Kurban

Kurban

Secara antropologis, kurban mulanya adalah sesaji yang digunakan untuk berterimakasih, menghibur atau memohon sesuatu kepada Tuhan atau Dewa-Dewa. Konsep kurban ditemukan pada hampir setiap kebudayaan di dunia ini. Kebudayaan-kebudayaan kuno seperti bangsa Maya, misalnya, juga tercatat pernah menjadikan manusia sebagai kurban dengan cara menenggelamkan manusia ke sebuah danau suci sebagai permohonan hujan kepada Dewa-Dewa.

Al Qur’an mencatat definisi kurban awalnya sama seperti definisi kurban dalam agama-agama pagan tersebut. Yakni kurban untuk sesaji Tuhan, hal tersebut tertulis dalam surat Al Maidah, 27:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dalam ayat tersebut jelas bahwa kurban menjadi salah satu bentuk ucapan syukur dan terimakasih kepada Tuhan. Kurban Habil dan Qabil merupakan kurban berbentuk materi atau bisa disebut sesaji yang dipersembahkan untuk Tuhan. Pada waktu itu, hubungan Tuhan dan manusia masih dekat dan membumi setelah kejatuhan Adam.

Konsep kurban seperti Habil dan Qobil terus berlaku hingga Ibrahim tiba. Kesediaan Ibrahim menerima mimpi Tuhan untuk mengorbankan nyawa anaknya, bisa jadi merupakan pertanda jika berkurban nyawa manusia memang merupakan sesuatu yang dapat diterima pada zaman Ibrahim. Setelah tragedi Ismail (atau Ishak dalam konsep Nasrani dan Yahudi) Tuhan benar-benar merubah konsep kurban dari nyawa manusia atau sesaji-sesaji ke arah pemaknaan yang lebih logis. Proses mendidik Tuhan kepada nenek moyang kita tentang hakikat berkurban, berketuhanan, dan bersosial pun dimulai ketika itu.

Sejak Ibrahim, Tuhan tak lagi meminta kurban untuk menguji iman secara langsung. Tuhan sejatinya seperti yang banyak diulang-ulang dalam Al Qur’an, tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Tuhan tidak membutuhkan nyawa kita sebagi kurban. Pemahaman mengorbankan nyawa kepada Tuhan dengan dalih seperti membela Tuhan- adalah pemahaman yang justru kembali ke penafsiran yang mundur.

Kurban dan Jihad.

Dalih berkurban kepada Tuhan melalui tafsir Jihad merupakan transformasi pemaknaan Jihad yang justru jauh dari konteksnya. Banyak sekali yang menafsirkan jihad untuk pengorbanan manusia kepada Tuhan sebagai bentuk pengabdian. Penafsiran Jihad model ini adalah pemaknaan yang kembali ke zaman berketuhanan paling fundamentalis yang sudah tidak sesuai dengan zaman modern. Pemaknaan yang disertai dengan penyerangan, pembunuhan, pengorbanan diri untuk membunuh kelompok lain yang tidak sepaham, merupakan penafsiran akan Jihad dan kurban yang paling ekstrem. Sekalipun penafsiran seperti ini masih dijumpai bahkan pada zaman sahabat nabi, itu bukanlah contoh yang tepat untuk dilestarikan. Jauh dari sikap yang ingin diajarkan Nabi Muhammad tentang Islam yang rahmatan lil alamin.

Jihad sejatinya seperti yang diulang-ulang oleh Muhammad, yang paling utama adalah Jihad dalam bentuk pengembangan ilmu. Dan Jihad yang paling berat adalah Jihad melawan hawa nafsu sendiri kata Nabi Muhammad dengan tegas. Berkorban dengan nyawa kepada Tuhan, jika demikian bisa dianggap sebagi kurban, adalah aspek dimana Islam mebutuhkannya jika kita dalam keadaan diserang secara fisik, bukan menyerang.

Aspek sosiallah yang kini lebih Tuhan utamakan dalam pemaknaan tingkat tinggi kurban khususnya dalam hari raya Iedul Adha. Ditambah sebagai aspek budaya untuk mengingat-ingat sejarah baik sejarah Ibrahim maupun Muhammad sendiri. Beberapa pesan Muhammad mengindikasikan bahwa kurban merupakan keutamaan kepada sesama manusia. Ini banyak dijumpai pada beberapa ucapan-ucapan beliau.

Kini banyak yang tidak sadar dalam memaknai hari raya kurban, kurban dalam agama Islam tidak sama dengan definisi kurban dalam keyakinan agama bumi atau ajaran agama pra-Ibrahim. Dalam Islam, kurban bukanlah untuk Tuhan, tetapi untuk sesama manusia sebagai wujud nyata cinta kita kepada Tuhan. Selamat berpesta!

Investasi Saham ála Wartawan

Bolehkan wartawan “bermain” saham? Pertanyaan ini belum menjadi permasalahan di Indonesia. Karena memang keterbatasan kita tentang pemahaman investasi masih kurang. Namun saya kira, dalam tahun-tahun mendatang banyak dari kita memandang suatu investasi, dalam hal ini adalah kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan. Merupakan salah satu ragam investasi yang baik untuk mengelola jerih payah kita saat ini.

Saya sangat setuju jika wartawan diperkenankan memiliki saham, khususnya saham media massa dimana ia bekerja. Dalam hal ini mungkin penting dirumuskan bahwa “redaksi” berhak mempunyai proporsi dalam suatu media massa yang telah go public. Perlu racikan tertentu untuk bersama-sama mau memikirkan bahwa sudah saatnya menggusur peran tunggal (keuntungan dan massa depan) dalam kepemilikan media massa. Redaksi atau awak pers berhak menikmati jerih payah idealismenya kelak di masa mendatang. Tentu ini akan memiliki imbal balik terhadap daya juang dan loyalitas awak media massa mereka sendiri di masa kini dan nanti kan?

Selain itu, siapa yang tak tergiur dengan komersialisasi media massa di tengah pasang surut industri media (khususnya cetak). Ketakutan-ketakutan akan tidak bebasnya media massa ketika telah menjadi badan hukum terbuka tidak akan berlaku selama redaksi suatu media massa memiliki idealisme kuat. Karena jika idealisme redaksi tidak kuat, media massa akan kena getahnya sendiri. Percaya deh, dimana-mana intervensi berlebihan pemilik modal terhadap medianya akan berdampak buruk bagi citra media massa itu sendiri di kemudian hari.

Penolakan-penolakan beberapa pemilik media massa seperti Dahlan Iskan untuk menolak membuat serikat pekerja wartawan di Jawa Pos, misalnya, bisa jadi karena keengganan Dahlan untuk berbagi “kebahagiaan” dengan para pekerjanya. Dalam hal ini, Dahlan masih enggan untuk membuat perusahaannya go public. Bukan itu masalah saat ini, tapi apakah Dahlan dan putranya yakin jika nanti setelah mereka tiada, perusahaan mereka akan tetap ada dan terkontrol sama baiknya?

Membuka keran bagi keterbukaan kepemilikan media massa merupakan hal yang penting di era keterbukaan informasi saat ini. Kepemilikan tunggal suatu media massa tentu menjadi masalah, lebih masalah lagi soal konsentrasi atau lebih tepatnya konglomerasi media massa oleh kepemilikan perseorangan atau kelompok tertentu. Di Indonesia, penelitian Merlyna Lim (2012) menyebutkan jika negeri ini dikuasai 13 group besar media massa.

Ini tentu menarik, persaingan bisnis media massa di indonesia sangat sengit. Konsentrasi media massa membuat media massa kehilangan unsur kemajemukannya. Membahayakan atau tidak prihal konglomerasi ini tentu tergantung dari sudut mana kita melihatnya melalui beberapa teori-teori pers yang ada.

Tiga belas itu cukup majemuk, tapi kalau tiga belas itu sudah main lirik sana-sini ya bahaya juga kan? Media Group udah lirik-lirikan dengan MNC Corporation. Trans Corp sudah mengakusisi TV-7 dan detik.com untuk konvergensi media mereka. Media massa yang besar semakin tamak dengan memangsa media-media kecil. Tentu ini semakin berbahaya jika tidak ada pembatasan. Tapi mari kita bicara ini di lain waktu. Kita tulis soal saham dulu saja ya.

Intinya, membuat kepemilikan media massa menjadi berbadan hukum terbuka itu punya sisi baik. Selain mengurangi dampak konsentrasi media massa yang sudah terlanjur menjamur. Juga sebagai sarana kontrol sosial masyarakat dan awak media terhadap ekonomi media massa sendiri. Jadi saya sarankan untuk pemilik media massa yang belum go public agar segera membuka diri. Jangan sungkan untuk berbagi keseksian perusahaan Anda dengan yang lain. Toh Anda juga kan menikmatinya hasilnya tanpa sedikitpun kehilangan kuasa positif atas masa depan perusahaan Anda.

Tapi saya masih tidak setuju untuk menyerahkan media massa pada bobroknya mekanisme di pasar saham. Lebih baik tidak usah didaftarkan di bursa. Repotnya Indonesia ikut-ikutan lebay dengan membuat mekanisme pasar kita bergantung pada stabilitas internasional. Efek kupu-kupu membuat rapuh stabilitas ekonomi kita. Sayangnya pemerintah kita sengaja membutakan diri dengan ikut-ikutan lebay berbursa-bursa. Untung banyak itu pembuat kebijakan. Tapi kita bisa buntung kelak. Contohnya, Eropa yang kolaps kok kita ikut-ikutan jatuh?

Kembali ke saham. Soal saham lain adalah beberapa wartawan yang sengaja bermain saham di beberapa perusahaan (bukan perusahaan medianya). Cilaka dua belasnya, ada timbal balik yang bisa jadi membuat sebuah perusahaan terlihat oke di mata publik lewat polesan-polesan media massa. Ini yang ditakutkan beberapa pengamat dan peneliti. Jika wartawan sudah memiliki kedekatan terhadap suatu perusahaantertentu. Bisa jadi ini akan membuat dia kehilangan kontrol. Dia akan bias dalam pemberitaannya.

Setelah googling di internet ternyata beberapa media luar sudah punya kode etik dalam mengatur sejauh mana wartawan boleh berhubungan dengan bisnis di luar kerja wartawan. Contoh : ”No staff member may own stock or have any other financial interest; This restriction extends beyond the business beat” (tak satu pun awak media diperbolehkan memiliki saham atau produk keuangan lainnya; Larangan ini mencakup kegiatan usaha (diluar kerja wartawan)”. The New York Times Company Policy on Ethics in Journalism (2005).
”Journalists who regularly cover business and financial news may not play the market (wartawan yang secara tetap meliput berita bisnis dan keuangan dilarang bermain di pasar saham)” Newsroom Ethics Policy on The Boston Globe (2008).

Cukup tegas kan? Jadi jika seorang wartawan harus menjaga kuat idealismenya. Jangan sampai godaan-godaan terhadap keuntungan dalam dunia investasi membuat seorang wartawan kehilangan sense of responsibility. Naluri wartawan yang tergiur dengan keuntungan dari liputannya adalah naluri wartawan bodrex atau amplop. Etapi karena keuntungan cukup gedhe, saya kira mereka ini layak disebut wartawan heroin. Salah satu contohnya mungkin saat IPO Krakatau Stell beberapa waktu silam. Saya yakin wartawan juga memiliki kesalahan. Bukannya mengkritisi nilai saham awal yang sangat jauh dari harga pasar. Mereka malah malak minta jatah. Dasar wartawan heroin…

Begitulah analisis saya soal bisnis investasi saham bagi wartawan ini. Tidak mendalam memang, tulisan ini mungkin butuh diupdate lain waktu. Saya belum ikut kelas ekonomi media sih hehehe