. Jujur saya dangat sedih menyikapi soal ini. Ini adalah edukasi yang buruk bagi masyarakat kita jika (lagi-lagi) sisi privasi seseorang dianggap bisa dijadikan komoditas.

Peliknya menyikapi permasalahan ini karena memang prilaku LGBT yang cindrung lebih berwarna dan menarik perhatian. Soal gaya verbal dan non verbal pasti selalu nampak dalam masyarakat. Ada yang jelas-jelas tanpa malu-malu menunjukkan preferensi seksual mereka di umum. Hal inilah yang membuat masyarakat sulit menerima dan kadang risih. Gejolak masyarakat ini didukung dengan tontonan televisi yang kini menjadikan kaum LGBT, baik beneran atau pura-pura, sebagai komoditi yang menarik masyarakat demi keuntungan semata. Ini merupakan tindak pelecehan yang kini dianggap wajar oleh masyarakat kita.

Inilah poin penting dalam pemahaman LGBT. Apa yang disebut kesenjangan penggetahuan (knowledge gap) benar-benar nyata dalam realistas kehidupan kita sehari-hari. Pemahaman masyarakat yang satu dengan yang lain tentang LGBT masih sangat tergantung pada pengalaman-pengalaman masing-masing. Dan televisi menjadi suatu pembelajaran buruk bagi masyarakat soal LGBT. Tanpa kemauan untuk belajar lebih mendalam mengenai fenomena ini. Kita hanya akan sering mempermasalahkan hal ini dalam konteks prasangka.

Masalah ini memang akan selalu menemui jalan buntu. Frame agama tidak membenarkan hubungan sejenis. Pemikiran agama yang fundamentalis dan konservatif tidak akan membiarkan pelegalan hubungan sejenis di masyarakat. Kampanye tentang LGBT sarat unsur bisnis. Televisi menjadi sarana publikasi negatif bagi LGBT. Masyarakat mayoritas berpendidikan rendah, akibatnya banyak yang tidak terdidik untuk berfikir ilmiah hingga prasangka selalu menebar dimana-mana.

Saya kira beginilah realitas masyarakat kita…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s