quantum leaps

Adele

Setiap doa-doa yang kita panjatkan, dalam makna yang sebenarnya pasti tidak akan dikabulkan oleh Tuhan. Karena menurut logika Ibnu Rushd yang disandarkan pada cara pikir deduktif Aristoteles. Tuhan tidak mungkin bergantung pada kehendak manusia. Tuhan adalah suatu maha dzat yang tidak dapat kita mengerti kecuali melalui perumpamaan saja. Tuhan sangat tidak mungkin mengurusi hal-hal sepele seperti permintaan remeh temeh dalam hidup kita. Jika dengan kita berdoa maka Tuhan mengabulkan, maka Dia tak lagi menjadi Tuhan Yang Maha yang hidup di alam ide. Karena tak mungkin Dia bisa bergantung dengan kehendak fana kita. Tuhan, dalam berbagai amsal disebutkan telah beristirahat seusai mencipta semesta raya.

“Istilah ‘doa’ disalah-tafsirkan oleh orang-orang modern sebagai mantra penolak bala atau pemberi berkah. Padahal doa adalah makna lain dari usaha atau setidaknya merupakan istilah lain dari pemberian sugesti positif kepada otak untuk merangsang suatu atau banyak tujuan secara stimulant.”

Untuk itulah ada yang disebut dan dikenal dengan takdir, sesuatu yang sudah digariskan oleh Tuhan sendiri sebelum yang ada dan disebut diciptakan. Kabar baiknya, Tuhan menciptakan keteraturan dalam alogaritma kehidupan yang bisa dan juga tidak bisa kita pahami. Ambil contoh bagaimana semesta raya bergerak mulai dari gerak gravitasi meteorit, planet hingga bebintangan yang semuanya mengikuti standar alogaritma Tuhan yang bisa sedikit dijabarkan dalam rumus-rumus Newton hingga Einstein.

Pun juga dalam kehidupan ada rumusannya, jika kita telah berusaha sungguh-sungguh maka besar kemungkinan kita akan meraih apa yang kita usahakan tadi, begitu juga sebaliknya kita bisa gagal mendapatkan apa yang kita inginkan jika tanpa disertai usaha lebih. Ini hanyalah prihal hitung-hitungan matematis dalam rumusan peluang belaka (yang paling memahami ini tentunya Einstein).

Ingin kaya raya, maka kita wajib kerja keras jika bukan dari keturunan ningrat. Ingin tampil menawan cum menggoda maka berdandan hingga reparasi dibutuhkan jika memang tidak terlahir menawan. Ingin sehat maka gaya hidup harus sehat. Hingga ingin cepat mati pun ada banyak cara…

Namun, ada juga alogaritma yang tidak kita pahami. Misalnya, kenapa Isa bisa lahir dari perawan suci Maria. Kenapa Musa yang gagap tak pandai bicara justru disuruh menceramahi Firaun. Atau mengapa yang tidak bisa baca dan tulis bahkan keturunan Arab yang dikenal bangsa terbelakang bisa terpilih menjadi Rasul terakhir merupakan sekian contoh dari alogaritma Tuhan yan tidak kita pahami.  Atau sebetulnya hanya dapat dipahami dengan keyakinan yang sering kita sebut sebagai iman.

“Kenapa disebut alogaritma karena segala sesuatu yang Tuhan ciptakan berimbang atau adil disertai dengan suatu fungsi atau rumusan. Bukan sekedar asal-asalan atau suka-suka Tuhan seperti penganut Chaostic tuduhkan”

Lantas buat apa kita hidup jika segala sesuatu telah digariskan, siapa yang gagal dan siapa yang menang. Siapa yang rupawan siapa yang karuan. Ini hanya sebuah prinsip dan motivasi dari segala pilihan-pilihan yang pada dasarnya telah melalui jutaan tahun kemungkinan dan evolusi. Mulai dari makhluk ber-sel tunggal hingga tergalau saat ini, kita dimotivasi untuk bertahan hidup atau survival. Juga apa yang paling sering kita senangi saat sekedar memperoleh peluang terbaik yang disebut dengan keberuntungan.

Survival dan keberuntungan adalah kunci mengapa kita menjadi makhluk semaju ini. Ide ini datang dari Carl Sagan yang tentunya diwarisi dari Charles Darwin. Kenapa kita berkembang biak dan saling berkompetisi (seleksi alam) adalah bagian dari survival yang telah kita jalani semenjak Tuhan menciptakan makhluk bersel tunggal. Bagaimana kita manusia, mamalia tepatnya, lahir dari pembuahan hanya dari satu sel sperma dan satu sel telur yang berlomba-lomba (dari jutaan sperma dan telur) merupakan salah satu contoh  hasil rumusan survival dan keberuntungan.

Evolusi menciptakan kemajuan juga kemunduran. Beruang cokelat tidak kita jumpai di antartika yang dingin karena yang bertahan adalah beruang putih yang bisa mengelabui mangsa dalam warna putih salju. Homo erectus tak lagi bisa kita jumpai karena sejauh ini yang kita imani, Tuhan iseng-isengan dengan menurunkan Homo Sapiens yang dikenalkan sebagai Adam. Hal-hal inilah yang terjadi di dunia ini karena memang terjadi, yang bisa dipahami dan juga sulit dipahami (karena belum tentu benar).

Untuk itulah kita sekarang mencari rumusan untuk melawan takdir Tuhan. Menisbikan segala kemungkinan akan kegagalan dan ketidakpastian dengan lompatan kuantum takdir. Apa yang sebetulnya para filsuf ribuan tahun lalu dan ilmuwan modern saat ini telah memberikan kuncinya, membawa diri kita ke “alam ide” kata para filsuf atau “alam digital” kata para ilmuwan.

Sebuah narasi pembuka

Adele, si kaki lincah digadang-gadangkan akan menjadi penari termuda yang akan diterima di New York City Ballet. Muda, lentur, menawan, berambut pirang dan telah memperoleh banyak poin pujian di berbagai pertunjukan ballet. Pada suatu sore di musim dingin yang beku suatu insiden kecil mengubah seketika cita-citanya. Dia tertabrak taksi  hingga kaki kirinya hancur bersamaan dengan harapan menjadi penari profesional.

Itu adalah suatu titik dimana suatu ketidakberuntungan yang sebenarnya bisa saja dihindari jika Adele sedikit berlama-lama mengikat tali sepatunya. Atau tidak pulang tepat waktu karena ingin belajar grand pas de deux lebih sempurna. Atau ngerumpi dulu dengan sobatnya sehingga ia tidak dengan riang keluar kelas hingga terpleset dan tertabrak taksi. Yang juga sebetulnya bisa dihindari jika supir taksi  tidak ngopi sambil baca koran dulu. Atau beberapa detik berlama-lama di depan cermin. Atau memperoleh penumpang di blok lainnya.

Sejarah akhirnya mencatat, bukan Adele yang menjadi anggota termuda pertama New York City Ballet, melainkan Claire beberapa tahun kemudian.

Naas memang, namun itulah yang terjadi dengan Adele dan jutaan makhluk hidup yang sudah, telah dan akan kita semua hadapi di alam semesta ini. Subjek seperti Adele, teman Adele, supir taksi dan Claire bisa saja menjadi saya, Anda, mereka atau yang lainnya. Rambut pirang bisa jadi hitam, perak atau ungu. Kejadian seperti tertabrak taksi bisa jadi cuma tertabrak mantan, tertabrak tukang bakso, atau tertabrak truk tronton. Kota New York bisa diubah menjadi New Delhi, Prabumulih atau Salatiga. New York City Ballet bisa jadi kampus, sekolah atau tempat kerja yang saat ini kita jalani.

Dan segala sesuatu soal ini pada dasarnya terus berulang dan berulang pada alogaritma yang sama.

 

Advertisements

Pulang Kampung untuk Memilih

Malam itu aku sampai di kampung pukul 23.00; setelah bercuap-cuap dan keliling rumah aku ngobrol dengan Ibu soal pilihan presiden. Aku minta Ibu memilih Jokowi, bukan berarti lebih baik- tetapi kelak jika kita ditanya malaikat kita punya alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Dan karena dia Ibundaku, aku punya tanggung jawab moral sebagai putranya.

Lalu seperti yang sudah aku kira, beliau tanya soal Ahok yang bakal jadi Gubernur DKI. Ahok kan kafir, karena ada bunyi ayatnya jika tidak boleh orang Islam dipimpin orang kafir. Aku mencoba jelaskan lagi soal makna Islam, iman, kafir kepada Ibu dengan berharap Ibu paham. Ibu masih tidak bisa paham karena penjelasan aku seputar tafsir Islam dengan pendekatan rahmatan lil alamin.

Tak kunjung selesai berbincang, kami sepakat tidur dulu karena aku masih tidak bisa menjelaskan dengan mudah bagaimana mengeluarkan pemikiranku tentang Islam. Aku sudah mematikan lampu, tidur di kursi panjang ruang tamu dan tiba-tiba melihat bintang dalam tidur ayamku, (sebetulnya aku ga bisa tidur gara-gara harus ngulang kuliah komunikasi politik kepada teman yang bbm kemungkinan demokrasi kita kelak; dan perbandingannya dengan negara lain yang punya sistem demokrasi lebih mapan).

Dari cahaya bintang, aku teringat kata Allah bahwa Ia telah menuliskan dalam ayat-ayatnya (tersurat dan tersirat) tentang perumpamaan-perumpamaan atau tamsil yang Dia buat untuk memudahkan manusia menjangkau kehendakNya. Aku mencoba membuat perumpamaan soal cara melihat Islam dengan perumpamaan/tamsil sederhana tentang hakikat bintang.

Jadi, apakah bintang itu besar atau kecil?”

Orang awam yang hanya memandang dengan mata telanjang selalu melihat bintang itu kecil, padahal bintang itu besar dan sangat besar bahkan banyak yang lebih besar ratusan kali dari matahari yang kini Allah berikan untuk kita di jagad bimasakti ini.

Jadi, apakah Islam itu besar atau kecil?”

Orang yang hanya membaca tanpa memperhatikan ayat alam semesta ciptaan Allah, hanya memandang Islam itu sebagai Islam yang kecil, yang terkotak-kotak, hanya boleh dimiliki oleh segelintir orang dengan syarat-syarat yang mereka yakini. Selain yang sama dengan mereka tentu bukan Islam yang kaffah atau bahkan dicap sebagai kafir. Padahal kita semua tahu, bahwa Tuhan menitahkan jika Islam adalah kepercayaan yang rahmatan lil alamin, rahmat yang menjangkau seluruh alam semesta.

Sementara banyak kita, menafsirkan Islam dengan sangat kecil bahkan menjualnya demi kekuasaan semata. Islam A, Islam B, Islam C, hingga masalah hilal pun dibesar-besarkan para pemuka agama mennjadi masalah yang sepertinya sangat serius. Begini kecilkah kita melihat Islam kita ini?

Seumpama bintang, Islam itu besar bagaikan mentari yang menyinari alam semesta, jangan kecilkan Islam seperti memandang bintang yang ada di langit sana. Banyak bintang di langit sana itu membutuhkhan jutaan tahun agar sinarnya sampai ke bumi. Bahkan banyak bintang yang di tempat asalnya sudah mati tapi sinarnya baru sampai ke bumi.

Islam selayaknya kita pandang sebagai agama yang sangat besar seperti maha-bintang. Islam rahmatan lil alamin yang aku pahami demikian. Kami merelakan Ahok dengan pemahaman akan Islam yang maha besar. Ahok bagiku bukan kafir, dia beriman dan dia punya kepercayaan sebagai Kristiani. Ahok bagiku punya akhlak pemimpin Islam jika aku ingin melakukan “lompatan bintang” pemahaman tentang Islam yang sangat Rahmatan lil Alamin, Islam yang serupa dengan cahaya bintang yang menyinari alam semesta.

Nabi Muhammad pun saat berhasil memimpin Madinah tidak mengganti para pemimpin, suku-suku di bawah naungan Madinah dibiarkan dipimpin dari golongan mereka sendiri. Semangat Nabi yang nasionalisme atau anti-kesukuan untuk hidup berdampingan bersama atas dasar “manusia” inilah semangat tertinggi dalam Islam.

Mari, bandingkan masa-masa sebelum Jokowi dan Ahok memimpin Jakarta, belum pernah ada pemimpin yang begitu dekat kebijakannya dengan masyarakat. Ide-ide birokrasi dan demokrasi yang sangat Islami (keterbukaan, ketelitian, pro-rakyat miskin, pro-lingkungan, dsb).

Jika itu belum bisa menjadi dalih untuk merelakan Jokowi sebagai calon pemimpin kita karena baru sedikit kebijakan yang mereka buat. Jangan kira Jokowi tak berbuat apa-apa sebelumnya. Semenjak di Solo Jokowi sudah menunjukkan bagaimana memiliki akhlak sebagai seorang pemimpin sejati hingga rakyat Solo memilih mutlak untuk kedua-kalinya dan merelakan Jokowi naik ke Jakarta.

Apakah Jokowi tak berprestasi di Jakarta? Jangan buru-buru, itu karena sejatinya telah banyak mereka gapai dibanding gubernur sebelumnya. Aku mencoba merasakan Jokowi-Ahok dalam posisi pemimpin yang ditakuti birokrat, banyak kebijakan yang justru dipolitisasi oleh pemerintah pusat seperti konsep mobil murah; jelas-jelas Jokowi mau mengurangi kemacetan, pemerintah malah kasih insentif besar pada mobil murah sementara transportasi publik dipersulit dan dibiarkan dijelek-jelekkan bahkan cinderung tak didukung.

Lalu apakah kasus bis karatan dan laporan BPK soal potensi kerugian itu menandakan Jokowi tidak amanah?”

Perumpamaannya begini, kalau banyak menteri  di Jaman SBY korupsi apakah itu serta-merta salah SBY tersangkut dan dia yang salah? Tentu tidak kan, SBY tidak amanah karena banyak menunjuk orang keliru yang tidak amanah pula. Bedanya Ahok dan Jokowi sudah sering mengeluh perlakuan para pejabat ini, karena pejabat PNS eselon-eselon hanya bisa dipecat oleh negara yang mengangkatnya. Di Indonesia, menjadi pejabat pemalas bukanlah kejahatan.

Oleh karena itu kita coba menaikkan Jokowi sebagai Pemimpin untuk lima tahun ke depan. Jangan takut, kita justru harus takut pada calon pemimpin yang memang kita rasa tidak amanah. Kita memang belum tahu susunan menteri yang Jokowi akan atau sudah buat, tapi dia janji bukan berdasarkan prinsip bagi-bagi kekuasaan kan? Sedang calon yang lain, Ibu lihat sendiri siapa yang akan duduk di pemerintahan ini, apa kita hendak mengulang zaman SBY? Zaman terasa aman tetapi menumpuk banyak permasalahan.

Biar kita tahu bagaimana seharusnya pemimpin itu, memimpin bukan tuan tetapi pelayan rakyat. Ini yang disebut revolusi mental, perubahan pandangan atau mental kita yang selama ini menganggap pemimpin adalah simbol kekuasaan bukan kerakyatan.

Untuk Ibu dan Bapak, apapun nanti pilihannya, aku tetap setia, takzim, hormat dan kritis kepada Ibu-Bapak. Ibu tetap boleh menanyakan kapan rambut gondrong aku dipotong, kapan aku harus kerja atau memarahi dan menjewer aku kalo di rumah kelewatan tidur (meski aku saat menulis ini belum mandi, belum tidur lebih dari 20 Jam termasuk dari perjalanan kereta ekonomi 10 Jam Jakarta-Solo). Padahal aku janji besok mau ikut ngecat rumah hehehehe…

Ibu dan bapak, Jika memang tidak mampu punya alasan lebih kuat dan tidak paham penjelasanku, dan tetap tidak memilih Jokowi pun tidak apa-apa. Pun bagi putramu ini tidak masalah jika Jokowi tidak menjadi pemimpin. Filasafat #Akurapopo adalah bentuk menerima hasil dari apa yang telah dikerjakan dan diperjuangkan dengan kesungguhan tekad, sekalipun menang atau gagal. Jokowi pernah bilang bahwa dia tidak akan pernah kehilangan jati dirinya menang atau kalah. Jokowi janji tidak berubah, meskipun menjadi atau gagal menjadi Presiden. Dan bagi kami pun selama ini dia sudah menjadi pemimpin, oase di tengah kegersangan kepemimpinan dan demokrasi kita.

Dan bukankah kata Allah, setiap keputusan berbuah keberhasilan dan kegagalan selalu ada hikmahnya. Semoga kelak kita pun sama-sama mengambil hikmah dari sikap-sikap yang kita pilih. Karena aku pun masih sangat 100% bisa salah karena toh hanya kebenaran milik Allah. Kita hanya mencoba menafsirkan ayat-ayatnya, mencoba mencari pilihan yang terbaik.

NB: Akhirnya Ibu memilih Jokowi, sedang Bapak memilih Prabowo. Tidak masalah, karena di kampong halamanku, Sukoharjo-kota kecil di sebelah Solo, Jokowi masih memimpin 70% lebih. Aku ngotot pulang karena seseorang kawan mengancam suara Jokowi akan turun drastis di Solo, kenyataannya masyarakat Solo sekitarnya- Jawa Tengah, masih belum termakan fitnah kejam terhadap Jokowi. Alhamdulillah.

Kata Kita (Epigen)

Katamu kataku katakita melebur jadi satu
Tiap kata tiada makna jika kita tak ada katamu kataku
Dalam kata kita bukan kata tapi makna
Makna melebur dalam tubuh meski tak utuh,
Raga rapuh rasa jenuh
Tapi ini kata kita
Tak penuh dalam peluh
Tak mengeluh tapi melenguh
Dalam satu tubuh

Kurban

Kurban

Secara antropologis, kurban mulanya adalah sesaji yang digunakan untuk berterimakasih, menghibur atau memohon sesuatu kepada Tuhan atau Dewa-Dewa. Konsep kurban ditemukan pada hampir setiap kebudayaan di dunia ini. Kebudayaan-kebudayaan kuno seperti bangsa Maya, misalnya, juga tercatat pernah menjadikan manusia sebagai kurban dengan cara menenggelamkan manusia ke sebuah danau suci sebagai permohonan hujan kepada Dewa-Dewa.

Al Qur’an mencatat definisi kurban awalnya sama seperti definisi kurban dalam agama-agama pagan tersebut. Yakni kurban untuk sesaji Tuhan, hal tersebut tertulis dalam surat Al Maidah, 27:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dalam ayat tersebut jelas bahwa kurban menjadi salah satu bentuk ucapan syukur dan terimakasih kepada Tuhan. Kurban Habil dan Qabil merupakan kurban berbentuk materi atau bisa disebut sesaji yang dipersembahkan untuk Tuhan. Pada waktu itu, hubungan Tuhan dan manusia masih dekat dan membumi setelah kejatuhan Adam.

Konsep kurban seperti Habil dan Qobil terus berlaku hingga Ibrahim tiba. Kesediaan Ibrahim menerima mimpi Tuhan untuk mengorbankan nyawa anaknya, bisa jadi merupakan pertanda jika berkurban nyawa manusia memang merupakan sesuatu yang dapat diterima pada zaman Ibrahim. Setelah tragedi Ismail (atau Ishak dalam konsep Nasrani dan Yahudi) Tuhan benar-benar merubah konsep kurban dari nyawa manusia atau sesaji-sesaji ke arah pemaknaan yang lebih logis. Proses mendidik Tuhan kepada nenek moyang kita tentang hakikat berkurban, berketuhanan, dan bersosial pun dimulai ketika itu.

Sejak Ibrahim, Tuhan tak lagi meminta kurban untuk menguji iman secara langsung. Tuhan sejatinya seperti yang banyak diulang-ulang dalam Al Qur’an, tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Tuhan tidak membutuhkan nyawa kita sebagi kurban. Pemahaman mengorbankan nyawa kepada Tuhan dengan dalih seperti membela Tuhan- adalah pemahaman yang justru kembali ke penafsiran yang mundur.

Kurban dan Jihad.

Dalih berkurban kepada Tuhan melalui tafsir Jihad merupakan transformasi pemaknaan Jihad yang justru jauh dari konteksnya. Banyak sekali yang menafsirkan jihad untuk pengorbanan manusia kepada Tuhan sebagai bentuk pengabdian. Penafsiran Jihad model ini adalah pemaknaan yang kembali ke zaman berketuhanan paling fundamentalis yang sudah tidak sesuai dengan zaman modern. Pemaknaan yang disertai dengan penyerangan, pembunuhan, pengorbanan diri untuk membunuh kelompok lain yang tidak sepaham, merupakan penafsiran akan Jihad dan kurban yang paling ekstrem. Sekalipun penafsiran seperti ini masih dijumpai bahkan pada zaman sahabat nabi, itu bukanlah contoh yang tepat untuk dilestarikan. Jauh dari sikap yang ingin diajarkan Nabi Muhammad tentang Islam yang rahmatan lil alamin.

Jihad sejatinya seperti yang diulang-ulang oleh Muhammad, yang paling utama adalah Jihad dalam bentuk pengembangan ilmu. Dan Jihad yang paling berat adalah Jihad melawan hawa nafsu sendiri kata Nabi Muhammad dengan tegas. Berkorban dengan nyawa kepada Tuhan, jika demikian bisa dianggap sebagi kurban, adalah aspek dimana Islam mebutuhkannya jika kita dalam keadaan diserang secara fisik, bukan menyerang.

Aspek sosiallah yang kini lebih Tuhan utamakan dalam pemaknaan tingkat tinggi kurban khususnya dalam hari raya Iedul Adha. Ditambah sebagai aspek budaya untuk mengingat-ingat sejarah baik sejarah Ibrahim maupun Muhammad sendiri. Beberapa pesan Muhammad mengindikasikan bahwa kurban merupakan keutamaan kepada sesama manusia. Ini banyak dijumpai pada beberapa ucapan-ucapan beliau.

Kini banyak yang tidak sadar dalam memaknai hari raya kurban, kurban dalam agama Islam tidak sama dengan definisi kurban dalam keyakinan agama bumi atau ajaran agama pra-Ibrahim. Dalam Islam, kurban bukanlah untuk Tuhan, tetapi untuk sesama manusia sebagai wujud nyata cinta kita kepada Tuhan. Selamat berpesta!

Redefinisi, dari Makna ke Praktek

MAKNA DAN FUNGSI REDEFINISI

“Makna Redefinisi adalah memikirkan kembali segala hal yang menurut kita sudah benar, ke arah yang lebih sesuai dengan semangat jaman dan cita-cita”

Akhir -akhir ini sering terdengar kata redefinisi di Iklan merek TV Sony yang menampilkan maksud redefinisi TV. Mengubah arti TV yang tadinya hanya media tontonan, menjadi Inernet TV yang juga menjadi media dengan penambahan feature internet. Maksud Iklan tersebut kurang tepat mengingat redefinisi sebetulnya hanya berlaku pada hal-hal yang maknanya saja berubah tetapi wujudnya sama. Maksud iklan tersebut adalah revolusi, karena perubahannya mencakup bentuk, fungsi, dan maknanya. Redefinisi  dimaknai sebagai memikirkan, mendefinisikan, mengartikan, memaknai, atau menafsirkan kembali pemahaman-pemahaman suatu hal yang telah ada, hingga memiliki arti yang lebih sesuai dengan kaidah waktu.

Redefinisi bukan hanya dalam penerapan ilmu pengetahuan yang sifatnya dinamis, berlaku pula pada penerapan agama dan norma-nilai yang selama ini kita anut. Segala yang ada di dunia ini bersifat tidak tetap secara definisi umum maupun pribadi. Segala sesuatu memang harus kita maknai esensinya, bukan hanya sekedar prakek saja. Sejalan dengan pemikiran filsafat untuk menggali  esensi dan ilmu pengetahuan untuk menguji kebenaran semua hal.

Saat ini makna redefinisi yang terpenting adalah penerapannya untuk mengubah mind-set kehidupan sehari-hari. Mulai dari prilaku, gaya hidup, kebiasaan, dan sudut pandang. Menjadi pemaknaan kembali yang lebih sesuai dengan konteks jaman selaras dengan cita-cita dan tujuan hidup. Redefinisi kehidupan hanya bisa kita lakukan jika kita banyak menerima input dari luar dengan lebih banyak. Dengan kata lain, kita harus belajar tidak hanya dari yang ada di sekitar kita saja, kita harus belajar dengan menembus tembok dan sekat-sekat pemikiran sempit, dan membiarkannya melewati dimensi ruang dan waktu. Belajar dari masa lalu hingga masa kini, dan dari sekitar kita hingga ujung dunia. Sehingga kita bisa menemukan definisi-definisi lain.

REDEFINISI HIDUP, APA DASARNYA?

Semangat redefinisi memang sudah ada sejak zaman awal  filsafat yang mencoba membuka pemikiran terselubung manusia. Tetapi dalam kitab agama langit, redefinisi sudah ada sejak jaman Adam diciptakan. Buah yang konon menjadi sebab kesalahan Adam dan Hawa yang disebut buah terlarang/pengetahuan/Apel/Khuldi-lah yang membuat nenek moyang kita meredefinisikan tubuh vital mereka menjadi sesuatu yang sesuai dengan fungsi dan mungkin jaman atau waktunya.Hingga memang lebih tepat juga meredefinisikan nama buah yang dimakan Adam dan Hawa sebagai buah pengetahuan.

Sejarah tentang Adam dan Hawa tadi juga harus kita redefinisikan ke arah pemahaman yang lebih tepat. Tanpa Adam dan Hawa kita tidak mungkin hidup di bumi ini, jadi berterima kasih kepada Adam dan Hawa seharusnya menjadi kewajiban bagi semua penganut agama langit. Tanpanya, kita tidak akan pernah mengecap manisnya apel bumi.

Jika secara historis saja redefinisi memang sudah ada, apakah memang sifat dari redefinisi ini merupakan kehendak Tuhan bagi setiap manusia di bumi? Atau dalam konteks makna beragama, ini bisa jadi adalah Sunatullah yang berupa hikmah atau ilmu yang memang hanya bisa dipahami oleh orang yang mau berfikir. Karena makna redefinisi erat kaitannya dengan memikirkan kembali.

Coba kita meresapi ayat ini…
… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...” QS.Ar Ra’d : 11

kata mengubah dalam ayat tersebut bisa kita maknai maksudnya menjadi “mengubah ke arah yang lebih tepat dan lebih baik” dari yang awalnya dianngap oleh “kaum” (orang kebanyakan) memang sudah benar. Jadi mungkinkah makna mengubah disini juga boleh diartikan untuk memikirkan kembali atau boleh jadi meredefinisi.

SEMANGAT REDEFINISI, AWAL DARI TINDAKAN DAN SOLUSI MASALAH

Redefinisi adalah hal yang paling awal yang harus menjadi bahan baku perubahan. Kita harus meredefinisi segala hal, ya, segala hal yang ada di sekitar kita menjadi definisi yang lebih tepat lagi. Jika kita mendefinisikan hidup adalah hidup a la orang kebanyakan, maka sudah tentu kita tidak akan bisa mengubah hidup lebih baik. Redefinisi hidup bisa jadi berbeda-beda, yang pastinya hidup harus diredefinisi ke arah yang lebih baik. Sesuai dengan idealisme atau cita-cita masing-masing orang.

Satu hal yang paling penting setelah memahami redefinisi adalah mengaplikasikannya sebagai solusi suatu masalah. Masalah sering didefinisikan sebagai hal yang merepotkan, akibat dari kesalahan, dan  harus dihindari. Padahal jika kita meredefinisikan masalah ke arah yang lebih tepat. Maka masalah bisa didefinisikan sebagai sebuah kunci untuk menjadi lebih maju, tantangan, atau bahkan anugrah. Sehingga setiap masalah akan dijalani dengan semangat dan tanpa kegelisahan. Groge Bernard Shaw pernah bilang

“Life is like beautiful melody, only the lyrics are messed up”.

Shaw telah meredefinisi makna masalah kehidupan memahaminya sebagai sesuatu yang seindah melodi lagu yang meskipun liriknya amat sangat buruk tetapi musiknya bagus. Sehingga bagi Shaw, esensi hidup bukanlah segala masalah sehari-hari yang meskipun itu tidak menyenangkan tetapi ritme yang ia pandang indah. Dan tentang kehidupan, mari  mengacu pada proverb ini:

“life is never been easy, but always full of fun”.

Bahwa hidup memang tidak pernah mudah, tetapi selalu menyenangkan. Sehingga boleh jadi seperti kata orang  bijak bahwa

“Life is by problem, if there is no problem, there is no life”

Kalimat tadi harus menjadi pegangan kita, untuk meredefinisi kehidupan yang sudah ada menjadi lebih baik dan tepat, meskipun banyak tantangannya.

Jadi, mari kita meredefinisikan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita, mulai dari yang paling penting seperti definisi “kehidupan” hingga yang berupa pemahaman-pemahaman seperti definisi “masalah”.

SEMANGAT PERUBAHAN!

Mencari Sebuah Nama

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

KehendakMu meliputi segala sesuatu

Tiada daya dan upaya

Selain kehendakMu

 

Engkau segala dari segala raya

Engkau sumber dari segala sumber

Engkau akhir dari segala yang tak pernah berakhir

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

Padamu aku memuji

Segala Nama dan Puji

Segala Sifat hakiki

Segala Kehendak

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

PadaMu cinta tiada sirna

Pedih duka tiada kurasa

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

Kuasamu meliputi segala

FirmanMu berat kurasa

Bahasamu bahasa Kuasa

tiada kuasa aku mendengarnya

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Sendiri aku mencari jawabnya,

Dalam riuh dunia

Dalam hening hati

Dalam Firman Abadi

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Tiada henti hingga Aku kembali

Waktu

Waktu masih berlalu, menyisakan memori tentang suka, duka, keingintahuan, rindu, bahkan kebencian. Terkadang kita sendiri begitu bingung degan makhluk Tuhan yang bernama waktu ini. Terkadang kita merindukan, terkadang aku juga amat membenci keberadaanya. Namun mengapa “Waktuka Hayatuka”( waktumu adalah hidupmu). Mungkin karena saksi abadi yang selalu lekat dengan perjalanan hidup kita selalu direkam oleh waktu. Rekaman ini yang nanti akan dibeberkan pada saat manusia diadili disisi Allah.

Waktu terkadang membuat kita merasa takut, karena waktu adalah sebuah pedang, yang suatu saat akan menibas kita secara beralahan-lahan, nanti atau dikemudian hari. Pedang itu sangat tajam, pedang yang akan bertambah tajam jika kita tidak segera menghargai waktu secepat mungkin. Jadi, tidak menghargai waktu diibaratkan seperti seseorang yang mengasah pedang untuk lehernya sediri.

Mungkin waktu adalah salah satu hamba Allah yang paling setia . Karena waktu tak pernah dusta kepada siapa saja. Waktu selalu mengungkapkan fakta. Waktu selalu memberi kita jawaban jika kita bertanya. Waktu selalu memberi jawaban atas apa yang terjadi sekarang dan yang akan terjadi di masa depan.

Terlalu naif untuk memahami hamba Allah yang satu ini, karena keberadaanya memang sangat tidak tersentuh oleh manusia, sehingga manusia lelah untuk terus menerus memikirkannya dan berhenti untuk mencoba mengubahnya. Manusia beralih untuk tidak memikirkan waktu kembali. Mereka lebih memilih untuk memikirkan apa yang bisa waktu lakukan untuk mereka, tanpa berfikir apa meraka bisa mengubah waktu.

Terkadang kita bingung mengapa hidup harus diukur dengan waktu, ada prasejarah dan sejarah, Ada waktu untuk hidup kemudian mati. Bahagia kemudian duka atau pun sebaliknya. Mengapa begitu? Apakah itu rahasia Allah, ataukah hanya suatu hal yang sebetulnya sangat mudah untuk difahami ?

Kita diberikan tugas berupa waktu untuk memanfaatkannya, dalam tugas itu ada deadline yang tidak diungkapkan kepada kita. Bukan karena Allah pelit, melainkan hanya hendak menguji siapa saja hamba-Nya yang bisa mengerjakan tugas sebaik-baik mungkin tanpa menatap deadlinenya. Cukuplah deadline yang sangat terjaga kerahasiaanya itu menjadi sebuah nasihat untuk kita, bahwa kita tidak mengetahui kapan deadline atau waktu akhir tugas kita di dunia itu, dan disaat kita diminta untuk mengumpulkan tugas itu, apakah kita siap dengan nilai yang Allah berikan kepada kita melalui koreksi waktu.

Waktu, suatu hal yang terkadang luput dari pandangan kita. Kita terkadang lupa dan selalu meremehkan akan keberadaannya, hingga saat nafas terakhir kita bertanya “Masihkah ada waktu untukku untuk menyelesaikan tugasku ?”. Malaikat pencabut nyawa menjawab, “Tidak, waktumu telah habis, tugasmu harus segera dikumpulkan”.