Investasi Saham ála Wartawan

Bolehkan wartawan “bermain” saham? Pertanyaan ini belum menjadi permasalahan di Indonesia. Karena memang keterbatasan kita tentang pemahaman investasi masih kurang. Namun saya kira, dalam tahun-tahun mendatang banyak dari kita memandang suatu investasi, dalam hal ini adalah kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan. Merupakan salah satu ragam investasi yang baik untuk mengelola jerih payah kita saat ini.

Saya sangat setuju jika wartawan diperkenankan memiliki saham, khususnya saham media massa dimana ia bekerja. Dalam hal ini mungkin penting dirumuskan bahwa “redaksi” berhak mempunyai proporsi dalam suatu media massa yang telah go public. Perlu racikan tertentu untuk bersama-sama mau memikirkan bahwa sudah saatnya menggusur peran tunggal (keuntungan dan massa depan) dalam kepemilikan media massa. Redaksi atau awak pers berhak menikmati jerih payah idealismenya kelak di masa mendatang. Tentu ini akan memiliki imbal balik terhadap daya juang dan loyalitas awak media massa mereka sendiri di masa kini dan nanti kan?

Selain itu, siapa yang tak tergiur dengan komersialisasi media massa di tengah pasang surut industri media (khususnya cetak). Ketakutan-ketakutan akan tidak bebasnya media massa ketika telah menjadi badan hukum terbuka tidak akan berlaku selama redaksi suatu media massa memiliki idealisme kuat. Karena jika idealisme redaksi tidak kuat, media massa akan kena getahnya sendiri. Percaya deh, dimana-mana intervensi berlebihan pemilik modal terhadap medianya akan berdampak buruk bagi citra media massa itu sendiri di kemudian hari.

Penolakan-penolakan beberapa pemilik media massa seperti Dahlan Iskan untuk menolak membuat serikat pekerja wartawan di Jawa Pos, misalnya, bisa jadi karena keengganan Dahlan untuk berbagi “kebahagiaan” dengan para pekerjanya. Dalam hal ini, Dahlan masih enggan untuk membuat perusahaannya go public. Bukan itu masalah saat ini, tapi apakah Dahlan dan putranya yakin jika nanti setelah mereka tiada, perusahaan mereka akan tetap ada dan terkontrol sama baiknya?

Membuka keran bagi keterbukaan kepemilikan media massa merupakan hal yang penting di era keterbukaan informasi saat ini. Kepemilikan tunggal suatu media massa tentu menjadi masalah, lebih masalah lagi soal konsentrasi atau lebih tepatnya konglomerasi media massa oleh kepemilikan perseorangan atau kelompok tertentu. Di Indonesia, penelitian Merlyna Lim (2012) menyebutkan jika negeri ini dikuasai 13 group besar media massa.

Ini tentu menarik, persaingan bisnis media massa di indonesia sangat sengit. Konsentrasi media massa membuat media massa kehilangan unsur kemajemukannya. Membahayakan atau tidak prihal konglomerasi ini tentu tergantung dari sudut mana kita melihatnya melalui beberapa teori-teori pers yang ada.

Tiga belas itu cukup majemuk, tapi kalau tiga belas itu sudah main lirik sana-sini ya bahaya juga kan? Media Group udah lirik-lirikan dengan MNC Corporation. Trans Corp sudah mengakusisi TV-7 dan detik.com untuk konvergensi media mereka. Media massa yang besar semakin tamak dengan memangsa media-media kecil. Tentu ini semakin berbahaya jika tidak ada pembatasan. Tapi mari kita bicara ini di lain waktu. Kita tulis soal saham dulu saja ya.

Intinya, membuat kepemilikan media massa menjadi berbadan hukum terbuka itu punya sisi baik. Selain mengurangi dampak konsentrasi media massa yang sudah terlanjur menjamur. Juga sebagai sarana kontrol sosial masyarakat dan awak media terhadap ekonomi media massa sendiri. Jadi saya sarankan untuk pemilik media massa yang belum go public agar segera membuka diri. Jangan sungkan untuk berbagi keseksian perusahaan Anda dengan yang lain. Toh Anda juga kan menikmatinya hasilnya tanpa sedikitpun kehilangan kuasa positif atas masa depan perusahaan Anda.

Tapi saya masih tidak setuju untuk menyerahkan media massa pada bobroknya mekanisme di pasar saham. Lebih baik tidak usah didaftarkan di bursa. Repotnya Indonesia ikut-ikutan lebay dengan membuat mekanisme pasar kita bergantung pada stabilitas internasional. Efek kupu-kupu membuat rapuh stabilitas ekonomi kita. Sayangnya pemerintah kita sengaja membutakan diri dengan ikut-ikutan lebay berbursa-bursa. Untung banyak itu pembuat kebijakan. Tapi kita bisa buntung kelak. Contohnya, Eropa yang kolaps kok kita ikut-ikutan jatuh?

Kembali ke saham. Soal saham lain adalah beberapa wartawan yang sengaja bermain saham di beberapa perusahaan (bukan perusahaan medianya). Cilaka dua belasnya, ada timbal balik yang bisa jadi membuat sebuah perusahaan terlihat oke di mata publik lewat polesan-polesan media massa. Ini yang ditakutkan beberapa pengamat dan peneliti. Jika wartawan sudah memiliki kedekatan terhadap suatu perusahaantertentu. Bisa jadi ini akan membuat dia kehilangan kontrol. Dia akan bias dalam pemberitaannya.

Setelah googling di internet ternyata beberapa media luar sudah punya kode etik dalam mengatur sejauh mana wartawan boleh berhubungan dengan bisnis di luar kerja wartawan. Contoh : ”No staff member may own stock or have any other financial interest; This restriction extends beyond the business beat” (tak satu pun awak media diperbolehkan memiliki saham atau produk keuangan lainnya; Larangan ini mencakup kegiatan usaha (diluar kerja wartawan)”. The New York Times Company Policy on Ethics in Journalism (2005).
”Journalists who regularly cover business and financial news may not play the market (wartawan yang secara tetap meliput berita bisnis dan keuangan dilarang bermain di pasar saham)” Newsroom Ethics Policy on The Boston Globe (2008).

Cukup tegas kan? Jadi jika seorang wartawan harus menjaga kuat idealismenya. Jangan sampai godaan-godaan terhadap keuntungan dalam dunia investasi membuat seorang wartawan kehilangan sense of responsibility. Naluri wartawan yang tergiur dengan keuntungan dari liputannya adalah naluri wartawan bodrex atau amplop. Etapi karena keuntungan cukup gedhe, saya kira mereka ini layak disebut wartawan heroin. Salah satu contohnya mungkin saat IPO Krakatau Stell beberapa waktu silam. Saya yakin wartawan juga memiliki kesalahan. Bukannya mengkritisi nilai saham awal yang sangat jauh dari harga pasar. Mereka malah malak minta jatah. Dasar wartawan heroin…

Begitulah analisis saya soal bisnis investasi saham bagi wartawan ini. Tidak mendalam memang, tulisan ini mungkin butuh diupdate lain waktu. Saya belum ikut kelas ekonomi media sih hehehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s