Pulang Kampung untuk Memilih

Malam itu aku sampai di kampung pukul 23.00; setelah bercuap-cuap dan keliling rumah aku ngobrol dengan Ibu soal pilihan presiden. Aku minta Ibu memilih Jokowi, bukan berarti lebih baik- tetapi kelak jika kita ditanya malaikat kita punya alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Dan karena dia Ibundaku, aku punya tanggung jawab moral sebagai putranya.

Lalu seperti yang sudah aku kira, beliau tanya soal Ahok yang bakal jadi Gubernur DKI. Ahok kan kafir, karena ada bunyi ayatnya jika tidak boleh orang Islam dipimpin orang kafir. Aku mencoba jelaskan lagi soal makna Islam, iman, kafir kepada Ibu dengan berharap Ibu paham. Ibu masih tidak bisa paham karena penjelasan aku seputar tafsir Islam dengan pendekatan rahmatan lil alamin.

Tak kunjung selesai berbincang, kami sepakat tidur dulu karena aku masih tidak bisa menjelaskan dengan mudah bagaimana mengeluarkan pemikiranku tentang Islam. Aku sudah mematikan lampu, tidur di kursi panjang ruang tamu dan tiba-tiba melihat bintang dalam tidur ayamku, (sebetulnya aku ga bisa tidur gara-gara harus ngulang kuliah komunikasi politik kepada teman yang bbm kemungkinan demokrasi kita kelak; dan perbandingannya dengan negara lain yang punya sistem demokrasi lebih mapan).

Dari cahaya bintang, aku teringat kata Allah bahwa Ia telah menuliskan dalam ayat-ayatnya (tersurat dan tersirat) tentang perumpamaan-perumpamaan atau tamsil yang Dia buat untuk memudahkan manusia menjangkau kehendakNya. Aku mencoba membuat perumpamaan soal cara melihat Islam dengan perumpamaan/tamsil sederhana tentang hakikat bintang.

Jadi, apakah bintang itu besar atau kecil?”

Orang awam yang hanya memandang dengan mata telanjang selalu melihat bintang itu kecil, padahal bintang itu besar dan sangat besar bahkan banyak yang lebih besar ratusan kali dari matahari yang kini Allah berikan untuk kita di jagad bimasakti ini.

Jadi, apakah Islam itu besar atau kecil?”

Orang yang hanya membaca tanpa memperhatikan ayat alam semesta ciptaan Allah, hanya memandang Islam itu sebagai Islam yang kecil, yang terkotak-kotak, hanya boleh dimiliki oleh segelintir orang dengan syarat-syarat yang mereka yakini. Selain yang sama dengan mereka tentu bukan Islam yang kaffah atau bahkan dicap sebagai kafir. Padahal kita semua tahu, bahwa Tuhan menitahkan jika Islam adalah kepercayaan yang rahmatan lil alamin, rahmat yang menjangkau seluruh alam semesta.

Sementara banyak kita, menafsirkan Islam dengan sangat kecil bahkan menjualnya demi kekuasaan semata. Islam A, Islam B, Islam C, hingga masalah hilal pun dibesar-besarkan para pemuka agama mennjadi masalah yang sepertinya sangat serius. Begini kecilkah kita melihat Islam kita ini?

Seumpama bintang, Islam itu besar bagaikan mentari yang menyinari alam semesta, jangan kecilkan Islam seperti memandang bintang yang ada di langit sana. Banyak bintang di langit sana itu membutuhkhan jutaan tahun agar sinarnya sampai ke bumi. Bahkan banyak bintang yang di tempat asalnya sudah mati tapi sinarnya baru sampai ke bumi.

Islam selayaknya kita pandang sebagai agama yang sangat besar seperti maha-bintang. Islam rahmatan lil alamin yang aku pahami demikian. Kami merelakan Ahok dengan pemahaman akan Islam yang maha besar. Ahok bagiku bukan kafir, dia beriman dan dia punya kepercayaan sebagai Kristiani. Ahok bagiku punya akhlak pemimpin Islam jika aku ingin melakukan “lompatan bintang” pemahaman tentang Islam yang sangat Rahmatan lil Alamin, Islam yang serupa dengan cahaya bintang yang menyinari alam semesta.

Nabi Muhammad pun saat berhasil memimpin Madinah tidak mengganti para pemimpin, suku-suku di bawah naungan Madinah dibiarkan dipimpin dari golongan mereka sendiri. Semangat Nabi yang nasionalisme atau anti-kesukuan untuk hidup berdampingan bersama atas dasar “manusia” inilah semangat tertinggi dalam Islam.

Mari, bandingkan masa-masa sebelum Jokowi dan Ahok memimpin Jakarta, belum pernah ada pemimpin yang begitu dekat kebijakannya dengan masyarakat. Ide-ide birokrasi dan demokrasi yang sangat Islami (keterbukaan, ketelitian, pro-rakyat miskin, pro-lingkungan, dsb).

Jika itu belum bisa menjadi dalih untuk merelakan Jokowi sebagai calon pemimpin kita karena baru sedikit kebijakan yang mereka buat. Jangan kira Jokowi tak berbuat apa-apa sebelumnya. Semenjak di Solo Jokowi sudah menunjukkan bagaimana memiliki akhlak sebagai seorang pemimpin sejati hingga rakyat Solo memilih mutlak untuk kedua-kalinya dan merelakan Jokowi naik ke Jakarta.

Apakah Jokowi tak berprestasi di Jakarta? Jangan buru-buru, itu karena sejatinya telah banyak mereka gapai dibanding gubernur sebelumnya. Aku mencoba merasakan Jokowi-Ahok dalam posisi pemimpin yang ditakuti birokrat, banyak kebijakan yang justru dipolitisasi oleh pemerintah pusat seperti konsep mobil murah; jelas-jelas Jokowi mau mengurangi kemacetan, pemerintah malah kasih insentif besar pada mobil murah sementara transportasi publik dipersulit dan dibiarkan dijelek-jelekkan bahkan cinderung tak didukung.

Lalu apakah kasus bis karatan dan laporan BPK soal potensi kerugian itu menandakan Jokowi tidak amanah?”

Perumpamaannya begini, kalau banyak menteri  di Jaman SBY korupsi apakah itu serta-merta salah SBY tersangkut dan dia yang salah? Tentu tidak kan, SBY tidak amanah karena banyak menunjuk orang keliru yang tidak amanah pula. Bedanya Ahok dan Jokowi sudah sering mengeluh perlakuan para pejabat ini, karena pejabat PNS eselon-eselon hanya bisa dipecat oleh negara yang mengangkatnya. Di Indonesia, menjadi pejabat pemalas bukanlah kejahatan.

Oleh karena itu kita coba menaikkan Jokowi sebagai Pemimpin untuk lima tahun ke depan. Jangan takut, kita justru harus takut pada calon pemimpin yang memang kita rasa tidak amanah. Kita memang belum tahu susunan menteri yang Jokowi akan atau sudah buat, tapi dia janji bukan berdasarkan prinsip bagi-bagi kekuasaan kan? Sedang calon yang lain, Ibu lihat sendiri siapa yang akan duduk di pemerintahan ini, apa kita hendak mengulang zaman SBY? Zaman terasa aman tetapi menumpuk banyak permasalahan.

Biar kita tahu bagaimana seharusnya pemimpin itu, memimpin bukan tuan tetapi pelayan rakyat. Ini yang disebut revolusi mental, perubahan pandangan atau mental kita yang selama ini menganggap pemimpin adalah simbol kekuasaan bukan kerakyatan.

Untuk Ibu dan Bapak, apapun nanti pilihannya, aku tetap setia, takzim, hormat dan kritis kepada Ibu-Bapak. Ibu tetap boleh menanyakan kapan rambut gondrong aku dipotong, kapan aku harus kerja atau memarahi dan menjewer aku kalo di rumah kelewatan tidur (meski aku saat menulis ini belum mandi, belum tidur lebih dari 20 Jam termasuk dari perjalanan kereta ekonomi 10 Jam Jakarta-Solo). Padahal aku janji besok mau ikut ngecat rumah hehehehe…

Ibu dan bapak, Jika memang tidak mampu punya alasan lebih kuat dan tidak paham penjelasanku, dan tetap tidak memilih Jokowi pun tidak apa-apa. Pun bagi putramu ini tidak masalah jika Jokowi tidak menjadi pemimpin. Filasafat #Akurapopo adalah bentuk menerima hasil dari apa yang telah dikerjakan dan diperjuangkan dengan kesungguhan tekad, sekalipun menang atau gagal. Jokowi pernah bilang bahwa dia tidak akan pernah kehilangan jati dirinya menang atau kalah. Jokowi janji tidak berubah, meskipun menjadi atau gagal menjadi Presiden. Dan bagi kami pun selama ini dia sudah menjadi pemimpin, oase di tengah kegersangan kepemimpinan dan demokrasi kita.

Dan bukankah kata Allah, setiap keputusan berbuah keberhasilan dan kegagalan selalu ada hikmahnya. Semoga kelak kita pun sama-sama mengambil hikmah dari sikap-sikap yang kita pilih. Karena aku pun masih sangat 100% bisa salah karena toh hanya kebenaran milik Allah. Kita hanya mencoba menafsirkan ayat-ayatnya, mencoba mencari pilihan yang terbaik.

NB: Akhirnya Ibu memilih Jokowi, sedang Bapak memilih Prabowo. Tidak masalah, karena di kampong halamanku, Sukoharjo-kota kecil di sebelah Solo, Jokowi masih memimpin 70% lebih. Aku ngotot pulang karena seseorang kawan mengancam suara Jokowi akan turun drastis di Solo, kenyataannya masyarakat Solo sekitarnya- Jawa Tengah, masih belum termakan fitnah kejam terhadap Jokowi. Alhamdulillah.

Kata Kita (Epigen)

Katamu kataku katakita melebur jadi satu
Tiap kata tiada makna jika kita tak ada katamu kataku
Dalam kata kita bukan kata tapi makna
Makna melebur dalam tubuh meski tak utuh,
Raga rapuh rasa jenuh
Tapi ini kata kita
Tak penuh dalam peluh
Tak mengeluh tapi melenguh
Dalam satu tubuh

Kurban

Kurban

Secara antropologis, kurban mulanya adalah sesaji yang digunakan untuk berterimakasih, menghibur atau memohon sesuatu kepada Tuhan atau Dewa-Dewa. Konsep kurban ditemukan pada hampir setiap kebudayaan di dunia ini. Kebudayaan-kebudayaan kuno seperti bangsa Maya, misalnya, juga tercatat pernah menjadikan manusia sebagai kurban dengan cara menenggelamkan manusia ke sebuah danau suci sebagai permohonan hujan kepada Dewa-Dewa.

Al Qur’an mencatat definisi kurban awalnya sama seperti definisi kurban dalam agama-agama pagan tersebut. Yakni kurban untuk sesaji Tuhan, hal tersebut tertulis dalam surat Al Maidah, 27:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dalam ayat tersebut jelas bahwa kurban menjadi salah satu bentuk ucapan syukur dan terimakasih kepada Tuhan. Kurban Habil dan Qabil merupakan kurban berbentuk materi atau bisa disebut sesaji yang dipersembahkan untuk Tuhan. Pada waktu itu, hubungan Tuhan dan manusia masih dekat dan membumi setelah kejatuhan Adam.

Konsep kurban seperti Habil dan Qobil terus berlaku hingga Ibrahim tiba. Kesediaan Ibrahim menerima mimpi Tuhan untuk mengorbankan nyawa anaknya, bisa jadi merupakan pertanda jika berkurban nyawa manusia memang merupakan sesuatu yang dapat diterima pada zaman Ibrahim. Setelah tragedi Ismail (atau Ishak dalam konsep Nasrani dan Yahudi) Tuhan benar-benar merubah konsep kurban dari nyawa manusia atau sesaji-sesaji ke arah pemaknaan yang lebih logis. Proses mendidik Tuhan kepada nenek moyang kita tentang hakikat berkurban, berketuhanan, dan bersosial pun dimulai ketika itu.

Sejak Ibrahim, Tuhan tak lagi meminta kurban untuk menguji iman secara langsung. Tuhan sejatinya seperti yang banyak diulang-ulang dalam Al Qur’an, tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Tuhan tidak membutuhkan nyawa kita sebagi kurban. Pemahaman mengorbankan nyawa kepada Tuhan dengan dalih seperti membela Tuhan- adalah pemahaman yang justru kembali ke penafsiran yang mundur.

Kurban dan Jihad.

Dalih berkurban kepada Tuhan melalui tafsir Jihad merupakan transformasi pemaknaan Jihad yang justru jauh dari konteksnya. Banyak sekali yang menafsirkan jihad untuk pengorbanan manusia kepada Tuhan sebagai bentuk pengabdian. Penafsiran Jihad model ini adalah pemaknaan yang kembali ke zaman berketuhanan paling fundamentalis yang sudah tidak sesuai dengan zaman modern. Pemaknaan yang disertai dengan penyerangan, pembunuhan, pengorbanan diri untuk membunuh kelompok lain yang tidak sepaham, merupakan penafsiran akan Jihad dan kurban yang paling ekstrem. Sekalipun penafsiran seperti ini masih dijumpai bahkan pada zaman sahabat nabi, itu bukanlah contoh yang tepat untuk dilestarikan. Jauh dari sikap yang ingin diajarkan Nabi Muhammad tentang Islam yang rahmatan lil alamin.

Jihad sejatinya seperti yang diulang-ulang oleh Muhammad, yang paling utama adalah Jihad dalam bentuk pengembangan ilmu. Dan Jihad yang paling berat adalah Jihad melawan hawa nafsu sendiri kata Nabi Muhammad dengan tegas. Berkorban dengan nyawa kepada Tuhan, jika demikian bisa dianggap sebagi kurban, adalah aspek dimana Islam mebutuhkannya jika kita dalam keadaan diserang secara fisik, bukan menyerang.

Aspek sosiallah yang kini lebih Tuhan utamakan dalam pemaknaan tingkat tinggi kurban khususnya dalam hari raya Iedul Adha. Ditambah sebagai aspek budaya untuk mengingat-ingat sejarah baik sejarah Ibrahim maupun Muhammad sendiri. Beberapa pesan Muhammad mengindikasikan bahwa kurban merupakan keutamaan kepada sesama manusia. Ini banyak dijumpai pada beberapa ucapan-ucapan beliau.

Kini banyak yang tidak sadar dalam memaknai hari raya kurban, kurban dalam agama Islam tidak sama dengan definisi kurban dalam keyakinan agama bumi atau ajaran agama pra-Ibrahim. Dalam Islam, kurban bukanlah untuk Tuhan, tetapi untuk sesama manusia sebagai wujud nyata cinta kita kepada Tuhan. Selamat berpesta!

Saat Malaikat Bersedih

“Alhamdulillah,” seru Malaikat Penjaga Rumput, mensyukuri segala karunia Allah. Kemudian ia berdoa kepada Allah, agar semoga segala yang telah lewat ada hikmahnya, semoga rumput-rumput di negeri ini tetap hijau sehingga dapat memberi makan ternak-ternak manusia, dan semoga setiap makhluk-makhluk Allah yang bernaung di bawah rumput itu senantiasa diberkahi Allah. Selesai berdoa, ia membaca Bismillah dan mulai mengepakkan sayap-sayapnya untuk bersiap-siap terbang menuju Arsy Ke-7, menghadap Illahi Rabbi. Namun, samar-samar sesuatu berseru memanggil namanya, dan terasa hawa panas mendekat padanya.

“Ya Malaikat’i, saudara lamaku, kenapa engkau terburu-buru?”  seru Setan yang datang mendekati  Malaikat Penjaga Rumput.

“Ya, banyak tugas dari Rabbi yang belum selesai, saudaraku,” jawab Malaikat Penjaga Rumput dengan ramah. Dan karena keramahannya, ia turunkan sayap-sayapnya yang sudah ia kembangkan tadi. Demi menghormati Setan yang akan merasa gerah jika terkena semerbak wangi kasturi pada tubuhnya.

“Ada yang dapat saya bantu untukmu, Ya Syaitan?” tanya Malaikat Penjaga Rumput dengan ramah.

“Ah, tentu tidak sahabatku, aku tahu engkau makhluk yang sibuk, dan aku kasihan pada makhluk-makhluk Allah seperti kalian ini.” kata Setan sambil tersenyum. Senyum yang sangat sulit diartikan.

“Kasihan akan apakah, Ya Syaitan?” tanya Malaikat Penjaga Rumput sambil membalas senyum Setan. Berebeda dengan senyum Setan, Senyum Malaikat Penjaga Rumput lebih mudah diartiakan. Senyum hamba Allah yang taat dan senantiasa berdzikir kepada Rabb-nya.

“Tiap hari engkau mengurusi tetek bengek ini itu, engkau capek-capek terbang bolak-balik dari kutub utara hingga selatan, dari bumi hingga langit ke-7, tetapi kau tidak naik-naik pangkat, tetap saja menjadi Malaikat, pesuruh Allah.” jawab Setan panjang lebar, berlahan-lahan setan mulai menampakkan wajah yang sesungguhnya.

“Ya Syaitan, kasihan aku padamu, hakikat kita ini memang berbeda, tugas kita pun berbeda, engkau dari api, aku dari cahaya.” jawab Malaikat Penjaga Rumput penuh retorika. “Kita punya takdir masing-masing.”

“Manusia dan setan paling bodoh pun tahu itu! Takdir kita berbeda, aku di neraka dan engkau di surga. Tapi apa yang engkau peroleh nanti Malaikat? Selain surga yang memang sudah menjadi rumahmu?”

“Ridha Allah, aku takut akan Azab Allah yang maha pedih di kemudian hari, jika kita ini tidak taat dan patuh pada-Nya, Dia yang Maha Luhur lagi Maha Besar.”

“Tapi bodoh sekali engkau, tidak bisakah engkau selektif dalam menjalankan tugasnya? Engkau Malaikat… Malaikat apakah engkau ini?” tanya Setan yang pura-pura tidak tahu tugas Malaikat Penjaga Rumput.

“Ya Syaitan, saya Malaikat Penjaga Rumput, lihatah rumput-rumput itu, bukankah indah? Kami yang menjaganya hingga tumbuh besar dan siap diamanfaatkan, dan tugasku Alhamdulillah sudah selesai, barusan Kambing datang dan memakan rumput yang aku jaga.” jawab Malaikat berapi-api mengenalkan dirinya.

“Ya, itu tugas bodoh, itu hanya akan menguntungkan manusia-manusia itu pada akhirnya, bukankah kambing itu milik manusia?”

“Benar Ya Syaitan, aku menjalankan perintah Allah untuk menjaga Rumput ini, dan aku juga mengharapkan manusia bahagia di dunia, jika kambing mereka menjadi gemuk-gemuk lantaran rumput yang kujaga, tentunya Mereka akan berucap syukur pada Allah, kan?”

“Ya, dan apa yang akan engkau peroleh Malaikat Penjaga Rumput? Hanya kotoran kambing dari rumput yang kau jaga, kan?”

“Sungguh, aku memperoleh Ridha dan karunia yang tak terhingga dari Allah, engkau tak akan tahu itu.”

“Ya Malaikat’i, tahukah engkau jika engkau ini melakukan perbuatan yang sia-sia?”

“Maksudmu?” Tanya Malaikat heran, “Sia-sia bagaimana?”

“Engkau hamba yang taat pada Allah, tapi engkau menjaga apa-apa milik manusia yang bahkan mereka sendiri tidak percaya padamu?” jawab Setan dengan senyum, senyum yang sangat sulit diartikan.

“Ya Syaitan, aku menjalankan segala perintah Allah Ya Rabbal Alamin dengan ikhlas, dari lubuk hati yang terdalamku.” jawab Malaikat dengan santun.

“Ya, mengapa engkau tiada protes pada Allah-mu itu? Buat apa kamu susah-susah menjaga segala yang manusia miliki, toh mereka tidak percaya padamu kan?”

“Apa yang engkau maksud itu Syaitan?” tanya Malaikat terheran-heran.

“Di kitab terakhir yang diturunkan kepada si Muhammad, disebutkan hanya 10 macam bangsa sejenis engkau ini. seperti si Pencabut Nyawa agar mereka yakin akan si maut, ada si Penjaga Kubur, Surga, dan Neraka-ku agar mereka yakin akan kehidupan sesudah kematian, ada di Pencatat Amal Baik dan Buruk supaya mereka sadar bahwa segala sesuatu dicatat secara adil, dan masih banyak lagi yang bahkan sengaja tidak Allah sampaikan agar manusia mau berfikir. Tapi kau lihat saat ini, banyak dari mereka yang tidak percaya pada makhluk jenis kalian ini.”

“Apa yang engkau maksud Syaitan?” tanya Malaikat dengan lebih terheran-heran lagi.

“Maksudku, saat ini manusia banyak yang tidak takut akan kematian, tidak yakin akan hidup sesudah kematian, melakukan tindakan-tindakan keji yang seolah-olah tidak ada yang mencatat amaliah mereka. Sadarlah Malaikat, engkau ini makhluk yang senantiasa tunduk dan mau sujud pada Manusia, pada makhluk bodoh yang tiada percaya padamu. Naiklah kamu ke Arsy sana, proteslah pada Allah-mu!” seru Malaikat berapi-api.

“Ya Syaitan, aku tahu semua ini karena engkau yang membisiki manusia ke jalan yang sesat.” kata Malaikat Penjaga Rumput dengan sedih.

“Eitsss, tunggu dulu! Aku, engkau dan Allah sudah sepakat, jika manusia itu menjadi makhluk yang diberi kebebasan. Tidak seperti kita, kupinjam istilah manusia untuk kita tentang “diprogram dan dipatenkan” menjadi baik dan buruk! Aku bagian buruknya dan engkau bagian baiknya, manusia itu di beri akal dan hati supaya bisa berfikir. Tapi kebanyakan manusia itu sesat karena tak mau belajar, mereka itu malas! Jangan salahkan aku yang membisikki mereka untuk sesat pada Allah, bukankah engkau juga menjadi makhluk yang membantu mereka agar taat pada perintahnya? Bahkan engkau mau mendoaakan mereka, engkau sungguh bodoh mau tunduk dan sujud pada manusia yang tidak percaya padamu, sana naik ke Arsy dan protes pada Allah!” seru Setan dengan sumringah.

“Ya Syaitan, bukannya aku tidak pernah protes, bukankah manusia sudah mencatat di Kitab-nya Muhammad ‘Wahai Tuhan kami! Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami,padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-henti, sedangkan makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu, nescaya akan bertengkar satu dengan lain, akan saling bunuh-membunuh kerana berebut untuk menguasai kekayaan alam yang terlihat di atasnya dan terpendam di dalamnya, sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Engkau ciptakan itu.'” kata Malaikat Penjaga Rumput mengutip suatu ayat Kitab.

“Ya, benar, tapi engkau kena marah Allah kan, engkau dibilang sok tahu?” kata Setan nyengir.

“Bukan kena marah, Allah menasehati saya, “Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku. Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepadanya, maka bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah, kerana Aku melarang hamba-Ku beribadah kepada sesama makhluk-Ku.” jawab Malaikat tenang.

“Itu dulu, tapi sekarang laen! Manusia sudah tak ada yang mau percaya padamu. Padahal engkau ini agung, wajib manusia beriman padamu. Kata teori-teori manusia. Engkau ini wajib di-imani setelah mereka beriman kepada Allah. Tapi, nyatanya mereka cuma beribadah kepada Allah, karena mereka cuma beriman pada-Nya. Padamu? Manusia sudah tidak percaya, tidak beriman! Lihat buktinya, anak-anak yang diajari beriman pada Malaikat tetep aja buang sampah sembarangan dan doyan nyolong, orang tuanya tetep aja korupsi, kakak-kakaknya tetep aja judi, kakek neneknya pada mbabatin hutan raya, buyutnya nyebarin limbah kemana-mana. Itu bukti jika mereka memang sudah ngak percaya kalau semua ada yang ngawasi. Aku ulangi ya, mereka itu ngak beriman pada kamu. Eeee kamunya masih aja mau sujud pada mereka, malah kamu rela mendoakan mereka!” kata Setan panjang lebar dengan penuh ekspresif.

“Bukan, bukan begitu Syaitan. Manusia begitu karena engkau telah membisikki mereka ke jalan yang sesat.” jawab Malaikat Penjaga Rumput lebih ekspresif, bulir-bulir kesedihan nampak merembes di mata bening Malaikat Penjaga Rumput. Di dunia yang sebenarnya, atau di dunia manusia sudah terjadi angin yang sangat kencang.

“Bukan begitu bagaimana? Nyata sekali mereka tidak percaya padamu, mereka tidak beriman! Mengapa kamu masih juga menghormati mereka,  sana pergi ke Arsy sana protes sama Allah-mu!” kata Setan dengan nada tinggi dan senyum yang sangat sulit diartikan.

Malaikat Penjaga Rumput diam, matanya berkaca-kaca, sedih bahwa dirinya telah dikhianati oleh Manusia yang atas perintah Allah-nya sendiri sangat ia hormati. Sayapnya kembali ia kepakkan, bersiap-siap naik ke Arsy ke-7 untuk protes pada Illahi. Hati Malaikat Penjaga Rumput sangat terguncang dan sedih. Hingga hatinya berhenti berdzikir pada Allah, hatinya setengah percaya dan tidak percaya mencerna kata-kata Setan yang baru saja ia dengarkan. Dengan perasaan terguncang terbanglah ia naik ke Arsy ke-7.

Setan terlempar menjauh dari Malaikat Penjaga Rumput yang memancarkan wangi kasturi, membuat tubuhnya kembali menjadi kambing bertanduk yang tadinya memang memakan rumput yang di jaga Malaikat Penjaga Rumput. Dia berlari menjauh dari tempat dimana ia menghasut Malaikat Penjaga Rumput, karena tempat itu kini terjadi bencana dasyat. Dia tersenyum dan tertawa mengembik karena skenarionya berhasil, kambing itu adalah Setan jenis Setan Pengadu Domba.  Bukan main tugas setan satu ini, selain mengadu domba sesama manusia, dia juga bisa mengadu domba Manusia dengan Malaikat.

Malaikat Penjaga Rumput yang sedih terbang ke Arsy ke-7. Tak terasa bulir air mata menetes dari mata jeli-nya dan jatuh ke bumi. Di tempat jatuhnya air mata itu telah terjadi bencana maha dasyat, hujan lebat dan angin ribut yang membuat banyak manusia panik dan berteriak teriak. Di antara mereka banyak yang mengeluarkan kata-kata buruk. “Setan-Asu-bajingan-Jin-iblis…” Hanya sedikit dari mereka yang mengucap istighfar. Nyatalah manusia memang tiada beriman, pada Allah tidak pun pada Malaikat.

Plat Merah

Hari yang indah adalah hari yang berlalu dengan meninggalkan memori, apapun bentuknya memori itu, tentang keburukan, kebaikan, menyenangkan, menyengsarakan, memusingkan, penuh tantangan, bahagia, sedih, duka, yang pasti semua itu berakhir dengan masih adanya waktu untuk mengingat kejadian hari itu. Dan hari yang buruk, menurutku adalah hari dimana aku tak bisa mengingat apapun tentang hari itu, jadi berakhir tanpa memori, tak membekas sedikitpun.

 

Hari itu, aku duduk di beranda rumahku, memandang manjanya dedaunan yang diguyur rintik hujan, dan hiruk pikuk jalanan ibukota yang selalu penuh dengan kendaraan dan manusia yang beraneka rupa. Kadang aku tersenyum, kadang pula aku mengutuk, tapi seringnya aku bersedih.

 

Aku tersenyum karena memandang beberapa mobil mewah yang melintas di Avenue itu, aku mengutuk jika memandang begitu banyak mobil plat merah yang terlalu sering lewat, dan aku bersedih bila memandang beberapa pengemis yang anehnya juga sering lewat di depan rumahku. Dan aku bersedih lagi jika sadar bahwa sebuah mobil berplat merah itu bisa merubah hidup banyak pengemis yang sering lewat di depan rumahku, dan aku bersedih lagi bahwa bukan hanya mobil plat merah saja yang kami miliki, bahkan tanah dan rumah yang kami tempati ini juga sama derajatnya. Milik kantor Papi, Beliau yang saat ini sedang Study Banding di Amerika sana, mengenai “dampak kemerosotan ekonomi global pada Migas di dunia”.

 

Meskipun terkesan konyol dan dibuat-buat, toh Papi juga berangkat dengan senangnya. Mana masuk akal coba, sudah tentu kemrosotan ekonomi berimbas pada penjualan produk Migas, kok juga masih di study bandingkan? Tapi tak apa lah, setelahnya aku pasti dapat oleh-oleh yang bagus-bagus! Dan lagi Mami, dia pasti senang karena kemarin Mami titip oleh-oleh beberapa produk fasien yang ternama, asli dari negeri Paman Sam itu.

 

Lalu aku kembali bersedih setelah melihat seorang pemulung yang kehujanan lewat, Entah apa yang aku sedihkan, aku hidup enak bahkan mewah, aku selalu dimanja, meskipun aku tak memakai mobil plat merah ayah itu. Aku selalu dibelikan ayah mobil yang sesuai dengan perkembangan pasar, Mami juga, kami hidup enak dari kantor Papi yang memfasilitasi ayah mobil plat jinngga itu, makan kami, sekolahku, rumah ini, bahkan nyawa kami ini sebetulnya berasal dari kantor mobil plat merah itu.

 

Kok bisa? Tentu, karena asuransi kami juga berasal dari sana, sehat kami usai sakit juga berkat obat dari kantor ayah yang memfasilitasi mobil plat merah itu. Namun Mami lebih senang jika Papi mendapatkan jatah dalam bentuk uang, karena dengan begitu, Mami bisa membeli beberapa benda nan indah juga mewah, yang sering Beliau pertontonkan pada teman-teman arisan Beliau. Padahal aku tahu, itu sama derajatnya dengan mobil plat merah Papi. Tapi kukira semua orang juga tahu, Mamiku pun aku kira tahu darimana asal uang perhiasan itu.

 

Mobil plat merah ayah bernomor BU 5 UK, bermerk Kancil, mobil yang dipakai Papi itu terkenal akan kemewahannya dan kelincahannya di jalan, padahal jarak rumah ke kantor tempat Papi mendapatkan mobil plat merah itu tak lebih dari sekilo, tak ayal jika badan Papi jadi gemuk, terutama di bagian perutnya, sangat menonjol, adikku yang masih TK pernah bilang, “Perut Papi gemuk kayak gambar di baju Papi itu!” begitu ejeknya sambil menunjuk-nunjuk sebguah lambang yang tertempel di seragam dinas kantor Papi. Dan beberapa bulan setelah itu, lambang kantor Papi berubah, hingga kini diganti dengan lambang tiga coretan warna-warni yang malah sangat disukai adikku, karena warnanya mirip coretan-coretannya di kelas TK Nol Besar Maju Selangkah, tempat ia sekolah.

 

Meskipun pergantian lambang kantor papi itu menuai kontroversi karena biaya pergantian lambang itu mencapai beberapa miliar rupiah, toh terjadi juga. Anggota dewan yang tadinya bersuara lantang menolak perubahan lambang kantor Papi itu, hanya beberapa hari sesudahnya juga diam seperti yang lain. Entah karena apa, yang pasti setelah rapat tertutup dengan perusahaan Papi semua nampak damai, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

 

Aku berhenti berfikir, dan memandang ke arah Avenue yang masih ramai oleh kendaraan, namun tak lagi diguyur gerimis. Aku tersenyum geli, entah kenapa yang pasti aku kembali bahagia. Buat apa aku bersedih saat ini, toh hidupku sudah menyenangkan, damai, dan bahagia, buat apa mengkritik Papi, toh aku bahagia dengan jatah yang lebih dari cukup, kalau hendak ku kritik yang pasti ukuran badannya yang super itu! Yah, sudahlah, biarkan hidup ini berlalu…

 

“Ijah…Ijah…!” Teriakku saat aku teringat kopi.

“Iya, Non.” Jawab Bi Ijah sambil mendekat.

“Kopi saya mana, Ijah?” tanyaku sedikit lirih.

“Maaf, Non, lupa.” Jawab Ijah sedikit takut

“Dasar Babu Bego!” dan hariku berubah menjadi buruk.

Per te

Kubuka sebuah kardus di gudang bawah rumahku, di dalamnya ada beberapa karya ilmiah dan sastra, serta kumpulan tesisku sewaktu di Indonesia yang belum sempat kupublikasikan. Tak sengaja terbaca olehku sebuah surat yang berisi sepenggal puisi , kembali kubaca dengan seksama penggalan puisi itu. Puisi tanpa judul itu malah mengingatkanku pada suatu mozaik di masa lalu yang sangat kusam, kiranya di buat oleh seseorang yang sempat membahagiakanku. Aku tersenyum rindu padanya, kini aku rindu sebagai sahabat, bukan yang terkasihnya lagi, pikirku.

“Kita ingin mencinta dan bersama

Namun tak bisa meskipun kita sama

Dan jika meskipun adalah karena

Maka kita tak bisa menentangnya

Karena takdir pisahkan kita

Selain kita,

Hanya Tuhanlah yang tahu”

XXX

Senja itu, dengan senyumnya yang khas dia datang lalu memeluk diriku yang masih merasakan rasa sakit di bagian pipi kiri, dia datang setelah ku kirimkan sebuah SMS padanya, karena hanya dialah yang bisa menyembuhkan luka dan sedihku selama ini, hanya dialah yang bisa menghidupkanku dari kematian dan keputus asaan ini. Hanya dengan datangnya dia, malakiat pencabut nyawa mungkin tak jadi mengambil ruhku yang telah merana ini.

“Kapankah kita bertemu pertama kali?” suaranya memecah suasana hening kamarku, dia berkata dengan nada serius sambil menyentuh luka di pipi kiriku dan mengoleskan sedikit obat merah.

“Saat aku memang mengharapkan dirimu hadir.” Seruku lirih padanya.

“Jadi, Tuhan kabulkan doamu.”

“Huh, ataukah setan yang memberi kesempatan ini?” tanyaku dengan nada tinggi.

“Mungkinkah?” jawabnya kembali bertanya padaku,“luakmu tak begitu parah, istirahatlah, matamu sayu, kau perlu tidur!”

“Maaf, Karena Tuhan tak mungkin berada dalam pihak kita.” Jawabku sambil tertunduk lesu, takut-takut melukai perasaanya, namun aku tak menghiraukan kata-katanya yang terakhir, tentang lukaku. Karena aku memang sudah tak peduli dengan lukaku ini, hanya dialah yang kukira masih peduli dengan luka yang terlalu sering hinggap di tubuhku ini. Lalu mengapa ku SMS dia, ah entahlah…

Selesai mengobatiku, dia duduk di sebuah kursi dekat jendela kamarku, memandang keluar jendela lalu mulai memetik gitarku dan menyanyikan sebuah lagu barat yang entah milik siapa, suaranya yang merdu terasa romantis di kamarku ini. Kupikir itu sebuah lagu Amerika latin yang sulit dihafal. Suaranya yang serak nan lembut membuatku sejenak merasa kedamaian hadir dalam hatiku. Lalu aku berbaring, mataku terasa berat dan sayup-sayup aku mendengar suara altonya yang merdu. Aku teringat Papah, lalu teringat luka di pipi kiriku, lalu aku pun tertidur.

Aku bangun dari tidur saat jam di dinding telah menunjukkan pukul 7.00 malam. Aku turun dari kamar, kudapati rumahku sudah tertutup, pintu, jendela, dan gordennya sudah ditutup. Lampu-lampu sudah dinyalakan, dalam benakku aku selalu berterima kasih padanya, atas segala bantuan, kasih, juga cinta tulusnya padaku. Dia begitu perhatian padaku, luka-lukaku selalu ia sembuhkan, dia selalu menghiburku saat aku sedih meratapi nasib, segala kebutuhanku ia yang cukupi, bahkan sekolah pun terkadang dia yang mencukupi. Entah dengan apa aku kan membalas budi baiknya, karena hanya dengan cintaku ini aku bisa membalasnya, itu pun hanya separuh hati, tak kan lebih.

Adzan Isya melantun lembut, segera aku mengambil air wudhu untuk melaksanakan Shalat Maghrib dan Isya secara bersamaan. Menjamak Shalat memang kadang aku lakukan, mungkin karena aku itu pemalas, tapi kupikir ini lebih baik dari pada tidak sama sekali. Selesai Menjamak takhir Maghrib dan Isya, seperti biasa, setelah Shalat aku selalu berdoa pada Allah, aku memohon untuk kedua orang tuaku yang terpisah, untuk masa depanku yang aku risaukan, untuk kedamaaian hidup yang aku inginkan, untuk adikku yang aku rindukan, untuk dia yang mengasihiku, dan yang terakhir aku mohon ampun akan segala dosa-dosaku yang tak terampuni, mohon hidayah, dan agar aku tetap berada di jalan yang lurus, jalan yang diridhai, dan agar aku selalu ingat padaNya.

Aku berdoa tidak dengan bahasa Arab, hanya dalam bacaan Shalat. Dzikir, dan beberapa doa untuk orang tua dan kaum muslim dan muslimatlah aku berbahasa Arab. Untuk doa keluh kesahku, aku mengunakan bahasa Indonesia. Sehingga, ketika berdoa aku akan sangat lama, seolah-olah aku sedang berbincang-bincang dengan Allah secara langsung. Biasanya selesai Shalat aku, aku berdoa hingga 10an menit lamanya, namun jika aku sedang ada masalah, aku akan berdoa lebih lama sekali, aku akan berdzikir dan berdzikir, menyebut Asma Allah Yang Agung berulang-ulang baik dengan lisan maupun dalam hati.

Tepat selesai berdoa, Palm ku berdering mengalunkan lagu Star Light-nya Muse, tepat pukul 8.00 aku diingatkan untuk mengerjakan beberapa PR dari sekolah. Memang, aku sudah terbiasa mengatur alarm PDA untuk mengingatkanku beberapa hal yang penting, sepeti Shalat, mengerjakan PR, dan kegiatan-kegiatan lain. Namun, entah kenapa aku tadi tak mendengar Lantunan Adzan dari Masjid atau pun dari PDA, mungkin aku terlalu terlelap dalam tidur. Dan aku yakin, malam ini aku pasti terserang Insomnia, tak bisa tidur karena sorenya tidur terlalu lama.

Kubereskan perlengkapan Shalatku sambil mendengarkan lantunan alarm yang asyik, sengaja tak kumatikan karena lagunya memang merdu. “Star light… na na na na na….” aku lupa liriknya.

Kemudian aku mengerjakn PR yang tak terlalu banyak, Sastra Inggris dan Matematika yang tak terlalu sulit, hanya 20an menit saja. Setelah itu aku mencoba berbaring, Aku teringat akan adikku, Jasmine yang tinggaldengan Mamah di Bekasi. Kukirimkan sebuah SMS singkat padanya, ternyata dia juga belum tidur.

“Sdh tdr blm?”

“lom, np?”

“Kgen aja, kbr adk n ma2h gmn?”

“baek2 kuk”

“senin kk mo tanding lg, dtg ya!”

“ok, psti qt dtg ko”

“Ma2 diajk loh! dah y, met bo2, night!”

“yup, night”

Andai tiap hari aku bisa bertemu dengannya, namun inilah kehidupan yang kadang tak sempurna. Aku ingat kata-kata Mamah ‘Kesempurnaan terkadang lahir justru ketika manusia itu sendiri tidak sempurna’, katanya sambil membuka-buka majalah Fashion Weekly. Masih terngiang kata-kata Mamah itu, aku jadi sangat merindukannya. Sejak sepekan yang lalu aku memang tak berjumpa lagi dengannya. Aku ingin mengirim sebuah SMS selamat malam padanya. Tetapi…

Ah, biarkan saja, aku memang terkadang malas untuk menyapanya. Dulu, aku sangat sering mengirimkan ucapan selamat malam padanya meskipun tak pernah dibalas olehnya. Hingga aku jadi malas untuk buang-buang pulsa, untuk sesuatu yang tidak berguna, Jashmine pun kadang juga begitu. Dia jarang call atau bahkan SMS padaku. Kalau bukan aku yang SMS duluan. Mungkin watak Mamah memang sedikit menular padanya. Anak cewek yang innocence.

Aku merasa belum mengantuk, kuganti baju dengan Piyama lalu turun untuk membuat secangkir Java’s Tea, Tea kesukaan Papah yang tak pernah absen dari lemari dapur. Kupanaskan air dan kuracik sesendok kecil Java’s Tea dengan sesendok besar gula pasir. Lalu kudengar bunyi mobil menderu di halaman rumah. Aku yakin, itu mobil Papah yang baru pulang dari kantor.

Papah masuk rumah, dan langsung menuju dapur tempatku meracik tea, kusapa dia dengan penuh keikhlasan.

“Malam, Pah.” Sapaku dengan nada rendah seolah-olah sore tadi tak pernah terjadi apapun. “Mau Tea? Masih hangat, baru aku seduh.” Mencoba berbasa-basi.

Dia hanya menganguk dan mengambil secangkir Tea-ku yang baru aku buat.

“Buatkan aku satu lagi!” perintahnya sambil lalu, kemudian menuju ruang tamu.

Aku mengangguk, dan dengan sedikit kesal kubuat dua cangkir Tea lagi, satu untuknya dan satu untukku tentunya. Kusiapkan nampan lalu kuantar secangkir Tea ke depan, dan alangkah terkejutnya aku. Ada seorang wanita yang duduk bersanding dengan Papah. Wanita itu cantik dan muda, aku yakin, dia juga salah satu model Agency Papah. Wajah dan tubuhnya nampak asing untukku, kupikir dia adalah wanita Indo alias peranakan, yang pasti direkrut oleh Papah untuk jadi model baru. Kuhilangkan segala prasangka dalam benakku, kusuguhkan Tea padanya.

“Tea, Kak.” Sapaku.

“Siapa dia?” Tanya wanita itu pada Papah dengan nada heran. “Kau..”

“Dia, anakku, tahu kan? Roselean?.” Kata Papah menyela bicaranya dan menyebut nama Mamah.

“Oh, I think he life with his Mom, Hmm, Nice Guy.” Katanya sambil memandangku dengan pandangan menjijikkan.“Not like you Al, ha ha ha!” tawanya sendiri mengila.

Aku segera pergi ke atas menuju kamarku, aku tak tahu pembicaraan selanjutnya yang masih terdengar samar-samar. Yang kuingginkan hanya pergi dari ruang itu, untuk tak lagi mendengar kegilaan hidup. Aku berbaring dan menatap langit-langit kamar.

“Papah, tentu dia sudah lupa dengan Mamah!” Kataku lirih.”Tentu kesempatan untuk bersama sudah pupus, Papah tak akan pernah memaafkan kelakuan Mamah sampai kapanpun. Meskipun aku juga, aku masih mencoba berusaha mencari sela-sela kemungkinan untuk mereka bersatu kembali, aku menyerah, sudah habis kesempatanku untuk mereka.

Hidup-hidup, mengapakah kau serumit ini, Oh Allah…” seruku lirih.

Aku seperti ingin pergi dari sini, ingin berlari jauh dari dunia yang tak lagi pantas disebut sebagai dunia ini. Namun, aku tak ada daya, aku hanya lelaki kecil lemah yang selalu mencoba hal yang terbaik, meskipun sangat tak bisa aku melakukannya. Suara gelak tawa wanita itu terdengar hingga kamarku, kututup telinga dan mataku dengan bantal, aku mencoba untuk tidur dan melupakan semua, dan aku berhasil, aku tertidur pulas malam ini.

Subuh aku bangun untuk Shalat, saat melewati kamar Papah, kulihat kamarnya masih terkunci, mereka masih tertidur pulas pikirku. Aku Shalat Subuh tak terlalu lama, karena kurasa perutku melilit, aku merasa kelaparan karena semalam lupa makan. Akhirnya kuputuskan makan beberapa roti tawar di meja makan dengan lahap.

Kubuka Kulkas untuk mengambil air minum, dan kudapati Java’s Tea-ku yang kubuat semalam berada disana. Hmm, Papah, bagaimanapun kau tetap menyayangiku, meskipun dengan caranya sendiri. Aku tersenyum kecil…

Kuteruskan pagiku dengan jogging di sekitar komplek rumahku. Dari kejauhan kulihat sebuah Jaguar berhenti di depan rumahnya, kemudian menurunkan sesosok wanita cantik yang berpenampilan kacau. Dia pasti baru pulang dari Clubbing, setan wanita, bitch, tapi aku sapa juga dia ketika kumelewatinya.

“Pagi, Tante.” Sapaku mencoba beramah tamah.

“Oh, Boy, ganteng bener kau, pagi-pagi sudah berolahraga, pantas badanmu kekar seperti itu.” Katanya tersenyum nakal sambil membuka gerbang rumahnya. Artis murahan ini pasti masih terpengaruh alcohol, pikirku, kubiarkan kata-katanya meluncur tanpa ku jawab. Aku lihat sekeliling rumahnya, dan nampaknya dia masih tidur dengan kesendiriannya.

“Boy?” tanyanya padaku memperjelas.

“Ya, tante biar aku bisa berpikir normal.” Kataku sambil lalu, dan aku tak lihat ekspresi tante girang itu selanjutnya, karena aku terus melanjutkan jogingku.

XXX

Aku mencoba lagi menyatukan potongan-potongan peristiwa yang mungkin masih kuingat. Tentang kehidupan masa laluku yang sangat sulit di tanah air. Namun, memang antara ingin dan tak ingin aku mulai menghapusnya berlahan-lahan. Aku tak mau lagi mengingatnya, karena sungguh pedih untuk dikenang. Pikiranku buyar saat Stephanie memangilku dari atas.

“Daddy, are you there?” teriaknya di pintu gudang.

“Ya, honey, what’s going on?”

“Jasmine waits you on phone, Dad.”

“Your aunt, Jashmine?”

“Yes, I think!”

“Ya, wait a min!”

Segera ku bergegas ke atas dan kuangkat telepon dari Jashmine di Malaysia.

“Assalamu’alaikum, Jashmine?” sapaku.

“Wa’alaikum salam, ya ini aku Bang.”

“Ada apa tumben telephone?”

“Aku hanya mengabarkan padamu, jika tadi di infotaiment sini ada kabar kalau Dr.Sam, kau tahu?”

“Ya, Dr.Sam,” jantungku berdetak kencang mendengar namanya. “Ada apa?”

“Malam tadi beliau pulang ke Rahmatullah Bang. Berita itu juga ada di Malaysia, kau tahu kan, istrinya nan cantik itu orang Malaysia sini. Dan kupikir kau mau mengetahuinya? Dia kan akrab denganmu..”

Sejenak aku tak berucap apa-apa, aku memandang keluar jendela rumahku. Disana ada Jessica dan Stephanie. Dengan pakaian pantai, mereka bermandikan cahaya musim panas di halaman.

“Bang , kau masih di sana?” Tanya Jashmine.

“Oh, ya Jashmine, I am going to call you letter.”

“Ah, iya, Wasalamu’alaikum ya Bang.”

“Thank’s ya Jas, Wa’alaikumsalam.”

Kututup telepon dari Jashmine dengan sebuah perasaan yang tak mudah di ungkapkan.Kuputuskan untuk keluar menuju halaman dan bergabung dengan anak dan istriku untuk mandi cahaya. Kubuka bajuku dan saat itu Jessica bertanya padaku.

“Jashmine? is not Ied Mubarok, And?” tanyanya sedikit heran.

“Nope, Ied mubarok still three mounts again, she just say hello to me and you all.”

“Oh, not like ordinary days.”

“Humm…” kataku sambil tidur di samping Jessica.

Summer di California memang menyenangkan, tak akan kupikirkan lagi masa-masa lalu itu. Seperti artis-artis Indonesia yang bilang ‘hidup bagai air yang terus mengalir’. Aku tersenyum sendiri mengingat polah artis Indonesia di zamanku dulu. Hingga aku tak sadar jika Jess menatapku.

“And?” tanyanya dengan sedikit curiga.

“Nothing, Jess.” Kataku sambil mencium bibir manisnya. Lama sekali kucium bibir Jess, karena memang tak akan pernah puas aku mencium bibir wanita Columbia

ini. Lalu ciumanku berhenti saat Stephanie menyalakan radionya, dan radio itu menyanyikan sebuah tembang yang aku ingat.

“Per’te, per te vivro

L’amore vincera

Con’te, con’te avero

Mille giorni di felcita

…” *

Aku merinding mendengarkan lagu Amerika Latin itu, seolah dia sedang ada di sini sekarang. Memandang diriku dengan anak dan istriku, dan hampir aku bisa merasakan kesendiriannya di alam sana.

“Inna’ilaihi Wa Inna Ilaihi Raji’un.” seruku lirih.

“Dad, who die?” Tanya Jessy dan Stephy bersamaan.

*Per te (separate)

Marco Marinageli song.

Gadis

Langkahnya dipercepat, lebih cepat dan lebih cepat lagi. Dia menyusuri sepanjang Jalan Nestville dengan terburu-buru. Dia sedang menuju ke ujung pertigaan Jalan Nestville yang letaknya masih jauh terlihat di depan, disana sesorang telah menunggunya untuk berjumpa. Dia melihat ke arah barat, matahari mulai kembali ke peraduannya. Sebuah senyum mengambang di bibir seksinya.

Saat pertigaan Nestville tampak jelas di depan matanya, dia tersenyum. Entah apa yang ada di benaknya saat itu, karena dia terlihat bahagia sekaligus misterius. Padahal kekasihnya yang sedang menunggunya di seberang jalan itu terlihat bermuka masam.

Sekelompok preman dan pengamen jalanan bergerombol di sudut perempatan jalan. Salah seorang diantaranya adalah kekasih si gadis tadi, kekasihnya pun seorang preman. Kekasih yang baru dikenal sebulan itu memiliki badan gagah, tegap, dan bermuka tampan, namun preman tetaplah preman. Dengan dandanannya yang kumal dan tidak sedap dipandang mata itu. Sungguh sangat beruntung jika salah satu wanitanya adalah seorang gadis kelas 1 SMA, anak seorang pekerja tambang di Neoport.

Saat melihat kedatangan gadisnya, perasaan preman itu sangat campur aduk. Dia sangat marah karena sudah lebih dari seperempat jam dia telah menunggu di seberang jalan itu. Dan dengan muka yang cemberut ala preman, dia menyebrangi Jalan Nestville. Dia menyabrang tanpa memperhatikan jalan yang ramai. Sampai-sampai hampir saja dia tertabrak sebuah Baleno hitam yang melintas di pertigaan jalan dengan ngebut.

“Setan, punya mata ngak sih!” teriak pengemudi mobil itu ketika tepat merem mobilnya di depan tubuh si preman.

“Fuck!!!” jawab si preman tanpa ada rasa bersalah sambil mengacungkan jari tengahnya.

Si gadis yang melihat kekasihnya yang hampir tertabrak itu menjerit. Dia menjerit aneh, entah apa yang ia jeritkan. Karena saat dia sudah tersadar dari suatu hal yang lewat tadi. Kekasihnya sudah sampai di hadapannya. Bau alchohol bercampur rokok menusuk hidung gadis itu. Sebetulnya itulah yang amat dia sukai. Karena menurutnya, lelaki yang gagah itu ya seperti itu, suka minum-minum, merokok dan main… Yang itu dia paling membencinya.

Si Gadis langsung menciumnya dan tersenyum, dan bagai panas di musim kemarau yang diguyur gerimis. Kemarahan preman pun seolah-olah mereda dengan sendirinya. Gadis itu sangat pandai merayu, hanya dengan sebuah ciuman saja, seorang lelaki yang sangat ditakuti di Wall Nest takluk padanya.

“Kenapa kau terlambat?” Tanya si preman dengan nada tinggi.
“Ummm… Baby, sorry, lama yah? Aku tadi kesiangan, di sekolah banyak PR.” Rayu si gadis.
“Ya udah, sabtu depan kalau ga mau pulang malam. Pulang sekolah langsung kesini! Ga usah sliweran lagi”

“tenang Baby, besok khan minggu.” Jawab gadis sambil menggandeng si preman berjalan menuju ke utara.
“tunggu!” sela si preman.
“Apa bab?” Tanya si gadis.
Si preman melirik dan berkata “Apa kau lupa?”
“Oh iya.” Gadis itu ingat sesuatu. “Ini Baby.” Kata gadis itu sambil mengeluarkan sebungkus rokok Marlioboro dari tas punggungnya. “Dan aku juga bawa ini,” katanya sambil memperlihatkan sebotol Jack Daniel.

Kemudian mereka berdua berjalan ke utara menuju Nest Garden. Bergandengan tangan dan sesekali berciuman. Matahari malu-malu mulai kembali ke peraduannya. Langit sore Nest City terlihat indah sekaligus misterius untuk dipandang.

Malam hari di Imperium Apartement, 4’th Floor, 11.45 pm.

Si gadis membuka pintu apartemennya, lalu menghidupkan lampu ruang tamu.

“click” bunyi saklar memecah keheningan.
“Dari mana saja kau?” Tanya seseorang yang duduk di sebuah sofa.
Si gadis tersentak kaget, tetapi dengan sigap dia berteriak kegirangan.
“Daddy, kapan pulang?”
“Dari-Mana-Saja-Kau?” kata ayahnya dengan tegas.
“Umm, maaf, Dad,” Gadis itu berfikir mencari sebuah alasan. “Tadi sore aku pikir akan menginap di rumah Angeline, tapi hingga jam ini aku rindu untuk tidur di rumah sendiri.”
Ayahnya diam, namun tetap menatapnya dengan pandangan tajam.
“Mungkin aku sudah ada firasat kalau Dady pulang hari ini.” Katanya sambil tersenyum. “Aku mau tidur, Dad. Night.” Katanya sambil menuju ke kamar.

Ayahnya hanya diam, dia pikir kata-kata anaknya memang masuk akal. Lalu dia menuju ke minibarnya untuk menenagkan pikirannya, lalu dia mengambil sebotol Jack Daniel dan meneguknya. Di tegukan kedua, dia berhenti meneguk Birnya, lalu menghitung jumlah Jack Daniel di rak.

“Tujuh, kupikir kemarin ada sembilan. Satu dua… tujuh dan delapan dengan yang kuminum ini. Kemana yang satunya lagi?” Pikirnya dengan penuh prasangka.

“Apakah anakku? dia gadis Bung.” Pikirnya membantah prasangka. Dia lalu menuju kamar anak gadisnya untuk menannyakan minumannya, dan saat hendak mengetuk pintu kamar anaknya itu dia berhenti sejenak, dia mengurungkan niatnya setelah sadar kalau jam di dinding sudah menujukkan pukul 12 malam.

“Besok saja.” Pikirnya. Dan dia melanjutkan minum-minumnya di meja minibar.

Si gadis dengan dada berkecamuk berdiri di balik pintu kamarnya. Dia pikir ayahnya sadar jika sebotol minumannya lenyap dari rak minibar. Namun ia sedikit lega, karena ayahnya tak jadi mengetuk pintu kamarnya. Setidaknya untuk sementara, hingga ia bisa mencari alasan yang masuk akal untuk esoknya.

***

Esok paginya di meja makan, si ayah mencoba berbicara dengan anak gadisnya. Sambil makan mereka meyaksikan Nesty News di channel 7.

“Nat, aku tahu kamu merasa sendiri di sini.” Kata ayahnya bersaing dengan suara TV. “Apa kau betul-betul merasa sendirian di sini, Nat?” Tanya ayah si gadis. Namun tak dijawab oleh anaknya itu.

“Pemirsa.” Suara wanita penyiar berita memecah keheningan mereka.”Sesosok mayat ditemukan di Nest Garden pagi ini. Mayat seorang pria ini diduga mati karena diracuni oleh seseoarang, malam tadi. Mayat pria yang diduga preman dari pertigaan Nestville St ini kemungkinan besar mati diracun, karena tubuhnya membiru dan mulutnya berbusa, kemungkinan tersangka adalah salah satu pacarnya. Ya, preman ini, menurut masyarakat setempat adalah seorang playboy, kini tersangka.”

“Click…” TV dimatikan oleh ayah si gadis.

“Nat?” Tanya ayah si gadis.

“Iya ayah.” Si gadis terlihat menenangkan dirinya. “Yah, bila kau tanyakan itu, harus kujawab apa. Aku takut melukaimu jika aku berkata jujur.” Jawab si gadis dengan cepat.

“Itu, sudah menjawab, Nat?”

Tak berselang lama, Ketukan keras menghentak pintu apartemen mereka, memecah keheningan sarapan pagi yang tegang itu.

“Buka pintu, ini Polisi Nestville!” teriak seseorang dari luar.

“Ya, tunggu!” jawab si ayah sambil memandang anak gadisnya yang tiba-tiba berwajah ketakutan.

Semuanya berjalan dengan cepat, si gadis ditangkap oleh polisi dengan tuduhan sebuah pembunuhan berencana. Dengan korbannya seorang preman, malam tadi di Nest Garden. Ayah si gadis terlihat sangat syok berat, dia tak menyangka jika anak semata wayangnya dijadikan tersangka oleh polisi.

***

Hari demi hari telah berlalu, proses pemeriksaan, reka ulang, dan persidanggan berjalan dengan apa adanya. Pidana yang dituduhkan pada si gadis hanyalah pidana ringan, dengan motif cemburu buta, karena si gadis dianggap masih berada di bawah umur, si gadis tidak dimasukkan ke penjara. Si gadis hanya dimasukkan ke panti rehabilitasi khusus remaja selama beberapa bulan, setelah itu dikembalikan lagi ke orang tuanya, tepatnya ke ayahnya.

Si gadis nampak begitu murung, matanya sayu dan badannya kurus kering. Ayahnya berulang kali menyemangatinya untuk melupakan masa lalunya. Meeskipun begitu, kondisinya tidak banyak berubah, Si gadis malah sering diserang berbagai penyakit, badannya sangat tidak stabil. Dia yang dulu terlihat sebagai gadis cantik dan enerjik, kini terlihat seperti gadis berpenyakit yang lemah.

Suatu hari ayahnya membawa si gadis ke rumah sakit untuk diperiksa,

“Ny.Natalie Anderson.” Panggil seoarang suster.

Si gadis yang lemah itu kemudian masuk dan diperiksa oleh dokter. Setelah diperiksa, ayah si gadis diberitahu penyakit apa yang menimpa putri semata wayangnya itu. Namun entah kenapa, si gadis tidak pernah diberitajukan apa penyakit yang menimpanya. Yang ia tahu, setiap hari ia harus menelan banyak obat dan harus rutin check kesehatan tiap bulannya di rumah sakit.

Hingga saat ulang tahun ke-20 tahun, si gadis tidak pernah diberitahu, si gadis juga tak pernah bertanya pada ayahnya, prihal penyakit apa yang menyerangnya. Hari berlalu dan berganti, namun obat dan check ke dokter tak pernah berhenti. Si gadis menjadi gadis yang sangat pendiam, hingga suatu hari ayahnya telah siap memberitahukan prihal penyakit putrinya pada putri tercintanaya itu.

“Nat, kau telah dewasa, kini saatnya kau tahu apa penyakitmu itu.” Kata ayahnya lirih pada si gadis yang berbaring lesu di tempat tidurnya. “Kau siap?”
“Yah,” Kata si gadis pelan. “Aku sudah tahu, yah, tak perlu kau katakana padakau prihal penyakit ini,”
“Jadi kau sudah tahu, Nat? tabahlah anakku, aku ada di sini bersamamu.”
“Iya, Yah, itulah kenapa aku membunuh preman brengsek itu! Karena dialah yang menularkannya.” Kata si gadis dengan nada menggebu-gebu.

“Oh, anakku…” Kata ayahnya sambil menangis tersedu-sedu.
“Yah, aku sayang padamu yah, maafkan semua dosaku padamu, yah.” Kata si gadis sambil menangis.

Ayahnya tidak menjawab, karena menangis tersedu-sedu meratapi nasib anaknya. Kemudian tak ada suara percakapan diantara mereka, hanya suara tangis ayah si gadis yang terdengar di kamar itu. Kemudian semua terasa hening, lalu tiba-tiba si ayah berteriak sekeras-kerasnya sambil memeluk anak gadisnya, ayahnya berteriak dan berteriak hingga seluruh gedung apartemen bisa mendengar dan merasakan sakit hati yang dirasakannya, tangisan dan teriakkan begitu mengiris nurani, karena kini si gadis, putri tercintanya dan satu-satunya telah menyusul ibunya di suatu tempat yang jauh dari ayahnya itu.