Urgensi Digitalisasi Penyiaran Indonesia

Manfaat Televisi Digital

Kurang dari satu dekade ini perkembangan teknologi memang semakin mutakhir. Apalagi sejak ditemukannya programan digital yang memicu perkembangan perangkat komunikasi lebih jauh. Digital memungkinkan kita untuk lebih dinamis dalam hal memperoleh atau bertukar data dan informasi.

Trend industri penyiaran pun seiring sejalan dengan perkembangan teknologi tersebut. Salah satunya adalah dimulainya gejolak penggunaan televisi digital di dunia ini. Industri televisi diperkirakan semakin memiliki prospek yang cerah dengan perkembangan teknologi digital. Terbukti beberapa negara telah mengadopsinya, dan perjanjian beberapa negara maju di International Telecommunication Union (ITU) PBB di Jenewa, Swiss- 2006 lalu telah menekankan keharusan digitalisasi penyiaran di seluruh dunia maksimal 17 Juli 2015 mendatang.

Digitalisasi televisi adalah suatu keniscayaan untuk memajukan- khususnya industri televisi yang masih berbasis analog saat ini. Demikian karena analog dinilai sudah tidak lagi sejalan degan kemajuan zaman yang menuntut serba sempurna, ringkas, dan cepat. Kesempurnaan televisi digital dinilai beberapa pengamat merupakan keniscayaan untuk menjamin industri ini akan dimainkan oleh pasar yang makin beragam. Prinsip diversity of content dan diversity of ownnership pun akan makin terasa dengan adanya televisi digital ini.

Keunggulan televisi digital antara lain gambar yang jernih, adanya interaksi antara content provider (penyedia jasa konten televisi) dengan penonton, adanya feature seperti informasi layanan cuaca, informasi jalan raya, segmentasi konten yang nyata, panduan dalam menonton yang lebih sempurna, kemudahan menghitung rating bagi stasiun televise atau content provider serta feature-feature yang mungkin bisa ditambahkan karena dinamisnya televisi digital ini.

Dengan digitalisasi penyiaran televisi, perangkat untuk mengakses televisi pun akan semakin beragam. Kita akan sangat mudah memperoleh siaran televisi beserta feature-featurnya yang berkualitas baik dari perangkat gadget seperti televisi, ponsel, e-sabak, komputer dan lain-lain.

Jika digitalisasi dilakukan di Indonesia, maka setiap kanal yang ada dapat diisi oleh dua hingga sepuluh programa atau stasiun. Saat ini untuk kota kecil di Indonesia disediakan 7 kanal analog, sedang kota besar mencapai 14 kanal analog. Dengan digital, satu saluran analog dapat menampung dua hingga sepuluh saluran televisi. Ini berarti dalam satu kota kecil saja dimungkinkan akan ada tambahan kanal yang makin melonjak menjadi sekitar 70 kanal. Bisa dibayangkan potensi dan peluang yang dijanjikan pasar penyiaran digital ini.

Realita Industri Televisi Digital di Dunia

Soal kesiapan industri televisi digital, bisa dikatakan kita memang sudah tertinggal dari negara-negara maju. Sejak 2009 Amerika telah melakukan total black off dengan memutus seluruh siaran TV analog. Aturan menyebutkan jika seluruh stasiun televisi dengan frekuensi analog harus berhenti atau berpindah ke frekuensi digital. Masyarakat Amerika yang mayoritas telah belajar menggunakan televisi digital pun tidak terlalu terkejut dengan transformasi ini. Terbukti pada saat  itu hanya kurang dari 3 persen masyarakatnya yang masih menggunakan televisi analog.

Indonesia dan negara-negara berkembang lain memang bisa dikatakan terlambat soal digitalisasi televisi ini. Hal ini memang sangat tergantung dengan kemapuan masyarakat dalam memahami peta industri televisi digital ini. Negara maju kini ambil untung dengan negara berkembang seperti di Indonesia untuk menjual program-program stasiun TV mereka. Lewat digitalisasi penyiaran ini beberapa negara maju seperti Eropa, Amerika , dan beberapa negara di Asia kini menjadi pemain pasar dalam menjual kreatifitas konten siaran mereka ke negara-negara berkembang seperti Indonesia, melalui layanan televisi berbayar.

Realita Industri Televisi Digital di Indonesia

Sebetulnya televisi digital sudah ada di Indonesia tahun-tahun belakangan ini. Kita mengenalnya dengan TV Kabel (Cable Television) atau TV berbayar/berlangganan. Dimana masyarakat tidak hanya dapat menikmati program stasiun televisi nasional tetapi juga program stasiun TV internasional yang sudah digital.

Industri TV kabel yang makin beragam di Indonesia telah menggunakan satelit Direct to Home (DTH) dan Internet Protocol TV, dimana masyarakat dapat memilih kanal sesuai dengan preferensi dan harga yang sesuai. Kalangan yang mengkonsumsinya masih sebatas kalangan tertentu saja. Selain harganya masih dinilai mahal, tayangan televisi ini masih didominasi dengan tayangan internasioal berbahasa inggris.

Sedangkan untuk digitalisasi penyiaran televisi secara umum. Dalam roadmap digitalisasi penyiaran Indonesia, pemerintah telah berencana menghentikan program penyiaran analog mulai 2013 di kota-kota besar, kemudian disusul kota-kota kecil hingga tuntas pada tahun 2015 (mengacu konferensi ITU 2006). Dan selama pergantian frekuensi tersebut akan ada simulcast diamana stasiun televisi analog dan digital tayang bersamaan.

Tetapi menurut KPI hal tersebut tidak mutlak untuk segera dilakukan, selain industri televisi yang belum siap. Masyarakat pun juga belum siap. Karena diperlukan set up box tambahan untuk menerima frekuensi televisi digital. Masyarakat belum tentu siap dengan membeli perangkat tersebut. Lebih-lebih industri stasiun televisi di Indonesia sendiri belum tentu semuanya siap dengan dengan digitalisasi ini. Ide simulcast diperkirakan KPI membuat industri stasiun televisi harus mengeluarkan banyak biaya untuk siaran. Saat ini terdapat sekitar 120an stasiun televisi di Indonesia termasuk 11 yang bersiaran secara nasional.

Saat ini KPI tengah mengajukan perubahan UU Penyiaran kepada DPR yang rencannya akan selesai tahun 2012 ini. Salah antara lain tentang kewenangan KPI, aturan digitalisasi penyiaran dan kejelasan soal muatan lokal dalam sistem stasiun berjaringan yang masih rentan penyimpangan. Menurut KPI kajian tentang aturan digitalisasi penyiaran televisi dan pembatasan penggunaan frekuensi harus didahulukan daripada kewajiban migrasi frekuensi analog ke digital.

KPI berpendapat jika Indonesia tidak wajib untuk tergesa-gesa mengikuti aturan ITU karena Indonesia tidak turut dalam pakta tersebut. Perhitungan KPI memperkirakan Indonesia baru akan siap dengan digitalisasi penyiaran tahun 2020 mendatang.

Urgensi Digitalisasi Siaran Televisi Indonesia

Apa yang diusulkan KPI memang benar. Tapi tuntutan untuk mendidik masyarakat agar paham terhadap digitalisasi televisi harus segera dilaksanakan. Saat ini pemain dalam industri televisi digital masih sedikit, peluang ini telah digunakan negara maju untuk menjual konten mereka kepada negara berkembang seperti Indonesia. Jangan sampai kita hanya menjadi penikmat dalam semarak industri televisi digital.

Di Asia, stasiun televisi digital dari China, Korea Selatan, dan Jepang telah mampu menembus pasar kita. Malaysia telah belajar banyak soal digitalisasi televisi ini. Kartun Upin-Ipin yang tersohor di Indonesia telah sukses berafiliasi dengan Disney Channel. Sementara televisi nasional yang telah merambah pasar digital masih didominasi oleh kira-kira 11 stasiun televisi nasional dan anak perusahaannya.

Agresifitas MNC Corporation (misalnya) dalam mengembangkan ragam konten memang patut diacungi jempol. Namun jangan sampai industri ini tidak dibagi manfaatnya kepada yang lain sehingga menimbulkn konglomerasi media (tuduhan yang kini di tujukan kepada MNC Coorporation).  Ketakutan akan kanal televisi yang dikuasiai pasarnya oleh pihak tertentu memang sewajarnya patut diwaspadai.

Kita juga harus belajar banyak dari Amerika yang malah terdoktrin oleh CNN dan Fox News dalam segmentasi berita (misalnya). Diharapkan sebelum digitalisasi televisi di Indonesia diterapkan, pemahaman akan bahaya propaganda dan agenda setting media massa seyogyanya perlu ditanamkan kepada publik, agar kita dapat menjadi penikmat media yang cerdas.

Program literasi media kini terasa sangat diperlukan. Disini peran kita sebagai kalangan masyarakat terdidik harus dapat turut andil demi terciptanya industri pertelevisian yang sehat dan memang benar-benar demi kepentingan publik semata. Seperti yang kita ketahui, industri ini  rentan disalahgunakan pada oleh oknum tertentu lewat agenda setting mereka, khususnya kalangan politikus dan pengusaha.

sumber gambar: http://www.kabar24.com/wp-content/uploads/2012/03/tv-digital1.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s