Mari Benahi Televisi Kita

Suatu kali Presiden Jokowi mengeluhkan program siaran televisi dan memanggil beberapa ‘top leader’ stasiun televisi kita untuk diajak berdiskusi di Istana. Itu seharusnya menjadi momentum yang tak boleh dilewatkan untuk memperbaiki sistem siaran pertelevisian di Indonesia yang sudah didiagnosa sangat amburadul.

Lho, kok amburadul? Ya. Karena tiap hari, jutaan penduduk Indonesia melihat televisi nasional tidak nasionalis alias tidak mencerminkan Indonesia. Televisi mainstream hanya mencerminkan orang-orang egois Jakarta, gaya hidup Jakarta, segala sesuatu tentang Jakarta. Bahkan kemacetan di Jakarta pun setiap hari ditayangkan ke seluruh pelosok nusantara lewat televisi nasional.

Konten televisi mainstream di Indonesia juga sangat jauh dari prinsip keberagaman. Hampir semua sama model tayangannya. Bahkan dituding tidak mendidik seperti yang dikeluhkan Presiden Jokowi.

Padahal, kita sudah punya Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang selayaknya dipahami penyedia dan penyebar konten. NaDSC00778 (2)mun, lagi-lagi peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ‘sangat tidak bisa diandalkan’ karena hampir-hampir tak punya daya selain menegur siaran yang menyimpang.

Lucunya, lagi-lagi yang disalahkan adalah rating Nielsen. Padahal ini bukan salah Nielsen sebagai tools yang menyajikan data survey masyarakat. Ini adalah salah pemerintah yang sejak lama mengabaikan dunia penyiaran.

Secara psikologis, Orde Reformasi memang lebih berhati-hati dalam segi pengaturan media. Tak dapat dipungkiri, semua ini terjadi lantaran masih traumanya kita pada keberkuasaan Orde Baru dalam mengontrol media massa.

Selama ini Pemerintah, baik DPR (Komisi I), Kemkominfo, dan KPI abai pada inisiatif untuk menjaga hakikat utama media yakni KEBERAGAMAN PEMILIK DAN KONTEN. Hasil riset Nielsen harusnya jadi acuan bahwa memang ada yang salah dengan televisi kita yang disebabkan oleh kepemilikian yang mengerucut (konglomerasi media) yang mengakibatkan keseragaman konten.

Ini disebabkan karena sistem siaran televisi kita masih terpusat. Pemodal emoh keluar duit untuk mendirikan televisi regional. Undang-undang televisi berjaringan dan kepemilikan pun terang-terangan didukung dan diarahkan pada sistem monopoli televisi kepada pemain besar atau yang sering disebut konglomerasi media.

Konglomerasi media merupakan dosa terbesar yang menciderai prinsip media massa. Sejatinya, media massa yang sehat yakni diversity of content and ownership alias keberagaman konten dan kepemilikan. Prinsip ini diabaikan pemerintah sejak zaman Suharto berkuasa. Semua tahu jika televisi adalah medium paling sempurna dari propaganda. Jadi, saat kepemilikan media semakin mengerucut maka keberagaman konten sudah bisa dipastikan makin minim.

Setidaknya, yang pasti dan harus segera dilakukan adalah memaksa televisi nasional segera melakukan siaran berjaringan dengan konten yang lebih proporsional. P3SPS Bab XXI Pasal 52 ayat 3 menerangkan bahwa porsi siaran lokal harus diupayakan mencapai 50% dari seluruh siaran. Namun, berjaringan saja susah apalagi diminta membuat tayangan yang proposional. Padahal sudah ada aturannya. Aneh kan?

Aneh karena selama ini negara dianggap tidak hadir mengatur bahkan pemerintah cenderung tidak dianggap. Ambil contoh program “Empat mata” yang dicabut izinnya tapi kemudian diganti dengan “Bukan Empat Mata” yang sama. Itu sebetulnya kasus penghinaan luar biasa pada eksistensi lembaga negara dan menciderai akal sehat. Sehingga salah satu upaya memperkuat KPI adalah memperkuat sisi hukum KPI. Setidaknya dengan memperluas cakupannya dari sekadar sapa tegur-menegur menjadi pencabutan izin siaran yang lebih bertaji.

Selain itu, adopsi teknologi kita benar-benar tertinggal jauh. Bayangkan, tingkat kemuduran kita yang disebabkan oleh konglomerasi media tadi ditambah dengan adopsi teknologi yang buruk. Maka jangan heran kita hanya punya konten yang dikelola tidak serius karena mengejar rating dan share.

Demi pendapatan melalui iklan yang seharinya bernilai milyaran rupiah ini televisi jarang punya program mendidik saat jam prime time (jam tayang sibuk) karena yang dikejar adalah mayoritas selera penontonnya.

Jangan salahkan stasiun televisi hanya berpusat di Jakarta. Lha, karena teknologi kita hanya mampu sampai segitu. Aturan sebaran siaran televisi benar-benar dilanggar. Medium berupa “frekuensi” yang kini menjadi jalur sebaran televisi adalah sumber daya alam yang terbatas (hanya 24 kanal) inilah yang membuat pemain besar selalu memenangkan ketersediaan kanal di wilayah lokal atau regional.

Sudah saatnya kita beralih pada teknologi digital dimana siaran televisi lebih dinamis dengan kanal yang melimpah pula. Namun, adopsi ini nampaknya hanya secepat siput. Lobi-lobi media televisi besar disinyalir sangat berkuasa menghambat adopsi ini. Lantas sampai kemana digitalisasi televisi kita? Revisi UU Penyiaran di meja DPR dari periode lalu masih juga belum jalan.

Jadi, jika Pak Jokowi mengeluhkan mutu siaran televisi kita rendah itu karena swasta yang memang tangguh. Untuk mengubahnya secara adil dan bijaksana tentu butuh waktu lama. Kita tidak akan bisa mengejar mutu siaran semaju (beragam) seperti Amerika Serikat, misalnya. Tapi pemerintah bisa meniru cara Inggris memajukan dunia pertelevisiannya bahkan hingga mencapai kelas yang diterima seluruh dunia.

Dulu saat publik Inggris dan Eropa dimonopoli oleh Murdoch lewat jaringan TV Digital BSkyB, Inggris memilih memajukan konten siaran TV BBC. Sekarang ada banyak kanal seperti BBC One, Two, Three, Cbeebies, News, World, dan Knowladge (akan ganti jadi BBC Earth).

Nah, Pak Jokowi seharusnya tidak perlu mengeluh dengan konten televisi swasta macam jaringan MNC, Trans dkk. Dari segi bisnis, mereka itu udah maju dan bermain cukup fair karena peraturan kita yang memang liberal sejak semula. Harusnya meniru Inggris dengan memperbaiki mutu siaran televise publik kita. Apa lagi kalau bukan televisi publik tercinta, TVRI.

Bicara TVRI, sebetulnya sudah punya kanal digital yang bisa dinikmati perangkat TV digital. Kanalnya pun beragam seperti TVRI Nasional, TVRI Budaya, TVRI Olahraga, dan beberapa TVRI digital daerah / regional yang pondasinya sudah bagus.

Di Inggris, masyarakat ditarik iuran yang beragam untuk berlangganan TV dengan fasilitasnya (TV, Telephone, Konsol game, DVR, dsb) sehingga ada partisipasi publik dalam penentuan konten dan tentunya publik menikmati tayangan bebas iklan komersial di saluran BBC. Model ini bisa ditiru, namun paling mudah adalah membiayai TVRI dari APBN.

Gabungkan TVRI dengan kementrian untuk produksi konten, seperti Kemendikbud untuk produksi konten budaya, Kemenpora untuk konten olahraga, Kemendiknas untuk konten pendidikan dan kementrian lainnya. Sehingga TVRI bisa fokus pada adopsi teknologi.

Selama ini TVRI dianggap tak menarik karena lemah dalam hal konten. Konten TVRI dianggap jadul dan terbelakang zaman. Sudah saatnya para ahli media berkumpul. Ada banyak orang yang saya kira punya wawasan luas dalam bidang televisi yang punya visi jelas dibandingkan orang-orang DPR yang lambat dalam membuat kebijakan.

Saya berharap ada lembaga khusus yang berisi praktisi yang tahu aspek teknologi, kreatif, hukum, dan idealisme penyiaran. Kumpulkan mereka untuk memperbaiki siaran televisi kita. Ada Yanuar Nugraha yang sudah bisa memetakan masalah dan solusi televisi di Indonesia lewat penelitian-penelitiannya, Dandhi Dwi Laksono yang paham konten dokumenter idealis, lembaga idealis macam Remotivi dan orang-orang yang harus didengarkan konsep mereka tentang televisi Indonesia harus bagaimana dan seperti apa.

Tak seperti pemerintahan lalu yang abai pada hal mendasar yang menjadi konsumsi harian masyarakat. Kini, pemerintah terlihat benar-benar berupaya mencari jalan untuk mengurai amburadulnya dunia pertelevisian negeri kita. Semoga tulisan ini bisa sedikit bisa mengurainya.

Original article

Kembang (Kempis) Media Massa

Original Article

Minggu pagi, seperti biasa sambil buang hajat saya membuka laman facebook dari gawai untuk mendapatkan informasi baru dan terbaru. Ada status teman yang bahagia setelah cek kehamilan, ada yang membagi perspektif positif sunni-syiah, utak-atik banjir Singkil dengan perobohan Gereja, ada yang komentar di video lucu, dan selebihnya kebanyakan di akun facebook saya adalah status pesohor yang saya ikuti dan headline media massa yang berbagi berita.

Screenshot_2013-01-04-21-09-51 (2)Bukan akhir pekan pun saya termasuk salah satu manusia yang tak bisa lepas dari facebook. Saya menggunkan facebook untuk mencari tahu hampir semua informasi baik itu sosial maupun berita, rasa-rasanya hanya kabar bapak-ibu di kampung saja yang belum saya ketahui lewat facebook. Bagi saya, aneh jika punya waktu luang tidak digunakan membuka laman satu itu. Dengan kata lain, saya kecanduan facebook! Entah saya sendiri yang kecanduan atau bersama sekitar 600 teman di facebook saya atau juga 1,5 Milyar warga dunia lain yang saat ini dilaporkan aktif menggunakan jejaring sosial ciptaan orang Yahudi yang beristri orang Tiongkok ini.

Senang membaca status New York Times yang kira-kira dengan bangga memperkenalkan fitur baru yang disebut virtual reality. Fitur ini memungkinkan kita menikmati pengalaman menikmati berita setingkat lebih tinggi dari sekedar menikmati video atau audio-visual. Dengan alat seperti teropong yang disebut cardboard dan ponsel pintar kita yang disisipkan ke dalamnya, kita bisa seolah-olah sedang berada di tempat dimana berita atau kejadian itu sedang berlangsung.

Senang sekali, dan sambil sesekali mengedan buang hajat saya mebuka laman virtual reality cukup lama, hingga saya lupa kalau usus besar saya sebetulnya sudah kosong. Karena itulah fitur baru menikmati berita ini disebut virtual reality atau realitas virtual dimana seolah-olah kita menyaksikan langsung suatu kejadian dan bahkan bisa menengok ke kanan-kiri-atas-bawah 360 derajat. Kira-kira ini mengadopsi teknologi yang diapakai Google Street yang sudah ada sebelumnya.

Namun, setelahnya saya terkejut membaca status facebook seorang pesohor media yang mengabarkan bahwa Majalah Detik yang terbit online telah mengakhiri hidupnya. Kabar ini berarti menambah daftar media massa yang tutup di tahun ini. Setelah sebelumnya Tabloid Bola yang legendaris belum lama tutup dan di pertengahan tahun 2015 ini Bloomberg TV Indonesia juga gulung tikar.

Semakin banyak media massa yang tutup ini karena kecenderungan zaman dimana memperoleh informasi semakin mudah, sehingga persaingan media benar-benar sengit. Informasi bisa update dari detik ke detik bukan lagi jam atau pun hari seperti dahulu. Siapa saja bisa membuat berita. Dengan modal kurang dari 200 ribu per tahun saja sudah bisa punya website .com sendiri, dengan hosting dan server gratis milik google yang sudah cukup besar.

Tak mau repot mengelola website sendiri? hanya dengan modal internet pun Anda bisa menulis di blog pribadi atau media gratisan yang makin banyak. Tanpa mau repot lagi? Anda bisa menulis status-status yang berpura-pura berlaku seperti jurnalis bahkan nabi (pembawa kabar Tuhan) di facebook. Seperti Jonru Ginting yang sejak pilpres 2014 lalu yang syafaatnya selalu ditunggu-tunggu ribuan jamaahnya di facebook.

Teknologi informasi akan selalu berkembang semakin modern. Modern di sini berarti semakin mudah dan murah. Nilai informasi tidak akan lagi eksklusif seperti yang sudah-sudah. Gelombang teknologi ini akan terus terjadi dan meninggalkan media konvensional. Sekalipun demikian, meskipun pangsa cetak dilaporkan terus merosot pun masih banyak orang yang setia pada liputan yang berbobot. Saya meyakini, bukan masalah medium atau sarana yang membuat media massa bertahan, tetapi bobot kualitas, kreatifitas, dan strategi bisnis yang benar.

Di era ke depan misalnya, bobot pemberitaan diperkirakan akan ada diolah data. Model-model pemberitaan seperti model longform journalism atau European Style dimana media massa tak hanya menampilkan berita tetapi juga dituntut untuk menampilkan data. Ambil contoh bila ada peristiwa kecelakaan di Jakarta, maka harus ada sajian dinamis data penyertanya seperti berapa jumlah rata-rata kecelakaan per tahun, kendaraan model apa, berapa korbannya, dimana saja, porsi gender, sebab-sebabnya dan lain sebagainya. Model ini menolak keberadaan media massa yang hanya menampilkan berita seperti breaking news semata, menampilkan kecepatan tanpa bobot.

Model berita berbobot ini mengadopsi era konvergensi media dimana teks, audio, dan gambar/video berkelindan menjadi satu. Satu kali klik Anda bisa memperoleh informasi sesuai keinginan kita atau setidaknya disajikan sesuai dengan bobot informasinya, apakah cukup dengan teks, apakah perlu audio yang otomatis membacakan teksnya, atau perlu video yang memberikan gambaran peristiwa, atau bahkan realitas virtual seperti yang ditawarkan New York Times.

Selain virtual reality juga tengah berkembang sejak awal tahun lalu yang disebut robo-journalism. Dimana ada artikel yang ditulis secara otoamtis oleh sistem atau robot. Artikel melalui robot ini saat ini berfungsi mengabarkan berita cepat yang didapat melalui data pasti semisal gempa bumi atau laporan perdagangan di bursa efek. Sekalipun berbentuk satu atau beberapa paragraf, artikel tersebut sebetulnya disusun melalui program komputer.

Tapi tenang, belum ada kecerdasan buatan yang bisa menggantikan peran penting jurnalis atau bahkan jurnalisme. Yang perlu diantisipasi dalam waktu ke depan oleh praktisi media adalah facebook, ya facebook yang membuat saya dan bahkan Anda kecanduan internet ini sedang mengembangkan apa yang disebut sebagai teknologi Instant Article. Teknologi ini membuat facebook tak hanya sebagai media sosial tapi juga medium yang digadang-gadangkan sangat tepat sebagai medium media massa baru. Kenapa perlu diantisipasi? kemungkinan fitur facebook ini akan menggerus jumlah kunjungan yang menjadi nafas media online. Karena sejauh ini media online masih membutuhkan kunjungan website untuk menarik iklan.

Ragam artikel dalam bentuk teks, audio, dan video akan menjadi tritunggal dan mudah diakses melalui facebook. Ulasan-ulasan media yang mengikuti uji coba Instant Article bagi pengguna iPhone di Amerika Serikat sejauh ini terdengar melebihi ekspektasi. Kecepatan, kemudahan, dan teknologi yang tepat membuat facebook layak kembali dipertimbangkan sebagai medium baru penyebaran berita di masa mendatang.

Akhirnya, sambil menaruh ponsel lalu menyiram kotoran di toilet saya berpikir baik-baik soal media massa dan juga toilet. Dari sejak zaman Adam bahkan makhluk awal evolusi, hampir kesemuanya membuang kotoran sisa makan mereka, meskipun kini caranya beda. Dulu kakek nenek saya biasa buang hajat di sungai. Sekarang saya buang hajat di toilet sambil pegang gawai.

Intinya sama, buang kotoran! Begitu juga dengan informasi, ia sudah menjadi kebutuhan sejak dulu. Dulu orang baca koran, sekarang saja mediumnya beragam ada gawai, televise, radio, dsb. Tetap intinya sama, butuh informasi! Dan selama itu pula media massa akan terus berkembang sekalipun sesekali mengempis.

Kurban

Kurban

Secara antropologis, kurban mulanya adalah sesaji yang digunakan untuk berterimakasih, menghibur atau memohon sesuatu kepada Tuhan atau Dewa-Dewa. Konsep kurban ditemukan pada hampir setiap kebudayaan di dunia ini. Kebudayaan-kebudayaan kuno seperti bangsa Maya, misalnya, juga tercatat pernah menjadikan manusia sebagai kurban dengan cara menenggelamkan manusia ke sebuah danau suci sebagai permohonan hujan kepada Dewa-Dewa.

Al Qur’an mencatat definisi kurban awalnya sama seperti definisi kurban dalam agama-agama pagan tersebut. Yakni kurban untuk sesaji Tuhan, hal tersebut tertulis dalam surat Al Maidah, 27:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dalam ayat tersebut jelas bahwa kurban menjadi salah satu bentuk ucapan syukur dan terimakasih kepada Tuhan. Kurban Habil dan Qabil merupakan kurban berbentuk materi atau bisa disebut sesaji yang dipersembahkan untuk Tuhan. Pada waktu itu, hubungan Tuhan dan manusia masih dekat dan membumi setelah kejatuhan Adam.

Konsep kurban seperti Habil dan Qobil terus berlaku hingga Ibrahim tiba. Kesediaan Ibrahim menerima mimpi Tuhan untuk mengorbankan nyawa anaknya, bisa jadi merupakan pertanda jika berkurban nyawa manusia memang merupakan sesuatu yang dapat diterima pada zaman Ibrahim. Setelah tragedi Ismail (atau Ishak dalam konsep Nasrani dan Yahudi) Tuhan benar-benar merubah konsep kurban dari nyawa manusia atau sesaji-sesaji ke arah pemaknaan yang lebih logis. Proses mendidik Tuhan kepada nenek moyang kita tentang hakikat berkurban, berketuhanan, dan bersosial pun dimulai ketika itu.

Sejak Ibrahim, Tuhan tak lagi meminta kurban untuk menguji iman secara langsung. Tuhan sejatinya seperti yang banyak diulang-ulang dalam Al Qur’an, tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Tuhan tidak membutuhkan nyawa kita sebagi kurban. Pemahaman mengorbankan nyawa kepada Tuhan dengan dalih seperti membela Tuhan- adalah pemahaman yang justru kembali ke penafsiran yang mundur.

Kurban dan Jihad.

Dalih berkurban kepada Tuhan melalui tafsir Jihad merupakan transformasi pemaknaan Jihad yang justru jauh dari konteksnya. Banyak sekali yang menafsirkan jihad untuk pengorbanan manusia kepada Tuhan sebagai bentuk pengabdian. Penafsiran Jihad model ini adalah pemaknaan yang kembali ke zaman berketuhanan paling fundamentalis yang sudah tidak sesuai dengan zaman modern. Pemaknaan yang disertai dengan penyerangan, pembunuhan, pengorbanan diri untuk membunuh kelompok lain yang tidak sepaham, merupakan penafsiran akan Jihad dan kurban yang paling ekstrem. Sekalipun penafsiran seperti ini masih dijumpai bahkan pada zaman sahabat nabi, itu bukanlah contoh yang tepat untuk dilestarikan. Jauh dari sikap yang ingin diajarkan Nabi Muhammad tentang Islam yang rahmatan lil alamin.

Jihad sejatinya seperti yang diulang-ulang oleh Muhammad, yang paling utama adalah Jihad dalam bentuk pengembangan ilmu. Dan Jihad yang paling berat adalah Jihad melawan hawa nafsu sendiri kata Nabi Muhammad dengan tegas. Berkorban dengan nyawa kepada Tuhan, jika demikian bisa dianggap sebagi kurban, adalah aspek dimana Islam mebutuhkannya jika kita dalam keadaan diserang secara fisik, bukan menyerang.

Aspek sosiallah yang kini lebih Tuhan utamakan dalam pemaknaan tingkat tinggi kurban khususnya dalam hari raya Iedul Adha. Ditambah sebagai aspek budaya untuk mengingat-ingat sejarah baik sejarah Ibrahim maupun Muhammad sendiri. Beberapa pesan Muhammad mengindikasikan bahwa kurban merupakan keutamaan kepada sesama manusia. Ini banyak dijumpai pada beberapa ucapan-ucapan beliau.

Kini banyak yang tidak sadar dalam memaknai hari raya kurban, kurban dalam agama Islam tidak sama dengan definisi kurban dalam keyakinan agama bumi atau ajaran agama pra-Ibrahim. Dalam Islam, kurban bukanlah untuk Tuhan, tetapi untuk sesama manusia sebagai wujud nyata cinta kita kepada Tuhan. Selamat berpesta!

Urgensi Digitalisasi Penyiaran Indonesia

Manfaat Televisi Digital

Kurang dari satu dekade ini perkembangan teknologi memang semakin mutakhir. Apalagi sejak ditemukannya programan digital yang memicu perkembangan perangkat komunikasi lebih jauh. Digital memungkinkan kita untuk lebih dinamis dalam hal memperoleh atau bertukar data dan informasi.

Trend industri penyiaran pun seiring sejalan dengan perkembangan teknologi tersebut. Salah satunya adalah dimulainya gejolak penggunaan televisi digital di dunia ini. Industri televisi diperkirakan semakin memiliki prospek yang cerah dengan perkembangan teknologi digital. Terbukti beberapa negara telah mengadopsinya, dan perjanjian beberapa negara maju di International Telecommunication Union (ITU) PBB di Jenewa, Swiss- 2006 lalu telah menekankan keharusan digitalisasi penyiaran di seluruh dunia maksimal 17 Juli 2015 mendatang.

Digitalisasi televisi adalah suatu keniscayaan untuk memajukan- khususnya industri televisi yang masih berbasis analog saat ini. Demikian karena analog dinilai sudah tidak lagi sejalan degan kemajuan zaman yang menuntut serba sempurna, ringkas, dan cepat. Kesempurnaan televisi digital dinilai beberapa pengamat merupakan keniscayaan untuk menjamin industri ini akan dimainkan oleh pasar yang makin beragam. Prinsip diversity of content dan diversity of ownnership pun akan makin terasa dengan adanya televisi digital ini.

Keunggulan televisi digital antara lain gambar yang jernih, adanya interaksi antara content provider (penyedia jasa konten televisi) dengan penonton, adanya feature seperti informasi layanan cuaca, informasi jalan raya, segmentasi konten yang nyata, panduan dalam menonton yang lebih sempurna, kemudahan menghitung rating bagi stasiun televise atau content provider serta feature-feature yang mungkin bisa ditambahkan karena dinamisnya televisi digital ini.

Dengan digitalisasi penyiaran televisi, perangkat untuk mengakses televisi pun akan semakin beragam. Kita akan sangat mudah memperoleh siaran televisi beserta feature-featurnya yang berkualitas baik dari perangkat gadget seperti televisi, ponsel, e-sabak, komputer dan lain-lain.

Jika digitalisasi dilakukan di Indonesia, maka setiap kanal yang ada dapat diisi oleh dua hingga sepuluh programa atau stasiun. Saat ini untuk kota kecil di Indonesia disediakan 7 kanal analog, sedang kota besar mencapai 14 kanal analog. Dengan digital, satu saluran analog dapat menampung dua hingga sepuluh saluran televisi. Ini berarti dalam satu kota kecil saja dimungkinkan akan ada tambahan kanal yang makin melonjak menjadi sekitar 70 kanal. Bisa dibayangkan potensi dan peluang yang dijanjikan pasar penyiaran digital ini.

Realita Industri Televisi Digital di Dunia

Soal kesiapan industri televisi digital, bisa dikatakan kita memang sudah tertinggal dari negara-negara maju. Sejak 2009 Amerika telah melakukan total black off dengan memutus seluruh siaran TV analog. Aturan menyebutkan jika seluruh stasiun televisi dengan frekuensi analog harus berhenti atau berpindah ke frekuensi digital. Masyarakat Amerika yang mayoritas telah belajar menggunakan televisi digital pun tidak terlalu terkejut dengan transformasi ini. Terbukti pada saat  itu hanya kurang dari 3 persen masyarakatnya yang masih menggunakan televisi analog.

Indonesia dan negara-negara berkembang lain memang bisa dikatakan terlambat soal digitalisasi televisi ini. Hal ini memang sangat tergantung dengan kemapuan masyarakat dalam memahami peta industri televisi digital ini. Negara maju kini ambil untung dengan negara berkembang seperti di Indonesia untuk menjual program-program stasiun TV mereka. Lewat digitalisasi penyiaran ini beberapa negara maju seperti Eropa, Amerika , dan beberapa negara di Asia kini menjadi pemain pasar dalam menjual kreatifitas konten siaran mereka ke negara-negara berkembang seperti Indonesia, melalui layanan televisi berbayar.

Realita Industri Televisi Digital di Indonesia

Sebetulnya televisi digital sudah ada di Indonesia tahun-tahun belakangan ini. Kita mengenalnya dengan TV Kabel (Cable Television) atau TV berbayar/berlangganan. Dimana masyarakat tidak hanya dapat menikmati program stasiun televisi nasional tetapi juga program stasiun TV internasional yang sudah digital.

Industri TV kabel yang makin beragam di Indonesia telah menggunakan satelit Direct to Home (DTH) dan Internet Protocol TV, dimana masyarakat dapat memilih kanal sesuai dengan preferensi dan harga yang sesuai. Kalangan yang mengkonsumsinya masih sebatas kalangan tertentu saja. Selain harganya masih dinilai mahal, tayangan televisi ini masih didominasi dengan tayangan internasioal berbahasa inggris.

Sedangkan untuk digitalisasi penyiaran televisi secara umum. Dalam roadmap digitalisasi penyiaran Indonesia, pemerintah telah berencana menghentikan program penyiaran analog mulai 2013 di kota-kota besar, kemudian disusul kota-kota kecil hingga tuntas pada tahun 2015 (mengacu konferensi ITU 2006). Dan selama pergantian frekuensi tersebut akan ada simulcast diamana stasiun televisi analog dan digital tayang bersamaan.

Tetapi menurut KPI hal tersebut tidak mutlak untuk segera dilakukan, selain industri televisi yang belum siap. Masyarakat pun juga belum siap. Karena diperlukan set up box tambahan untuk menerima frekuensi televisi digital. Masyarakat belum tentu siap dengan membeli perangkat tersebut. Lebih-lebih industri stasiun televisi di Indonesia sendiri belum tentu semuanya siap dengan dengan digitalisasi ini. Ide simulcast diperkirakan KPI membuat industri stasiun televisi harus mengeluarkan banyak biaya untuk siaran. Saat ini terdapat sekitar 120an stasiun televisi di Indonesia termasuk 11 yang bersiaran secara nasional.

Saat ini KPI tengah mengajukan perubahan UU Penyiaran kepada DPR yang rencannya akan selesai tahun 2012 ini. Salah antara lain tentang kewenangan KPI, aturan digitalisasi penyiaran dan kejelasan soal muatan lokal dalam sistem stasiun berjaringan yang masih rentan penyimpangan. Menurut KPI kajian tentang aturan digitalisasi penyiaran televisi dan pembatasan penggunaan frekuensi harus didahulukan daripada kewajiban migrasi frekuensi analog ke digital.

KPI berpendapat jika Indonesia tidak wajib untuk tergesa-gesa mengikuti aturan ITU karena Indonesia tidak turut dalam pakta tersebut. Perhitungan KPI memperkirakan Indonesia baru akan siap dengan digitalisasi penyiaran tahun 2020 mendatang.

Urgensi Digitalisasi Siaran Televisi Indonesia

Apa yang diusulkan KPI memang benar. Tapi tuntutan untuk mendidik masyarakat agar paham terhadap digitalisasi televisi harus segera dilaksanakan. Saat ini pemain dalam industri televisi digital masih sedikit, peluang ini telah digunakan negara maju untuk menjual konten mereka kepada negara berkembang seperti Indonesia. Jangan sampai kita hanya menjadi penikmat dalam semarak industri televisi digital.

Di Asia, stasiun televisi digital dari China, Korea Selatan, dan Jepang telah mampu menembus pasar kita. Malaysia telah belajar banyak soal digitalisasi televisi ini. Kartun Upin-Ipin yang tersohor di Indonesia telah sukses berafiliasi dengan Disney Channel. Sementara televisi nasional yang telah merambah pasar digital masih didominasi oleh kira-kira 11 stasiun televisi nasional dan anak perusahaannya.

Agresifitas MNC Corporation (misalnya) dalam mengembangkan ragam konten memang patut diacungi jempol. Namun jangan sampai industri ini tidak dibagi manfaatnya kepada yang lain sehingga menimbulkn konglomerasi media (tuduhan yang kini di tujukan kepada MNC Coorporation).  Ketakutan akan kanal televisi yang dikuasiai pasarnya oleh pihak tertentu memang sewajarnya patut diwaspadai.

Kita juga harus belajar banyak dari Amerika yang malah terdoktrin oleh CNN dan Fox News dalam segmentasi berita (misalnya). Diharapkan sebelum digitalisasi televisi di Indonesia diterapkan, pemahaman akan bahaya propaganda dan agenda setting media massa seyogyanya perlu ditanamkan kepada publik, agar kita dapat menjadi penikmat media yang cerdas.

Program literasi media kini terasa sangat diperlukan. Disini peran kita sebagai kalangan masyarakat terdidik harus dapat turut andil demi terciptanya industri pertelevisian yang sehat dan memang benar-benar demi kepentingan publik semata. Seperti yang kita ketahui, industri ini  rentan disalahgunakan pada oleh oknum tertentu lewat agenda setting mereka, khususnya kalangan politikus dan pengusaha.

sumber gambar: http://www.kabar24.com/wp-content/uploads/2012/03/tv-digital1.jpg

L.G.B.T (Q)

Saya tidak begitu paham mengenai ilmu biologi, psikologi, dan sosiologi dengan teori-teori seperti psikoanalisis, behavioris, atau fitrah genetika yang membenarkan gejolak preferensi seksual seseorang. Disini saya juga tidak mencoba menjustifikasi preferensi seksual seseorang.

Menurut saya, apa yang ada di dalam ruang kamar adalah hak dan privasi tiap individu dan partner in love  mereka masing-masing, sejauh tidak ada unsur paksaan dari salah satu pihak dan keingginan mengedarkan kegiatan privat mereka kepada khalayak demi suatu kepentingan, saya atau masyarakat tidak berhak mengurusinya. Saya kira itu cukup untuk dasar kenapa juga preferensi seksual seseorang tak perlu digembar-gemborkan ke publik.

LGBT adalah lesbian, gay, biseksual, dan transgender (tak perlu dijelaskan).Adalagi fenomena mereka yang lahir dengan kelamin ganda. Sains telah banyak menganalisa fenomena ini dan menjawab dengan apa, kenapa, dan bagaimana orang-orang dengan “fitrah” ini ada. Saya tidak berkompeten menjelaskannya, tanya saja pada psikolog atau ilmuwan yang berkompeten. Atau telusuri bacaan dan jurnal-jurnal ilmiah yang bertebebaran di internet dalam menjelaskan fenomena ini.

Dalam Agama, cerita-cerita dalam Kitab Suci menampilkan sisi terlarang dari keberadaan kaum homosexsual. Kaum Nabi Luth sering dijadikan contoh mengenai hukuman bagi mereka yang melakukan hubungan sejenis. Belakangan beberapa menafsirkan hukuman Tuhan datang karena tindakan kejahatan asusila yang diluar kewajaran fitrah manusia, takdir ini dijatuhkan kepada bangsaSodomdan Gommorah sebagai contoh bagi manusia.

Agama bagaimanapun juga saya yakini sebagai penjaga moral manusia. Apa yang dicontohkan Tuhan dalam kitab suci layaknya diyakini dan diamalkan sebisa mungkin. Namun agama tidak bisa menjawab dengan gamblang dan cermat permasalahan sosial kita yang semakin lama semakin pelik. Termasuk soal LGBT ini.

Apalagi Tuhan menciptakan manusia satu dan lain tidak sama, manusia dicipta dengan berbeda-beda. Dari pemahaman ini saya memberanikan diri mengorek fenomena sosial LGBT ini. Namun saya tidak juga mencoba mengusik ranah agama. Saya kira sekalipun saya sekarang sedang belajar di institusi Islam, saya belum berkompeten menafsirkan ayat-ayat Tuhan. Saya hanya akan mencoba menganalisa fenomena sosial saja.

Repotnya jika ini memang berkaitan dengan konstitusi negara. Anggapan jika negara (wajib) hadir dalam mengurusi urusan antar individu, seperti institusi perkawinan yang privat, merupakan anggapan yang sudah wajar dalam masyarakat di belahan bumi manapun. Jadi masalah legal atau tidak perkawinan sejenis menjadi amat sangat penting karena menyangkut pengakuan dalam negara.

Awalnnya di Belanda yang pemerintahnya telah dahulu melegalkan pernikahan sejenis di tahun 1994. Lalu awal abad ini sorotan ramai memperbincangkan Inggris karena Elton John menjadi selebritas pertama yang menikah secara resmi di Gereja Anglikan. Mayoritas Belanda dan Inggris memang menerima kewajaran ini. Karena kenyataan mayoritas warganya memang telah secara terbuka menerima keberadaan LGBT di negara mereka.

Selebritas dan tokoh politik selalu menjadi sorotan utama. Ricky Martin terang-terangan mengakui jika dia Gay. Dulu ada kelompok musik TaTu dengan lirik dan videografi kontroversial berisi kampanye lesbian mereka. Belakangan banyak yang kecele, mereka berdua adalah wanita tulen yang telah memiliki pasangan dan anak. Tindakan mereka berdua tak lain hanya demi kepentingan industri hiburan semata.

Obama akhir-akhir ini malakukan hal yang juga begitu fenomenal bagi Amerika dengan wacana melegalkan pernikahan sejenis. Menyeruaklah perdebatan di antara kandidat-kandidat presiden Amerika. Obama, kata beberapa pengamat, benar-benar melakukan gambling untuk meraup dukungan atau malah penolakan masyarakat.

Lantas bagaimana dengan masyarakat kita? Saya sering menjumpai orang dengan kecenderungan berbeda seperti prilaku lelaki yang feminis atau wanita yang maskulin. Lain dengan wanita maskulin yang seringkali malah mendapat apresiasi baik dalam masyarakat karena dinilai emansipatoris, lelaki feminis malah sering mendapat stigma negatif.

Karena mayoritas kita adalah Muslim dan banyak masyarakat yang belum terdidik dengan proses belajar ilmiah. Jangan harap pemerintah akan melegalkan pernikahan sejenis di negeri ini. Hanya beberapa orang dengan akses informasi dan pemahaman memadai yang mau mempermasalahkan permasalahan ini dengan frame lebih terbuka dan ilmiah, mayoritas umumnya sekedar berbicara sesuai pengalaman dan pemahaman, serta tafsir agama masing-masing soal LGBT ini.

Dalam sorotan saya, yang tidak mengenakkan adalah fenomena aktivis yang mendukung kampanye LGBT dengan terbuka tanpa tanggung jawab kultural kemasyarakatan. Saya heran, lagi-lagi preferensi seks seseorang ada di dalam kamar, tidak perlu digembar-gemborkan di publik. Yang perlu digaungkan adalah hak setiap orang untuk merdeka dalam menentukan pilihan hidup masing-masing dan juga memastikan hak-hak orang lain yang terpinggirkan juga terpenuhi.

Dalam konteks negara Indonesia, hak-hak pendidikan dan kesehatan lebih utama daripada hak bercinta. Kini kampanye hak-hak LGBT seolah-oleh (atau memang demikian) menjadi komoditi yang bertujuan bukan soal hak-hak mereka lagi, melainkan demi mengejar keuntungan materi pihak tertentu.

Yang saya anggap kelewatan adalah festival film LGBT yang tahun lalu (2011) diadakan. Saya niat nonton, tapi saya memutuskan menonton salah satu film di internet dulu. Dan yang saya temui adalah film yang sangat berbau pornografi. Curiga saya sebelumnya ternyata benar. Saya heran, bukankah penyelenggara adalah orang yang terdidik dan paham akan kondisi Indonesia yang rentan konflik. Jujur saya dangat sedih menyikapi soal ini. Ini adalah edukasi yang buruk bagi masyarakat kita jika (lagi-lagi) sisi privasi seseorang dianggap bisa dijadikan komoditas.

Peliknya menyikapi permasalahan ini karena memang prilaku LGBT yang cindrung lebih berwarna dan menarik perhatian. Soal gaya verbal dan non verbal pasti selalu nampak dalam masyarakat. Ada yang jelas-jelas tanpa malu-malu menunjukkan preferensi seksual mereka di umum. Hal inilah yang membuat masyarakat sulit menerima dan kadang risih. Gejolak masyarakat ini didukung dengan tontonan televisi yang kini menjadikan kaum LGBT, baik beneran atau pura-pura, sebagai komoditi yang menarik masyarakat demi keuntungan semata. Ini merupakan tindak pelecehan yang kini dianggap wajar oleh masyarakat kita.

Inilah poin penting dalam pemahaman LGBT. Apa yang disebut kesenjangan penggetahuan (knowledge gap) benar-benar nyata dalam realistas kehidupan kita sehari-hari. Pemahaman masyarakat yang satu dengan yang lain tentang LGBT masih sangat tergantung pada pengalaman-pengalaman masing-masing. Dan televisi menjadi suatu pembelajaran buruk bagi masyarakat soal LGBT. Tanpa kemauan untuk belajar lebih mendalam mengenai fenomena ini. Kita hanya akan sering mempermasalahkan hal ini dalam konteks prasangka.

Masalah ini memang akan selalu menemui jalan buntu. Frame agama tidak membenarkan hubungan sejenis. Pemikiran agama yang fundamentalis dan konservatif tidak akan membiarkan pelegalan hubungan sejenis di masyarakat. Kampanye tentang LGBT sarat unsur bisnis. Televisi menjadi sarana publikasi negatif bagi LGBT. Masyarakat mayoritas berpendidikan rendah, akibatnya banyak yang tidak terdidik untuk berfikir ilmiah hingga prasangka selalu menebar dimana-mana.

Saya kira beginilah realitas masyarakat kita…

Konflik, Identitas, dan Agama

Diversity and Unity
Di Indonesia sering terjadi konflik baik antar golongan, etnis, suku, agama, pemahaman dsb. Karena tidak adanya pembelajaran tentang manajemen konfilk, sering kali konflik selalu berakhir dengan ricuh, kekerasan, bahkan memakan korban jiwa. Tengok saja tragediAmbon, Sampit, Cikeusik, Sampang, GKI Yasmin dll yang menimbulkan kerusakan baik fisik maupun jiwa. Permasalahan ini umumnya disebabkan oleh ketimpangan sosial atau perbedaan pemahaman.

Konflik atau permasalahan yang tidak disikapi dengan pemikiran sehat dan terbuka tentunya akan berlarut-larut hingga menimbulkan banyak permasalahan baik kini maupun nanti. Padahal Bangsa ini adalah bangsa yang majemuk. Bayangkan saja, Bangsa ini punya ratusan ragam budaya yang berbeda. Hal ini mengakibatkan gesekan-gesekan pemahaman memang sering menjadi akar masalah konflik. Kemajemukan bangsa ini telah dijadikan kaum kolonial untuk memecah belah bangsa melalui devide et empera atau politik adu domba.

Saya kira, kini konflik digunakan oleh orang-orang tertentu untuk memecah belah atau mengalihkan isu di masyaralat. Ketidakhadiran peran masyarakat yang mau berfikir untuk benar-benar memajukan bangsa tanpa embel-embel kepentingan tertentu menjadi salah satu penyebabnya.

Tak jauh-jauh soal bangsa, di kampus saja sering kita jumpai prihal perseturuan antar organisasi yang berbeda. Merah, kuning, hijau, biru dsb. Banyak yang memahami perbedaan organisasi berarti harus bertentangan baik pemikiran maupun fisik. Mahasiswa yang pada umur-umur rentan ini memang sedang dalam proses pencarian jati dirinya, sering kali terjebak pada identifikasi diri dalam pemaknaan yang keliru.

Ini terjadi di kampus yang notabene menjadi teladan bagi masyarakat, karena dipandang sebagai ranah berkembangnya intelektualitas. Inilah bukti jika manajemen konflik belum menjadi perhatian yang serius bagi kalangan intelektual sendiri. Baik pengajar maupun mahasiswa kerap kali abai terhadap permasalahan ini. Tenggelam dalam pikiran menuhankan pemahaman sendiri.

Akar permasalahan dalam konflik antar golongan ini adalah egoisme individu dan ekslusifitas golongan (penuhanan pemahaman). Individu yang merasa telah melakukan yang paling baik dan benar, lantas memiliki kepentingan (interest) masing-masing yang menisbikan kepentingan kelompok lain karena dianggap salah, menyimpang, atau kafir dalam konteks agama. Akibatnya terbentuklah apa yang disebut politik identitas. Diamana manusia menjadikan dirinya bukan sebagai manusia, tetapi identitas kolektif berdasar kepercayaan, agama, pemahaman, ras, suku, golongan, umur, dan gender.

Padahal sejatinya manusia lahir dengan identitas tunggal, sebagai manusia sutuhnya tanpa embel-embel lain, identitas manusia adalah manusia itu sendiri. Inilah mengapa seharusnya yang kita junjung sebagai manusia sejati adalah aspek kemanusiaan (humanism) dimana hak-hak asasi manusia harus terjamin keberadaannya. Hak untuk hidup dengan aman dan damai, kesehatan terjamin, pendidikan terpenuhi, menyatakan pemikiran, memilih penghidupan, menentukan masa depan dll. Aspek-aspek inilah yang harusnya kita perjuangkan bersama-sama tanpa menilik darimana kita terlahir dan pilihan berpolitik dalam sekat-sekat golongan apa yang telah kita pilih.

Menganalisa permasalahan konflik ini bisa juga melalui pemahaman akan politik identitas itu sendiri. Analisa politik identitas dikenalkan oleh L.A. Kauffman ketika membentuk SNCC (The Student Nonviolance coordinating Commite) atau perkumpulan mahasiswa anti kekerasan di tahun 1960an di Amerika. Dia menulis dan mengkritik dengan sebuah esai berjudul The Anti Politic of Identity. Tulisan inilah yang menyingkap tabir kegelisahan gejolak konflik kulit putih dengan bangsa lain baik kulit hitam dan hispanik di Amerika.

Tulisan Kauffman menjadi kunci tentang berkembangnya pemahaman kesetaraan hak asasi di Amerika, hingga muncullah orang-orang seperti Martin L. King Jr. dan Barcak Obama. Padahal sebelumnya golongan kulit hitam hanya dianggap sebagai budak atau kelas pekerja saja. Kini, Amerika memang tengah berbangga dengan konsep perbedaan yang baru berproses kurang dari seabad ini. Amerika bisa menjadi contoh terkini, tapi bukan contoh mutlak, karena banyak warga negaranya sendiri yang belum memaknai diversity ini. Khususnya warga negara yang konservatif.

Dalam pemahaman agama Islam, bisa dikatakan jika Islam telah hadir dalam memberikan solusi permasalahan politik identitas ini sejak Nabi Muhammad menyampaikan petuah-petuah Illahi. Islam hadir untuk manusia alias rahmatan lil alamain, bukan untuk golongan tertentu. Nabi mengajarkan untuk menghormati perbedaan. Menyamakan hak-hak antara lelaki dan perempuan. Mengkampanyekan pembebasan budak. Dan menyatukan golongan-golongan untuk sama-sama meninggalkan zaman kebodohan menjadi zaman penuh intelektualitas. Mengajarkan Ketauhidan untuk meninggalkan egosentrisme golongan.

Sebelum Barat tumbuh memperjuangkan apa yang disebut liberte, egalite, freternite atau asas kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan saat revolusi Prancis, atau bahkan declarataion of human rights yang baru hadir tahun1950an. Nabi Muhammad telah mengajarkan arti untuk menisbikan identitas manusia selain hakikat manusia itu sendiri yang bertanggung jawab secara langsung kepada Penciptanya. Yang dinilai oleh Tuhan bukan harta, jabatan, ras, golongan dan gender, tetapi adalah perbuatan baik-buruk masing-masing.

Nabi hadir dengan contoh-contoh universal seperti tertuang dalam piagam Madinah yang menghargai hak-hak golongan lain, Dakwah Islam hadir untuk memperjuangkan nilai-nilai humanisme atau kemanusiaan, bukan lagi sekedar nilai-nilai golongan dan etnis tertentu atau bahkan golongan mukminin pada waktu itu saja. Inilah yang layak dicontoh bagi kita generasi muda intelektual Indonesia. Jangan sampai hanya terjebak dengan politik identitas yang hanya memperjuangkan pemahaman dan hak-hak golongan kita sendiri. Tetapi mari bersama-sama memperjuangkan kepentingan bangsa yang majemuk ini.

Namun sangat miris jika bangsa ini, khususnya umat Muslim yang mayoritas kini terjebak dalam pemahaman hidup yang keliru. Mereka memaknai agama seagai identitas luar saja. Dimana mereka mendefinisikan agama sebagi jubah-jubah dan pakaian-pakaian saja dengan dalih sunah Nabi tanpa memahami maknanya. Tengoklah mereka yang menggunakan jubah-jubah dan berdandan ala Arab yang tersesat di kampung-kampung. Pemaknaan akan Islam atau dalam agama-agama lain pun masih banyak yang terjebak dalam aspek luar (pakaian dan aksesoris) dan ritual-ritual keagamaan tanpa disertai pemaknaan. Singkatnya, bergaya tanpa mau berpikir!

Maka tak heran, umat Islam kini jatuh pada jurang yang kembali kepada aspek zaman jahiliyiah yakni berpecah-pecah dalam sukuiseme dan pemahaman. Lebih tidak heran karena konon Nabi memang telah meramalkan umatnya terpecah menjadi puluhan golongan dengan pemahaman yang berbeda. Ah, saya memang skeptis tentang Muslim atau agama-agama dimana saja.

Sebagai Muslim yang baik dan benar-benar menjalankan perintah Nabi. Harusnya seorang Muslim tak lagi memaknai identitas dirinya hanya sebagai seorang Muslim yang menyemabah Allah menjalankan perintah-perintahnya (teks) tanpa disertai pemahaman yang benar (konteks). Karena sejatinya Islam mengajarkan jika manusia awalnya lahir tanpa identitas apapun selain diri MANUSIA itu. Islam juga percaya jika Tuhan Maha Hadir dimana saja (Omnipresent), jadi menghargai, menghormati, dan melindungi hak-hak orang lain  yang berbeda adalah suatu keniscayaan perintah Tuhan. Jalan hidup masing-masing adalah Tuhan yang menentukan.

Ah, kenapa saya juga malah repot-repot memikirkan orang yang bangga menuhankan pemikirannya?

Demokrasi atau Negara Islam?

Men behind the gun

Men behind the gun

Memahami Islam bukan hanya memahami sebuah agama dengan ritual-ritualnya. Melainkan memahami kehidupan dengan segala kompleksitasnya. Memahaminya bukan sekedar doktrin atau dogma. Islam adalah the way of life. Bukan hanya sebatas agama dengan ritual-ritual sempit, melainkan sebuah gaya hidup yang kompleks. Siapa saja sejatinya bisa mengamalkan ajaran nabi Muhammad ini. Bukan hanya Anda atau saya pemegang KTP Islam dan pengucap syahadat sekaligus hanya penghafal ayat ini.

Agama pada dasarnya bukanlah laku jasmani yang bisa dilihat dengan indra, melainkan laku jiwa yang bisa pasang surut. Agama adalah proses seumur hidup dimana seseorang menemukan siapa sejatinya Dia Sang Pencipta dan siapa dirinya seutuhnya. Tidak ada yang bisa mencapai tingkat ”ahli” dalam bidang Ketuhanan. Semua sarjana bergelar agama bisa dikatakan sarjana palsu dan  mengada-ada. Semua kiai, alim ulama, pendeta, dan gelar-gelar petinggi agama lain tak menjamin seorang itu betul-betul paham beragama, karena masing-masing telah menafsirkan sesuai kemampuannya. Karena sifat agama bersumber dari teks sehingga harus ditafsirkan, ilmu agama- saya tekankan- bukanlah ilmu empiris seperti sains.

Karena orang bisa mengaku-aku beragama seperti Islam, tapi hatinya bisa saja sedang menolaknya atau hanya beragama demi sisi politik hidupnya saja, alias mencari titik nyaman hidup. Inilah sisi gelap politisasi agama yang makin nampak pada pamflet-pamfelt selebaran, mereka yang beragama dan berbicara tentang kebenaran agama demi mengejar kuasa, sadar atau tanpa mereka sadari.

Apalagi di tengah kerusakan yang menimpa bangsa ini. Yang sebagian besar mengartikannya sebagai krisis agama. Padahal jelas jika dipahami secara rasional, ini adalah krisis pendidikan, hukum, kemiskinan, yang bersumber dari krisis kepedulian dan kepemimpinan.

Konsekuensinya telah terlihat sangat besar karena kita menafsirkan kerusakan bangsa ini sebagai krisis agama. Bagaimana mungkin seorang Gayus Tambunan, misalnya, mengkorupsi hak rakyat dengan masih melekatkan identitas agamanya. Tetapi dia tidak dibenci dan dibakar rumahnya (saya tidak bermaksud menyarankan tingkah seperti ini). Bahkan konon hanya dihukum tujuh tahun penjara?

Sedang di suatu tempat nan terpinggirkan, seseorang yang tak berbuat aniaya (kriminal), hanya yakin jika ada pembawa pesan selain Muhammad yang dia percaya, harus kehilangan jiwanya dan hangus segala hartanya? Lalu dituduh ”menodai” agama? Dan banyak orang rame-rame menghujatnya tanpa malu-malu. Ini benar-benar krisis moral yang kritis sekaligus menjijikkan.

Dan isu agama ini selalu menjadi komoditi perbincangan yang menarik di kalangan mayoritas bangsa ini yang cinderung lebih mementingkan identitas. Kemudian menjadi isu-isu menarik yang ditampilkan di media massa yang hanya sekedar menebar sensasi, lalu mengambil opini-opini manusia jago bicara tanpa jago pikir. Lebih-lebih lagi opini pemimpin yang partisan ckckck

Sadar tak sadar mereka malah meracuni masyarakat dengan sosialisasi agama yang makin menyimpang dan tidak toleran. Maka isu-isu yang lebih penting tentang bagaimana membangun bangsa ini kedepannya pun terpinggirkan. Masyarakat lebih suka menonton ceramah hahahihi orang di televisi daripada diajak berfikir dan membaca buku untuk mentadzaburi ilmu agama. Bravo Media Massa! Hell…

Meski demikian, kita semua harus tetap optimis. Dalam demokrasi, jika kita mau mencoba mengkaji lebih dalam. Bisa lebih Islami dari sistem di negeri Arab asal agama ini lahir. Bayangkan saja, penelitian terbaru malah mencatatkan jika Selandia Baru yang mayoritas non Muslim, bisa dikatakan sebagai negara dengan prinsip-prinsip paling Islami di seluruh dunia. Bukan Saudi, Malaysia, atau Indonesia yang jauh diatas peringkat seratus. Apakah orang ber-KTP Islam seperti kita tidak malu?

Sedang disisi lain, penganut buta demokrasi di Indonesia pun malah berbangga dengan puja-puji Amerika jika kita adalah negara yang lebih demokrasi dari Amerika. Go hell with your prises! Banyak dari kita sekarang hanya dengan dipuji sudah besar kepala. Padahal Pak Karno yang hendak diberi bantuan Amerika saja berani bilang ”Go hell with your aid!” Demokrasi kita masih jauh dari harapan jika dipimpin pemimpin yang belum memahami demokrasi!

Karena final demokrasi memang buka puji-pujian. Melainkan proses yang terus berubah, pembeljaran dari satu masa ke masa. Ada check and trial yang terus menerus sesuai dinamika masyarakat. Demokrasi di Amerika, tentu beda dengan model demokrasi di Inggris, Swedia, Islandia, Selandia Baru bahkan dengan demokrasi di negeri ini. Orang sering menganggap konsep demokrasi sudah final, akibatnya, demokrasi sering disejajarkan dengan konsep final Islam, sehingga sering orang diharuskan memilih antara Islam atau demokrasi?

Padahal demokrasi bisa sangat Islami, toh sudah seharusnya demokrasi mengakomdasi semua kepentingan rakyatnya agar berjalan sesuai dengan keinginan masyarakat. Jika masyarakat memang meinginginkan konsep Islami hadir dalam ranah demokrasi, itu sah-sah saja. Asalkan Islam memang benar-benar ditegakkan seperti dalam Piagam Madinah yang Nabi contohkan, bukan Islam politis seperti paham mayoritas pemimpin kita.

Karena menurut saya demokrasi tidak melulu harus sekuler. Masalahnya adalah manusia indonesia selalu mengaitkan agama dengan politik, akibatnya mau tak mau banyak yang hanya beragama karena faktor politik. Padahal politik itu masih berdimensi ganda, bisa murni untuk kepentingan rakyat atau hanya kepentingan tertentu kan?

Beginilah jika bangsa telah dikuasai agamawan sok negarawan. Selain ada manusia-manusia busuk lain seperti pengusaha sok negarawan, militer sok negarawan, mahasiswa sok negarawan, dan sosok-sosok yang sok lainnya. Mereka yang sok ini adalah mereka yang bekerja bukan karena memang ingin memajukan bangsa, tapi karena tergiur dengan uang, kekuasaan, dan nafsu berkuasa golongan, kemalasan, ketimpangan berpikir, dan yang paling berbahaya adalah terjebak dalam politik identitas. Akhirnya lingkaran setan korupsi pun tak terakhiri karena politik identitas ini.

Akar masalah kisruh berbangsa ini adalah kakunya pendidikan demokrasi di Indonesia yang kini miskin wacana dan tidak berkembang. Siapa yang mengkaji permasalahan demokrasi di Indonesia lebih serius. Para ilmuwan dan pemikir lebih suka, atau lebih laku tepatnya, jika mengkaji sebab-sebab dan saling tuduh-menuduh tanpa mau bertindak untuk sebuah solusi nyata.

Tak heran wacana negara berbasis ideologi Islam kini kembali laku di tengah gonjang-ganjing politik. Dari yang malu-malu seperti partai-partai berbasis Agama (kaum munafik). Lalu organisasi yang dengan berani dan konsep penafsiran tentang negara Khilafah seperti HTI. Hingga yang paling menyimpang dan disisipi oknum seperti NII.

Tak heran, agama selalu laku di kalangan orang yang berfikir praktis. Agama dianggap menawarkan penyelesaian masalah seperti “sim salabim abra kadabra” Seolah olah jika sudah berbau dalil ayat pasti benar dengan kerangka pikir penafsiran yang pendek tanpa kajian mendalam serta kecenderungan eksklusif.

Ya beginilah mayoritas bangsa ini, malas berfikir dan bertindak. Apa? Oh ya benar… Omdong alias omong doang, kaya saya ya? Malu ah 😦