Mari Benahi Televisi Kita

Suatu kali Presiden Jokowi mengeluhkan program siaran televisi dan memanggil beberapa ‘top leader’ stasiun televisi kita untuk diajak berdiskusi di Istana. Itu seharusnya menjadi momentum yang tak boleh dilewatkan untuk memperbaiki sistem siaran pertelevisian di Indonesia yang sudah didiagnosa sangat amburadul.

Lho, kok amburadul? Ya. Karena tiap hari, jutaan penduduk Indonesia melihat televisi nasional tidak nasionalis alias tidak mencerminkan Indonesia. Televisi mainstream hanya mencerminkan orang-orang egois Jakarta, gaya hidup Jakarta, segala sesuatu tentang Jakarta. Bahkan kemacetan di Jakarta pun setiap hari ditayangkan ke seluruh pelosok nusantara lewat televisi nasional.

Konten televisi mainstream di Indonesia juga sangat jauh dari prinsip keberagaman. Hampir semua sama model tayangannya. Bahkan dituding tidak mendidik seperti yang dikeluhkan Presiden Jokowi.

Padahal, kita sudah punya Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang selayaknya dipahami penyedia dan penyebar konten. NaDSC00778 (2)mun, lagi-lagi peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ‘sangat tidak bisa diandalkan’ karena hampir-hampir tak punya daya selain menegur siaran yang menyimpang.

Lucunya, lagi-lagi yang disalahkan adalah rating Nielsen. Padahal ini bukan salah Nielsen sebagai tools yang menyajikan data survey masyarakat. Ini adalah salah pemerintah yang sejak lama mengabaikan dunia penyiaran.

Secara psikologis, Orde Reformasi memang lebih berhati-hati dalam segi pengaturan media. Tak dapat dipungkiri, semua ini terjadi lantaran masih traumanya kita pada keberkuasaan Orde Baru dalam mengontrol media massa.

Selama ini Pemerintah, baik DPR (Komisi I), Kemkominfo, dan KPI abai pada inisiatif untuk menjaga hakikat utama media yakni KEBERAGAMAN PEMILIK DAN KONTEN. Hasil riset Nielsen harusnya jadi acuan bahwa memang ada yang salah dengan televisi kita yang disebabkan oleh kepemilikian yang mengerucut (konglomerasi media) yang mengakibatkan keseragaman konten.

Ini disebabkan karena sistem siaran televisi kita masih terpusat. Pemodal emoh keluar duit untuk mendirikan televisi regional. Undang-undang televisi berjaringan dan kepemilikan pun terang-terangan didukung dan diarahkan pada sistem monopoli televisi kepada pemain besar atau yang sering disebut konglomerasi media.

Konglomerasi media merupakan dosa terbesar yang menciderai prinsip media massa. Sejatinya, media massa yang sehat yakni diversity of content and ownership alias keberagaman konten dan kepemilikan. Prinsip ini diabaikan pemerintah sejak zaman Suharto berkuasa. Semua tahu jika televisi adalah medium paling sempurna dari propaganda. Jadi, saat kepemilikan media semakin mengerucut maka keberagaman konten sudah bisa dipastikan makin minim.

Setidaknya, yang pasti dan harus segera dilakukan adalah memaksa televisi nasional segera melakukan siaran berjaringan dengan konten yang lebih proporsional. P3SPS Bab XXI Pasal 52 ayat 3 menerangkan bahwa porsi siaran lokal harus diupayakan mencapai 50% dari seluruh siaran. Namun, berjaringan saja susah apalagi diminta membuat tayangan yang proposional. Padahal sudah ada aturannya. Aneh kan?

Aneh karena selama ini negara dianggap tidak hadir mengatur bahkan pemerintah cenderung tidak dianggap. Ambil contoh program “Empat mata” yang dicabut izinnya tapi kemudian diganti dengan “Bukan Empat Mata” yang sama. Itu sebetulnya kasus penghinaan luar biasa pada eksistensi lembaga negara dan menciderai akal sehat. Sehingga salah satu upaya memperkuat KPI adalah memperkuat sisi hukum KPI. Setidaknya dengan memperluas cakupannya dari sekadar sapa tegur-menegur menjadi pencabutan izin siaran yang lebih bertaji.

Selain itu, adopsi teknologi kita benar-benar tertinggal jauh. Bayangkan, tingkat kemuduran kita yang disebabkan oleh konglomerasi media tadi ditambah dengan adopsi teknologi yang buruk. Maka jangan heran kita hanya punya konten yang dikelola tidak serius karena mengejar rating dan share.

Demi pendapatan melalui iklan yang seharinya bernilai milyaran rupiah ini televisi jarang punya program mendidik saat jam prime time (jam tayang sibuk) karena yang dikejar adalah mayoritas selera penontonnya.

Jangan salahkan stasiun televisi hanya berpusat di Jakarta. Lha, karena teknologi kita hanya mampu sampai segitu. Aturan sebaran siaran televisi benar-benar dilanggar. Medium berupa “frekuensi” yang kini menjadi jalur sebaran televisi adalah sumber daya alam yang terbatas (hanya 24 kanal) inilah yang membuat pemain besar selalu memenangkan ketersediaan kanal di wilayah lokal atau regional.

Sudah saatnya kita beralih pada teknologi digital dimana siaran televisi lebih dinamis dengan kanal yang melimpah pula. Namun, adopsi ini nampaknya hanya secepat siput. Lobi-lobi media televisi besar disinyalir sangat berkuasa menghambat adopsi ini. Lantas sampai kemana digitalisasi televisi kita? Revisi UU Penyiaran di meja DPR dari periode lalu masih juga belum jalan.

Jadi, jika Pak Jokowi mengeluhkan mutu siaran televisi kita rendah itu karena swasta yang memang tangguh. Untuk mengubahnya secara adil dan bijaksana tentu butuh waktu lama. Kita tidak akan bisa mengejar mutu siaran semaju (beragam) seperti Amerika Serikat, misalnya. Tapi pemerintah bisa meniru cara Inggris memajukan dunia pertelevisiannya bahkan hingga mencapai kelas yang diterima seluruh dunia.

Dulu saat publik Inggris dan Eropa dimonopoli oleh Murdoch lewat jaringan TV Digital BSkyB, Inggris memilih memajukan konten siaran TV BBC. Sekarang ada banyak kanal seperti BBC One, Two, Three, Cbeebies, News, World, dan Knowladge (akan ganti jadi BBC Earth).

Nah, Pak Jokowi seharusnya tidak perlu mengeluh dengan konten televisi swasta macam jaringan MNC, Trans dkk. Dari segi bisnis, mereka itu udah maju dan bermain cukup fair karena peraturan kita yang memang liberal sejak semula. Harusnya meniru Inggris dengan memperbaiki mutu siaran televise publik kita. Apa lagi kalau bukan televisi publik tercinta, TVRI.

Bicara TVRI, sebetulnya sudah punya kanal digital yang bisa dinikmati perangkat TV digital. Kanalnya pun beragam seperti TVRI Nasional, TVRI Budaya, TVRI Olahraga, dan beberapa TVRI digital daerah / regional yang pondasinya sudah bagus.

Di Inggris, masyarakat ditarik iuran yang beragam untuk berlangganan TV dengan fasilitasnya (TV, Telephone, Konsol game, DVR, dsb) sehingga ada partisipasi publik dalam penentuan konten dan tentunya publik menikmati tayangan bebas iklan komersial di saluran BBC. Model ini bisa ditiru, namun paling mudah adalah membiayai TVRI dari APBN.

Gabungkan TVRI dengan kementrian untuk produksi konten, seperti Kemendikbud untuk produksi konten budaya, Kemenpora untuk konten olahraga, Kemendiknas untuk konten pendidikan dan kementrian lainnya. Sehingga TVRI bisa fokus pada adopsi teknologi.

Selama ini TVRI dianggap tak menarik karena lemah dalam hal konten. Konten TVRI dianggap jadul dan terbelakang zaman. Sudah saatnya para ahli media berkumpul. Ada banyak orang yang saya kira punya wawasan luas dalam bidang televisi yang punya visi jelas dibandingkan orang-orang DPR yang lambat dalam membuat kebijakan.

Saya berharap ada lembaga khusus yang berisi praktisi yang tahu aspek teknologi, kreatif, hukum, dan idealisme penyiaran. Kumpulkan mereka untuk memperbaiki siaran televisi kita. Ada Yanuar Nugraha yang sudah bisa memetakan masalah dan solusi televisi di Indonesia lewat penelitian-penelitiannya, Dandhi Dwi Laksono yang paham konten dokumenter idealis, lembaga idealis macam Remotivi dan orang-orang yang harus didengarkan konsep mereka tentang televisi Indonesia harus bagaimana dan seperti apa.

Tak seperti pemerintahan lalu yang abai pada hal mendasar yang menjadi konsumsi harian masyarakat. Kini, pemerintah terlihat benar-benar berupaya mencari jalan untuk mengurai amburadulnya dunia pertelevisian negeri kita. Semoga tulisan ini bisa sedikit bisa mengurainya.

Original article

Kembang (Kempis) Media Massa

Original Article

Minggu pagi, seperti biasa sambil buang hajat saya membuka laman facebook dari gawai untuk mendapatkan informasi baru dan terbaru. Ada status teman yang bahagia setelah cek kehamilan, ada yang membagi perspektif positif sunni-syiah, utak-atik banjir Singkil dengan perobohan Gereja, ada yang komentar di video lucu, dan selebihnya kebanyakan di akun facebook saya adalah status pesohor yang saya ikuti dan headline media massa yang berbagi berita.

Screenshot_2013-01-04-21-09-51 (2)Bukan akhir pekan pun saya termasuk salah satu manusia yang tak bisa lepas dari facebook. Saya menggunkan facebook untuk mencari tahu hampir semua informasi baik itu sosial maupun berita, rasa-rasanya hanya kabar bapak-ibu di kampung saja yang belum saya ketahui lewat facebook. Bagi saya, aneh jika punya waktu luang tidak digunakan membuka laman satu itu. Dengan kata lain, saya kecanduan facebook! Entah saya sendiri yang kecanduan atau bersama sekitar 600 teman di facebook saya atau juga 1,5 Milyar warga dunia lain yang saat ini dilaporkan aktif menggunakan jejaring sosial ciptaan orang Yahudi yang beristri orang Tiongkok ini.

Senang membaca status New York Times yang kira-kira dengan bangga memperkenalkan fitur baru yang disebut virtual reality. Fitur ini memungkinkan kita menikmati pengalaman menikmati berita setingkat lebih tinggi dari sekedar menikmati video atau audio-visual. Dengan alat seperti teropong yang disebut cardboard dan ponsel pintar kita yang disisipkan ke dalamnya, kita bisa seolah-olah sedang berada di tempat dimana berita atau kejadian itu sedang berlangsung.

Senang sekali, dan sambil sesekali mengedan buang hajat saya mebuka laman virtual reality cukup lama, hingga saya lupa kalau usus besar saya sebetulnya sudah kosong. Karena itulah fitur baru menikmati berita ini disebut virtual reality atau realitas virtual dimana seolah-olah kita menyaksikan langsung suatu kejadian dan bahkan bisa menengok ke kanan-kiri-atas-bawah 360 derajat. Kira-kira ini mengadopsi teknologi yang diapakai Google Street yang sudah ada sebelumnya.

Namun, setelahnya saya terkejut membaca status facebook seorang pesohor media yang mengabarkan bahwa Majalah Detik yang terbit online telah mengakhiri hidupnya. Kabar ini berarti menambah daftar media massa yang tutup di tahun ini. Setelah sebelumnya Tabloid Bola yang legendaris belum lama tutup dan di pertengahan tahun 2015 ini Bloomberg TV Indonesia juga gulung tikar.

Semakin banyak media massa yang tutup ini karena kecenderungan zaman dimana memperoleh informasi semakin mudah, sehingga persaingan media benar-benar sengit. Informasi bisa update dari detik ke detik bukan lagi jam atau pun hari seperti dahulu. Siapa saja bisa membuat berita. Dengan modal kurang dari 200 ribu per tahun saja sudah bisa punya website .com sendiri, dengan hosting dan server gratis milik google yang sudah cukup besar.

Tak mau repot mengelola website sendiri? hanya dengan modal internet pun Anda bisa menulis di blog pribadi atau media gratisan yang makin banyak. Tanpa mau repot lagi? Anda bisa menulis status-status yang berpura-pura berlaku seperti jurnalis bahkan nabi (pembawa kabar Tuhan) di facebook. Seperti Jonru Ginting yang sejak pilpres 2014 lalu yang syafaatnya selalu ditunggu-tunggu ribuan jamaahnya di facebook.

Teknologi informasi akan selalu berkembang semakin modern. Modern di sini berarti semakin mudah dan murah. Nilai informasi tidak akan lagi eksklusif seperti yang sudah-sudah. Gelombang teknologi ini akan terus terjadi dan meninggalkan media konvensional. Sekalipun demikian, meskipun pangsa cetak dilaporkan terus merosot pun masih banyak orang yang setia pada liputan yang berbobot. Saya meyakini, bukan masalah medium atau sarana yang membuat media massa bertahan, tetapi bobot kualitas, kreatifitas, dan strategi bisnis yang benar.

Di era ke depan misalnya, bobot pemberitaan diperkirakan akan ada diolah data. Model-model pemberitaan seperti model longform journalism atau European Style dimana media massa tak hanya menampilkan berita tetapi juga dituntut untuk menampilkan data. Ambil contoh bila ada peristiwa kecelakaan di Jakarta, maka harus ada sajian dinamis data penyertanya seperti berapa jumlah rata-rata kecelakaan per tahun, kendaraan model apa, berapa korbannya, dimana saja, porsi gender, sebab-sebabnya dan lain sebagainya. Model ini menolak keberadaan media massa yang hanya menampilkan berita seperti breaking news semata, menampilkan kecepatan tanpa bobot.

Model berita berbobot ini mengadopsi era konvergensi media dimana teks, audio, dan gambar/video berkelindan menjadi satu. Satu kali klik Anda bisa memperoleh informasi sesuai keinginan kita atau setidaknya disajikan sesuai dengan bobot informasinya, apakah cukup dengan teks, apakah perlu audio yang otomatis membacakan teksnya, atau perlu video yang memberikan gambaran peristiwa, atau bahkan realitas virtual seperti yang ditawarkan New York Times.

Selain virtual reality juga tengah berkembang sejak awal tahun lalu yang disebut robo-journalism. Dimana ada artikel yang ditulis secara otoamtis oleh sistem atau robot. Artikel melalui robot ini saat ini berfungsi mengabarkan berita cepat yang didapat melalui data pasti semisal gempa bumi atau laporan perdagangan di bursa efek. Sekalipun berbentuk satu atau beberapa paragraf, artikel tersebut sebetulnya disusun melalui program komputer.

Tapi tenang, belum ada kecerdasan buatan yang bisa menggantikan peran penting jurnalis atau bahkan jurnalisme. Yang perlu diantisipasi dalam waktu ke depan oleh praktisi media adalah facebook, ya facebook yang membuat saya dan bahkan Anda kecanduan internet ini sedang mengembangkan apa yang disebut sebagai teknologi Instant Article. Teknologi ini membuat facebook tak hanya sebagai media sosial tapi juga medium yang digadang-gadangkan sangat tepat sebagai medium media massa baru. Kenapa perlu diantisipasi? kemungkinan fitur facebook ini akan menggerus jumlah kunjungan yang menjadi nafas media online. Karena sejauh ini media online masih membutuhkan kunjungan website untuk menarik iklan.

Ragam artikel dalam bentuk teks, audio, dan video akan menjadi tritunggal dan mudah diakses melalui facebook. Ulasan-ulasan media yang mengikuti uji coba Instant Article bagi pengguna iPhone di Amerika Serikat sejauh ini terdengar melebihi ekspektasi. Kecepatan, kemudahan, dan teknologi yang tepat membuat facebook layak kembali dipertimbangkan sebagai medium baru penyebaran berita di masa mendatang.

Akhirnya, sambil menaruh ponsel lalu menyiram kotoran di toilet saya berpikir baik-baik soal media massa dan juga toilet. Dari sejak zaman Adam bahkan makhluk awal evolusi, hampir kesemuanya membuang kotoran sisa makan mereka, meskipun kini caranya beda. Dulu kakek nenek saya biasa buang hajat di sungai. Sekarang saya buang hajat di toilet sambil pegang gawai.

Intinya sama, buang kotoran! Begitu juga dengan informasi, ia sudah menjadi kebutuhan sejak dulu. Dulu orang baca koran, sekarang saja mediumnya beragam ada gawai, televise, radio, dsb. Tetap intinya sama, butuh informasi! Dan selama itu pula media massa akan terus berkembang sekalipun sesekali mengempis.

Sangka (bukan prasangka)

GambarHari ini saya beroleh pelajaran yang sangat berharga dari seseorang. Dia pernah berprasangka buruk kepada orang lain, sangkaannya sungguh tercermin dan dapat diamati oleh mata, jika orang yang ia sangka terlihat seperti yang sesungguhnya dia sangka. Saya tidak perlu menyebar apa yang dia sangkakan pada orang lain itu. Tapi belakangan, dia tahu bahwa prasangka dia keliru. Orang yang dia sangka adalah orang yang begitu baik. Bahkan kini, dia berprasangka jika orang yang ia sangka itu pasti lebih baik dari dia sendiri. Sekalipin indra masih bergejolak menafsir berbeda.

Sejarah Sangka

Tuhan meminta Adam tidak dekati buah terlarang. Dan hanya itu satu-satunya larangan Tuhan kepada Adam. Tetapi kita tahu, konon sang Iblis menjadi pemicu perkara. Dia  membisiki Hawa, atau membisiki Adam, atau berucap kepada mereka berdua tanpa bisik-bisik (terserah sangka (tafsir) khalayak)- jika Tuhan punya maksud tertentu atas larangan memakan buah terlarang itu…

Dari situ Adam dan Hawa mulai berprasangka kepada Tuhan. Celak-lah kedua mata Adam dan Hawa karena nekat makan buah terlarang, hingga mereka tahu makna dari rahasia Tuhan yang terlarang itu. Alangkah baiknya jika Adam dan Hawa tiada turun ke dunia ini. Sehingga kita tiada perlu lahir. Karena kami, putra-putri ini, kini merajai dunia dengan sangka, hingga nanti sangkakala bergema…

Sangka dalam kata

Sangka berasal dari kata benda yang berarti cangkang (bukan kerang atau karang, karena bisa berbeda makna) yang bisa ditiup seperti terompet (Melayu). Sedang sangkaannya (istilah) terserah khalayak menyangka sendiri apa itu sangka, namanya juga sangkaan, kan terserah si penyangka boleh saja…

Mungkin kata sangka bisa berubah makna menjadi “duga dan kira” karena sifat sangka yang tidak terduga atau terkira. Jadi cerita rekaannya begini:

Menurut sangka saya, jaman dahulu kala saat masih banyak hewan-hewan laut, khususnya jenis Moluska besar yang bersangka (bercangkang maksudnya). Orang-orang Melayu Lama (Bukan Melayu Kuno: ‘Lama’ adalah rentang waktu, ‘Kuno’ adalah sifat) suka mencari sangka. Meniupnya lewat ujung lancip sangka, yang entah sengaja dilubangi atau memang berlubang. Lalu mereka bermain “sangka-sangkaan”

“Siape nak Sangka ni bunyi sangka nak bagus ato nak buruk?” kata orang-orang Melayu Lama dalam bahasa Melayu Lama ketika pertama kali menemukan Sangka dengan teman-teman mereka di pantai.

Suara sangka yang belum pernah ditiup itu menjadi permainan yang menghidupkan sebuah kosa kata baru bernama “Sangka”. Mereka selalu mengira sangka akan berbunyi bagus atau jelek saat ditiup. Karena sejatinya, bunyi sangka itu relatif bisa bagus atau jelek tergantung banyak faktor, antara lain:

  • Bisa karena suara asal, dari liuk dalam sangka,
  • atau karena ada kotoran di dalamnya,
  • atau karena pendengaran orang-orang Melayu lama yang relatif karena pelbagai musabab,
  • atau malah tidak berbunyi karena masih ada Moluska di dalamnya.

Karena banyak faktor yang menentukan ragam suara sangka maka permainan “Sangka-sangkaan” menjadi permainan populer di kalangan orang-orang Melayu Lama. Maka lambat laun terciptalah kata “sangka” yang bermakna sesuatu yang belum pasti bagaimana bunyinya jika belum ditiup. Sehingga menimbulkan banyak dugaan dan kiraan bunyi awalnya.

Tapi orang-orang Melayu Lama ini, entah lambat atau cepat menjadi lebih berbudaya dengan pola bahasa yang sastrawi, hingga muncul pribahasa “Sangka yang besar, selalu berbunyi nyaring.” Yang diadopsi oleh pribahasa semi modern menjadi:

“Sangka yang besar adalah sangka yang menghargai peniupnya,”

“Sangka kosong, berbunyi nyaring.” dan

“Tak ada sangka yang tak retak.”

Turunan Kata – Bangsa

Ceritanya dulu orang-orang  Melayu Lama mengumpulkan kelompok-kelompok mereka melalui Sangka. Mereka meniup sangka yang besar dan berbunyi nyaring sebagai suatu tanda, entah dengan jenis irama seperti Jazz atau irama sederhana seperti kode morse yang dipakai Pramuka, untuk memberi tanda agar mereka berkumpul.

Mereka akan berkumpul sesuai dengan bunyi sangka yang ditiupkan. Maka kelompok-kelompok orang-orang Melayu Lama yang berkumpul sesuai dengan bunyi sangka ini disebut sebagai “bangsa”.

Asal kata “Bangsa”:

Abang ada bunyi sangka!Lalu Orang Melayu Lama Alay (progresif) mulai memendekkan kalimat dengan:

Abang sangka” kurang pendek, Lalu Orang Melayu Lama Alay (progresif) lebih memendekkan jadi :

Bangsa

Maka dari situ muncul ayat tentang hari kiamat yang ditandai dengan peniupan Sangkakala. Dalam penyangkaan bahasa oleh penulis, peniupan sangkakala sejatinya buka tanda akan akhir hari kiamat, tetapi kala (waktu) bagi kita umat manusia ini untuk berkumpul bersama-sama untuk yang terakhir kalinya. Jadi sangkakala menurut penyangkaan saya, ayat tentang sangkakala adalah tamsil (perumpamaan) bukan peniupan sangkakala yang sebenarnya.

Menurut tafsir Si Bukan Imam Alay (progresif) menyangka bahwa peniupan sangkakala adalah hari dimana manusia bersedia secara sukarela berpindah menuju ke satu titik bersama-sama. Bahasa ilmiahnya adalah urbanisasi, semua manusia pergi ke kota meninggalkan desa leluhurnya. Ingatlah khalayak pembaca, ini yang sedang terjadi di dunia saat ini. Tanda-tanda kiamat mulai terasa, sangkakala nampaknya mulai tertiup…

Puisi Penuh Sangka

Adam dan Hawa kena sangka

Mereka sangka buah itu menjadikan mereka berkuasa seperti Al’A’la

Seperti kata Iblis si penebar sangka-sangka

Kini putra-putrinya penuh sangka

Saling menikam, saling beradu pikir dalam sangka

Sangka mereka, Tuhan tiada hadir dalam sangka

Sangka mereka, sangka itu makhluk atau bukan

Sangka mereka, benda-benda bisa jadi kata sifat, segala sumber kebahagiaan

Sangka mereka, nafsu itu adalah benda, dituruti diikuti dikejar agar beroleh bahagia

Sangka akan terus ada, hingga kita tanpa sangka meniupnya

Sebuah pratanda untuk berkumpul

Jika Kala yang abadi hanya sangka-sangka kita

Jika kata- yang khalayak (ku)sangka budiman ini, hanyalah sangka-sangka

bermakna

Investasi Saham ála Wartawan

Bolehkan wartawan “bermain” saham? Pertanyaan ini belum menjadi permasalahan di Indonesia. Karena memang keterbatasan kita tentang pemahaman investasi masih kurang. Namun saya kira, dalam tahun-tahun mendatang banyak dari kita memandang suatu investasi, dalam hal ini adalah kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan. Merupakan salah satu ragam investasi yang baik untuk mengelola jerih payah kita saat ini.

Saya sangat setuju jika wartawan diperkenankan memiliki saham, khususnya saham media massa dimana ia bekerja. Dalam hal ini mungkin penting dirumuskan bahwa “redaksi” berhak mempunyai proporsi dalam suatu media massa yang telah go public. Perlu racikan tertentu untuk bersama-sama mau memikirkan bahwa sudah saatnya menggusur peran tunggal (keuntungan dan massa depan) dalam kepemilikan media massa. Redaksi atau awak pers berhak menikmati jerih payah idealismenya kelak di masa mendatang. Tentu ini akan memiliki imbal balik terhadap daya juang dan loyalitas awak media massa mereka sendiri di masa kini dan nanti kan?

Selain itu, siapa yang tak tergiur dengan komersialisasi media massa di tengah pasang surut industri media (khususnya cetak). Ketakutan-ketakutan akan tidak bebasnya media massa ketika telah menjadi badan hukum terbuka tidak akan berlaku selama redaksi suatu media massa memiliki idealisme kuat. Karena jika idealisme redaksi tidak kuat, media massa akan kena getahnya sendiri. Percaya deh, dimana-mana intervensi berlebihan pemilik modal terhadap medianya akan berdampak buruk bagi citra media massa itu sendiri di kemudian hari.

Penolakan-penolakan beberapa pemilik media massa seperti Dahlan Iskan untuk menolak membuat serikat pekerja wartawan di Jawa Pos, misalnya, bisa jadi karena keengganan Dahlan untuk berbagi “kebahagiaan” dengan para pekerjanya. Dalam hal ini, Dahlan masih enggan untuk membuat perusahaannya go public. Bukan itu masalah saat ini, tapi apakah Dahlan dan putranya yakin jika nanti setelah mereka tiada, perusahaan mereka akan tetap ada dan terkontrol sama baiknya?

Membuka keran bagi keterbukaan kepemilikan media massa merupakan hal yang penting di era keterbukaan informasi saat ini. Kepemilikan tunggal suatu media massa tentu menjadi masalah, lebih masalah lagi soal konsentrasi atau lebih tepatnya konglomerasi media massa oleh kepemilikan perseorangan atau kelompok tertentu. Di Indonesia, penelitian Merlyna Lim (2012) menyebutkan jika negeri ini dikuasai 13 group besar media massa.

Ini tentu menarik, persaingan bisnis media massa di indonesia sangat sengit. Konsentrasi media massa membuat media massa kehilangan unsur kemajemukannya. Membahayakan atau tidak prihal konglomerasi ini tentu tergantung dari sudut mana kita melihatnya melalui beberapa teori-teori pers yang ada.

Tiga belas itu cukup majemuk, tapi kalau tiga belas itu sudah main lirik sana-sini ya bahaya juga kan? Media Group udah lirik-lirikan dengan MNC Corporation. Trans Corp sudah mengakusisi TV-7 dan detik.com untuk konvergensi media mereka. Media massa yang besar semakin tamak dengan memangsa media-media kecil. Tentu ini semakin berbahaya jika tidak ada pembatasan. Tapi mari kita bicara ini di lain waktu. Kita tulis soal saham dulu saja ya.

Intinya, membuat kepemilikan media massa menjadi berbadan hukum terbuka itu punya sisi baik. Selain mengurangi dampak konsentrasi media massa yang sudah terlanjur menjamur. Juga sebagai sarana kontrol sosial masyarakat dan awak media terhadap ekonomi media massa sendiri. Jadi saya sarankan untuk pemilik media massa yang belum go public agar segera membuka diri. Jangan sungkan untuk berbagi keseksian perusahaan Anda dengan yang lain. Toh Anda juga kan menikmatinya hasilnya tanpa sedikitpun kehilangan kuasa positif atas masa depan perusahaan Anda.

Tapi saya masih tidak setuju untuk menyerahkan media massa pada bobroknya mekanisme di pasar saham. Lebih baik tidak usah didaftarkan di bursa. Repotnya Indonesia ikut-ikutan lebay dengan membuat mekanisme pasar kita bergantung pada stabilitas internasional. Efek kupu-kupu membuat rapuh stabilitas ekonomi kita. Sayangnya pemerintah kita sengaja membutakan diri dengan ikut-ikutan lebay berbursa-bursa. Untung banyak itu pembuat kebijakan. Tapi kita bisa buntung kelak. Contohnya, Eropa yang kolaps kok kita ikut-ikutan jatuh?

Kembali ke saham. Soal saham lain adalah beberapa wartawan yang sengaja bermain saham di beberapa perusahaan (bukan perusahaan medianya). Cilaka dua belasnya, ada timbal balik yang bisa jadi membuat sebuah perusahaan terlihat oke di mata publik lewat polesan-polesan media massa. Ini yang ditakutkan beberapa pengamat dan peneliti. Jika wartawan sudah memiliki kedekatan terhadap suatu perusahaantertentu. Bisa jadi ini akan membuat dia kehilangan kontrol. Dia akan bias dalam pemberitaannya.

Setelah googling di internet ternyata beberapa media luar sudah punya kode etik dalam mengatur sejauh mana wartawan boleh berhubungan dengan bisnis di luar kerja wartawan. Contoh : ”No staff member may own stock or have any other financial interest; This restriction extends beyond the business beat” (tak satu pun awak media diperbolehkan memiliki saham atau produk keuangan lainnya; Larangan ini mencakup kegiatan usaha (diluar kerja wartawan)”. The New York Times Company Policy on Ethics in Journalism (2005).
”Journalists who regularly cover business and financial news may not play the market (wartawan yang secara tetap meliput berita bisnis dan keuangan dilarang bermain di pasar saham)” Newsroom Ethics Policy on The Boston Globe (2008).

Cukup tegas kan? Jadi jika seorang wartawan harus menjaga kuat idealismenya. Jangan sampai godaan-godaan terhadap keuntungan dalam dunia investasi membuat seorang wartawan kehilangan sense of responsibility. Naluri wartawan yang tergiur dengan keuntungan dari liputannya adalah naluri wartawan bodrex atau amplop. Etapi karena keuntungan cukup gedhe, saya kira mereka ini layak disebut wartawan heroin. Salah satu contohnya mungkin saat IPO Krakatau Stell beberapa waktu silam. Saya yakin wartawan juga memiliki kesalahan. Bukannya mengkritisi nilai saham awal yang sangat jauh dari harga pasar. Mereka malah malak minta jatah. Dasar wartawan heroin…

Begitulah analisis saya soal bisnis investasi saham bagi wartawan ini. Tidak mendalam memang, tulisan ini mungkin butuh diupdate lain waktu. Saya belum ikut kelas ekonomi media sih hehehe

Eling-Eling Basa Jawa

Sakwise maca majalah Historia atiku ora krasa tentrem. Sajake ana sing tak kangeni, apa? Ya, iku kawruh bebasan Jawa. Aku kangen ngomong basa Jawa kanthi lumrah karo kanca-kancaku ing saben dinane.

Majalah mau ngupas sethitik sejarahe kalawarti Pandjebar Semangat, saka mula lahire nganti kondisine saiki sing uwis senthak-senthik. Aku ora bisa turu mikirake masalah iki. Piye jal, saiki ki aku wis jarang-jarang nganggo basa Jawa iki kajaba karo sedulur cedak dhewe. Amarga ya saiki lagi sinau ning njaba Jawa. Sukmben yen uwis makarya ana ndesane dhewe musti ya ora kangen meneh ya hehehe

 

Aku kangen pas bali menyang ndesaku, Sukaharjo, Jawa Tengah, kanca-kancaku lan tangga teparo iya ishih lumrah nganggo basa Jawa kanggo bebasan saben dinane. Ananging sapa nyana, miturut majalah sing bar tak waca mau jare wis ora ana wong enom sing nggelemi maca majalah PS sing sejatine nganggo basa Jawa iku. Pandjebar Semangat kui majalah basa Jawa sing paling tak senengi nalika SMA mbiyen (ana majalah Basa Jawa liane sing lali judule apa). Amarga tanggaku ya ana sing langganan. Aku lali mbuh perpustakaan SMA langganan ora. Yen Perpustakaan Kota Sukoharjo sih sak elingku lanngganan, nanging aku ya ora tau mbukak babar pisan sanajan ditumpuk akeh banget.

Rasa-rasane aneh wae, aku iki asli saka Jawa. Bapak Ibu lan leluhurku kui sakjane murni seratus porsen Jawa tulen, nanging kok karo kabudayan Jawa sajake aku malah asing lho. Piye coba, aku sak gedhe menthele-thele kaya ngene iki urung bisa nulis aksara Jawa alisa aksara HaNaCaRaKa hehehe…

Aku kelingan karo kancaku mbiyen jaman SMP. Jenenge Puji sing pinter banget nulis Jawa. Asline aku iri amarga ora bisa, aku njaluk diwarahi dheweke tapi ya  mung isa sethithik. Sakwise kui aku lali babar blas. Mbuh kepriye kok masalah nulis aksara Jawa iki wae aku kangelan. Padhal pas SMA aku isa nulis aksara Jepang. Lha kepriye coba? Apa aku iki dudu bocah Jawa sing uwis ilang Jawane. (yen ana ulangan aksara jawa aku ngawe keplekan utawa nurun kancaku- wes rasah komenlho ya!)

Aku uga lagi mikir-mikir kepiye supaya bocah enom kaya aku iki san saya doyan maca lan uga ngembangake kabudayan Jawa. Aku pirang wulan kepungkur nate les Gamelan ana Bentara Budaya Kompas, nanging tak culne amarga kabotan ongkos. Saiki lagi mikir-mikir meneh apa ya? Piye ya? Supaya aku bisa nyenengi lan uga isa ngayomi kabdayan Jawa meneh.

Kancaku sing asline saka Jakarta pirang ndina kepungkur bar kirim warta saka telpun, menawa dheweke saiki lagi seneng sinau basa Jawa. Gara-garane dheweke melu nonton wayang sing dalange rada edan tingkahe tapi uga paling waras logikane, si Sudjiwa Teja. Aku malah mbales menawa Jawa iku dudu kabudayan sing paling tuwa. Lah Borobudur wae pada tuwane karo kampus Oxford lho ya.

Ya uwis ah, kesel nulis nganggo basa Jawa kui. Aku kadang luput nulis bedane ”a” karo ”o”. Eh, aku ya lagi eling, kancaku SMA mbiyen jare ana sing ketampa ning jurusan Basa Jawa Universitas Indonesia. Jenenge Rini, mbuh kepiye kabare saiki aku ora ngerti. Nyatane ya akeh sing isih tresna karo kabudayan Jawa ding. Mung rasa atiku wae sing rada sajake rumangsa salah. Amarga aku ora turut ngalestareake kabudayan Jawa. Lan malah ndemeni kabudayan njaba.

Uwwis ya, sugeng ndalu, saiki arep turu sinambi nyetel tetembang Bosas ning iPod. Ngene-ngene aku isih nyimpen pirang-pirang tembang Jawa lho ya… 

Meraba Komunikasi Massa

Gambar

Assosiated Press

Untuk memahmi dampak komunikasi massa, diperlukan kajian yang mendalam dan referensi luas untuk memahaminya. Karena dampak komunikasi massa sangat kompleks, yakni banyak dihubungkan dengan variabel-variabel bebas lainnya; dan dinamis, yakni selalu berubah dari waktu ke waktu. Belum lagi bagaimana sisi para ahli memandang subjektifitas teori-teorinya.

Teori yang paling awal dikenal mengenai dampak media massa adalah The Magic Bullet Theory atau teori peluru, teori ini berkembang pada awal abad 19 dimana perang dunia telah banyak berpegaruh dalam dimensi teori ini. Teori ini menekankan bahwa pesan yang dibawa dalam komunikasi massa adalah[i]:

  1. Menjangkau secara langsung setiap audiens
  2. Panetrasi setiap pikiran secara langsung
  3. Mempengaruhi gagasan dan tindakan setiap orang, secara terang-terangan dan sangat berpengaruh.

Teori ini terbukti memang akurat untuk menggambarkan fungsi utama media massa sebagai alat prropaganda pada kisaran abad 20. Media massa merupakan alat propaganda paling utama baik politik maupun kapitalis. Pada massa berkembangnya teori ini, propaganda politik memang sangat kentara.

Contohnya di Indonesia, pada era Orde Baru. Media massa merupakan alat propaganda paling utama. Untuk menjatuhkan ideologi komunis misalnya, setiap memperingati hari G-30S PKI, TVRI selalu menampilkan film mengenai pembunuhan jendral-jendral TNI AD di tahun 1965. Film yang diputar didramatisir sedemikian rupa, dibuat secara berlebih-lebihan bahkan terbukti rekayasa atau fiktif semata.

Tujuannya hanyalah alat propaganda kepada masyarakat, agar membenci ideologi sekaligus pengikut  PKI yang notabene dianggap sesat oleh pemerintahan Orde Baru. Dan terbukti tidak hanya itu, tujuan propaganda tersebut kini diketahui lebih dari sekedar menjauhkan ideologi Komunis-Lenin. Karena kenyatannya telah banyak condong pada tujuan propaganda demi kepentingan pribadi penguasa saat itu juga.

Propaganda dalam film dan buku-buku sejarah yang merupakan bentuk dari media massa tentang PKI pada masa silam pun masih sangat berpengaruh hingga saat ini. Terbukti dengan banyaknya pradigma miring tentang eks tapol PKI dan keluarganya di tengah-tengah masyarakat kita. Dalam konteks inilah teori peluru masih sangat efektif digunakan untuk membaca dampak media komunikasi massa yang bersifat powerfull.

Banyak ahli yang tidak sependapat dengan teori peluru, atau teori sejenis ini lainnya. Alasannya hampir sama, tak lagi relevan dengan dunia yang makin dinamis. Mengacu pada teori pendekatan manfaat dan gratifikasi, yang lebih konsen pada audiens. Berkembanglah teori-teori mengenai efek media massa yang lain, antara lain:

  1. Minimalist effects theory

Teori bahwa efek media massa kebanyakan bersifat tifak langsung.

  1. Cummulative Effects theory

Teori bahwa pengaruh media terjadi bertahap dari waktu ke waktu.

  1. Third-Person Effect theory

Teori bahwa satu orang melebih-lebihkan efek pesan media kepada orang lain, dll,

Perkembangan efek media massa kini tak lagi bisa di riset secara mendalam seperti abad lalu. Hal ini telah dikemukakan oleh Melvin DeFleur yang menyatakan jika teori komunikasi massa sudah jenuh[ii].

Menurut DeFleur, hal tersebut disebabkan oleh kurangnya kajian menggenai efek media massa di universitas oleh orang-orang cerdas. Banyak ahli yang kini lebih memilih bekerja di media massa dengan tawaran gaji yang besar untuk melakukan riset demi kepentingan marketing atau korporasi lainnya. Dengan kata lain, penelitian mengenai efek komunikasi massa kini menjadi ranah kepentngan media massa itu sendiri demi kepentingan praktis semata.

Dampak Komunikasi Massa Abad 21

Di abad baru ini, media massa tak lagi di definisikan sebagai media cetak dan elektronik saja. Media telah banyak bergeser pada penggunaan kanal internet dengan berbagai aplikasinya yang sering disebut Media Baru (New Media) atau paling dikenal sebagai Multimedia. Website, blog, microblogging, dan jejaring sosial lainnya kini memiliki peran yang sangat signifikan dalam mengubah kehidupan masyarakat.

Revolusi Melati di Tunisia yang telah membawa Musim Semi di Jazirah Arab terjadi karena sarana komunikasi massa lewat internet. Twitter dan Facebook diduga menjadi sarana public sphare yang efektif. Peristiwa ini merupakan dampak dari komunikasi massa yang sangat kentara di abad ini.

Meskipun demikian, tragedi London Riot yang bermula dari peristiwa kecil yang kemudian berujung pada keriuhan yang mengacaukan metropolitan London. Hingga kini, belum ada yang bisa menjelaskan secara empiris kasus London Riot ini, selain sarana komunikasi massa BBM (Blackbarry Massaager) yang dituduh punya adil besar dalam menyebarkan amarah warga[iii]. Belum ada yang tahu pasti dan membaca sepenuhnya komplekssitas manusia abad ini.

Abad ini didedikasikan sebagai abad informasi, tak heran jika informasi berharga sangat mahal. Siapa yang bisa membaca informasi, di twitter misalnya, maka ia akan tahu pergerakan opini publik. Sehingga dengan mudah mengkontrolnya. Inilah yang ditakutkan dalam liberalisasi dan kapitalisasi media massa jika tanpa regulasi yang jelas.

Tak heran, perusahaan komunikasi massa kini banyak diincar oleh konglomerat kaya yang memungkinkan terjadinya konglomerasi media. Tengok saja Rupert Murdoch yang menguasai bisnis media sejagat, tahun 2011 ini, salah satu tabloid berusia 168 tahun  di Inggris yang sudah ia miliki, News of The World, harus ditutup karena  skandal penyadapan terhadap publik Inggris. Manajemen media massa yang lebih mengutamakan profit membuat banyak awak media hanya mencari-bahkan sengaja membuat sensasi- demi keuntungan sepihak.

Kanal informasi diprediksi memberi banyak efek dan pengaruh dikedepannya, hal ini bisa dilihat dari adanya imperialisme  media yang dikenalkan oleh Fred Fejes dalam bukunya Media Imperialism: An Assesment (1992). Fejes menggambarkan berjalannya proses komunikasi massa modern dalam membentuk, mempertahankan, dan memperluas sistem dominasi dan kebergantungan secara global.

Teori Fejes kemudian ditempatkan dalam tradisi luas kritik kapitalisme Marxis. Atas dasar ini, pertumbuhan global media komunikasi global media komunikasi barat oleh para peneliti dipahami sebagai refleksi ekspansi imperialis masyarakat kapitalisme Barat terhadap sumber-sumber ekonomi dunia secara umum[iv].

Meskipun demikian, teori ini semakin bias dirasakan karena Jazirah Arab, khususnya Arab Saudi kembali menunjukkan momentum untuk turut bermain dalam arus informai dunia. Pangeran Saudi baru-baru ini membeli saham twitter.com, situs micro-blogging terbesar di dunia sebesar 300 Miliar Dolar AS[v]. Selain itu dikabarkan Arab Saudi juga banyak membeli saham Citigroup Inc., Apple Inc. dan  Rupert Murdoch’s News Corp. Yang notabene merupakan raksasa perusahaan teknologi komunikasi dan media massa dunia.

Perkembangan Teknologi Informasi

Abad ke-21 ini merupakan abad yang sangat kompleks bagi perkembangan media massa. Tapi yang menonjol adalah perkembangan teknologi informasi yang mengubah kehidupan modern dengan sangat drastis. Almarhum Steve Jobs, dengan karya-karya hebatnya. Mulai dari mouse, laptop, dan peralatan canggih yang kini banyak membentuk gaya hidup bahkan gaya komunikasi manusia. Telah didedikasikan sebagai penemu dan pembentuk abad ke-21 ini.

Bagaimana generasi kita telah beralih ke paperless telah memungkinkan media massa yang  lebih canggih nantinya. Perkembangan Smarphones, tablet, dan piranti komunikasi elektronik lainnya merupakan perkembangan teknologi komunikasi yang belum diperkirakan sebelumnya.

Selagi teknologi masih berkembang dan manusia makin maju. Maka komunikasi akan terus berjalan. Mungkin kita bisa memprediksi bagaimana komunikasi nantinya, tapi melihat perkembangan teknologi komunikasi saat ini, akan sangat dimungkinkan perubahan pola budaya masyarakat secara liberal. Bagaimana cara kita berkomunikasi dan pradigma komunikasi ribuan tahun lalu akan segera berubah secara drastis di masa-masa mendatang.


[i], Margaret DeFleur (Ed). Fundamentals of Human Communication, 3rd edition.New York: Mc-Graw Hill. Hal. 392

[ii] John Vivian. Teori Komunikasi Massa. Edisi kedelapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Hal. 474 (terj)

[iii] Assosiated Press: Blacberry Phones ”Main Tools” Organising London Riots. http://uk.ibtimes.com/articles/262027/20111206/blackberry-phones-main-tools-organising-london-riots.htm diakses pada 23 Desember 2011 pukul 12.23 WIB

[iv] Mohammad Soelhi, Komunikasi Internasional: Perspektif Jurnalistik. Jakarta: Simbiosa Rekatama Media. Hal. 156.

[v] Associated Press. Saudi billionaire Prince Alwaleed invests $300 million into microblogging site Twitter. http://www.washingtonpost.com/business/technology/saudi-billionaire-prince-alwaleed-invests-300-million-into-microblogging-site-twitter/2011/12/19/gIQAtHvq3O_story.html., diakses pada 26 Desember 2011 pukul 17.00 WIB