Pulang Kampung untuk Memilih

Malam itu aku sampai di kampung pukul 23.00; setelah bercuap-cuap dan keliling rumah aku ngobrol dengan Ibu soal pilihan presiden. Aku minta Ibu memilih Jokowi, bukan berarti lebih baik- tetapi kelak jika kita ditanya malaikat kita punya alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Dan karena dia Ibundaku, aku punya tanggung jawab moral sebagai putranya.

Lalu seperti yang sudah aku kira, beliau tanya soal Ahok yang bakal jadi Gubernur DKI. Ahok kan kafir, karena ada bunyi ayatnya jika tidak boleh orang Islam dipimpin orang kafir. Aku mencoba jelaskan lagi soal makna Islam, iman, kafir kepada Ibu dengan berharap Ibu paham. Ibu masih tidak bisa paham karena penjelasan aku seputar tafsir Islam dengan pendekatan rahmatan lil alamin.

Tak kunjung selesai berbincang, kami sepakat tidur dulu karena aku masih tidak bisa menjelaskan dengan mudah bagaimana mengeluarkan pemikiranku tentang Islam. Aku sudah mematikan lampu, tidur di kursi panjang ruang tamu dan tiba-tiba melihat bintang dalam tidur ayamku, (sebetulnya aku ga bisa tidur gara-gara harus ngulang kuliah komunikasi politik kepada teman yang bbm kemungkinan demokrasi kita kelak; dan perbandingannya dengan negara lain yang punya sistem demokrasi lebih mapan).

Dari cahaya bintang, aku teringat kata Allah bahwa Ia telah menuliskan dalam ayat-ayatnya (tersurat dan tersirat) tentang perumpamaan-perumpamaan atau tamsil yang Dia buat untuk memudahkan manusia menjangkau kehendakNya. Aku mencoba membuat perumpamaan soal cara melihat Islam dengan perumpamaan/tamsil sederhana tentang hakikat bintang.

Jadi, apakah bintang itu besar atau kecil?”

Orang awam yang hanya memandang dengan mata telanjang selalu melihat bintang itu kecil, padahal bintang itu besar dan sangat besar bahkan banyak yang lebih besar ratusan kali dari matahari yang kini Allah berikan untuk kita di jagad bimasakti ini.

Jadi, apakah Islam itu besar atau kecil?”

Orang yang hanya membaca tanpa memperhatikan ayat alam semesta ciptaan Allah, hanya memandang Islam itu sebagai Islam yang kecil, yang terkotak-kotak, hanya boleh dimiliki oleh segelintir orang dengan syarat-syarat yang mereka yakini. Selain yang sama dengan mereka tentu bukan Islam yang kaffah atau bahkan dicap sebagai kafir. Padahal kita semua tahu, bahwa Tuhan menitahkan jika Islam adalah kepercayaan yang rahmatan lil alamin, rahmat yang menjangkau seluruh alam semesta.

Sementara banyak kita, menafsirkan Islam dengan sangat kecil bahkan menjualnya demi kekuasaan semata. Islam A, Islam B, Islam C, hingga masalah hilal pun dibesar-besarkan para pemuka agama mennjadi masalah yang sepertinya sangat serius. Begini kecilkah kita melihat Islam kita ini?

Seumpama bintang, Islam itu besar bagaikan mentari yang menyinari alam semesta, jangan kecilkan Islam seperti memandang bintang yang ada di langit sana. Banyak bintang di langit sana itu membutuhkhan jutaan tahun agar sinarnya sampai ke bumi. Bahkan banyak bintang yang di tempat asalnya sudah mati tapi sinarnya baru sampai ke bumi.

Islam selayaknya kita pandang sebagai agama yang sangat besar seperti maha-bintang. Islam rahmatan lil alamin yang aku pahami demikian. Kami merelakan Ahok dengan pemahaman akan Islam yang maha besar. Ahok bagiku bukan kafir, dia beriman dan dia punya kepercayaan sebagai Kristiani. Ahok bagiku punya akhlak pemimpin Islam jika aku ingin melakukan “lompatan bintang” pemahaman tentang Islam yang sangat Rahmatan lil Alamin, Islam yang serupa dengan cahaya bintang yang menyinari alam semesta.

Nabi Muhammad pun saat berhasil memimpin Madinah tidak mengganti para pemimpin, suku-suku di bawah naungan Madinah dibiarkan dipimpin dari golongan mereka sendiri. Semangat Nabi yang nasionalisme atau anti-kesukuan untuk hidup berdampingan bersama atas dasar “manusia” inilah semangat tertinggi dalam Islam.

Mari, bandingkan masa-masa sebelum Jokowi dan Ahok memimpin Jakarta, belum pernah ada pemimpin yang begitu dekat kebijakannya dengan masyarakat. Ide-ide birokrasi dan demokrasi yang sangat Islami (keterbukaan, ketelitian, pro-rakyat miskin, pro-lingkungan, dsb).

Jika itu belum bisa menjadi dalih untuk merelakan Jokowi sebagai calon pemimpin kita karena baru sedikit kebijakan yang mereka buat. Jangan kira Jokowi tak berbuat apa-apa sebelumnya. Semenjak di Solo Jokowi sudah menunjukkan bagaimana memiliki akhlak sebagai seorang pemimpin sejati hingga rakyat Solo memilih mutlak untuk kedua-kalinya dan merelakan Jokowi naik ke Jakarta.

Apakah Jokowi tak berprestasi di Jakarta? Jangan buru-buru, itu karena sejatinya telah banyak mereka gapai dibanding gubernur sebelumnya. Aku mencoba merasakan Jokowi-Ahok dalam posisi pemimpin yang ditakuti birokrat, banyak kebijakan yang justru dipolitisasi oleh pemerintah pusat seperti konsep mobil murah; jelas-jelas Jokowi mau mengurangi kemacetan, pemerintah malah kasih insentif besar pada mobil murah sementara transportasi publik dipersulit dan dibiarkan dijelek-jelekkan bahkan cinderung tak didukung.

Lalu apakah kasus bis karatan dan laporan BPK soal potensi kerugian itu menandakan Jokowi tidak amanah?”

Perumpamaannya begini, kalau banyak menteri  di Jaman SBY korupsi apakah itu serta-merta salah SBY tersangkut dan dia yang salah? Tentu tidak kan, SBY tidak amanah karena banyak menunjuk orang keliru yang tidak amanah pula. Bedanya Ahok dan Jokowi sudah sering mengeluh perlakuan para pejabat ini, karena pejabat PNS eselon-eselon hanya bisa dipecat oleh negara yang mengangkatnya. Di Indonesia, menjadi pejabat pemalas bukanlah kejahatan.

Oleh karena itu kita coba menaikkan Jokowi sebagai Pemimpin untuk lima tahun ke depan. Jangan takut, kita justru harus takut pada calon pemimpin yang memang kita rasa tidak amanah. Kita memang belum tahu susunan menteri yang Jokowi akan atau sudah buat, tapi dia janji bukan berdasarkan prinsip bagi-bagi kekuasaan kan? Sedang calon yang lain, Ibu lihat sendiri siapa yang akan duduk di pemerintahan ini, apa kita hendak mengulang zaman SBY? Zaman terasa aman tetapi menumpuk banyak permasalahan.

Biar kita tahu bagaimana seharusnya pemimpin itu, memimpin bukan tuan tetapi pelayan rakyat. Ini yang disebut revolusi mental, perubahan pandangan atau mental kita yang selama ini menganggap pemimpin adalah simbol kekuasaan bukan kerakyatan.

Untuk Ibu dan Bapak, apapun nanti pilihannya, aku tetap setia, takzim, hormat dan kritis kepada Ibu-Bapak. Ibu tetap boleh menanyakan kapan rambut gondrong aku dipotong, kapan aku harus kerja atau memarahi dan menjewer aku kalo di rumah kelewatan tidur (meski aku saat menulis ini belum mandi, belum tidur lebih dari 20 Jam termasuk dari perjalanan kereta ekonomi 10 Jam Jakarta-Solo). Padahal aku janji besok mau ikut ngecat rumah hehehehe…

Ibu dan bapak, Jika memang tidak mampu punya alasan lebih kuat dan tidak paham penjelasanku, dan tetap tidak memilih Jokowi pun tidak apa-apa. Pun bagi putramu ini tidak masalah jika Jokowi tidak menjadi pemimpin. Filasafat #Akurapopo adalah bentuk menerima hasil dari apa yang telah dikerjakan dan diperjuangkan dengan kesungguhan tekad, sekalipun menang atau gagal. Jokowi pernah bilang bahwa dia tidak akan pernah kehilangan jati dirinya menang atau kalah. Jokowi janji tidak berubah, meskipun menjadi atau gagal menjadi Presiden. Dan bagi kami pun selama ini dia sudah menjadi pemimpin, oase di tengah kegersangan kepemimpinan dan demokrasi kita.

Dan bukankah kata Allah, setiap keputusan berbuah keberhasilan dan kegagalan selalu ada hikmahnya. Semoga kelak kita pun sama-sama mengambil hikmah dari sikap-sikap yang kita pilih. Karena aku pun masih sangat 100% bisa salah karena toh hanya kebenaran milik Allah. Kita hanya mencoba menafsirkan ayat-ayatnya, mencoba mencari pilihan yang terbaik.

NB: Akhirnya Ibu memilih Jokowi, sedang Bapak memilih Prabowo. Tidak masalah, karena di kampong halamanku, Sukoharjo-kota kecil di sebelah Solo, Jokowi masih memimpin 70% lebih. Aku ngotot pulang karena seseorang kawan mengancam suara Jokowi akan turun drastis di Solo, kenyataannya masyarakat Solo sekitarnya- Jawa Tengah, masih belum termakan fitnah kejam terhadap Jokowi. Alhamdulillah.

Kata Kita (Epigen)

Katamu kataku katakita melebur jadi satu
Tiap kata tiada makna jika kita tak ada katamu kataku
Dalam kata kita bukan kata tapi makna
Makna melebur dalam tubuh meski tak utuh,
Raga rapuh rasa jenuh
Tapi ini kata kita
Tak penuh dalam peluh
Tak mengeluh tapi melenguh
Dalam satu tubuh

Kurban

Kurban

Secara antropologis, kurban mulanya adalah sesaji yang digunakan untuk berterimakasih, menghibur atau memohon sesuatu kepada Tuhan atau Dewa-Dewa. Konsep kurban ditemukan pada hampir setiap kebudayaan di dunia ini. Kebudayaan-kebudayaan kuno seperti bangsa Maya, misalnya, juga tercatat pernah menjadikan manusia sebagai kurban dengan cara menenggelamkan manusia ke sebuah danau suci sebagai permohonan hujan kepada Dewa-Dewa.

Al Qur’an mencatat definisi kurban awalnya sama seperti definisi kurban dalam agama-agama pagan tersebut. Yakni kurban untuk sesaji Tuhan, hal tersebut tertulis dalam surat Al Maidah, 27:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dalam ayat tersebut jelas bahwa kurban menjadi salah satu bentuk ucapan syukur dan terimakasih kepada Tuhan. Kurban Habil dan Qabil merupakan kurban berbentuk materi atau bisa disebut sesaji yang dipersembahkan untuk Tuhan. Pada waktu itu, hubungan Tuhan dan manusia masih dekat dan membumi setelah kejatuhan Adam.

Konsep kurban seperti Habil dan Qobil terus berlaku hingga Ibrahim tiba. Kesediaan Ibrahim menerima mimpi Tuhan untuk mengorbankan nyawa anaknya, bisa jadi merupakan pertanda jika berkurban nyawa manusia memang merupakan sesuatu yang dapat diterima pada zaman Ibrahim. Setelah tragedi Ismail (atau Ishak dalam konsep Nasrani dan Yahudi) Tuhan benar-benar merubah konsep kurban dari nyawa manusia atau sesaji-sesaji ke arah pemaknaan yang lebih logis. Proses mendidik Tuhan kepada nenek moyang kita tentang hakikat berkurban, berketuhanan, dan bersosial pun dimulai ketika itu.

Sejak Ibrahim, Tuhan tak lagi meminta kurban untuk menguji iman secara langsung. Tuhan sejatinya seperti yang banyak diulang-ulang dalam Al Qur’an, tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Tuhan tidak membutuhkan nyawa kita sebagi kurban. Pemahaman mengorbankan nyawa kepada Tuhan dengan dalih seperti membela Tuhan- adalah pemahaman yang justru kembali ke penafsiran yang mundur.

Kurban dan Jihad.

Dalih berkurban kepada Tuhan melalui tafsir Jihad merupakan transformasi pemaknaan Jihad yang justru jauh dari konteksnya. Banyak sekali yang menafsirkan jihad untuk pengorbanan manusia kepada Tuhan sebagai bentuk pengabdian. Penafsiran Jihad model ini adalah pemaknaan yang kembali ke zaman berketuhanan paling fundamentalis yang sudah tidak sesuai dengan zaman modern. Pemaknaan yang disertai dengan penyerangan, pembunuhan, pengorbanan diri untuk membunuh kelompok lain yang tidak sepaham, merupakan penafsiran akan Jihad dan kurban yang paling ekstrem. Sekalipun penafsiran seperti ini masih dijumpai bahkan pada zaman sahabat nabi, itu bukanlah contoh yang tepat untuk dilestarikan. Jauh dari sikap yang ingin diajarkan Nabi Muhammad tentang Islam yang rahmatan lil alamin.

Jihad sejatinya seperti yang diulang-ulang oleh Muhammad, yang paling utama adalah Jihad dalam bentuk pengembangan ilmu. Dan Jihad yang paling berat adalah Jihad melawan hawa nafsu sendiri kata Nabi Muhammad dengan tegas. Berkorban dengan nyawa kepada Tuhan, jika demikian bisa dianggap sebagi kurban, adalah aspek dimana Islam mebutuhkannya jika kita dalam keadaan diserang secara fisik, bukan menyerang.

Aspek sosiallah yang kini lebih Tuhan utamakan dalam pemaknaan tingkat tinggi kurban khususnya dalam hari raya Iedul Adha. Ditambah sebagai aspek budaya untuk mengingat-ingat sejarah baik sejarah Ibrahim maupun Muhammad sendiri. Beberapa pesan Muhammad mengindikasikan bahwa kurban merupakan keutamaan kepada sesama manusia. Ini banyak dijumpai pada beberapa ucapan-ucapan beliau.

Kini banyak yang tidak sadar dalam memaknai hari raya kurban, kurban dalam agama Islam tidak sama dengan definisi kurban dalam keyakinan agama bumi atau ajaran agama pra-Ibrahim. Dalam Islam, kurban bukanlah untuk Tuhan, tetapi untuk sesama manusia sebagai wujud nyata cinta kita kepada Tuhan. Selamat berpesta!

Mencari Sebuah Nama

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

KehendakMu meliputi segala sesuatu

Tiada daya dan upaya

Selain kehendakMu

 

Engkau segala dari segala raya

Engkau sumber dari segala sumber

Engkau akhir dari segala yang tak pernah berakhir

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

Padamu aku memuji

Segala Nama dan Puji

Segala Sifat hakiki

Segala Kehendak

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

PadaMu cinta tiada sirna

Pedih duka tiada kurasa

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Oh Tuhan,

Kuasamu meliputi segala

FirmanMu berat kurasa

Bahasamu bahasa Kuasa

tiada kuasa aku mendengarnya

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Sendiri aku mencari jawabnya,

Dalam riuh dunia

Dalam hening hati

Dalam Firman Abadi

 

“Jika kita semua berasal dari tempat yang sama,

dan kembali pada tempat yang sama,

Lalu mengapa kita hidup di dunia ini?”

 

Tiada henti hingga Aku kembali

Tujuan Hidup

Hidup adalah sebuah karya,
dai suatu harapan dan cita-cita.

Karya hidup akan selalu dikenang dan terus mengalir,
meskipun empunya telah tiada.

Karya hidup yang mulia adalah suatu pahala,
bagaikan pohon abadi yang akan senantiasa,
berbuah dan memberi bibit-bibit kehidupan,
bagi generasi penerusnya.

Warnailah hidupmu dengan cita-cita agung,
yang berasal dari sebuah harapan mulia.

Karena semua itu tiada akan sia-sia,
Allah akan membalasnya.

Jadikanlah cita-cita dan harapan mulia sebagai nafasmu,
dan setiap hembusannya,
jadikan untuk mewujudkan impianmu.

Hidup berawal dari sebuah tujuan dari impian,
hidup tanpa tujuan adalah hampa.

impian…
tak hancur meskipun winter,
tak lekang meskipun summer,

Always dream and pray to next life,
and keep positive thinking forever.

Lorong Gelap

Pada suatu masa,
Aku mencoba masuk dalam sebuah lorong
Yang gelapnya membutakan mata
Dan tutupi jalan pulang kepadaNya

Entah Lucifer apa yang menghasutku
Hingga aku berani mencoba memasukinya
Yang membuat jiwaku bahagia dalam kesemuan
Mengusir kebosanan untuk mencari kebahagiaan

Kebahagiaan adalah kamuflase dari kegelapan
Yang membuatku ingin terus masuk dan masuk lebih dalam
Menjelajahi jiwa yang kesepian
Yang membuat aku ketagihan

Persimpangan demi persimpangan
Kulalui dengan kenikmatan sesaat
Hingga puncak dosa mendera jiwa
Lelah,bosan, berdosa, dan terlanjur

Dan suatu ketika aku ingin pulang
Dari gelapnya lorong yang membutakan mataku ini
Aku terjatuh dan terluka
Hingga cacat mendera jiwa

Aku sudah terlalu jauh di dalam lorong gelap
Dan jiwaku sudah cacat
Sukmaku tak lagi suci
Namun aku mencoba menanti
Akan setitik cahayaMu
menuntunku kembali pulang

Biar

Biar kata mereka
Biar tingkah mereka
Tentangku!

Biar mereka bilang
Biar mereka anggap
Diri mereka tiada dosa

Biar saja mereka jatuh
Biar lobang dosa yang mereka gali
Biar mereka jatuh ke dalamnya

Bukan tugasku meneriakkinya
Biar jadi pelajaran mereka
Biar mereka belajar!

Biar saja
Biar mereka tahu atau tidak
Kan kubiarkan!