Kata Kita (Epigen)

Katamu kataku katakita melebur jadi satu
Tiap kata tiada makna jika kita tak ada katamu kataku
Dalam kata kita bukan kata tapi makna
Makna melebur dalam tubuh meski tak utuh,
Raga rapuh rasa jenuh
Tapi ini kata kita
Tak penuh dalam peluh
Tak mengeluh tapi melenguh
Dalam satu tubuh

Advertisements

Kurban

Kurban

Secara antropologis, kurban mulanya adalah sesaji yang digunakan untuk berterimakasih, menghibur atau memohon sesuatu kepada Tuhan atau Dewa-Dewa. Konsep kurban ditemukan pada hampir setiap kebudayaan di dunia ini. Kebudayaan-kebudayaan kuno seperti bangsa Maya, misalnya, juga tercatat pernah menjadikan manusia sebagai kurban dengan cara menenggelamkan manusia ke sebuah danau suci sebagai permohonan hujan kepada Dewa-Dewa.

Al Qur’an mencatat definisi kurban awalnya sama seperti definisi kurban dalam agama-agama pagan tersebut. Yakni kurban untuk sesaji Tuhan, hal tersebut tertulis dalam surat Al Maidah, 27:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dalam ayat tersebut jelas bahwa kurban menjadi salah satu bentuk ucapan syukur dan terimakasih kepada Tuhan. Kurban Habil dan Qabil merupakan kurban berbentuk materi atau bisa disebut sesaji yang dipersembahkan untuk Tuhan. Pada waktu itu, hubungan Tuhan dan manusia masih dekat dan membumi setelah kejatuhan Adam.

Konsep kurban seperti Habil dan Qobil terus berlaku hingga Ibrahim tiba. Kesediaan Ibrahim menerima mimpi Tuhan untuk mengorbankan nyawa anaknya, bisa jadi merupakan pertanda jika berkurban nyawa manusia memang merupakan sesuatu yang dapat diterima pada zaman Ibrahim. Setelah tragedi Ismail (atau Ishak dalam konsep Nasrani dan Yahudi) Tuhan benar-benar merubah konsep kurban dari nyawa manusia atau sesaji-sesaji ke arah pemaknaan yang lebih logis. Proses mendidik Tuhan kepada nenek moyang kita tentang hakikat berkurban, berketuhanan, dan bersosial pun dimulai ketika itu.

Sejak Ibrahim, Tuhan tak lagi meminta kurban untuk menguji iman secara langsung. Tuhan sejatinya seperti yang banyak diulang-ulang dalam Al Qur’an, tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Tuhan tidak membutuhkan nyawa kita sebagi kurban. Pemahaman mengorbankan nyawa kepada Tuhan dengan dalih seperti membela Tuhan- adalah pemahaman yang justru kembali ke penafsiran yang mundur.

Kurban dan Jihad.

Dalih berkurban kepada Tuhan melalui tafsir Jihad merupakan transformasi pemaknaan Jihad yang justru jauh dari konteksnya. Banyak sekali yang menafsirkan jihad untuk pengorbanan manusia kepada Tuhan sebagai bentuk pengabdian. Penafsiran Jihad model ini adalah pemaknaan yang kembali ke zaman berketuhanan paling fundamentalis yang sudah tidak sesuai dengan zaman modern. Pemaknaan yang disertai dengan penyerangan, pembunuhan, pengorbanan diri untuk membunuh kelompok lain yang tidak sepaham, merupakan penafsiran akan Jihad dan kurban yang paling ekstrem. Sekalipun penafsiran seperti ini masih dijumpai bahkan pada zaman sahabat nabi, itu bukanlah contoh yang tepat untuk dilestarikan. Jauh dari sikap yang ingin diajarkan Nabi Muhammad tentang Islam yang rahmatan lil alamin.

Jihad sejatinya seperti yang diulang-ulang oleh Muhammad, yang paling utama adalah Jihad dalam bentuk pengembangan ilmu. Dan Jihad yang paling berat adalah Jihad melawan hawa nafsu sendiri kata Nabi Muhammad dengan tegas. Berkorban dengan nyawa kepada Tuhan, jika demikian bisa dianggap sebagi kurban, adalah aspek dimana Islam mebutuhkannya jika kita dalam keadaan diserang secara fisik, bukan menyerang.

Aspek sosiallah yang kini lebih Tuhan utamakan dalam pemaknaan tingkat tinggi kurban khususnya dalam hari raya Iedul Adha. Ditambah sebagai aspek budaya untuk mengingat-ingat sejarah baik sejarah Ibrahim maupun Muhammad sendiri. Beberapa pesan Muhammad mengindikasikan bahwa kurban merupakan keutamaan kepada sesama manusia. Ini banyak dijumpai pada beberapa ucapan-ucapan beliau.

Kini banyak yang tidak sadar dalam memaknai hari raya kurban, kurban dalam agama Islam tidak sama dengan definisi kurban dalam keyakinan agama bumi atau ajaran agama pra-Ibrahim. Dalam Islam, kurban bukanlah untuk Tuhan, tetapi untuk sesama manusia sebagai wujud nyata cinta kita kepada Tuhan. Selamat berpesta!

Investasi Saham ála Wartawan

Bolehkan wartawan “bermain” saham? Pertanyaan ini belum menjadi permasalahan di Indonesia. Karena memang keterbatasan kita tentang pemahaman investasi masih kurang. Namun saya kira, dalam tahun-tahun mendatang banyak dari kita memandang suatu investasi, dalam hal ini adalah kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan. Merupakan salah satu ragam investasi yang baik untuk mengelola jerih payah kita saat ini.

Saya sangat setuju jika wartawan diperkenankan memiliki saham, khususnya saham media massa dimana ia bekerja. Dalam hal ini mungkin penting dirumuskan bahwa “redaksi” berhak mempunyai proporsi dalam suatu media massa yang telah go public. Perlu racikan tertentu untuk bersama-sama mau memikirkan bahwa sudah saatnya menggusur peran tunggal (keuntungan dan massa depan) dalam kepemilikan media massa. Redaksi atau awak pers berhak menikmati jerih payah idealismenya kelak di masa mendatang. Tentu ini akan memiliki imbal balik terhadap daya juang dan loyalitas awak media massa mereka sendiri di masa kini dan nanti kan?

Selain itu, siapa yang tak tergiur dengan komersialisasi media massa di tengah pasang surut industri media (khususnya cetak). Ketakutan-ketakutan akan tidak bebasnya media massa ketika telah menjadi badan hukum terbuka tidak akan berlaku selama redaksi suatu media massa memiliki idealisme kuat. Karena jika idealisme redaksi tidak kuat, media massa akan kena getahnya sendiri. Percaya deh, dimana-mana intervensi berlebihan pemilik modal terhadap medianya akan berdampak buruk bagi citra media massa itu sendiri di kemudian hari.

Penolakan-penolakan beberapa pemilik media massa seperti Dahlan Iskan untuk menolak membuat serikat pekerja wartawan di Jawa Pos, misalnya, bisa jadi karena keengganan Dahlan untuk berbagi “kebahagiaan” dengan para pekerjanya. Dalam hal ini, Dahlan masih enggan untuk membuat perusahaannya go public. Bukan itu masalah saat ini, tapi apakah Dahlan dan putranya yakin jika nanti setelah mereka tiada, perusahaan mereka akan tetap ada dan terkontrol sama baiknya?

Membuka keran bagi keterbukaan kepemilikan media massa merupakan hal yang penting di era keterbukaan informasi saat ini. Kepemilikan tunggal suatu media massa tentu menjadi masalah, lebih masalah lagi soal konsentrasi atau lebih tepatnya konglomerasi media massa oleh kepemilikan perseorangan atau kelompok tertentu. Di Indonesia, penelitian Merlyna Lim (2012) menyebutkan jika negeri ini dikuasai 13 group besar media massa.

Ini tentu menarik, persaingan bisnis media massa di indonesia sangat sengit. Konsentrasi media massa membuat media massa kehilangan unsur kemajemukannya. Membahayakan atau tidak prihal konglomerasi ini tentu tergantung dari sudut mana kita melihatnya melalui beberapa teori-teori pers yang ada.

Tiga belas itu cukup majemuk, tapi kalau tiga belas itu sudah main lirik sana-sini ya bahaya juga kan? Media Group udah lirik-lirikan dengan MNC Corporation. Trans Corp sudah mengakusisi TV-7 dan detik.com untuk konvergensi media mereka. Media massa yang besar semakin tamak dengan memangsa media-media kecil. Tentu ini semakin berbahaya jika tidak ada pembatasan. Tapi mari kita bicara ini di lain waktu. Kita tulis soal saham dulu saja ya.

Intinya, membuat kepemilikan media massa menjadi berbadan hukum terbuka itu punya sisi baik. Selain mengurangi dampak konsentrasi media massa yang sudah terlanjur menjamur. Juga sebagai sarana kontrol sosial masyarakat dan awak media terhadap ekonomi media massa sendiri. Jadi saya sarankan untuk pemilik media massa yang belum go public agar segera membuka diri. Jangan sungkan untuk berbagi keseksian perusahaan Anda dengan yang lain. Toh Anda juga kan menikmatinya hasilnya tanpa sedikitpun kehilangan kuasa positif atas masa depan perusahaan Anda.

Tapi saya masih tidak setuju untuk menyerahkan media massa pada bobroknya mekanisme di pasar saham. Lebih baik tidak usah didaftarkan di bursa. Repotnya Indonesia ikut-ikutan lebay dengan membuat mekanisme pasar kita bergantung pada stabilitas internasional. Efek kupu-kupu membuat rapuh stabilitas ekonomi kita. Sayangnya pemerintah kita sengaja membutakan diri dengan ikut-ikutan lebay berbursa-bursa. Untung banyak itu pembuat kebijakan. Tapi kita bisa buntung kelak. Contohnya, Eropa yang kolaps kok kita ikut-ikutan jatuh?

Kembali ke saham. Soal saham lain adalah beberapa wartawan yang sengaja bermain saham di beberapa perusahaan (bukan perusahaan medianya). Cilaka dua belasnya, ada timbal balik yang bisa jadi membuat sebuah perusahaan terlihat oke di mata publik lewat polesan-polesan media massa. Ini yang ditakutkan beberapa pengamat dan peneliti. Jika wartawan sudah memiliki kedekatan terhadap suatu perusahaantertentu. Bisa jadi ini akan membuat dia kehilangan kontrol. Dia akan bias dalam pemberitaannya.

Setelah googling di internet ternyata beberapa media luar sudah punya kode etik dalam mengatur sejauh mana wartawan boleh berhubungan dengan bisnis di luar kerja wartawan. Contoh : ”No staff member may own stock or have any other financial interest; This restriction extends beyond the business beat” (tak satu pun awak media diperbolehkan memiliki saham atau produk keuangan lainnya; Larangan ini mencakup kegiatan usaha (diluar kerja wartawan)”. The New York Times Company Policy on Ethics in Journalism (2005).
”Journalists who regularly cover business and financial news may not play the market (wartawan yang secara tetap meliput berita bisnis dan keuangan dilarang bermain di pasar saham)” Newsroom Ethics Policy on The Boston Globe (2008).

Cukup tegas kan? Jadi jika seorang wartawan harus menjaga kuat idealismenya. Jangan sampai godaan-godaan terhadap keuntungan dalam dunia investasi membuat seorang wartawan kehilangan sense of responsibility. Naluri wartawan yang tergiur dengan keuntungan dari liputannya adalah naluri wartawan bodrex atau amplop. Etapi karena keuntungan cukup gedhe, saya kira mereka ini layak disebut wartawan heroin. Salah satu contohnya mungkin saat IPO Krakatau Stell beberapa waktu silam. Saya yakin wartawan juga memiliki kesalahan. Bukannya mengkritisi nilai saham awal yang sangat jauh dari harga pasar. Mereka malah malak minta jatah. Dasar wartawan heroin…

Begitulah analisis saya soal bisnis investasi saham bagi wartawan ini. Tidak mendalam memang, tulisan ini mungkin butuh diupdate lain waktu. Saya belum ikut kelas ekonomi media sih hehehe

Eling-Eling Basa Jawa

Sakwise maca majalah Historia atiku ora krasa tentrem. Sajake ana sing tak kangeni, apa? Ya, iku kawruh bebasan Jawa. Aku kangen ngomong basa Jawa kanthi lumrah karo kanca-kancaku ing saben dinane.

Majalah mau ngupas sethitik sejarahe kalawarti Pandjebar Semangat, saka mula lahire nganti kondisine saiki sing uwis senthak-senthik. Aku ora bisa turu mikirake masalah iki. Piye jal, saiki ki aku wis jarang-jarang nganggo basa Jawa iki kajaba karo sedulur cedak dhewe. Amarga ya saiki lagi sinau ning njaba Jawa. Sukmben yen uwis makarya ana ndesane dhewe musti ya ora kangen meneh ya hehehe

 

Aku kangen pas bali menyang ndesaku, Sukaharjo, Jawa Tengah, kanca-kancaku lan tangga teparo iya ishih lumrah nganggo basa Jawa kanggo bebasan saben dinane. Ananging sapa nyana, miturut majalah sing bar tak waca mau jare wis ora ana wong enom sing nggelemi maca majalah PS sing sejatine nganggo basa Jawa iku. Pandjebar Semangat kui majalah basa Jawa sing paling tak senengi nalika SMA mbiyen (ana majalah Basa Jawa liane sing lali judule apa). Amarga tanggaku ya ana sing langganan. Aku lali mbuh perpustakaan SMA langganan ora. Yen Perpustakaan Kota Sukoharjo sih sak elingku lanngganan, nanging aku ya ora tau mbukak babar pisan sanajan ditumpuk akeh banget.

Rasa-rasane aneh wae, aku iki asli saka Jawa. Bapak Ibu lan leluhurku kui sakjane murni seratus porsen Jawa tulen, nanging kok karo kabudayan Jawa sajake aku malah asing lho. Piye coba, aku sak gedhe menthele-thele kaya ngene iki urung bisa nulis aksara Jawa alisa aksara HaNaCaRaKa hehehe…

Aku kelingan karo kancaku mbiyen jaman SMP. Jenenge Puji sing pinter banget nulis Jawa. Asline aku iri amarga ora bisa, aku njaluk diwarahi dheweke tapi ya  mung isa sethithik. Sakwise kui aku lali babar blas. Mbuh kepriye kok masalah nulis aksara Jawa iki wae aku kangelan. Padhal pas SMA aku isa nulis aksara Jepang. Lha kepriye coba? Apa aku iki dudu bocah Jawa sing uwis ilang Jawane. (yen ana ulangan aksara jawa aku ngawe keplekan utawa nurun kancaku- wes rasah komenlho ya!)

Aku uga lagi mikir-mikir kepiye supaya bocah enom kaya aku iki san saya doyan maca lan uga ngembangake kabudayan Jawa. Aku pirang wulan kepungkur nate les Gamelan ana Bentara Budaya Kompas, nanging tak culne amarga kabotan ongkos. Saiki lagi mikir-mikir meneh apa ya? Piye ya? Supaya aku bisa nyenengi lan uga isa ngayomi kabdayan Jawa meneh.

Kancaku sing asline saka Jakarta pirang ndina kepungkur bar kirim warta saka telpun, menawa dheweke saiki lagi seneng sinau basa Jawa. Gara-garane dheweke melu nonton wayang sing dalange rada edan tingkahe tapi uga paling waras logikane, si Sudjiwa Teja. Aku malah mbales menawa Jawa iku dudu kabudayan sing paling tuwa. Lah Borobudur wae pada tuwane karo kampus Oxford lho ya.

Ya uwis ah, kesel nulis nganggo basa Jawa kui. Aku kadang luput nulis bedane ”a” karo ”o”. Eh, aku ya lagi eling, kancaku SMA mbiyen jare ana sing ketampa ning jurusan Basa Jawa Universitas Indonesia. Jenenge Rini, mbuh kepiye kabare saiki aku ora ngerti. Nyatane ya akeh sing isih tresna karo kabudayan Jawa ding. Mung rasa atiku wae sing rada sajake rumangsa salah. Amarga aku ora turut ngalestareake kabudayan Jawa. Lan malah ndemeni kabudayan njaba.

Uwwis ya, sugeng ndalu, saiki arep turu sinambi nyetel tetembang Bosas ning iPod. Ngene-ngene aku isih nyimpen pirang-pirang tembang Jawa lho ya… 

Urgensi Digitalisasi Penyiaran Indonesia

Manfaat Televisi Digital

Kurang dari satu dekade ini perkembangan teknologi memang semakin mutakhir. Apalagi sejak ditemukannya programan digital yang memicu perkembangan perangkat komunikasi lebih jauh. Digital memungkinkan kita untuk lebih dinamis dalam hal memperoleh atau bertukar data dan informasi.

Trend industri penyiaran pun seiring sejalan dengan perkembangan teknologi tersebut. Salah satunya adalah dimulainya gejolak penggunaan televisi digital di dunia ini. Industri televisi diperkirakan semakin memiliki prospek yang cerah dengan perkembangan teknologi digital. Terbukti beberapa negara telah mengadopsinya, dan perjanjian beberapa negara maju di International Telecommunication Union (ITU) PBB di Jenewa, Swiss- 2006 lalu telah menekankan keharusan digitalisasi penyiaran di seluruh dunia maksimal 17 Juli 2015 mendatang.

Digitalisasi televisi adalah suatu keniscayaan untuk memajukan- khususnya industri televisi yang masih berbasis analog saat ini. Demikian karena analog dinilai sudah tidak lagi sejalan degan kemajuan zaman yang menuntut serba sempurna, ringkas, dan cepat. Kesempurnaan televisi digital dinilai beberapa pengamat merupakan keniscayaan untuk menjamin industri ini akan dimainkan oleh pasar yang makin beragam. Prinsip diversity of content dan diversity of ownnership pun akan makin terasa dengan adanya televisi digital ini.

Keunggulan televisi digital antara lain gambar yang jernih, adanya interaksi antara content provider (penyedia jasa konten televisi) dengan penonton, adanya feature seperti informasi layanan cuaca, informasi jalan raya, segmentasi konten yang nyata, panduan dalam menonton yang lebih sempurna, kemudahan menghitung rating bagi stasiun televise atau content provider serta feature-feature yang mungkin bisa ditambahkan karena dinamisnya televisi digital ini.

Dengan digitalisasi penyiaran televisi, perangkat untuk mengakses televisi pun akan semakin beragam. Kita akan sangat mudah memperoleh siaran televisi beserta feature-featurnya yang berkualitas baik dari perangkat gadget seperti televisi, ponsel, e-sabak, komputer dan lain-lain.

Jika digitalisasi dilakukan di Indonesia, maka setiap kanal yang ada dapat diisi oleh dua hingga sepuluh programa atau stasiun. Saat ini untuk kota kecil di Indonesia disediakan 7 kanal analog, sedang kota besar mencapai 14 kanal analog. Dengan digital, satu saluran analog dapat menampung dua hingga sepuluh saluran televisi. Ini berarti dalam satu kota kecil saja dimungkinkan akan ada tambahan kanal yang makin melonjak menjadi sekitar 70 kanal. Bisa dibayangkan potensi dan peluang yang dijanjikan pasar penyiaran digital ini.

Realita Industri Televisi Digital di Dunia

Soal kesiapan industri televisi digital, bisa dikatakan kita memang sudah tertinggal dari negara-negara maju. Sejak 2009 Amerika telah melakukan total black off dengan memutus seluruh siaran TV analog. Aturan menyebutkan jika seluruh stasiun televisi dengan frekuensi analog harus berhenti atau berpindah ke frekuensi digital. Masyarakat Amerika yang mayoritas telah belajar menggunakan televisi digital pun tidak terlalu terkejut dengan transformasi ini. Terbukti pada saat  itu hanya kurang dari 3 persen masyarakatnya yang masih menggunakan televisi analog.

Indonesia dan negara-negara berkembang lain memang bisa dikatakan terlambat soal digitalisasi televisi ini. Hal ini memang sangat tergantung dengan kemapuan masyarakat dalam memahami peta industri televisi digital ini. Negara maju kini ambil untung dengan negara berkembang seperti di Indonesia untuk menjual program-program stasiun TV mereka. Lewat digitalisasi penyiaran ini beberapa negara maju seperti Eropa, Amerika , dan beberapa negara di Asia kini menjadi pemain pasar dalam menjual kreatifitas konten siaran mereka ke negara-negara berkembang seperti Indonesia, melalui layanan televisi berbayar.

Realita Industri Televisi Digital di Indonesia

Sebetulnya televisi digital sudah ada di Indonesia tahun-tahun belakangan ini. Kita mengenalnya dengan TV Kabel (Cable Television) atau TV berbayar/berlangganan. Dimana masyarakat tidak hanya dapat menikmati program stasiun televisi nasional tetapi juga program stasiun TV internasional yang sudah digital.

Industri TV kabel yang makin beragam di Indonesia telah menggunakan satelit Direct to Home (DTH) dan Internet Protocol TV, dimana masyarakat dapat memilih kanal sesuai dengan preferensi dan harga yang sesuai. Kalangan yang mengkonsumsinya masih sebatas kalangan tertentu saja. Selain harganya masih dinilai mahal, tayangan televisi ini masih didominasi dengan tayangan internasioal berbahasa inggris.

Sedangkan untuk digitalisasi penyiaran televisi secara umum. Dalam roadmap digitalisasi penyiaran Indonesia, pemerintah telah berencana menghentikan program penyiaran analog mulai 2013 di kota-kota besar, kemudian disusul kota-kota kecil hingga tuntas pada tahun 2015 (mengacu konferensi ITU 2006). Dan selama pergantian frekuensi tersebut akan ada simulcast diamana stasiun televisi analog dan digital tayang bersamaan.

Tetapi menurut KPI hal tersebut tidak mutlak untuk segera dilakukan, selain industri televisi yang belum siap. Masyarakat pun juga belum siap. Karena diperlukan set up box tambahan untuk menerima frekuensi televisi digital. Masyarakat belum tentu siap dengan membeli perangkat tersebut. Lebih-lebih industri stasiun televisi di Indonesia sendiri belum tentu semuanya siap dengan dengan digitalisasi ini. Ide simulcast diperkirakan KPI membuat industri stasiun televisi harus mengeluarkan banyak biaya untuk siaran. Saat ini terdapat sekitar 120an stasiun televisi di Indonesia termasuk 11 yang bersiaran secara nasional.

Saat ini KPI tengah mengajukan perubahan UU Penyiaran kepada DPR yang rencannya akan selesai tahun 2012 ini. Salah antara lain tentang kewenangan KPI, aturan digitalisasi penyiaran dan kejelasan soal muatan lokal dalam sistem stasiun berjaringan yang masih rentan penyimpangan. Menurut KPI kajian tentang aturan digitalisasi penyiaran televisi dan pembatasan penggunaan frekuensi harus didahulukan daripada kewajiban migrasi frekuensi analog ke digital.

KPI berpendapat jika Indonesia tidak wajib untuk tergesa-gesa mengikuti aturan ITU karena Indonesia tidak turut dalam pakta tersebut. Perhitungan KPI memperkirakan Indonesia baru akan siap dengan digitalisasi penyiaran tahun 2020 mendatang.

Urgensi Digitalisasi Siaran Televisi Indonesia

Apa yang diusulkan KPI memang benar. Tapi tuntutan untuk mendidik masyarakat agar paham terhadap digitalisasi televisi harus segera dilaksanakan. Saat ini pemain dalam industri televisi digital masih sedikit, peluang ini telah digunakan negara maju untuk menjual konten mereka kepada negara berkembang seperti Indonesia. Jangan sampai kita hanya menjadi penikmat dalam semarak industri televisi digital.

Di Asia, stasiun televisi digital dari China, Korea Selatan, dan Jepang telah mampu menembus pasar kita. Malaysia telah belajar banyak soal digitalisasi televisi ini. Kartun Upin-Ipin yang tersohor di Indonesia telah sukses berafiliasi dengan Disney Channel. Sementara televisi nasional yang telah merambah pasar digital masih didominasi oleh kira-kira 11 stasiun televisi nasional dan anak perusahaannya.

Agresifitas MNC Corporation (misalnya) dalam mengembangkan ragam konten memang patut diacungi jempol. Namun jangan sampai industri ini tidak dibagi manfaatnya kepada yang lain sehingga menimbulkn konglomerasi media (tuduhan yang kini di tujukan kepada MNC Coorporation).  Ketakutan akan kanal televisi yang dikuasiai pasarnya oleh pihak tertentu memang sewajarnya patut diwaspadai.

Kita juga harus belajar banyak dari Amerika yang malah terdoktrin oleh CNN dan Fox News dalam segmentasi berita (misalnya). Diharapkan sebelum digitalisasi televisi di Indonesia diterapkan, pemahaman akan bahaya propaganda dan agenda setting media massa seyogyanya perlu ditanamkan kepada publik, agar kita dapat menjadi penikmat media yang cerdas.

Program literasi media kini terasa sangat diperlukan. Disini peran kita sebagai kalangan masyarakat terdidik harus dapat turut andil demi terciptanya industri pertelevisian yang sehat dan memang benar-benar demi kepentingan publik semata. Seperti yang kita ketahui, industri ini  rentan disalahgunakan pada oleh oknum tertentu lewat agenda setting mereka, khususnya kalangan politikus dan pengusaha.

sumber gambar: http://www.kabar24.com/wp-content/uploads/2012/03/tv-digital1.jpg

L.G.B.T (Q)

Saya tidak begitu paham mengenai ilmu biologi, psikologi, dan sosiologi dengan teori-teori seperti psikoanalisis, behavioris, atau fitrah genetika yang membenarkan gejolak preferensi seksual seseorang. Disini saya juga tidak mencoba menjustifikasi preferensi seksual seseorang.

Menurut saya, apa yang ada di dalam ruang kamar adalah hak dan privasi tiap individu dan partner in love  mereka masing-masing, sejauh tidak ada unsur paksaan dari salah satu pihak dan keingginan mengedarkan kegiatan privat mereka kepada khalayak demi suatu kepentingan, saya atau masyarakat tidak berhak mengurusinya. Saya kira itu cukup untuk dasar kenapa juga preferensi seksual seseorang tak perlu digembar-gemborkan ke publik.

LGBT adalah lesbian, gay, biseksual, dan transgender (tak perlu dijelaskan).Adalagi fenomena mereka yang lahir dengan kelamin ganda. Sains telah banyak menganalisa fenomena ini dan menjawab dengan apa, kenapa, dan bagaimana orang-orang dengan “fitrah” ini ada. Saya tidak berkompeten menjelaskannya, tanya saja pada psikolog atau ilmuwan yang berkompeten. Atau telusuri bacaan dan jurnal-jurnal ilmiah yang bertebebaran di internet dalam menjelaskan fenomena ini.

Dalam Agama, cerita-cerita dalam Kitab Suci menampilkan sisi terlarang dari keberadaan kaum homosexsual. Kaum Nabi Luth sering dijadikan contoh mengenai hukuman bagi mereka yang melakukan hubungan sejenis. Belakangan beberapa menafsirkan hukuman Tuhan datang karena tindakan kejahatan asusila yang diluar kewajaran fitrah manusia, takdir ini dijatuhkan kepada bangsaSodomdan Gommorah sebagai contoh bagi manusia.

Agama bagaimanapun juga saya yakini sebagai penjaga moral manusia. Apa yang dicontohkan Tuhan dalam kitab suci layaknya diyakini dan diamalkan sebisa mungkin. Namun agama tidak bisa menjawab dengan gamblang dan cermat permasalahan sosial kita yang semakin lama semakin pelik. Termasuk soal LGBT ini.

Apalagi Tuhan menciptakan manusia satu dan lain tidak sama, manusia dicipta dengan berbeda-beda. Dari pemahaman ini saya memberanikan diri mengorek fenomena sosial LGBT ini. Namun saya tidak juga mencoba mengusik ranah agama. Saya kira sekalipun saya sekarang sedang belajar di institusi Islam, saya belum berkompeten menafsirkan ayat-ayat Tuhan. Saya hanya akan mencoba menganalisa fenomena sosial saja.

Repotnya jika ini memang berkaitan dengan konstitusi negara. Anggapan jika negara (wajib) hadir dalam mengurusi urusan antar individu, seperti institusi perkawinan yang privat, merupakan anggapan yang sudah wajar dalam masyarakat di belahan bumi manapun. Jadi masalah legal atau tidak perkawinan sejenis menjadi amat sangat penting karena menyangkut pengakuan dalam negara.

Awalnnya di Belanda yang pemerintahnya telah dahulu melegalkan pernikahan sejenis di tahun 1994. Lalu awal abad ini sorotan ramai memperbincangkan Inggris karena Elton John menjadi selebritas pertama yang menikah secara resmi di Gereja Anglikan. Mayoritas Belanda dan Inggris memang menerima kewajaran ini. Karena kenyataan mayoritas warganya memang telah secara terbuka menerima keberadaan LGBT di negara mereka.

Selebritas dan tokoh politik selalu menjadi sorotan utama. Ricky Martin terang-terangan mengakui jika dia Gay. Dulu ada kelompok musik TaTu dengan lirik dan videografi kontroversial berisi kampanye lesbian mereka. Belakangan banyak yang kecele, mereka berdua adalah wanita tulen yang telah memiliki pasangan dan anak. Tindakan mereka berdua tak lain hanya demi kepentingan industri hiburan semata.

Obama akhir-akhir ini malakukan hal yang juga begitu fenomenal bagi Amerika dengan wacana melegalkan pernikahan sejenis. Menyeruaklah perdebatan di antara kandidat-kandidat presiden Amerika. Obama, kata beberapa pengamat, benar-benar melakukan gambling untuk meraup dukungan atau malah penolakan masyarakat.

Lantas bagaimana dengan masyarakat kita? Saya sering menjumpai orang dengan kecenderungan berbeda seperti prilaku lelaki yang feminis atau wanita yang maskulin. Lain dengan wanita maskulin yang seringkali malah mendapat apresiasi baik dalam masyarakat karena dinilai emansipatoris, lelaki feminis malah sering mendapat stigma negatif.

Karena mayoritas kita adalah Muslim dan banyak masyarakat yang belum terdidik dengan proses belajar ilmiah. Jangan harap pemerintah akan melegalkan pernikahan sejenis di negeri ini. Hanya beberapa orang dengan akses informasi dan pemahaman memadai yang mau mempermasalahkan permasalahan ini dengan frame lebih terbuka dan ilmiah, mayoritas umumnya sekedar berbicara sesuai pengalaman dan pemahaman, serta tafsir agama masing-masing soal LGBT ini.

Dalam sorotan saya, yang tidak mengenakkan adalah fenomena aktivis yang mendukung kampanye LGBT dengan terbuka tanpa tanggung jawab kultural kemasyarakatan. Saya heran, lagi-lagi preferensi seks seseorang ada di dalam kamar, tidak perlu digembar-gemborkan di publik. Yang perlu digaungkan adalah hak setiap orang untuk merdeka dalam menentukan pilihan hidup masing-masing dan juga memastikan hak-hak orang lain yang terpinggirkan juga terpenuhi.

Dalam konteks negara Indonesia, hak-hak pendidikan dan kesehatan lebih utama daripada hak bercinta. Kini kampanye hak-hak LGBT seolah-oleh (atau memang demikian) menjadi komoditi yang bertujuan bukan soal hak-hak mereka lagi, melainkan demi mengejar keuntungan materi pihak tertentu.

Yang saya anggap kelewatan adalah festival film LGBT yang tahun lalu (2011) diadakan. Saya niat nonton, tapi saya memutuskan menonton salah satu film di internet dulu. Dan yang saya temui adalah film yang sangat berbau pornografi. Curiga saya sebelumnya ternyata benar. Saya heran, bukankah penyelenggara adalah orang yang terdidik dan paham akan kondisi Indonesia yang rentan konflik. Jujur saya dangat sedih menyikapi soal ini. Ini adalah edukasi yang buruk bagi masyarakat kita jika (lagi-lagi) sisi privasi seseorang dianggap bisa dijadikan komoditas.

Peliknya menyikapi permasalahan ini karena memang prilaku LGBT yang cindrung lebih berwarna dan menarik perhatian. Soal gaya verbal dan non verbal pasti selalu nampak dalam masyarakat. Ada yang jelas-jelas tanpa malu-malu menunjukkan preferensi seksual mereka di umum. Hal inilah yang membuat masyarakat sulit menerima dan kadang risih. Gejolak masyarakat ini didukung dengan tontonan televisi yang kini menjadikan kaum LGBT, baik beneran atau pura-pura, sebagai komoditi yang menarik masyarakat demi keuntungan semata. Ini merupakan tindak pelecehan yang kini dianggap wajar oleh masyarakat kita.

Inilah poin penting dalam pemahaman LGBT. Apa yang disebut kesenjangan penggetahuan (knowledge gap) benar-benar nyata dalam realistas kehidupan kita sehari-hari. Pemahaman masyarakat yang satu dengan yang lain tentang LGBT masih sangat tergantung pada pengalaman-pengalaman masing-masing. Dan televisi menjadi suatu pembelajaran buruk bagi masyarakat soal LGBT. Tanpa kemauan untuk belajar lebih mendalam mengenai fenomena ini. Kita hanya akan sering mempermasalahkan hal ini dalam konteks prasangka.

Masalah ini memang akan selalu menemui jalan buntu. Frame agama tidak membenarkan hubungan sejenis. Pemikiran agama yang fundamentalis dan konservatif tidak akan membiarkan pelegalan hubungan sejenis di masyarakat. Kampanye tentang LGBT sarat unsur bisnis. Televisi menjadi sarana publikasi negatif bagi LGBT. Masyarakat mayoritas berpendidikan rendah, akibatnya banyak yang tidak terdidik untuk berfikir ilmiah hingga prasangka selalu menebar dimana-mana.

Saya kira beginilah realitas masyarakat kita…

Konflik, Identitas, dan Agama

Diversity and Unity
Di Indonesia sering terjadi konflik baik antar golongan, etnis, suku, agama, pemahaman dsb. Karena tidak adanya pembelajaran tentang manajemen konfilk, sering kali konflik selalu berakhir dengan ricuh, kekerasan, bahkan memakan korban jiwa. Tengok saja tragediAmbon, Sampit, Cikeusik, Sampang, GKI Yasmin dll yang menimbulkan kerusakan baik fisik maupun jiwa. Permasalahan ini umumnya disebabkan oleh ketimpangan sosial atau perbedaan pemahaman.

Konflik atau permasalahan yang tidak disikapi dengan pemikiran sehat dan terbuka tentunya akan berlarut-larut hingga menimbulkan banyak permasalahan baik kini maupun nanti. Padahal Bangsa ini adalah bangsa yang majemuk. Bayangkan saja, Bangsa ini punya ratusan ragam budaya yang berbeda. Hal ini mengakibatkan gesekan-gesekan pemahaman memang sering menjadi akar masalah konflik. Kemajemukan bangsa ini telah dijadikan kaum kolonial untuk memecah belah bangsa melalui devide et empera atau politik adu domba.

Saya kira, kini konflik digunakan oleh orang-orang tertentu untuk memecah belah atau mengalihkan isu di masyaralat. Ketidakhadiran peran masyarakat yang mau berfikir untuk benar-benar memajukan bangsa tanpa embel-embel kepentingan tertentu menjadi salah satu penyebabnya.

Tak jauh-jauh soal bangsa, di kampus saja sering kita jumpai prihal perseturuan antar organisasi yang berbeda. Merah, kuning, hijau, biru dsb. Banyak yang memahami perbedaan organisasi berarti harus bertentangan baik pemikiran maupun fisik. Mahasiswa yang pada umur-umur rentan ini memang sedang dalam proses pencarian jati dirinya, sering kali terjebak pada identifikasi diri dalam pemaknaan yang keliru.

Ini terjadi di kampus yang notabene menjadi teladan bagi masyarakat, karena dipandang sebagai ranah berkembangnya intelektualitas. Inilah bukti jika manajemen konflik belum menjadi perhatian yang serius bagi kalangan intelektual sendiri. Baik pengajar maupun mahasiswa kerap kali abai terhadap permasalahan ini. Tenggelam dalam pikiran menuhankan pemahaman sendiri.

Akar permasalahan dalam konflik antar golongan ini adalah egoisme individu dan ekslusifitas golongan (penuhanan pemahaman). Individu yang merasa telah melakukan yang paling baik dan benar, lantas memiliki kepentingan (interest) masing-masing yang menisbikan kepentingan kelompok lain karena dianggap salah, menyimpang, atau kafir dalam konteks agama. Akibatnya terbentuklah apa yang disebut politik identitas. Diamana manusia menjadikan dirinya bukan sebagai manusia, tetapi identitas kolektif berdasar kepercayaan, agama, pemahaman, ras, suku, golongan, umur, dan gender.

Padahal sejatinya manusia lahir dengan identitas tunggal, sebagai manusia sutuhnya tanpa embel-embel lain, identitas manusia adalah manusia itu sendiri. Inilah mengapa seharusnya yang kita junjung sebagai manusia sejati adalah aspek kemanusiaan (humanism) dimana hak-hak asasi manusia harus terjamin keberadaannya. Hak untuk hidup dengan aman dan damai, kesehatan terjamin, pendidikan terpenuhi, menyatakan pemikiran, memilih penghidupan, menentukan masa depan dll. Aspek-aspek inilah yang harusnya kita perjuangkan bersama-sama tanpa menilik darimana kita terlahir dan pilihan berpolitik dalam sekat-sekat golongan apa yang telah kita pilih.

Menganalisa permasalahan konflik ini bisa juga melalui pemahaman akan politik identitas itu sendiri. Analisa politik identitas dikenalkan oleh L.A. Kauffman ketika membentuk SNCC (The Student Nonviolance coordinating Commite) atau perkumpulan mahasiswa anti kekerasan di tahun 1960an di Amerika. Dia menulis dan mengkritik dengan sebuah esai berjudul The Anti Politic of Identity. Tulisan inilah yang menyingkap tabir kegelisahan gejolak konflik kulit putih dengan bangsa lain baik kulit hitam dan hispanik di Amerika.

Tulisan Kauffman menjadi kunci tentang berkembangnya pemahaman kesetaraan hak asasi di Amerika, hingga muncullah orang-orang seperti Martin L. King Jr. dan Barcak Obama. Padahal sebelumnya golongan kulit hitam hanya dianggap sebagai budak atau kelas pekerja saja. Kini, Amerika memang tengah berbangga dengan konsep perbedaan yang baru berproses kurang dari seabad ini. Amerika bisa menjadi contoh terkini, tapi bukan contoh mutlak, karena banyak warga negaranya sendiri yang belum memaknai diversity ini. Khususnya warga negara yang konservatif.

Dalam pemahaman agama Islam, bisa dikatakan jika Islam telah hadir dalam memberikan solusi permasalahan politik identitas ini sejak Nabi Muhammad menyampaikan petuah-petuah Illahi. Islam hadir untuk manusia alias rahmatan lil alamain, bukan untuk golongan tertentu. Nabi mengajarkan untuk menghormati perbedaan. Menyamakan hak-hak antara lelaki dan perempuan. Mengkampanyekan pembebasan budak. Dan menyatukan golongan-golongan untuk sama-sama meninggalkan zaman kebodohan menjadi zaman penuh intelektualitas. Mengajarkan Ketauhidan untuk meninggalkan egosentrisme golongan.

Sebelum Barat tumbuh memperjuangkan apa yang disebut liberte, egalite, freternite atau asas kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan saat revolusi Prancis, atau bahkan declarataion of human rights yang baru hadir tahun1950an. Nabi Muhammad telah mengajarkan arti untuk menisbikan identitas manusia selain hakikat manusia itu sendiri yang bertanggung jawab secara langsung kepada Penciptanya. Yang dinilai oleh Tuhan bukan harta, jabatan, ras, golongan dan gender, tetapi adalah perbuatan baik-buruk masing-masing.

Nabi hadir dengan contoh-contoh universal seperti tertuang dalam piagam Madinah yang menghargai hak-hak golongan lain, Dakwah Islam hadir untuk memperjuangkan nilai-nilai humanisme atau kemanusiaan, bukan lagi sekedar nilai-nilai golongan dan etnis tertentu atau bahkan golongan mukminin pada waktu itu saja. Inilah yang layak dicontoh bagi kita generasi muda intelektual Indonesia. Jangan sampai hanya terjebak dengan politik identitas yang hanya memperjuangkan pemahaman dan hak-hak golongan kita sendiri. Tetapi mari bersama-sama memperjuangkan kepentingan bangsa yang majemuk ini.

Namun sangat miris jika bangsa ini, khususnya umat Muslim yang mayoritas kini terjebak dalam pemahaman hidup yang keliru. Mereka memaknai agama seagai identitas luar saja. Dimana mereka mendefinisikan agama sebagi jubah-jubah dan pakaian-pakaian saja dengan dalih sunah Nabi tanpa memahami maknanya. Tengoklah mereka yang menggunakan jubah-jubah dan berdandan ala Arab yang tersesat di kampung-kampung. Pemaknaan akan Islam atau dalam agama-agama lain pun masih banyak yang terjebak dalam aspek luar (pakaian dan aksesoris) dan ritual-ritual keagamaan tanpa disertai pemaknaan. Singkatnya, bergaya tanpa mau berpikir!

Maka tak heran, umat Islam kini jatuh pada jurang yang kembali kepada aspek zaman jahiliyiah yakni berpecah-pecah dalam sukuiseme dan pemahaman. Lebih tidak heran karena konon Nabi memang telah meramalkan umatnya terpecah menjadi puluhan golongan dengan pemahaman yang berbeda. Ah, saya memang skeptis tentang Muslim atau agama-agama dimana saja.

Sebagai Muslim yang baik dan benar-benar menjalankan perintah Nabi. Harusnya seorang Muslim tak lagi memaknai identitas dirinya hanya sebagai seorang Muslim yang menyemabah Allah menjalankan perintah-perintahnya (teks) tanpa disertai pemahaman yang benar (konteks). Karena sejatinya Islam mengajarkan jika manusia awalnya lahir tanpa identitas apapun selain diri MANUSIA itu. Islam juga percaya jika Tuhan Maha Hadir dimana saja (Omnipresent), jadi menghargai, menghormati, dan melindungi hak-hak orang lain  yang berbeda adalah suatu keniscayaan perintah Tuhan. Jalan hidup masing-masing adalah Tuhan yang menentukan.

Ah, kenapa saya juga malah repot-repot memikirkan orang yang bangga menuhankan pemikirannya?