Kembang (Kempis) Media Massa

Original Article

Minggu pagi, seperti biasa sambil buang hajat saya membuka laman facebook dari gawai untuk mendapatkan informasi baru dan terbaru. Ada status teman yang bahagia setelah cek kehamilan, ada yang membagi perspektif positif sunni-syiah, utak-atik banjir Singkil dengan perobohan Gereja, ada yang komentar di video lucu, dan selebihnya kebanyakan di akun facebook saya adalah status pesohor yang saya ikuti dan headline media massa yang berbagi berita.

Screenshot_2013-01-04-21-09-51 (2)Bukan akhir pekan pun saya termasuk salah satu manusia yang tak bisa lepas dari facebook. Saya menggunkan facebook untuk mencari tahu hampir semua informasi baik itu sosial maupun berita, rasa-rasanya hanya kabar bapak-ibu di kampung saja yang belum saya ketahui lewat facebook. Bagi saya, aneh jika punya waktu luang tidak digunakan membuka laman satu itu. Dengan kata lain, saya kecanduan facebook! Entah saya sendiri yang kecanduan atau bersama sekitar 600 teman di facebook saya atau juga 1,5 Milyar warga dunia lain yang saat ini dilaporkan aktif menggunakan jejaring sosial ciptaan orang Yahudi yang beristri orang Tiongkok ini.

Senang membaca status New York Times yang kira-kira dengan bangga memperkenalkan fitur baru yang disebut virtual reality. Fitur ini memungkinkan kita menikmati pengalaman menikmati berita setingkat lebih tinggi dari sekedar menikmati video atau audio-visual. Dengan alat seperti teropong yang disebut cardboard dan ponsel pintar kita yang disisipkan ke dalamnya, kita bisa seolah-olah sedang berada di tempat dimana berita atau kejadian itu sedang berlangsung.

Senang sekali, dan sambil sesekali mengedan buang hajat saya mebuka laman virtual reality cukup lama, hingga saya lupa kalau usus besar saya sebetulnya sudah kosong. Karena itulah fitur baru menikmati berita ini disebut virtual reality atau realitas virtual dimana seolah-olah kita menyaksikan langsung suatu kejadian dan bahkan bisa menengok ke kanan-kiri-atas-bawah 360 derajat. Kira-kira ini mengadopsi teknologi yang diapakai Google Street yang sudah ada sebelumnya.

Namun, setelahnya saya terkejut membaca status facebook seorang pesohor media yang mengabarkan bahwa Majalah Detik yang terbit online telah mengakhiri hidupnya. Kabar ini berarti menambah daftar media massa yang tutup di tahun ini. Setelah sebelumnya Tabloid Bola yang legendaris belum lama tutup dan di pertengahan tahun 2015 ini Bloomberg TV Indonesia juga gulung tikar.

Semakin banyak media massa yang tutup ini karena kecenderungan zaman dimana memperoleh informasi semakin mudah, sehingga persaingan media benar-benar sengit. Informasi bisa update dari detik ke detik bukan lagi jam atau pun hari seperti dahulu. Siapa saja bisa membuat berita. Dengan modal kurang dari 200 ribu per tahun saja sudah bisa punya website .com sendiri, dengan hosting dan server gratis milik google yang sudah cukup besar.

Tak mau repot mengelola website sendiri? hanya dengan modal internet pun Anda bisa menulis di blog pribadi atau media gratisan yang makin banyak. Tanpa mau repot lagi? Anda bisa menulis status-status yang berpura-pura berlaku seperti jurnalis bahkan nabi (pembawa kabar Tuhan) di facebook. Seperti Jonru Ginting yang sejak pilpres 2014 lalu yang syafaatnya selalu ditunggu-tunggu ribuan jamaahnya di facebook.

Teknologi informasi akan selalu berkembang semakin modern. Modern di sini berarti semakin mudah dan murah. Nilai informasi tidak akan lagi eksklusif seperti yang sudah-sudah. Gelombang teknologi ini akan terus terjadi dan meninggalkan media konvensional. Sekalipun demikian, meskipun pangsa cetak dilaporkan terus merosot pun masih banyak orang yang setia pada liputan yang berbobot. Saya meyakini, bukan masalah medium atau sarana yang membuat media massa bertahan, tetapi bobot kualitas, kreatifitas, dan strategi bisnis yang benar.

Di era ke depan misalnya, bobot pemberitaan diperkirakan akan ada diolah data. Model-model pemberitaan seperti model longform journalism atau European Style dimana media massa tak hanya menampilkan berita tetapi juga dituntut untuk menampilkan data. Ambil contoh bila ada peristiwa kecelakaan di Jakarta, maka harus ada sajian dinamis data penyertanya seperti berapa jumlah rata-rata kecelakaan per tahun, kendaraan model apa, berapa korbannya, dimana saja, porsi gender, sebab-sebabnya dan lain sebagainya. Model ini menolak keberadaan media massa yang hanya menampilkan berita seperti breaking news semata, menampilkan kecepatan tanpa bobot.

Model berita berbobot ini mengadopsi era konvergensi media dimana teks, audio, dan gambar/video berkelindan menjadi satu. Satu kali klik Anda bisa memperoleh informasi sesuai keinginan kita atau setidaknya disajikan sesuai dengan bobot informasinya, apakah cukup dengan teks, apakah perlu audio yang otomatis membacakan teksnya, atau perlu video yang memberikan gambaran peristiwa, atau bahkan realitas virtual seperti yang ditawarkan New York Times.

Selain virtual reality juga tengah berkembang sejak awal tahun lalu yang disebut robo-journalism. Dimana ada artikel yang ditulis secara otoamtis oleh sistem atau robot. Artikel melalui robot ini saat ini berfungsi mengabarkan berita cepat yang didapat melalui data pasti semisal gempa bumi atau laporan perdagangan di bursa efek. Sekalipun berbentuk satu atau beberapa paragraf, artikel tersebut sebetulnya disusun melalui program komputer.

Tapi tenang, belum ada kecerdasan buatan yang bisa menggantikan peran penting jurnalis atau bahkan jurnalisme. Yang perlu diantisipasi dalam waktu ke depan oleh praktisi media adalah facebook, ya facebook yang membuat saya dan bahkan Anda kecanduan internet ini sedang mengembangkan apa yang disebut sebagai teknologi Instant Article. Teknologi ini membuat facebook tak hanya sebagai media sosial tapi juga medium yang digadang-gadangkan sangat tepat sebagai medium media massa baru. Kenapa perlu diantisipasi? kemungkinan fitur facebook ini akan menggerus jumlah kunjungan yang menjadi nafas media online. Karena sejauh ini media online masih membutuhkan kunjungan website untuk menarik iklan.

Ragam artikel dalam bentuk teks, audio, dan video akan menjadi tritunggal dan mudah diakses melalui facebook. Ulasan-ulasan media yang mengikuti uji coba Instant Article bagi pengguna iPhone di Amerika Serikat sejauh ini terdengar melebihi ekspektasi. Kecepatan, kemudahan, dan teknologi yang tepat membuat facebook layak kembali dipertimbangkan sebagai medium baru penyebaran berita di masa mendatang.

Akhirnya, sambil menaruh ponsel lalu menyiram kotoran di toilet saya berpikir baik-baik soal media massa dan juga toilet. Dari sejak zaman Adam bahkan makhluk awal evolusi, hampir kesemuanya membuang kotoran sisa makan mereka, meskipun kini caranya beda. Dulu kakek nenek saya biasa buang hajat di sungai. Sekarang saya buang hajat di toilet sambil pegang gawai.

Intinya sama, buang kotoran! Begitu juga dengan informasi, ia sudah menjadi kebutuhan sejak dulu. Dulu orang baca koran, sekarang saja mediumnya beragam ada gawai, televise, radio, dsb. Tetap intinya sama, butuh informasi! Dan selama itu pula media massa akan terus berkembang sekalipun sesekali mengempis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s