Kurban

Kurban

Secara antropologis, kurban mulanya adalah sesaji yang digunakan untuk berterimakasih, menghibur atau memohon sesuatu kepada Tuhan atau Dewa-Dewa. Konsep kurban ditemukan pada hampir setiap kebudayaan di dunia ini. Kebudayaan-kebudayaan kuno seperti bangsa Maya, misalnya, juga tercatat pernah menjadikan manusia sebagai kurban dengan cara menenggelamkan manusia ke sebuah danau suci sebagai permohonan hujan kepada Dewa-Dewa.

Al Qur’an mencatat definisi kurban awalnya sama seperti definisi kurban dalam agama-agama pagan tersebut. Yakni kurban untuk sesaji Tuhan, hal tersebut tertulis dalam surat Al Maidah, 27:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dalam ayat tersebut jelas bahwa kurban menjadi salah satu bentuk ucapan syukur dan terimakasih kepada Tuhan. Kurban Habil dan Qabil merupakan kurban berbentuk materi atau bisa disebut sesaji yang dipersembahkan untuk Tuhan. Pada waktu itu, hubungan Tuhan dan manusia masih dekat dan membumi setelah kejatuhan Adam.

Konsep kurban seperti Habil dan Qobil terus berlaku hingga Ibrahim tiba. Kesediaan Ibrahim menerima mimpi Tuhan untuk mengorbankan nyawa anaknya, bisa jadi merupakan pertanda jika berkurban nyawa manusia memang merupakan sesuatu yang dapat diterima pada zaman Ibrahim. Setelah tragedi Ismail (atau Ishak dalam konsep Nasrani dan Yahudi) Tuhan benar-benar merubah konsep kurban dari nyawa manusia atau sesaji-sesaji ke arah pemaknaan yang lebih logis. Proses mendidik Tuhan kepada nenek moyang kita tentang hakikat berkurban, berketuhanan, dan bersosial pun dimulai ketika itu.

Sejak Ibrahim, Tuhan tak lagi meminta kurban untuk menguji iman secara langsung. Tuhan sejatinya seperti yang banyak diulang-ulang dalam Al Qur’an, tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Tuhan tidak membutuhkan nyawa kita sebagi kurban. Pemahaman mengorbankan nyawa kepada Tuhan dengan dalih seperti membela Tuhan- adalah pemahaman yang justru kembali ke penafsiran yang mundur.

Kurban dan Jihad.

Dalih berkurban kepada Tuhan melalui tafsir Jihad merupakan transformasi pemaknaan Jihad yang justru jauh dari konteksnya. Banyak sekali yang menafsirkan jihad untuk pengorbanan manusia kepada Tuhan sebagai bentuk pengabdian. Penafsiran Jihad model ini adalah pemaknaan yang kembali ke zaman berketuhanan paling fundamentalis yang sudah tidak sesuai dengan zaman modern. Pemaknaan yang disertai dengan penyerangan, pembunuhan, pengorbanan diri untuk membunuh kelompok lain yang tidak sepaham, merupakan penafsiran akan Jihad dan kurban yang paling ekstrem. Sekalipun penafsiran seperti ini masih dijumpai bahkan pada zaman sahabat nabi, itu bukanlah contoh yang tepat untuk dilestarikan. Jauh dari sikap yang ingin diajarkan Nabi Muhammad tentang Islam yang rahmatan lil alamin.

Jihad sejatinya seperti yang diulang-ulang oleh Muhammad, yang paling utama adalah Jihad dalam bentuk pengembangan ilmu. Dan Jihad yang paling berat adalah Jihad melawan hawa nafsu sendiri kata Nabi Muhammad dengan tegas. Berkorban dengan nyawa kepada Tuhan, jika demikian bisa dianggap sebagi kurban, adalah aspek dimana Islam mebutuhkannya jika kita dalam keadaan diserang secara fisik, bukan menyerang.

Aspek sosiallah yang kini lebih Tuhan utamakan dalam pemaknaan tingkat tinggi kurban khususnya dalam hari raya Iedul Adha. Ditambah sebagai aspek budaya untuk mengingat-ingat sejarah baik sejarah Ibrahim maupun Muhammad sendiri. Beberapa pesan Muhammad mengindikasikan bahwa kurban merupakan keutamaan kepada sesama manusia. Ini banyak dijumpai pada beberapa ucapan-ucapan beliau.

Kini banyak yang tidak sadar dalam memaknai hari raya kurban, kurban dalam agama Islam tidak sama dengan definisi kurban dalam keyakinan agama bumi atau ajaran agama pra-Ibrahim. Dalam Islam, kurban bukanlah untuk Tuhan, tetapi untuk sesama manusia sebagai wujud nyata cinta kita kepada Tuhan. Selamat berpesta!

Advertisements

Demokrasi atau Negara Islam?

Men behind the gun

Men behind the gun

Memahami Islam bukan hanya memahami sebuah agama dengan ritual-ritualnya. Melainkan memahami kehidupan dengan segala kompleksitasnya. Memahaminya bukan sekedar doktrin atau dogma. Islam adalah the way of life. Bukan hanya sebatas agama dengan ritual-ritual sempit, melainkan sebuah gaya hidup yang kompleks. Siapa saja sejatinya bisa mengamalkan ajaran nabi Muhammad ini. Bukan hanya Anda atau saya pemegang KTP Islam dan pengucap syahadat sekaligus hanya penghafal ayat ini.

Agama pada dasarnya bukanlah laku jasmani yang bisa dilihat dengan indra, melainkan laku jiwa yang bisa pasang surut. Agama adalah proses seumur hidup dimana seseorang menemukan siapa sejatinya Dia Sang Pencipta dan siapa dirinya seutuhnya. Tidak ada yang bisa mencapai tingkat ”ahli” dalam bidang Ketuhanan. Semua sarjana bergelar agama bisa dikatakan sarjana palsu dan  mengada-ada. Semua kiai, alim ulama, pendeta, dan gelar-gelar petinggi agama lain tak menjamin seorang itu betul-betul paham beragama, karena masing-masing telah menafsirkan sesuai kemampuannya. Karena sifat agama bersumber dari teks sehingga harus ditafsirkan, ilmu agama- saya tekankan- bukanlah ilmu empiris seperti sains.

Karena orang bisa mengaku-aku beragama seperti Islam, tapi hatinya bisa saja sedang menolaknya atau hanya beragama demi sisi politik hidupnya saja, alias mencari titik nyaman hidup. Inilah sisi gelap politisasi agama yang makin nampak pada pamflet-pamfelt selebaran, mereka yang beragama dan berbicara tentang kebenaran agama demi mengejar kuasa, sadar atau tanpa mereka sadari.

Apalagi di tengah kerusakan yang menimpa bangsa ini. Yang sebagian besar mengartikannya sebagai krisis agama. Padahal jelas jika dipahami secara rasional, ini adalah krisis pendidikan, hukum, kemiskinan, yang bersumber dari krisis kepedulian dan kepemimpinan.

Konsekuensinya telah terlihat sangat besar karena kita menafsirkan kerusakan bangsa ini sebagai krisis agama. Bagaimana mungkin seorang Gayus Tambunan, misalnya, mengkorupsi hak rakyat dengan masih melekatkan identitas agamanya. Tetapi dia tidak dibenci dan dibakar rumahnya (saya tidak bermaksud menyarankan tingkah seperti ini). Bahkan konon hanya dihukum tujuh tahun penjara?

Sedang di suatu tempat nan terpinggirkan, seseorang yang tak berbuat aniaya (kriminal), hanya yakin jika ada pembawa pesan selain Muhammad yang dia percaya, harus kehilangan jiwanya dan hangus segala hartanya? Lalu dituduh ”menodai” agama? Dan banyak orang rame-rame menghujatnya tanpa malu-malu. Ini benar-benar krisis moral yang kritis sekaligus menjijikkan.

Dan isu agama ini selalu menjadi komoditi perbincangan yang menarik di kalangan mayoritas bangsa ini yang cinderung lebih mementingkan identitas. Kemudian menjadi isu-isu menarik yang ditampilkan di media massa yang hanya sekedar menebar sensasi, lalu mengambil opini-opini manusia jago bicara tanpa jago pikir. Lebih-lebih lagi opini pemimpin yang partisan ckckck

Sadar tak sadar mereka malah meracuni masyarakat dengan sosialisasi agama yang makin menyimpang dan tidak toleran. Maka isu-isu yang lebih penting tentang bagaimana membangun bangsa ini kedepannya pun terpinggirkan. Masyarakat lebih suka menonton ceramah hahahihi orang di televisi daripada diajak berfikir dan membaca buku untuk mentadzaburi ilmu agama. Bravo Media Massa! Hell…

Meski demikian, kita semua harus tetap optimis. Dalam demokrasi, jika kita mau mencoba mengkaji lebih dalam. Bisa lebih Islami dari sistem di negeri Arab asal agama ini lahir. Bayangkan saja, penelitian terbaru malah mencatatkan jika Selandia Baru yang mayoritas non Muslim, bisa dikatakan sebagai negara dengan prinsip-prinsip paling Islami di seluruh dunia. Bukan Saudi, Malaysia, atau Indonesia yang jauh diatas peringkat seratus. Apakah orang ber-KTP Islam seperti kita tidak malu?

Sedang disisi lain, penganut buta demokrasi di Indonesia pun malah berbangga dengan puja-puji Amerika jika kita adalah negara yang lebih demokrasi dari Amerika. Go hell with your prises! Banyak dari kita sekarang hanya dengan dipuji sudah besar kepala. Padahal Pak Karno yang hendak diberi bantuan Amerika saja berani bilang ”Go hell with your aid!” Demokrasi kita masih jauh dari harapan jika dipimpin pemimpin yang belum memahami demokrasi!

Karena final demokrasi memang buka puji-pujian. Melainkan proses yang terus berubah, pembeljaran dari satu masa ke masa. Ada check and trial yang terus menerus sesuai dinamika masyarakat. Demokrasi di Amerika, tentu beda dengan model demokrasi di Inggris, Swedia, Islandia, Selandia Baru bahkan dengan demokrasi di negeri ini. Orang sering menganggap konsep demokrasi sudah final, akibatnya, demokrasi sering disejajarkan dengan konsep final Islam, sehingga sering orang diharuskan memilih antara Islam atau demokrasi?

Padahal demokrasi bisa sangat Islami, toh sudah seharusnya demokrasi mengakomdasi semua kepentingan rakyatnya agar berjalan sesuai dengan keinginan masyarakat. Jika masyarakat memang meinginginkan konsep Islami hadir dalam ranah demokrasi, itu sah-sah saja. Asalkan Islam memang benar-benar ditegakkan seperti dalam Piagam Madinah yang Nabi contohkan, bukan Islam politis seperti paham mayoritas pemimpin kita.

Karena menurut saya demokrasi tidak melulu harus sekuler. Masalahnya adalah manusia indonesia selalu mengaitkan agama dengan politik, akibatnya mau tak mau banyak yang hanya beragama karena faktor politik. Padahal politik itu masih berdimensi ganda, bisa murni untuk kepentingan rakyat atau hanya kepentingan tertentu kan?

Beginilah jika bangsa telah dikuasai agamawan sok negarawan. Selain ada manusia-manusia busuk lain seperti pengusaha sok negarawan, militer sok negarawan, mahasiswa sok negarawan, dan sosok-sosok yang sok lainnya. Mereka yang sok ini adalah mereka yang bekerja bukan karena memang ingin memajukan bangsa, tapi karena tergiur dengan uang, kekuasaan, dan nafsu berkuasa golongan, kemalasan, ketimpangan berpikir, dan yang paling berbahaya adalah terjebak dalam politik identitas. Akhirnya lingkaran setan korupsi pun tak terakhiri karena politik identitas ini.

Akar masalah kisruh berbangsa ini adalah kakunya pendidikan demokrasi di Indonesia yang kini miskin wacana dan tidak berkembang. Siapa yang mengkaji permasalahan demokrasi di Indonesia lebih serius. Para ilmuwan dan pemikir lebih suka, atau lebih laku tepatnya, jika mengkaji sebab-sebab dan saling tuduh-menuduh tanpa mau bertindak untuk sebuah solusi nyata.

Tak heran wacana negara berbasis ideologi Islam kini kembali laku di tengah gonjang-ganjing politik. Dari yang malu-malu seperti partai-partai berbasis Agama (kaum munafik). Lalu organisasi yang dengan berani dan konsep penafsiran tentang negara Khilafah seperti HTI. Hingga yang paling menyimpang dan disisipi oknum seperti NII.

Tak heran, agama selalu laku di kalangan orang yang berfikir praktis. Agama dianggap menawarkan penyelesaian masalah seperti “sim salabim abra kadabra” Seolah olah jika sudah berbau dalil ayat pasti benar dengan kerangka pikir penafsiran yang pendek tanpa kajian mendalam serta kecenderungan eksklusif.

Ya beginilah mayoritas bangsa ini, malas berfikir dan bertindak. Apa? Oh ya benar… Omdong alias omong doang, kaya saya ya? Malu ah 😦

Redefinisi, dari Makna ke Praktek

MAKNA DAN FUNGSI REDEFINISI

“Makna Redefinisi adalah memikirkan kembali segala hal yang menurut kita sudah benar, ke arah yang lebih sesuai dengan semangat jaman dan cita-cita”

Akhir -akhir ini sering terdengar kata redefinisi di Iklan merek TV Sony yang menampilkan maksud redefinisi TV. Mengubah arti TV yang tadinya hanya media tontonan, menjadi Inernet TV yang juga menjadi media dengan penambahan feature internet. Maksud Iklan tersebut kurang tepat mengingat redefinisi sebetulnya hanya berlaku pada hal-hal yang maknanya saja berubah tetapi wujudnya sama. Maksud iklan tersebut adalah revolusi, karena perubahannya mencakup bentuk, fungsi, dan maknanya. Redefinisi  dimaknai sebagai memikirkan, mendefinisikan, mengartikan, memaknai, atau menafsirkan kembali pemahaman-pemahaman suatu hal yang telah ada, hingga memiliki arti yang lebih sesuai dengan kaidah waktu.

Redefinisi bukan hanya dalam penerapan ilmu pengetahuan yang sifatnya dinamis, berlaku pula pada penerapan agama dan norma-nilai yang selama ini kita anut. Segala yang ada di dunia ini bersifat tidak tetap secara definisi umum maupun pribadi. Segala sesuatu memang harus kita maknai esensinya, bukan hanya sekedar prakek saja. Sejalan dengan pemikiran filsafat untuk menggali  esensi dan ilmu pengetahuan untuk menguji kebenaran semua hal.

Saat ini makna redefinisi yang terpenting adalah penerapannya untuk mengubah mind-set kehidupan sehari-hari. Mulai dari prilaku, gaya hidup, kebiasaan, dan sudut pandang. Menjadi pemaknaan kembali yang lebih sesuai dengan konteks jaman selaras dengan cita-cita dan tujuan hidup. Redefinisi kehidupan hanya bisa kita lakukan jika kita banyak menerima input dari luar dengan lebih banyak. Dengan kata lain, kita harus belajar tidak hanya dari yang ada di sekitar kita saja, kita harus belajar dengan menembus tembok dan sekat-sekat pemikiran sempit, dan membiarkannya melewati dimensi ruang dan waktu. Belajar dari masa lalu hingga masa kini, dan dari sekitar kita hingga ujung dunia. Sehingga kita bisa menemukan definisi-definisi lain.

REDEFINISI HIDUP, APA DASARNYA?

Semangat redefinisi memang sudah ada sejak zaman awal  filsafat yang mencoba membuka pemikiran terselubung manusia. Tetapi dalam kitab agama langit, redefinisi sudah ada sejak jaman Adam diciptakan. Buah yang konon menjadi sebab kesalahan Adam dan Hawa yang disebut buah terlarang/pengetahuan/Apel/Khuldi-lah yang membuat nenek moyang kita meredefinisikan tubuh vital mereka menjadi sesuatu yang sesuai dengan fungsi dan mungkin jaman atau waktunya.Hingga memang lebih tepat juga meredefinisikan nama buah yang dimakan Adam dan Hawa sebagai buah pengetahuan.

Sejarah tentang Adam dan Hawa tadi juga harus kita redefinisikan ke arah pemahaman yang lebih tepat. Tanpa Adam dan Hawa kita tidak mungkin hidup di bumi ini, jadi berterima kasih kepada Adam dan Hawa seharusnya menjadi kewajiban bagi semua penganut agama langit. Tanpanya, kita tidak akan pernah mengecap manisnya apel bumi.

Jika secara historis saja redefinisi memang sudah ada, apakah memang sifat dari redefinisi ini merupakan kehendak Tuhan bagi setiap manusia di bumi? Atau dalam konteks makna beragama, ini bisa jadi adalah Sunatullah yang berupa hikmah atau ilmu yang memang hanya bisa dipahami oleh orang yang mau berfikir. Karena makna redefinisi erat kaitannya dengan memikirkan kembali.

Coba kita meresapi ayat ini…
… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...” QS.Ar Ra’d : 11

kata mengubah dalam ayat tersebut bisa kita maknai maksudnya menjadi “mengubah ke arah yang lebih tepat dan lebih baik” dari yang awalnya dianngap oleh “kaum” (orang kebanyakan) memang sudah benar. Jadi mungkinkah makna mengubah disini juga boleh diartikan untuk memikirkan kembali atau boleh jadi meredefinisi.

SEMANGAT REDEFINISI, AWAL DARI TINDAKAN DAN SOLUSI MASALAH

Redefinisi adalah hal yang paling awal yang harus menjadi bahan baku perubahan. Kita harus meredefinisi segala hal, ya, segala hal yang ada di sekitar kita menjadi definisi yang lebih tepat lagi. Jika kita mendefinisikan hidup adalah hidup a la orang kebanyakan, maka sudah tentu kita tidak akan bisa mengubah hidup lebih baik. Redefinisi hidup bisa jadi berbeda-beda, yang pastinya hidup harus diredefinisi ke arah yang lebih baik. Sesuai dengan idealisme atau cita-cita masing-masing orang.

Satu hal yang paling penting setelah memahami redefinisi adalah mengaplikasikannya sebagai solusi suatu masalah. Masalah sering didefinisikan sebagai hal yang merepotkan, akibat dari kesalahan, dan  harus dihindari. Padahal jika kita meredefinisikan masalah ke arah yang lebih tepat. Maka masalah bisa didefinisikan sebagai sebuah kunci untuk menjadi lebih maju, tantangan, atau bahkan anugrah. Sehingga setiap masalah akan dijalani dengan semangat dan tanpa kegelisahan. Groge Bernard Shaw pernah bilang

“Life is like beautiful melody, only the lyrics are messed up”.

Shaw telah meredefinisi makna masalah kehidupan memahaminya sebagai sesuatu yang seindah melodi lagu yang meskipun liriknya amat sangat buruk tetapi musiknya bagus. Sehingga bagi Shaw, esensi hidup bukanlah segala masalah sehari-hari yang meskipun itu tidak menyenangkan tetapi ritme yang ia pandang indah. Dan tentang kehidupan, mari  mengacu pada proverb ini:

“life is never been easy, but always full of fun”.

Bahwa hidup memang tidak pernah mudah, tetapi selalu menyenangkan. Sehingga boleh jadi seperti kata orang  bijak bahwa

“Life is by problem, if there is no problem, there is no life”

Kalimat tadi harus menjadi pegangan kita, untuk meredefinisi kehidupan yang sudah ada menjadi lebih baik dan tepat, meskipun banyak tantangannya.

Jadi, mari kita meredefinisikan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita, mulai dari yang paling penting seperti definisi “kehidupan” hingga yang berupa pemahaman-pemahaman seperti definisi “masalah”.

SEMANGAT PERUBAHAN!

Saat Malaikat Bersedih

“Alhamdulillah,” seru Malaikat Penjaga Rumput, mensyukuri segala karunia Allah. Kemudian ia berdoa kepada Allah, agar semoga segala yang telah lewat ada hikmahnya, semoga rumput-rumput di negeri ini tetap hijau sehingga dapat memberi makan ternak-ternak manusia, dan semoga setiap makhluk-makhluk Allah yang bernaung di bawah rumput itu senantiasa diberkahi Allah. Selesai berdoa, ia membaca Bismillah dan mulai mengepakkan sayap-sayapnya untuk bersiap-siap terbang menuju Arsy Ke-7, menghadap Illahi Rabbi. Namun, samar-samar sesuatu berseru memanggil namanya, dan terasa hawa panas mendekat padanya.

“Ya Malaikat’i, saudara lamaku, kenapa engkau terburu-buru?”  seru Setan yang datang mendekati  Malaikat Penjaga Rumput.

“Ya, banyak tugas dari Rabbi yang belum selesai, saudaraku,” jawab Malaikat Penjaga Rumput dengan ramah. Dan karena keramahannya, ia turunkan sayap-sayapnya yang sudah ia kembangkan tadi. Demi menghormati Setan yang akan merasa gerah jika terkena semerbak wangi kasturi pada tubuhnya.

“Ada yang dapat saya bantu untukmu, Ya Syaitan?” tanya Malaikat Penjaga Rumput dengan ramah.

“Ah, tentu tidak sahabatku, aku tahu engkau makhluk yang sibuk, dan aku kasihan pada makhluk-makhluk Allah seperti kalian ini.” kata Setan sambil tersenyum. Senyum yang sangat sulit diartikan.

“Kasihan akan apakah, Ya Syaitan?” tanya Malaikat Penjaga Rumput sambil membalas senyum Setan. Berebeda dengan senyum Setan, Senyum Malaikat Penjaga Rumput lebih mudah diartiakan. Senyum hamba Allah yang taat dan senantiasa berdzikir kepada Rabb-nya.

“Tiap hari engkau mengurusi tetek bengek ini itu, engkau capek-capek terbang bolak-balik dari kutub utara hingga selatan, dari bumi hingga langit ke-7, tetapi kau tidak naik-naik pangkat, tetap saja menjadi Malaikat, pesuruh Allah.” jawab Setan panjang lebar, berlahan-lahan setan mulai menampakkan wajah yang sesungguhnya.

“Ya Syaitan, kasihan aku padamu, hakikat kita ini memang berbeda, tugas kita pun berbeda, engkau dari api, aku dari cahaya.” jawab Malaikat Penjaga Rumput penuh retorika. “Kita punya takdir masing-masing.”

“Manusia dan setan paling bodoh pun tahu itu! Takdir kita berbeda, aku di neraka dan engkau di surga. Tapi apa yang engkau peroleh nanti Malaikat? Selain surga yang memang sudah menjadi rumahmu?”

“Ridha Allah, aku takut akan Azab Allah yang maha pedih di kemudian hari, jika kita ini tidak taat dan patuh pada-Nya, Dia yang Maha Luhur lagi Maha Besar.”

“Tapi bodoh sekali engkau, tidak bisakah engkau selektif dalam menjalankan tugasnya? Engkau Malaikat… Malaikat apakah engkau ini?” tanya Setan yang pura-pura tidak tahu tugas Malaikat Penjaga Rumput.

“Ya Syaitan, saya Malaikat Penjaga Rumput, lihatah rumput-rumput itu, bukankah indah? Kami yang menjaganya hingga tumbuh besar dan siap diamanfaatkan, dan tugasku Alhamdulillah sudah selesai, barusan Kambing datang dan memakan rumput yang aku jaga.” jawab Malaikat berapi-api mengenalkan dirinya.

“Ya, itu tugas bodoh, itu hanya akan menguntungkan manusia-manusia itu pada akhirnya, bukankah kambing itu milik manusia?”

“Benar Ya Syaitan, aku menjalankan perintah Allah untuk menjaga Rumput ini, dan aku juga mengharapkan manusia bahagia di dunia, jika kambing mereka menjadi gemuk-gemuk lantaran rumput yang kujaga, tentunya Mereka akan berucap syukur pada Allah, kan?”

“Ya, dan apa yang akan engkau peroleh Malaikat Penjaga Rumput? Hanya kotoran kambing dari rumput yang kau jaga, kan?”

“Sungguh, aku memperoleh Ridha dan karunia yang tak terhingga dari Allah, engkau tak akan tahu itu.”

“Ya Malaikat’i, tahukah engkau jika engkau ini melakukan perbuatan yang sia-sia?”

“Maksudmu?” Tanya Malaikat heran, “Sia-sia bagaimana?”

“Engkau hamba yang taat pada Allah, tapi engkau menjaga apa-apa milik manusia yang bahkan mereka sendiri tidak percaya padamu?” jawab Setan dengan senyum, senyum yang sangat sulit diartikan.

“Ya Syaitan, aku menjalankan segala perintah Allah Ya Rabbal Alamin dengan ikhlas, dari lubuk hati yang terdalamku.” jawab Malaikat dengan santun.

“Ya, mengapa engkau tiada protes pada Allah-mu itu? Buat apa kamu susah-susah menjaga segala yang manusia miliki, toh mereka tidak percaya padamu kan?”

“Apa yang engkau maksud itu Syaitan?” tanya Malaikat terheran-heran.

“Di kitab terakhir yang diturunkan kepada si Muhammad, disebutkan hanya 10 macam bangsa sejenis engkau ini. seperti si Pencabut Nyawa agar mereka yakin akan si maut, ada si Penjaga Kubur, Surga, dan Neraka-ku agar mereka yakin akan kehidupan sesudah kematian, ada di Pencatat Amal Baik dan Buruk supaya mereka sadar bahwa segala sesuatu dicatat secara adil, dan masih banyak lagi yang bahkan sengaja tidak Allah sampaikan agar manusia mau berfikir. Tapi kau lihat saat ini, banyak dari mereka yang tidak percaya pada makhluk jenis kalian ini.”

“Apa yang engkau maksud Syaitan?” tanya Malaikat dengan lebih terheran-heran lagi.

“Maksudku, saat ini manusia banyak yang tidak takut akan kematian, tidak yakin akan hidup sesudah kematian, melakukan tindakan-tindakan keji yang seolah-olah tidak ada yang mencatat amaliah mereka. Sadarlah Malaikat, engkau ini makhluk yang senantiasa tunduk dan mau sujud pada Manusia, pada makhluk bodoh yang tiada percaya padamu. Naiklah kamu ke Arsy sana, proteslah pada Allah-mu!” seru Malaikat berapi-api.

“Ya Syaitan, aku tahu semua ini karena engkau yang membisiki manusia ke jalan yang sesat.” kata Malaikat Penjaga Rumput dengan sedih.

“Eitsss, tunggu dulu! Aku, engkau dan Allah sudah sepakat, jika manusia itu menjadi makhluk yang diberi kebebasan. Tidak seperti kita, kupinjam istilah manusia untuk kita tentang “diprogram dan dipatenkan” menjadi baik dan buruk! Aku bagian buruknya dan engkau bagian baiknya, manusia itu di beri akal dan hati supaya bisa berfikir. Tapi kebanyakan manusia itu sesat karena tak mau belajar, mereka itu malas! Jangan salahkan aku yang membisikki mereka untuk sesat pada Allah, bukankah engkau juga menjadi makhluk yang membantu mereka agar taat pada perintahnya? Bahkan engkau mau mendoaakan mereka, engkau sungguh bodoh mau tunduk dan sujud pada manusia yang tidak percaya padamu, sana naik ke Arsy dan protes pada Allah!” seru Setan dengan sumringah.

“Ya Syaitan, bukannya aku tidak pernah protes, bukankah manusia sudah mencatat di Kitab-nya Muhammad ‘Wahai Tuhan kami! Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami,padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-henti, sedangkan makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu, nescaya akan bertengkar satu dengan lain, akan saling bunuh-membunuh kerana berebut untuk menguasai kekayaan alam yang terlihat di atasnya dan terpendam di dalamnya, sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Engkau ciptakan itu.'” kata Malaikat Penjaga Rumput mengutip suatu ayat Kitab.

“Ya, benar, tapi engkau kena marah Allah kan, engkau dibilang sok tahu?” kata Setan nyengir.

“Bukan kena marah, Allah menasehati saya, “Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku. Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepadanya, maka bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah, kerana Aku melarang hamba-Ku beribadah kepada sesama makhluk-Ku.” jawab Malaikat tenang.

“Itu dulu, tapi sekarang laen! Manusia sudah tak ada yang mau percaya padamu. Padahal engkau ini agung, wajib manusia beriman padamu. Kata teori-teori manusia. Engkau ini wajib di-imani setelah mereka beriman kepada Allah. Tapi, nyatanya mereka cuma beribadah kepada Allah, karena mereka cuma beriman pada-Nya. Padamu? Manusia sudah tidak percaya, tidak beriman! Lihat buktinya, anak-anak yang diajari beriman pada Malaikat tetep aja buang sampah sembarangan dan doyan nyolong, orang tuanya tetep aja korupsi, kakak-kakaknya tetep aja judi, kakek neneknya pada mbabatin hutan raya, buyutnya nyebarin limbah kemana-mana. Itu bukti jika mereka memang sudah ngak percaya kalau semua ada yang ngawasi. Aku ulangi ya, mereka itu ngak beriman pada kamu. Eeee kamunya masih aja mau sujud pada mereka, malah kamu rela mendoakan mereka!” kata Setan panjang lebar dengan penuh ekspresif.

“Bukan, bukan begitu Syaitan. Manusia begitu karena engkau telah membisikki mereka ke jalan yang sesat.” jawab Malaikat Penjaga Rumput lebih ekspresif, bulir-bulir kesedihan nampak merembes di mata bening Malaikat Penjaga Rumput. Di dunia yang sebenarnya, atau di dunia manusia sudah terjadi angin yang sangat kencang.

“Bukan begitu bagaimana? Nyata sekali mereka tidak percaya padamu, mereka tidak beriman! Mengapa kamu masih juga menghormati mereka,  sana pergi ke Arsy sana protes sama Allah-mu!” kata Setan dengan nada tinggi dan senyum yang sangat sulit diartikan.

Malaikat Penjaga Rumput diam, matanya berkaca-kaca, sedih bahwa dirinya telah dikhianati oleh Manusia yang atas perintah Allah-nya sendiri sangat ia hormati. Sayapnya kembali ia kepakkan, bersiap-siap naik ke Arsy ke-7 untuk protes pada Illahi. Hati Malaikat Penjaga Rumput sangat terguncang dan sedih. Hingga hatinya berhenti berdzikir pada Allah, hatinya setengah percaya dan tidak percaya mencerna kata-kata Setan yang baru saja ia dengarkan. Dengan perasaan terguncang terbanglah ia naik ke Arsy ke-7.

Setan terlempar menjauh dari Malaikat Penjaga Rumput yang memancarkan wangi kasturi, membuat tubuhnya kembali menjadi kambing bertanduk yang tadinya memang memakan rumput yang di jaga Malaikat Penjaga Rumput. Dia berlari menjauh dari tempat dimana ia menghasut Malaikat Penjaga Rumput, karena tempat itu kini terjadi bencana dasyat. Dia tersenyum dan tertawa mengembik karena skenarionya berhasil, kambing itu adalah Setan jenis Setan Pengadu Domba.  Bukan main tugas setan satu ini, selain mengadu domba sesama manusia, dia juga bisa mengadu domba Manusia dengan Malaikat.

Malaikat Penjaga Rumput yang sedih terbang ke Arsy ke-7. Tak terasa bulir air mata menetes dari mata jeli-nya dan jatuh ke bumi. Di tempat jatuhnya air mata itu telah terjadi bencana maha dasyat, hujan lebat dan angin ribut yang membuat banyak manusia panik dan berteriak teriak. Di antara mereka banyak yang mengeluarkan kata-kata buruk. “Setan-Asu-bajingan-Jin-iblis…” Hanya sedikit dari mereka yang mengucap istighfar. Nyatalah manusia memang tiada beriman, pada Allah tidak pun pada Malaikat.

Sastrawan

Apa Tugas sastrawan sebagai Khalifah Allah

Al Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang update pada perkembangan zaman. Karena contain Al Qur’an sangat lengkap di bandingkan kitab-kitab sebelumnya. Satu hal yang menarik saya adalah ayat tentang Sastrawan yang merupakan salah satu pekerjaan mulia jika ditekuni secara mendalam dengan konsep yang baik menurut Islam (Islami). Berikut QS.Asy Syu’ara ayat 224-227 yang bila diterjemahkan secara puitis oleh Ali  Hasjmy dalam bukunya

“Apa Tugas Sastrawan Sebagai Khalifah Allah?”

Para Sastrawan,

Pengikut mereka bandit dan petualang,
Berdiwana dari lembah ke lembah,
Bicara tanpa kerja,

Kecuali sastrawan beriman,
Yang beramal bakti,
Senantiasa Ingat kan Ilahi
Mereka bebas setelah
tertindas
QS. Asy Syu’ara 224-227

Buku Ali  Hasjmy itu tidak sengaja saya temukan di tumpukan perpustakaan SMA N 3 Sukoharjo dengan kondisi tidak terawat. Saya hanya sempat membaca dan belum sempat meresensinya. Di Amazon.com bisa kita lihat cover-nya. Namun sayangnya tidak ada yang meresensi dan saya juga belum punya uang untuk membelinya…

Berikut link di Goodreads.com mengenai buku tsb:Goodreads.com

Ayat-Ayat Kematian

Maka, mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan.
Padahal ketika itu kamu melihat.
Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tapi kamu tiada melihat.
Maka, mengapa jika kamu tiada dikuasai.
Kamu tiada bisa mengembalikan nyawa itu, jika kamu adalah orang-orang yang benar.
Adapun jika dia termasuk orang yang didekatkan.
Maka dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta surga kenikmatan.
Dan adapun jikadia temasuk golongan kanan.
Maka keselamatan bagimu karena kamu adalah golongan kanan.
Dan adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan dan juga sesat.
maka dia mendapat hidangan air mendidih.
Dan dibakar di dalam neraka.
Sesungguhnya ini adalah suatu keyakinan yang benar adanya.
Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Besar.

QS. Al Waqi’ah: 83-86

Hikmah Kematian

Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?

Seperti yang tercantum dalam ayat “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57) tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.

Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.

Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)

Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!

Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.

Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.

Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.

Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda. Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda.

Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.

Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.

Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.

Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi?

Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting

Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya – yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.

Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.

Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:

Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16)

Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.