Dunia Tanpa Manusia

Dunia Tanpa Manusia

Buku ini saya temukan di tumpukan buku diskon di TM Booksore Poins Square seharga 15 ribu rupiah. Nampak apik dalam cover bergambar gedung-gedung serba hitam dengan hijau pepohonan sebagai bayangannya. Buku ini sangat menarik perhatian saya, seolah-olah ada kedekatan sendiri ketika melihatnya. Benar ternyata, belakangan saya ingat pernah membaca sedikit resensinya di majalah New Yorker milik kakak ipar. Saya habiskan buku ini dalam tiga malam saat pulang kampung kemarin.

“Sebaliknya, bayangkan dunia yang tanpa kita, karena kita tiba-tiba menghilang. Bayangkan pula jika itu terjadi besok.

            ”Barangkali itu mustahil, tetapi demi perbincangan kita, bukan tidak mungkin. Misalkan ada virus yang khusus menyerang Homo Sapiens- entah alami atau hasil rekayasa nano oleh sekelompok manusia iblis- secara serentak melenyapkan kita tetapi sama sekali tidak mengganggu yang lain. Atau seorang penyihir jahat yang sangat antimanusia entah bagaimana merusak 3,9 persen DNA unik yang membuat kita berbeda dari simpase, atau menemukan cara sempurna untuk memandulkan sperma kita. Atau misalkan Yesus- kita bicara lagi tentang Dia nanti- atau makhluk ruang angkasa menculik kita semua, entah ke surga yang mulia atau ke kebun binatang di tempat lain di galaksi yang sama

….

Begitulah sepenggal kutipan dalam Pendahuluan berjudul Sebuah Teka-Teki Monyet yang ditulis Alan Weisman. Dengan renyah dia sedikit menggambarkan kemungkinan sebab manusia menghilang atau musnah secara mendadak yang mungkin bisa saja terjadi esok hari.

Namun, bukan itu yang menjadi pokok permasalahan dalam buku terjemahan setebal 430 halaman ini. Alan dengan sangat apik mencoba menelusuri kemungkinan dunia lain yang tak terjangkau oleh kita, dunia dimana manusia mungkin tidak ada di dalamnya. Bagaimanakah rupa-rupa dunia jika tanpa keberadaan kita?

Alan membagi Karya Ilmiahnya ini menjadi empat bagian. Tiap bagian dalam buku dibagi menjadi beberapa bab judul untuk memudahkan pembaca memahami maksud karya tulisannya. Tiap bab tidak bersambung, melainkan merupakan bagian utuh yang berdiri dengan masing-masing cerita. Dengan tema utama ”Dunia Tanpa Manusia”.

Bagaimana hal-hal sederhana seperti rumah kita yang akan runtuh dengan sendirinya jika kita tinggalkan, bagimana rupa New York sehari setelah ditinggal manusia, bagaimana alam mengambil alih kota Verosha yang ditinggalkan karena perang Turki dan Yunani, nuklir dengan radiasi yang tetap ada hingga jutaan tahun nanti, karya apa saja yang masih bisa bertahan sepeninggal kita, dan hal-hal lain yang akan terjadi- jika benar, mungkin besok manusia musnah dengan tiba-tiba.

Alan mencoba  mengurai gagasannya dengan cermat, hingga ia harus menyusuri banyak tempat-tempat di dunia seperti suku-suku pedalaman di Amazon yang hampir punah. Mewawancarai mulai dari ilmuwan hingga agamawan. Serta mengambil referensi buku dan artikel hingga butuh daftar pustaka setebal sebelas halaman untuk menuliskannya.

Buku Alan berangkat dari esainya di majalah Discover edisi Februari 2005 yang berjudul ”Earth Without People”. Lalu ia perdalam lagi menjadi sebuah buku berjudul “The World Without Us” ini. Lebih jelas tentang buku ini dan proyek-proyek lanjutan Alan kunjungi saja http://www.worldwithoutus.com

Sebagai seorang Jurnalis yang telah melalang buana di industri Jurnalisme Amerika. Karya Alan pantas dikenang bukan hanya sebagai karya ilmiah saja, melainkan sebagai sebuah laporan jurnalistik yang unik dan nikmat untuk dibaca.Gayajurnalisme narasi yang ia kembangakan dalam tiap bab menyuguhkan kepada kita cara pandang dunia lebih dekat, untuk menyikapi kehidupan lebih bijak.

Dalam buku ini, lagi, saya temukan sepenggal puisi apik berbahasa Jerman. Puisi yang mudah dihafal dan senada dengan puisi Goethe berjudul Uber Allen Gipfeln– yang sering saya wiridkan berulang-ulang. Begini bunyinya:

Das Firmament blaut ewig, und die Erde

Wird lange fest steh’n und aufbuh’n im Lenz.

Du aber, Mensch, wie langse lebst denn du?

Cakrawala selamanya biru dan begitu juga dengan bumi

Akan tetap bertahan dan mekar di musim semi.

Tetapi, hai manusia, seberapa lama kalian akan terus hidup?

Oleh:

Li-Tai-Po/Hans Bethge/Gustav Mahler

The Chinese Flute:

Drinking Song of the Sorrow of the Earth

Das Lied von der Erde

Advertisements

Pementasan “Visa” Buka Forum Teater Realis Salihara

Salah satu adegan pertunjukan Visa

Teater Satu memainkan Visa

Seorang anak kecil memasuki panggung pertunjukan, tak ada yang mencolok, hanya seorang anak kecil saja. Lalu sebuah puisi yang belakangan kerap dibacakan lagi di sela-sela pertunjukan menggema dan membuka pementasan malam itu.

 

”Amerika adalah lautan kota-kota kecil

dengan Gereja berwarna putih

perpustakaan 10.000 buku

balai kota berbata merah

toko-toko di mainstreet yang setia

 

Amerika adalah barisan rumah yang rapi dan tentram

di mana orang tak ingin pergi jauh

atau ketemu orang di timur jauh

di mana orang tak pernah dengar bahasa Turki atau Parsi

tak pernah makan sasimie atau ayam tandori

 

Amerika adalah sebuah isolasi

ya, sebuah hidup lokal yang lupa tentang dunia

karena mempunyai segala-galanya

 

Kalimat-kalimat itu membuka pertunjukan teater berjudul Visa di gedung pertunjukan Salihara Jum’at 3 Juni 2011. Malam itu adalah malam pertama sekaligus pembuka untuk serentetan pertunjukan Forum Teater Realis yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara selama bulan Juni 2011 ini. Teater realis adalah jenis teater yang mengangkat kisah kehidupan nyata kita sehari-hari.

Boleh jadi ini adalah kali pertama saya nonton langsung sebuah teater yang bisa dikatakan bunafit baik dari segi penulisan naskah, sutradara, pemain, maupun tempatnya. Bagaimana tidak, naskah teater ini ditulis oleh seniman kawakan Goenawan Muhammad dan belakangan saya tahu, naskahnya juga pernah dipentaskan oleh Teater Lunglid beberapa tahun silam.

Sutradaranya adalah Iswadi Pratama, seperti yang saya dengar dari podcast http://www.dw-world.de, dia pernah diajak berkolaborasi untuk pementasan teater di Jerman dari naskahnya yang  terkenal berjudul ”Nostalgia Sebuah Kota”. Hebat bukan?

Para pemainnya sendiri adalah Teater Satu yang berasal Lampung, mereka pernah dianugrahi oleh Majalah Tempo sebagai Group Teater Terbaik versi Majalah Tempo tahun 2008 silam lewat sebuah pementasan single berjudul ”Perempuan di Titik Nol”.

Saya tidak akan bercerita bagaimana jalannya pertunjukan, karena jujur saya bukan pengamat seni. Tapi pertunjukan ini sungguh berkesan bagi saya, makna yang dikandung dalam pementasan ini bisa jadi pelajaran bagi saya pribadi. Kisah tentang para pencari Visa di Konsulat Amerika ini dijadikan sebuah pertunjukan apik yang  penuh satire hingga metafora kehidupan yang sangat kompleks.

Pemainnya ada yang digambarkan melalui seorang pelajar, penujum, pebisnis, nenek yang menengok cucunya, sepasang sejoli, hingga banci jadi-jadian yang lucu. Masing masing memiliki cerita yang asik, unik, dan seringnya menyentuh.

Isinya misal tentang mengapa hidup kita selama ini hanya dirangkum dengan beberapa lembar formulir yang harus terisi semua. Dan jangan heran ketika kita harus mengisi nama keluarga, nama ayah, atau nama suami kita yang terkadang kita tidak bisa  mengisinya semudah orang lain mengisinya.

”Bagaimana jika saya tidak mengenal ayah saya? Karena kata ibu, ayah saya hilang. Tetapi kata tetangga, ayah saya memang sengaja dihilangkan pada tahun 60-an…

Mengapa saya harus menuliskan nama almarhum suami saya? yang meski sudah memberi tiga anak pada saya, nyata-nyatanya hati saya tidak pernah saya berikan padanya…

Bagimana saya harus mengisi nama ayah saya, karena saya adalah anak jadah. Tetapi saya keturunan Prancis, ayah saya dulu membantu bikin bendungan …”

Semua itu sepertinya memang tidak berguna, dan hanya mengorek luka lama. Dan itu sering ditanyakan secara mendetail oleh pihak penggurus visa kepada para pencari visa di Konsulat Amerika. Ini menjadi tanda tanya, mengapa begitu ketatnya hanya untuk bertamu di negeri Paman Sam itu? Apakah mereka takut kepada orang kecil seperti kita? Atau apakah Amerika memang trauma?

Pesan-pesan lain disampaikan bagai sebuah curhatan, ada juga pesan kasih sayang sejoli yang berbalas puisi yang entah mengapa diiringi salah satunya dengan lagu Imagine-nya Jhon Lenon. Saya malah menangkap pesan Lenon dibanding pesan puisi, norak sih, mentang-mentang hafal liriknya. Tapi dipikir-pikir lirik Lenon malah kontradiksi dengan isi materi pertunjukan sepertinya. Ah, tapi saya tidak mau ber-sotoy ria, hehehe…

Ya, seperti itulah kira-kira gambaran pementasan malam itu. Penontonnya penuh dan banyak artis dan seniman serta ekspat. Ada juga tetangga saya mas Rizki Mulyawan alias Dik Doank yang bertatapan muka tapi saya nggak senyum sama sekali karena bingung mau menyapa apa (padahal kerap ketemu). Dan yang nggak enak banget, saya duduk di row kedua sebelah kanan disebelah saya ada aktris senior wanita bernama X yang kalo ketawa panjang banget dan mengganggu keheningan pertunjukan.

Pertunjukan malam itu dimulai pukul 8.30 dan berakhir 70 menit kemudian. Setelah pertunjukan berakhir, saya sempat mengucapkan selamat dan berjabat tangan dengan Iswadi Pratama, nggak sempat foto-foto sih, maklum saya seorang diri dan terkenal jaim J. Selain itu, ini kali pertama saya naek motor jauh-jauh plus malam di ibukota. Jadi saya urung untuk pulang larut malam.

Jadwal Forum Teater Realis di SaliharaBaiklah, bagi Anda yang belum sempat mengapresiasi anak-anak Teater Satu ini. Masih empat pertunjukkan lagi selama weekend Juni 2011 oleh Teatris lain yang pastinya sudah expert juga. Tiketnya hanya 25 ribu untuk mahasiswa dan terbatas. Lucunya, saat saya beli tiket ini, rencananya saya mau pake identitas Pers saya biar gratis, tapi ternyata sudah habis. Dan ternyata Press Confrence memang sudah sehari sebelumnya, dan juga tidak bisa memperoleh foto eksklusif. Terpaksa saya mencatatkan diri sebagai mahasiswa dan saat saya tanda tangan, walaaaa disana tercatat banyak mahasiswa UI dan Binus, UIN hanya satu, hanya saya seorang L.

Bagi yang mau melihat foto-fotonya lebih banyak, klik saja link di www.flickr.com berikut ini http://fb.me/SDR74vfV Selamat menikmati…

Kesan Mendalam tentang Veronica Guerin

Dunia Jurnalistik bukanlah dunia yang mudah untuk dijalankan. Di dalamnya terdapat tanggung jawab profesi kepada masyarakat sekaligus bahaya-bahaya yang mengincarnya. Disana seorang jurnalis sejati akan menjamah dunia fakta yang penuh tantangan berbahaya demi sebuah kenyataan yang harus diungkapakan pada masyarakat.

Indonesiatercatat sebagai negara dengan tingkat kematian wartawan paling tinggi (tanpa melihat sisi geografis). Anehnya negera ini dianggap sebagai negara yang sukses menerapkan demokrasi. Memang terkesan ngawur, tetapi itulah kenyataan saat ini, kita lebih banyak main teori dan sepenuhnya mengesampingkan praktek. Sehingga keagungan   demokrasi yang kian menguap jenuh menutupi kenyataan bahwa pilar ke-empat demokrasi, yakni pers, sudah retak sejak satu dekade silam dan hanya sempat berjaya seumur jagung.

Selama ini, di Indonesia (sepengetahuan saya) belum pernah ada film yang berkisah tentang matinya jurnalis saat meliput berita. Karena memang pekerja jurnalis adalah orang yang memang jarang terekspos dan tidak popular. Tetapi boleh kita tengok sebuah kisah nyata tentang jurnalis wanita yang mati dimedanprofesinya. Namanya harum di negerinya, nan jauh di Eropasana, ia dikenal sebagai pahlawan.

Veronica Guerin, seorang jurnalis dan Sunday Independent, sebuah koran di Irlandia, menjadi salah satu korban dasyatnya sebuah kebenaran yang ia coba ungkapakan. Ia tidak sekedar memberikan informasi kepada masyarakat, tetapi ia juga ingin mencoba menggugah kesadaran masyarakat tentang bobroknya moral disekelilingnya. Meski ia tahu ia akan berhadapan dengan bandar besar narkoba, dia tetap maju dan pantang menyerah meski kelak nyawa taruhannya.

Veronica Guerin

Dia adalah salah satu jumalis yang layak menjadi teladan bagi jurnalis lainnya. Rasa peka terhadap lingkungan di sekitarnya menjadi teladan bagaimana seharusnya dia meliput berita. Dia iba ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa narkoba telah menyentuh anak-anak dibawah umur. Dan banyak membunuh remaja di gang-gang sempitkotaDublin.

Kemauannya untuk bergaul dengan semua lapisan masyarakat menjadi contoh bagaimana seorang jurnalis seharusnya bersikap dengan lingkungan sosial di sekitarnya. Dengan pelaku kriminal pun dia mau bergaul, dia mau memasuki tempat-tempat yang tabu dimasuki oleh banyak orang. Ia berani menelusuni tempat-tempat peredaran narkoba dan prostitusi, yang notabene banyak orang enggan memasukinya.

Dia menginvestigasi dunia perdagangan narkoba yang bukan berita menarik waktu itu, karena era 80-an adalah era dimana narkoba dianggap barang yang lazim dikonsumsi. Tapi ia jurnalis yang meliput sesuatu yang tidak bisa ditangkap melalui mata biasa. Seorang jurnalis yang bisa dikatakan memiliki indra keenam. Dan ia menggunakan anugrahnya untuk mencoba membuka mata masyarakat yang lain. Agar sadar akan kenyataan di sekelilingnya.

Dia juga teliti dalam mengerjakan segala sesuatu. Hal-hal detail ia perhatikan. Tidak teijebak dengan informasi palsu narasumber kepercayaannya yang telah memberikan keterangan untuk mengadu domba beberapa pihak dan menutupi bandar besar. Pada akhirnya, berkat ketelitiannya dia berhasil mengungkapkan sendiri siapa dalang besar narkoba yang memang ditutup-tutupi narasuber kepercayaannya tadi, narasumber yang temyata juga turut menginginkan kematiannya.

Sikap pantang menyerah yang dia miliki menjadi kekuatan yang layak ditiru bagi generasi pekerja jurnalistik yang lain. Sebelum mati, kaki kanannya pernah ditembak, dipukuli hingga babak belur, juga keluarganya kerap mempemleh teror dan ancaman. Tetapi dia panmng menyerah, karena baginya fakta adalah segala-galanya, mekipun ribuan poundsterling juga telah ditawarkan kepadanya untuk menghentikan investigasinya.

Veronica adalah sosok jumalis yang sempurna keberanian, ketelitian, keuletan, pantang menyerah, dan semangat yang dasyat menjadi contoh bagaimana seharusnya jurnalis yang idealis bekerja. Tidak takut dengan bahaya dan ancaman. Juga tidak terpesona dengan banyak uang yang ditawarkan kepadanya. Baginya, kebenaran yang harus menjadi prioritas utama. Dia adalah seorang jurnalis yang idealis sekaligus ideal untuk kita contoh tentunya.

Veronica Guerin The Movies

Sebuah kesan yang mendalam bagi seorang wanita yang rela mati di jalan yang ia anggap benar. Seorang yang bekerja bukan untuk uang, tapi untuk idealisme profesi demi kehidupan yang lebih baik.  Kisahnya dapat kita lihat dalam film yang diperankan oleh Cate Blanchate dengan apik dan sangat menggugah dan disutradarai oleh Joel Schumacer. Kisahnya bisa menjadi teladan bagi siapa saja yang ingin belajar tentang idealisme jurnalistik.   (Mustaqiim)

La Nuit by Elie Wiesel

La Nuit

La Nuit

Novel (tokoh: fiksi, setting: nyata)tentang masa lalu seorang Jewish yang hidup pada masa Jerman ini sungguh menarik untuk dibaca. Dibalik semua kutukan-kutukan dan anugrah manusia pilihan pada mereka, kisah mereka merupakan salah satu penggalan mozaik yang perlu kita ketahui. Elie wiesel atau Eliezer ( Allahku adalah penolongku.Ibrni) adalah seorang lelaki kecil yang dengan kedua matanya sendiri menyaksikan sesama Yahudi di Transylvania, bahkan adik perempuan dan ibunya sendiri dikremasi hidup-hidup oleh Nazi Jerman. Sedangkan ia dan ayahnya menjadi tawanan pekerja paksa yang lebih gila lagi, kemudian ayahnya pun juga mati menjelang kebebasan mereka.

Buku yang dengan kata pengantar Francis Mauriac (sastrawan France yang juga saksi Holocaust penulis “Blood and Flash”) diceritakan dengan gaya bahasa yang datar, seolah-olah merupakan kejadian yang biasa, mirip logat Ernest Hamingway dalam  “Old Man and the Sea” (Belakangan kita tahu jika dia mata-mata KGB di Amerika, mirip Adam malik di Indonesia) ,tetapi menurut saya masih datar miliknya Ernest…

Kita bisa membaca suatu kisah yang menggetarkan jiwa sekaligus menyesakkan dada. Bagaimana tidak, dengan cobaan yang mereka dapatkan bukannya semakin dekat dengan Allah, tetapi malah semakin menjauhinya. Mereka malah mempertanyakan eksistensi Allah, bahwa Allah itu buta, tuli, (maaf), dan Allah di tiang gantungan! Karena tidak memperhatikan mereka.

meskipun begitu, kita juga bisa belajar banyak tentang Yahudi dalam buku ini, kita bisa tahu tentang kedekatan Yahudi dengan hal-hal yang mistik atau ghaib dalam ajaran Kabbala. Meski tidak disebut apa itu Kabbala, tetapi secara eksplisit dikatakan bahwa ajaran Kabbala berisi tentang hal-hal tersembunyi yang hanya diketahui oleh kalangan Yahudi untuk penebusan atas dosa-dosa masa lalu mereka dan datangnya juru selamat di akhir zaman nanti (Menurut sejumlah pakar Islam, pada hari kiamat nanti Yahudi akan bersekutu dengan Dajjal).

Bukankah kisah mereka ini sangat mirip dengan masa lalu mereka ketika berada di bawah kuasa Fir’aun. Sungguh nyata, mereka adalah makhluk yang dilebihkan dari manusia-manusia lain, tetapi juga makhluk yang sangat hina azabnya menyerupai azab Iblis. Al Qur’an dan Injil telah memuji mereka karena otaknya yang pandai. Namun juga mengazabnya karena kesombongan mereka sendiri. Israel telah menjelma menjadi suatu negara yang “hidden super power”

Mengapa buku ini berjudul, La Nuit, alias malam? Mungkin masa itu adalah masa yang gelap bagi mereka, dan kini adalah masa jaya-jaya mereka. Sifat Yahudi yang sombong adalah rahasia umum langit dan bumi, meskipum kita bukan orang-orang pilihan kita harus tetap waspada terhadap rencana-rencana tersembunyi Yahudi. Semoga Allah melindungi kita semua…

Secret Life of Bees

secret life of bees

August berkata,”Dengarkanlah aku sekarang, Lily, aku akan mengatakan sesuatu yang kuingin agar kau selalu mengingatnya ya?”

Raut mukanya menjadi serius. Bersungguh-sungguh. Kedua matanya tidak berkedip.

“Baiklah,” kataku, dan kurasakan getaran menuruni tulang belakang punggungku.

“Our lady bukanlah sesosok makhluk ajaib, seperti seorang ibu peri. Ia bukanlah sebuah patung di ruang tamu. Ia adalah sesuatu yang ada si salam dirimu. Kau mengerti yang kukatakan?”

“Our Lady ada di dalam diriku,” ulangku, tak yakin aku mengulanginya.

Kau harus menemukan seorang Ibu di dalam dirimu sendiri. Kita semua harus. Bahksn kita sudah memiliki seorang ibu, kita harus mencari bagian dari diri kita ini di dalamnya.”

Berkatar belakang bagian Selatan Amerika tahun 1964, tahunnya Undang-Undang Hak Sipil dan pemberontakan melawan rasisme, The Secret of Bees Karya Sue Monk Kidd merupakan sebuah cerita yang kuat mengenai proses kedewasaan, kemampuan cinta mengubah hidup kita, dan kerinduan terhadap kesempurnaan feminitas universal yang acapkali menyerang. Dengan menyertakan kepedihan atas kehilangansesuatu, penghianatan , dan cinta yang pernah cukup, Kidd menunjukkan kekuatan para perempuan yang bersama-sama menyembuhkan luka-luka itu, untuk menjadi ibu bagi satu sama laindan bagi diri mereka sendiri, dan untuk menciptakan sebuah keluarga dan rumah yang sesungguhnya.

Terisolasi dalam kebun persik di South Carolina bersama seorang ayah yang menelantarkan dan bersikap kasar terhadapnya, Lily Owens yang berusia empat belas tahun telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk merindukan ibunya, Deborah, yang meninggal di tengah situasi yang ganjil saat Lily baru berumur empat tahun. Yang lebih buruk, ayahnya, T.Ray, mengatakan padanya bahwa Lily-lah yang tak sengaja membunuh ibunya.

Lily dibesarkan oleh Rosaleenn, pengasuh Afrika-Amerika-nya yang angkuh dan blak-blakan. Saat Rosqleen berusaha menggunakan hak barunya untuk ikut pemilu, ia diserang tiga orang rasis di kota dan kemudian malah ia yang dijebloskan ke dalam penjara. Lily bertekad kuat membebaskan dan akhirnya ia juga berhasil melarukan diri dari ayahnya. Ia membawa Rosaleen kabur dari penjara, dan berdua mereka menuju South Carolina untuk mencari kehidupan baru.

Tujuan mereka adalh Tuburon, South Carolina- sebuah kota yang tak mereka ketahui kecuali di dalam kotak yang dulu merupakan milik ibunya Lily yang terdapat petunjuk gambar berupa Perawan Maria berkulit hitam bertuliskan “Tiburon, South Carolina” di belakangnya. Di sana mereka tinggal bersama ti perempuan kakak beradik pemelihara lebah yang memuja Black Madonna. Di tempat inilah, dengan dikelilingi kekuatan Madonna, dengan dengungan-dengungan lebah, dan lingkaran perempuan-perempuan bijak berkulit hitam, Lily mencari jalan setapak menuju keutuhan dan kehidupan yang baru.

Terpikat oleh proses kedewsaan gadi sadari selatan ini, setiap orang akan merasa dikelilingi musim panas South Carolina yang panas dan satu dari saat-saat tak menentu di Amerika. Sebuah kisah tentang ibu yang hilang dan ditemukan, cinta, kejujuran, dan memaafkan, The Secret Life of Bees dengan berani menjelajahi luka-luka kehidupan menyingkap makna yang lebuh dalam tentang rumah dan kesederhanaan dalam memilih hal-hal penting yang akan menyelamatkan hidup kita.

Akhirnya, walau tak dapat menemukan ibu yang dirindukannya, Lily menemukan dan menjadi bagian dari masa lalu ibunya, menemukan sebuah sarang ibu-ibu yang baru, dan jatuh cinta dengan bunda alam raya.

Poem of William Blake:

O Rose, thou art sick!

The invisible worm,

That flies in the night,

In the howling storm,

Has found out thy bed

Of Crimson joy,

And his dark secret love

Does thy life destroy

Oh mawar, engkau sakit!

Cacing tak tampak,

Yang melayang di gelap malam,

Menembus badai yang meraung,

Telah menemu ranjangmu

Keriangan merah padam,

Dan cinta gelapnya yang diam-diam

Akan membuat hidupmu koyak.

Song of Bees

By.May

Place a beehive on my grave

And let the honey soak through.

When I’m dead and gone,

that’s what I want from you.

The streets of heaven are gold and sunny,

But I’ll stick with my plot and a pot of honey.

Place a beehive on my grave

And let the honey soak through.

Letakkan sebuah sarang lebah diatas kuburanku

Dan biarkan madunya membasahi semuanya.

Saat kumati dn pergi

Itulah yang kumau darimu.

Jalan-jalan di surga adalah emas dan disinari matahari

Tapi aku akan tetap bersama kebunku dan satu pot madu.

Letakkanlah sebuah sarang madu di atas kuburanku

Dan biarkan madunya membasahi semuanya.

Membaca novel ini, kita jadi lebih paham tentang sejarah dunia, biologi, budaya, hingga suatu keindahan sastra modern yang apik ringan namun sarat makna. Novel ini sudah di Film kan pada 2008 lalu dengan bintang-bintang besar seperti Queen Latifah, Alicia Keys, Dakota fanning dengan Sutradara gyna Prince dan Bythewood. Berikut cuplikan film-nya: